[SEDANG HIATUS!]
Diana Xylaria, Gadis cantik yang ceria dan optimis, ternyata ada rahasia besar tentang dirinya yang bahkan dia tidak tau.
Hidupnya yang biasa saja tiba tiba terusik karena pertemuannya dengan CEO dari sebuah perusahaan besar, Rylan Axelion. Namun sayang, keduanya bahkan tak ingat telah menghabiskan malam bersama.
Ditengah badai perebutan kekuasaan di keluarga Rylan, serta tentangan dari wanita yang berkuasa, Rylan dan Diana harus terus berjuang agar bisa bersama.
Akankah mereka bisa bersama?
Dan Apa sebenarnya Rahasia kelam Diana?
Simak ceritanya di sini.
ﮩ٨ـﮩﮩ٨ـ♡ﮩ٨ـﮩﮩﮩ٨ـﮩﮩ٨ـ♡ﮩ٨ـﮩﮩـ٨ـﮩﮩ٨ـ♡ﮩ٨ـﮩﮩ٨ﮩﮩ٨ـ♡ﮩ٨ـﮩﮩ٨ـ
「 ✦ UPDATE SENIN DAN KAMIS ✦ 」
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lily Vey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 15
Calantha Membanting sepatu miliknya dengan emosi. Rambutnya acak acakan, tampak tak tersisir. Kasurnya berantakan. Layar ponselnya menyala, menampilkan sebuah informasi.
"Diana Xylaria dari cabang negara N akan di promosikan sebagai Wakil direktur di kantor pusat."
Hanya dengan informasi ini, berhasil membuat emosi Calantha naik ke ubun ubun, mendidihkan darahnya ke titik didih tertinggi.
Calantha menggigit bibirnya.
'bagaimana bisa begini? Ini tidak sesuai rencana. Tidak.'
"Arghh!" Calantha berteriak, menjambak rambutnya dengan kesal.
Mereka sama sekali tak boleh bertemu. Jika begini, bukankah hubungan mereka akan semakin dekat? Diana juga akan semakin susah di ganggu.
Tidak bisa.
'ayo Calantha, pikirkan sebuah cara!'
Untuk hal ini, mau tak mau dia harus mengambil langkah ekstrem.
Penculikan, kecelakaan.
Tidak ada yang boleh menghalangi jalannya ke posisinya untuk menjadi Nyonya Axelion.
Calantha meraih ponselnya. Menelepon seseorang.
"aku ingin kau menculik seseorang. Tenang. Ada harga yang pantas untuk itu."
Calantha menyeringai. Rencana ini pasti berhasil. Dia menatap ke depan cermin. Meraih sisir, mulai merapikan rambutnya.
...----------------...
Grace. Tidak ada. Hilang.
Kemana lagi aku harus mencari mu Grace?
Aku tak sabar ingin memberi tau kabar gembira bahwa aku dipromosikan. Tapi dimana kau?
Di setiap tempat yang pernah kita kunjungi aku telah mencarimu, namun tak ada jejakmu sama sekali.
Aku sungguh lelah. Aku telah mencari dari siang berganti ke malam. Bulan sabit di atas kepalaku memancarkan cahaya redup, tampak ikut bersedih.
Aku akan pulang dulu. Besok, di perjalanan ku ke bandara, aku akan sekalian singgah ke kantor polisi. Melaporkan kasus orang hilang.
Aku pulang ke rumah dengan kondisi hati yang berat, dan masih harus berkemas untuk besok.
Pagi harinya....
Sinar matahari masuk menembus jendela, membuatku terbangun. Aku menggosok mataku. Sudah jam 7 pagi.
Tidurku tidak nyenyak semalam. Mimpi buruk lagi. Tapi selalu aneh. Aku bahkan tak bisa mengingatnya sama sekali.
Kamar mandi sudah menunggu ku terlebih dulu. Setelah membersihkan diri, aku sarapan, mengambil koper dan semua benda milik ku.
Aku mengunci pintu, menatap rumah ini sejenak. Kaki ku berbalik, melangkah menjauh dari rumah yang telah aku tinggali selama setahun lebih.
Taxi itu melaju ke arahku. Aku naik, dan bersiap pergi ke kantor polisi dulu, sebelum pergi ke bandara.
Tapi hal tak terduga terjadi. Hal yang benar benar tidak aku duga, yang mengubah kehidupanku kedepannya.
Seorang pria menghentikan taxi di jalan tembusan yang tak terlalu ramai.
"tunggu sebentar nona. Ada sedikit urusan dengan mesin mobilnya."
Aku mengangguk. Tapi mataku sangat lelah, mulai terpejam. Apa yang terjadi?
......................
Satu ember air di lempar ke arahku.
Aku terbangun, bingung dengan apa yang terjadi. Dimana aku?
Aku terduduk di sebuah kursi besi yang dingin, tangan dan kakiku terikat oleh tali yang kuat. Aku bahkan tak bisa bergerak.
"lepaskan aku!" aku berteriak, mengeluarkan suara.
"jangan berharap terlalu banyak sayang"
Suara yang aku kenal itu menusuk ke dalam telingaku, bergema di ruangan dengan pencahayaan redup ini.
Mataku mencari ke seluruh ruangan, ke arah sumber suara. Itu Calantha.
Dia duduk menyilangkan satu kakinya diatas yang lain. Gaun merah sutranya jatuh seperti bulu di atas lantai, mengenai high heels hitam yang dia pakai.
"apa yang kau inginkan?" tanyaku emosi.
Calantha melambaikan tangan, sebuah video ditampilkan di dinding.
Itu video yang mengerikan, sekaligus menjijikan.
Itu video bagaimana Adiknya Grace, dan Grace sendiri, dipermainkan sampai tak berdaya dan mati oleh orang orangnya Calantha.
"Kau bukan manusia! Kau iblis tak berhati!"
"aku memang iblis. Iblis yang cantik. Bukan begitu?" Calantha membelai pipi ku.
"singkirkan tangan kotormu dari ku!" Aku berteriak pelan.
"kenapa? Apa kau jijik?" Calantha sebaliknya, tertawa sinis, penuh kebahagiaan.
Entah berapa banyak yang telah dia siksa, yang dia bunuh dengan kedua tangan ini. Tangan yang Berlumuran noda darah.
"Tenang saja, kau akan segera menyusul teman teman baik mu." Calantha menyeringai, mengelus sebilah pisau tajam di genggamannya.
"tapi sebelum itu, aku akan biarkan kau merasakan kenikmatan pria dulu. Dengan begitu, kau tak akan mati menyesal" Calantha mencibir ku.
Tidak. Siapapun, tolong aku. Aku harus mengulur waktu terlebih dahulu.
"kenapa kau begitu membenciku? Apa salahku padamu?" aku mulai menangis.
"aku suka tangisanmu. Menangis lebih keras, akan ku beri tahu jawabannya."
Aku menuruti apa kata Calantha. Menangis lebih keras.
"itu karena... Aku tidak suka padamu. Kau penghalang bagi jalanku. Aku harus memusnahkanmu dulu untuk mencapai puncak tertinggi."
"Kenapa? Aku tak merasa menghalangi jalanmu sama sekali. Jika ini karena pekerjaan ku, aku akan mundur. Tolonglah lepaskan aku."
"Rylan"
Satu nama itu keluar dari mulut Calantha. Apa maksud nya?
"aku tak suka siapapun mendekati calon suami ku."
"baiklah, aku akan menjauhinya, aku keluar dari Lion Group, selamanya menghilang dari pandangan kalian!" seru ku.
"hmph. Usaha bagus Diana. Aku tak akan pernah melepaskan siapapun yang menjadi target ku."
Calantha melambaikan tangannya, sekitar 10 orang pria bertubuh besar bergerak mendekatiku.
Melepaskan ikatan di tangan dan kaki ku...
Tangan tangan panas itu mencengkram bahuku, memaksa aku untuk berdiri. Napas mereka menderu di telingaku, membuatku bergidik.
Aku tak ingin. Aku tidak mau. Napasku sesak, pandanganku kabur, seluruh tubuhku lemas. Kepalaku berdenyut sakit.
"paksa dia berdiri, lakukan dengan berbagai gaya, aku akan merekamnya."
Lampu kilat itu berkedip pelan, tanda rekaman dimulai. Wajah wajah itu berkelebat di sekitarku, menunjukan mimik yang liar.
Kepalaku tersentak ke belakang, kesadaranku habis, Ruangan gelap itu buyar dari seluruh pandanganku.
Hal terakhir yang bisa aku lihat adalah betapa berkilaunya pisau milik Calantha.
walaupun kepribadian xena kuat dan bisa diandelin, tapi bisa nyelakain kamu juga kalo gak terkendali 😖