Enrico Costra yang tampan dan kaya merasa hidupnya tidak lengkap. Melihat teman sekaligus rekan bisnisnya berbahagia bersama istri dan anak-anak, membuat ia merasa hidupnya kurang. Rasa sepinya bertambah ketika gadis perwaliannya dibawa pergi oleh suami yang menikahinya. Ia menyadari untuk pertama kalinya bahwa kata 'pernikahan' adalah hal yang menarik, lalu memutuskan ia juga menginginkan hal itu.
Vivianne Margue datang ke Mansion Costra mencari sepupunya yang bekerja sebagai asisten kepercayaan pemilik perkebunan Costra Land. Ia datang bersama neneknya, membawa masalah yang akan menentukan hidup Vivianne di masa depan.
Pertemuan pertama dengan Vivianne membuat Enrico terkesima ... gadis itu ... sama sekali tidak tertarik kepadanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DIANAZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15. Breadcrumbs
Arabella memandangi cucu laki-lakinya dengan wajah heran. Frederic baru memberitahunya kalau mereka tidak jadi pindah ke desa Costra Land selagi menunggu Frederic berangkat pergi mengurus masalah Dominic dan Helen.
"Apa tidak jadi masalah dengan atasanmu nanti, Fred? Menerima tamu di mansionnya terlalu lama."
Frederic menggelengkan kepalanya. "Tidak, Nek. Malah Tuan Enrico melarangku memindahkan kalian. Kurasa alasan yang dikatakannya masuk akal. Kalian tidak mengenal siapapun. Aku sungguh tidak sempat melakukannya karena banyaknya pekerjaan."
"Baiklah. Kau berangkat besok bukan?"
"Ya. Pagi-pagi sekali."
"Sudah mengatakan pada Vivi kalau kami akan tetap di sini ketika kau pergi?"
"Sudah, Nek. Ia senang karena bisa tetap membantu Lori. Mereka bertambah akrab."
Arabella menganggukkan kepalanya. "Lori wanita yang menyenangkan. Aku juga menyukainya. Baiklah ... hati-hatilah besok, Fred. Jika memang kau langsung berangkat ke Broken Bridge setelah urusan pernikahan itu selesai, maka berhati-hatilah. Entah kenapa kedua orang itu ... maksudku, Dom dan Helen sepertinya tidak akan membuat ini mudah untuk kita. Perasaanku mengatakan demikian."
Frederic mendekat dan memeluk neneknya yang duduk di pinggir ranjang. "Tenanglah, Nonna. Aku pasti berhati-hati ...."
"Ya, lalu Kembalilah kemari segera."
"Ya."
Frederic menepuk punggung neneknya dengan lembut lalu melepas pelukannya. Ia tersenyum dan menatap yakin pada kedua mata neneknya yang tampak khawatir.
"Aku akan membereskan semuanya, lalu kembali kemari segera."
Arabella mengangguk dan balas tersenyum. Frederic lalu bangkit berdiri lalu melangkah menuju pintu.
"Selamat malam, Nonna."
Arabella menjawab salam cucunya sambil tersenyum, lalu ia menutup pintu yang baru saja ditinggalkan oleh Frederic.
**********
Enrico berdiri di undakan tangga lantai atas. Menatap ke arah Vivianne yang tengah memberikan senyum cerah ke arah Alan. Kedua orang itu tertawa dan saling mengedipkan mata. Rico menunduk, menatap ke arah celana jeans berwarna biru yang ia pakai, juga kaos dan jaket hijau yang menurut beberapa gadis yang pernah melihatnya mengenakan warna itu menonjolkan warna matanya. Mereka juga mengatakan kalau ia terlihat amat tampan, mempesona, sedikit garang, dan tampak menggiurkan. Kata terakhir merupakan kata yang paling ia sukai. Seolah ia adalah makanan yang sangat enak untuk disantap.
Cast : Enrico Costra
Sekali lagi Enrico melirik ke arah Vivianne. Sepertinya ia memang tidak punya pengaruh apapun untuk sekedar membuat Vivianne terpesona ataupun memujinya. Pemikiran yang membuat kerutan muncul di kening Enrico. Perlahan ia kembali menuruni undakan tangga mendekati tempat Alan dan juga Vivianne berdiri. Keduanya tampak berpelukan dan Vivi kemudian mencium pipi Alan.
"Aku pasti akan sangat merindukanmu."
"Aku juga, Vivi. Kau teman yang menyenangkan."
"Terima kasih. Kau juga menyenangkan. Hati-hati ya Alan. Salam untuk kakakmu Ally."
"Ya," ucap Alan. Suara langkah kaki mendekat membuat bocah itu menoleh dan mendapati Rico sudah mendekati mereka.
"Paman. Apa kau sudah siap?"
Enrico mengangguk, ia tersenyum dan menjawab pertanyaan Alan, sambil melirik ke arah wajah Vivianne.
"Ya, Alan. Aku sudah siap." Rico menatap ke arah Vivianne yang menoleh dan mendongak menatapnya. Mata itu biasa saja, tidak terlalu berbinar seperti ketika memandang Alan. Senyum gadis itu juga biasa saja, tidak lebar dan manis seperti ketika sedang tersenyum pada Alan. Senyum Vivi sekarang bisa dikategorikan sebagai senyum sopan. Gadis itu hanya sedikit menganggukkan kepalanya sebagai tanda ia menyapa Enrico.
Entah kenapa Enrico merasa agak kecewa tidak ada pandangan berbinar dan senyum manis untuknya dari gadis itu.
Memangnya apa yang kuharapkan? Kenapa aku memilih berpenampilan begini? Apa yang kuharapkan? Pujiankah? Enrico Costra mengemis pujian? ... Enrico menertawakan dirinya sendiri di dalam hati.
"Apa sepupumu sudah siap, Vivi?"
Vivi menganggukkan kepala. "Fred sudah di depan, Tuan."
"Paman Frederic sedang memasukkan koper kita, Paman."
"Begitu ... bisakah kau lihat apakah dia sudah selesai?"
Alan langsung berlari tanpa menjawab permintaan Enrico. Meninggalkan Vivi hanya berdua berdiri di tengah aula mansion bersama Rico yang sedang memandang ke arah gadis itu dengan pandangan tidak berkedip.
Perlahan kedua alis cantik yang rapi di atas kelopak mata gadis itu terangkat. Sebuah senyum kembali terukir di bibirnya dengan mata menatap heran ke arah Enrico.
"Apakah ada sesuatu di wajahku, Tuan?"
Rico tidak menjawab, pandangan matanya malah terasa makin tajam bagi Vivi.
"Kenapa Anda memandangku begitu?" tanya Vivi lagi.
Rico makin mendekat, langkah kaki dan pandangan mata yang sudah berhasil membuat jantung ratusan wanita jadi berdegup kencang. Enrico mengingat istilah yang mereka pakai ... Berdebar-debar, mendebarkan, berpacu kencang. Ia tiba di hadapan Vivi, menunduk menatap dalam ke dua bola mata cokelat Vivianne.
"Ada sesuatu di pipimu." Rico mengangkat tangannya, menyentuh sebelah pipi Vivianne dengan ujung jemarinya, merasakan kehalusan dan kelembutan kulit gadis itu. Sentuhannya tidak dapat berhenti, ujung jemarinya mengelus dengan mata menangkap kedua mata Vivi.
Masih seperti semula, tidak ada yang berubah di wajah gadis itu. Hanya kedua alisnya yang sekarang terangkat, beberapa saat kemudian Vivi memundurkan kepalanya sedikit ke belakang agar pipinya terbebas dari jari-jari Rico. Sebuah senyum geli kemudian terkembang di bibir gadis itu. Sedikit terkesan mengejek menurut pandangan Rico, seolah Vivi merasa alasannya dibuat-buat untuk menyentuh pipi gadis itu.
"Tuan. Kenapa melakukan itu? Tidak ada apapun di wajah saya. Saya sangat yakin akan hal itu."
Vivianne membalas tatapan Rico dengan berani, tatapan bertanya dengan kedua alis tetap terangkat. Membuat Enrico akhirnya merasa jengah sendiri, lalu segera menjauhkan tangannya.
Apa hanya aku yang terpengaruh? Mata, senyum, bahkan kulit pipinya barusan memberi efek padaku, mempengaruhiku ... dia ... biasa saja.
Dengan menahan rasa penasaran, Enrico memberikan senyum kecil dan menjawab pertanyaan Vivi.
"Kau tidak melihatnya, Nona Vivi. Aku yang melihat. Kau sama seperti Alan. Bahkan remah roti masih menempel di pipimu setelah makan."
"Aku tidak sarapan roti tadi ... jadi dari mana datangnya?" Kedutan di pipi gadis itu membuat Rico sadar Vivianne sedang menyindirnya.
"Kau barusan mencium anak kecil yang setelah makan tidak pernah menyeka pipinya dengan benar. Apa kau yakin itu bukan remah roti yang pindah dari pipi Alan?" Rico menatap dengan tatapan menantang, menunggu gadis itu menyanggah ucapannya.
Kilasan rona merah melintas di pipi Vivianne. Vivianne merasa sangat malu, sejak tadi ia sekuat tenaga menahan seluruh ekspresinya dari atasan sepupunya itu. Pria itu mengatur langkah mendekatinya dalam gerakan lambat yang membuat jantungnya tiba-tiba mulai menambah ritme tanpa diminta. Lalu mengulurkan tangan dan menyentuh pipinya seolah ia berhak melakukannya. Vivi menahan rasa panas yang akan membuat pipinya merona. Ia tidak mau jadi salah satu gadis yang ada dalam cerita Lori, daftar para gadis yang terpesona, terpikat, meleleh sekejap mata karena ketampanan atasan sepupunya itu. Vivi tidak terlalu kebal seperti yang awalnya ia kira dan sekarang ia terlalu percaya diri, mengira pria itu sengaja ingin menyentuh pipinya? bodoh sekali! Menggelikan! ... Jadi ada remah roti di pipinya karena tadi ia memang sudah mencium pipi Alan.
"Kau jadi makin cantik kalau merona. Kami pergi. Tunggu sepupumu kembali dan jangan kemana-mana. Ingat itu, Vivi," ucap Rico sambil tersenyum dan melangkah meninggalkan Vivi menuju beranda depan mansion. Menemui Alan dan Frederic yang sudah menunggunya.
Vivianne menyadari, atasan sepupunya itu barusan memanggilnya Vivi, bukan Vivian, dan tanpa embel-embel Nona seperti di awal.
NEXT >>>>>
**********
From Author,
Halo semua. Buat yang nunggu up dan kecewa karena thor lambat upnya. Author cuma bisa bilang minta maaf nih, tugas kemanusiaan satu bulan ke depan ini menyita pikiran. Jadi belum bisa konsent pada Mr. Costra. Semoga pandemi segera berlalu ya. Meski New Normal, stay safe dengan tetap di rumah aja. Kalo gak perlu gak usah keluar. Protokol kesehatan juga jangan pernah diabaikan. Semoga kita semua sehat selalu. Aamiin....
Terima kasih semuanya.
Salam hangat, DIANAZ.
Terima kasih ya kak Diana 😍😍😍😍
Tata bahasa baku,rapi,lain dari pada yang lain.