Anshela atau biasa dipanggil Shela, anak bungsu dari empat bersaudara. Lahir sebagai anak perempuan satu-satunya tidak menjadikan Shela di sayang oleh keluarganya, dia malah diperlakukan sebaliknya. Kematian ibunya karena melahirkannya membuat ayah serta tiga kakak laki-lakinya menganggap Shela sebagai penyebabnya, kerap kali ia disebut sebagai anak pembawa sial. Tumbuh dari keluarga yang kurang kasih sayang membuatnya menjadi gadis yang arogan, sombong dan suka semena-mena. Semua itu semata hanya untuk menceritakan perhatian ayah dan kakak-kakaknya. Namun, hal itu justru semakin membuat keluarganya membencinya. Suatu kejadian membuatnya hampir meregang nyawa, namun beruntung Tuhan masih memberi Shela kesempatan untuk hidup. Saat bangun dari tidur panjangnya, Shela tak menemukan satu pun keluarganya, yang ia lihat pertama kali hanya mbok Inah, asisten rumah tangga yang selalu setia merawatnya. Sejak saat itu,Shela sadar jika apapun yang ia lakukan tidak akan pernah dipedulikan. Shela b
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jaena19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15
Pagi harinya Shela berangkat lebih awal dari biasanya. Bayangkan saja dia berangkat pukul enam lebih lima menit, bukan tanpa alasan dia berangkat sepagi itu karena hari ini adalah jadwalnya untuk piket.
Seperti prinsipnya jika ingin berubah,maka harus berubah secara totalitas, dan ini pun menjadi salah satu upayanya untuk berubah. Selama ini Shela sama sekali tidak pernah menalukan kewajibannya itu sebagai anggota kelas. Dia pasti akan menyuruh orang lain untuk menggantinya.
Shela berjalan santai di lorong yang masih terlihat sepi, maklum ini masih terlalu pagi untuk datang ke sekolah. Ketika akan memasuki kelas, dia terkejut karena tiba-tiba seseorang keluar dari kelasnya.
Shela memegang dadanya karena terkejut. " Sialan! Siapa si yang pagi-pagi mengejutkannya?" umpat Shela dalam hati.
Shela memicingkan mata dengan kesal. "Lo lagi,lo lagi! Ngapain Lo di kelas gue pagi-pagi buta begini?!" serunya dengan nada tinggi dan tajam.
Dion, dengan tatapan tajam balik, berdiri tegak menghadapinya. "Santai doang, pagi-pagi udah marah-marah aja. Gue cuma mau meminjam sapu kelas lo," katanya sambil mengacungkan sapu itu ke arah Shela.
Melihat itu, Shela langsung merebut sapu tersebut dari tangan Dion dengan gerak cepat. "Ini punya kelas gue! Gak modal banget ya kelas Lo, sampai harus meminjam sapu dari kelas lain? Jangan-jangan, sapu kelas gue sering hilang gara-gara ulah lo!"
Dion, dengan kedua tangan terlipat di dada, menatap Shela dengan tatapan menantang. "Lihat baik-baik wajah gue. Apakah gue, dengan wajah setampan ini, kelihatan seperti pencuri?"
Shela mengibaskan tangan dengan frustrasi. "Munafik, mesum, narsis dan penuh dengan kesombongan! Dilihat dari semua sifat buruk lo, tidak heran kalau lo mungkin mencuri sapu kelas gue. Gue jadi heran, kenapa orang-orang mau mikih lo sebagai ketua OSIS?"
"Tentu karena gue anak baik dan bisa jadi teladan buat temen-temen gue yang lain, gue juga tegas buat menindak siswa yang melanggar kayak.." ucapan Dion berhenti ketika baru menyadari gadis itu tidak memakai seragam ketatnya. Dia masih memakai seragam yang sesuai dengan aturan meskipun lengan bajunya sedikit di gulung ke atas.
Shela menaikkan sebelah alisnya." Kayak siapa?"
Dion memperhatikan penampilan gadis itu dari atas sampai bawah, dia benar-benar berubah bahkan gadis itu memakai atribut lengkap, juga tidak memakai riasan apapun.
"Gak ada," ujar Dion cepat.
Shela berdecih." Minggir! Buang-buang waktu gue aja," ujar Shela lalu ia melangkah masuk ke dalam kelasnya sambil membawa sapu yang dipegangnya.
Dia menyimpan tasnya terlebih dahulu lalu dia mulai menyapu ruang kelasnya menggunakan sapu yang sedari tadi dia pegang. Shela menyapu kelas dengan perlahan karena memang dia tidak terbiasa mengerjakan pekerjaan seperti ini. Mungkin untuk beberapa Minggu kedepan dia akan terbiasa.
Di ambang pintu Dion masih berada di sana sambil memperhatikan Shela yang sedang menyapu, tanpa berniat untuk beranjak laki-laki itu tertawa kecil melihat bagaimana gadis pembuat onar itu tiba-tiba membersihkan kelasnya, seorang diri pula.
Ketika tengah menyapu tak sengaja ia melirik ke arah pintu dimana Dion masih berada di sana sedang melihat ke arahnya." Itu orang ngapain si? Gak ada kerjaan banget diem di depan pintu," batin Shela.
Tak mau ambil pusing, ia kembali melanjutkan kegiatannya. Tak lama ia merasa suasana sekitarnya semakin ramai, namun yang aneh kenapa teman-temannya kelasnya tidak ada yang datang?
Shela melongo tidak percaya melihat teman-temannya kelasnya berdiri diambang pintu sambil melihat ke arahnya yang hampir menyelesaikan kegiatan menyapunya.
"Lo pada ngapain berdiri di depan pintu, masuk!"
"T-tapi Dion bilang, kita harus nunggu di sini sampai lo selesai. Katanya nanti Lo ngamuk kalau kita nginjek lantai yang udah lo sapu," ujar salah satu teman kelasnya.
"Hah?" Shela menatap orang itu dengan wajah bingung.
"Jangan di denger omongan orang gila, masuk! Mau sampai kapan kalian berdiri di sana?"
Seketika semua orang yang ada diambang pintu berhamburan masuk ke dalam kelas, Shela tak habis pikir segitu nurutnya mereka pada ketua OSIS munafik itu.
____
Di jam pelajaran selanjutnya tak ada guru yang masuk karena sekarang adalah jadwal pelajaran matematika dan gurunya itu benar-benar mengundurkan diri, belum ada guru yang menggantikan sehingga jam matematika kosong. Guru matematika di kelasnya cukup banyak, mungkin mereka belum menentukan siapa yang menggantikan guru matematikanya yang mengundurkan diri itu.
Karena jam pelajaran kosong, Shela memutuskan untuk menyendiri di rooftop. Tempat itu seakan menjadi tempat favoritnya jika tak ingin di ganggu oleh siapapun.
Shela membuka pintu rooftop dan berjalan ke arah sofa yang sudah usang. Shela merebahkan tubuhnya di sana dan menutupi sebagian wajahnya dengan lengan. Dia berniat untuk tidur sampai jam istirahat.
Beberapa menit matanya terpejam, ia mendengar suara pintu rooftop terbuka. Shela yang mengantuk enggan untuk membuka mata dan memilih mengabaikannya. Shela tidak peduli siapa yang datang selagi orang itu tidak mengganggu ketenangannya.
Shela merasa orang-orang itu melangkah mendekatinya tidak hanya satu tapi beberapa orang , terdengar dari langkah mereka.
"Wow! Lihat siapa yang lagi tidur si sini temen-temen!" ujar salah satu laki-laki pada teman-temannya.
Shela tau laki-laki itu sedang membicarakannya namun ia tidak peduli. Shela tau siapa orang yang berbicara itu, yang gak lain adalah salah satu anggota black Eagle. Dengan begitu artinya orang-orang yang tadi menghampirinya adalah Marvin dan teman-temannya.
Shela mendengus tidak suka. Padahal niatnya ke sini untuk menenangkan diri dan tidur untuk sementara waktu. Tapi mereka datang dan mengganggu waktu tidurnya.
Shela berusaha mengabaikan mereka dan mencoba kembali masuk ke alam mimpi.
" Benarkan dugaan gue, cewek pembuat onar kayak dia gak akan mungkin berubah. Buktinya di saat jam pelajaran gini dia malah bolos dan enak-enakan tidur di sini. Buat malu aja!" ujar seseorang yang Shela yakini itu adalah kakaknya.
" Kenapa si Lo gak mati aja?" ujar Dika kesal karena ucapannya tidak ditanggapi oleh Shela.
Shela membuka matanya, dia lalu mendudukkan dirinya, menatap Dika lalu tersenyum miring. " Gak usah bacot! Gak usah merasa paling bener, kelakuan lo aja gak jauh beda sama gue. Lo bilang gue bolos terus gimana sama lo?! Jangan karena lo punya banyak temen, selalu di bela sama kakak dan papah lo seenaknya ngatain gue. Emang apa prestasi Lo selain tebar pesona gak jelas dan nyinyirin adiknya sendiri?" Ujar Shela.
Shela berdiri menghampiri sambil merogoh kantong roknya, dia mengeluarkan sebuah gantungan kunci yang ternyata itu adalah pisau lipat yang memanh selalu Shela bawa kemana-mana. Shela lalu melempar pisau itu ke arah Dika, spontan laki-laki itu menangkap pisau itu.
"Lo mau gue mati? Ide bagus, gimana kalau lo langsung bunuh gue aja sekarang, daripada nunggu malaikat maut. Biar Lo puas karena gue mati di tangan lo," ujar Shela dengan entengnya. Ucapannya itu berhasil membuat semua orang yang ada di sana syok.
Shela menatap wajah Dika." Kenapa diem? Katanya Lo mau gue mati? Ayok! Bunuh gue,supaya Lo puas dan gak perlu liat gue lagi."
Jantung Dika berdegup dengan kencang, tangannya mulai bergetar. Jujur saja, ia tidak menyangka kalau Shela akan meresponnya seperti ini.
Biasanya jika diantara mereka ada yang berkata seperti itu, Shela akan langsung menghampiri mereka dan membujuk mereka dengan tingkah manjanya dan entah kenapa Dika ingin Shela bersikap seperti dulu. Tapi sekarang, Shela malah menyuruhnya untuk langsung membunuh. Sungguh respon yang sangat diluar ekspektasi-nya.
"Lo takut lo dipenjara? Tenang aja yang menyaksikan kan cuma temen-temen lo, mereka gak akan mungkin laporin lo, paling mereka bilangnya gue yang bunuh diri. Jadi buruan bunuh gue, lo kan minta gue cepet mati," ujarnya pada Dika yang masih diam mematung.
"Ck! Lama." Shela menghampiri Dika, tangannya meraih tangan Dika yang memegang pisau. Dengan gerakan perlahan dia mengarahkan pisau itu pada bagian perutnya.
" Sekarang tinggal pilih, lo mau nusuk gue di bagian mana? Ini?"
"Ini?"tanya Shela mengarahkan pisau itu ke dadanya.
"Atau ini?" tanyanya lagi sambil mengarah pisau ke lehernya.
"Gue saranin di di sini, biar gue cepet mati," Shela tersenyum miring lalu mendekatkan pisau itu ke kulit lehernya. Dika sekuat tenaga menjauhkan pisau yang dia pegang dari leher gadis itu. Dika gak menyangka jika tenaga Shela cukup besar, ia mulai kewalahan. Dalam hati ia berdoa supaya pisau yang dia pegang tidak menggores kulit Shela sedikitpun.
"Shela!"