Sebuah cinta terlarang.
Sebuah pengkhianatan dalam keluarga.
Zavier hanya ingin mencintai wanita yang telah menjadi bagian dari hidupnya selama tiga tahun — namun takdir berkata lain ketika wanita itu kini bersanding sebagai istri sang ayah.
Di antara rasa bersalah, cinta, dan kehancuran, adakah kesempatan kedua untuk hati yang sudah hancur?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dydy_ailee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB-15
Aroma tumisan bawang putih dan telur dadar menguar dari dapur. Veyra sibuk memasak sambil sesekali mencicipi bumbunya. Meski raut wajahnya masih menyimpan keraguan dan lelah batin, tapi tangannya tetap cekatan menyiapkan sarapan.
Ardian melangkah pelan dari arah kamar, mengenakan setelan jas lengkap dengan senyum mengembang. Saat sampai di belakang Veyra, ia melingkarkan tangan ke pinggang istrinya, memeluknya dari belakang dengan lembut.
“Harum banget masakan kamu, aku jadi makin lapar,” bisik Ardian sambil mencium pundak Veyra.
Veyra tersenyum tipis, berusaha terlihat tenang meski hatinya tak karuan.
Namun momen manis itu mendadak buyar saat suara langkah kaki terdengar dari arah tangga.
Zavier muncul dengan kaos dan celana santai, matanya masih sayu, tapi langsung menajam ketika melihat pemandangan di depannya—Ardian memeluk Veyra sambil tertawa kecil, begitu akrab dan mesra.
Seketika, rahangnya mengeras.
“Pagi,” sapa Zavier datar, berjalan masuk ke dapur dan membuka kulkas seolah tak peduli.
Ardian menoleh dan tersenyum. “Wah, tumben kamu bangun pagi. Sarapan dulu, Vier. Nanti Papa berangkat lebih awal. Tapi, kamu juga jangan kesiangan.”
“Hmmm…” singkat Zavier.
Veyra langsung menarik diri dari pelukan Ardian, sedikit gugup. “Aku ambilkan piring dulu…”
Zavier menoleh sekilas, menatap punggung Veyra yang buru-buru menjauh. “Wah, rajin sekali ibu tiri,” ucapnya dengan nada datar, tapi sinisnya terasa.
Ardian tidak menyadari nada canggung di antara mereka. Ia justru sibuk menuangkan teh hangat ke cangkir sambil bercerita, “Tadi malam Om Hans menelpon, katanya Flora mulai masuk hari ini. Dia akan bantu proyek resort kita yang baru.”
Zavier yang sedang duduk di meja makan, langsung mendongak. “Apa?”
“Iya, kamu belum tahu? Flora bakal kerja bareng kamu. Dia kan lulusan arsitektur dari New York, masa kamu lupa?” Ardian terkekeh.
Zavier mengalihkan pandangannya ke Veyra yang sedang menata piring. Ia bisa melihat raut wajah perempuan itu berubah—diam menahan rasa tak nyaman. Cemburu.
Dan entah kenapa, Zavier menyukainya. Tapi, ia juga tidak ingin membuat Veyra salah paham.
Sarapan pagi terasa lebih lama dari biasanya. Ardian dengan santainya menikmati hidangan buatan Veyra, tak menyadari dua orang di sekitarnya menyimpan ketegangan tersendiri.
Zavier hanya makan sedikit, lebih banyak memainkan sendoknya daripada menyuap makanan. Matanya sesekali melirik Veyra, lalu kembali menunduk. Veyra sendiri diam, fokus pada makanannya.
“Mas ke kantor dulu, ya,” ujar Ardian sambil berdiri dan merapikan jasnya. Ia lalu mendekat ke Veyra dan mengecup keningnya. “Jangan lupa makan yang banyak juga, kamu kelihatan makin kurus.”
“Iya, Mas…” Veyra mencoba tersenyum.
“Zavier, kamu juga segera bersiap. Dan jangan membuat susah Veyra saat Papa tidak ada. Papa tahu kamu belum bisa menerima ini,” titah Ardian dengan tegas.
“Iya-iya. Aku tidak mungkin menculiknya juga,” celetuk Zavier asal.
Zavier hanya menatap kosong ke cangkir tehnya, mencoba menahan emosi yang bergemuruh di dadanya. Verya kemudian bangkit membawa piring kotor menuju dapur.
Begitu Ardian benar-benar pergi, ia menunggu beberapa detik sebelum bangkit dan menyusul ke dapur.
Di dapur…
Veyra sedang sibuk mencuci piring ketika Zavier masuk pelan.
“Sudah pergi?” tanyanya lirih, tanpa melihat ke arah Zavier.
Zavier bersandar di dinding, menyilangkan tangan di depan dada. “Sudah. Kamu makin jago pura-puranya.”
Veyra menoleh dengan wajah lelah. “Aku tidak pura-pura…”
“Lalu kenapa kamu masih di sini, Vey? Dengan dia. Dan... biarin dia peluk kamu begitu?” Nada Zavier mulai meninggi.
“Aku tidak punya pilihan, Zavier,” sahut Veyra, menahan air mata. “Aku hidup di rumah ini karena pernikahan yang—”
“Kamu tidak pernah bilang cinta sama dia, kan?”
Veyra terdiam. Matanya menatap Zavier dalam-dalam.
Zavier melangkah mendekat. “Kamu tahu kan, aku masih...”
“Jangan, Zavier,” bisik Veyra, memundurkan langkahnya. “Jangan buat semua makin rumit.”
“Terlalu lambat,” jawab Zavier pelan, namun tatapannya tajam. “Aku tidak akan diam saja melihat kamu dipeluk pria lain, meski itu papa aku sendiri.”
Suara Veyra tercekat. “Zavier…”
Zavier menatapnya beberapa detik, lalu berbalik pergi, meninggalkan Veyra yang kini menggenggam dada, berusaha menenangkan debar jantungnya yang tak beraturan.
Zavier berjalan cepat menaiki tangga, menuju kamar lamanya. Pintu dibanting pelan, tapi cukup keras untuk membuat Veyra yang masih berdiri di dapur merasa tercekik. Ia tahu Zavier marah—sangat marah. Dan itu karena dirinya.
Veyra menggigit bibir, bimbang. Tapi akhirnya ia memutuskan naik, mengikuti langkah Zavier.
Di dalam kamar, Zavier duduk di tepi ranjang, tangan mengepal di pangkuan. Saat pintu diketuk pelan dan terbuka, ia tak menoleh.
“Zavier…” panggil Veyra dengan suara pelan.
“Kenapa kamu kesini?” Suaranya datar, tapi sarat emosi. “Bukannya kamu lebih nyaman sama dia?”
Veyra melangkah masuk. “Aku tidak nyaman sama siapa-siapa, termasuk kamu… kalau kamu bersikap begini.”
Zavier akhirnya berdiri, menatap tajam. “Jangan mulai lagi, Vey. Kamu yang membuat semuanya rumit. Kamu menolak aku. Kamu dorong aku menjauh. Sementara kamu membiarkan dia menyentuh kamu seolah semua baik-baik saja. Apalagi di hadapanku.”
“Aku tidak tahu harus bagaimana!” Veyra hampir menangis. “Aku bingung, Zavier. Aku tidak mungkin menepis pelukan suamiku sendiri.”
“Suamiku?” Zavier mengulang satu kata yang diucapkan oleh Veyra. Sesak. Itu yang Zavier rasakan.
“Apa kamu dan dia sudah melakukan itu?” tanya Zavier dengan tatapan mengintimidasi.
Veyra menggeleng dengan mata berkaca-kaca. Zavier mendekat. Wajahnya kini hanya beberapa inci dari Veyra. “Sungguh, kamu belum melakukannya?”
“Belum, Zavier. Aku terus menolak karena aku tidak bisa melakukannya tanpa cinta. Aku merasa jijik pada diriku sendiri. Aku bingung. Ini semua salahku.”
Zavier menghela. “Jangan merasa jijik, Vey. Keadaan yang salah. Kalau kamu bingung, aku beritahu kamu satu hal yang jelas.”
awal nya bagus, lanjut thor