Saat kau di anggap tidak berguna lagi, kau di buang dan di campakkan
Seolah-olah kau bagaikan sampah yang tidak terpakai...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nova Queensha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 15
#Dibuang_Seperti_Sampah
#Part_15
***
Bipbip ... Bipbip ...
Alarm ponselku berbunyi, pasti sudah jam tiga pagi, karena aku selalu menyetel alarm jam tiga pagi. Aku mengambil alarm di atas nakas, dan mematikan alarm ponselku. Perlahan aku beranjak dari kasur, namun, belum jauh aku beranjak, tangan Kak Ivan sudah memeluk pinggangku.
"Masih pagi, tidur lagi!" perintahnya dengan suara parau.
"Sudah jam tiga pagi, Kak."
"Kan masih pengantin baru, Sha. Sebentar lagi ... ," pintanya sambil memelukku semakin erat.
Malu-malu aku menuruti perintah Kak Ivan, aku menarik selimut dan merebahkan kembali tubuhku di samping Kak Ivan. Aku berbalik untuk memunggunginya, dan memejamkan mataku, rasanya aku tidak sanggup menatap matanya, setelah apa yang terjadi semalam.
"Yang ... nggak sopan, kalau tidur memunggungi suami," ucapnya sambil menyentuh punggungku dengan jarinya.
Tubuhku rasanya seperti terkena aliran listrik begitu Kak Ivan menyentuhku.
"Yang ... hadap sini dong!," pintanya lagi, kini jemari Kak Ivan sudah berada di lenganku. Aku sungguh gugup dibuatnya, bukankah semalam, kami sudah melewatinya? Kenapa aku masih juga gugup?.
Perlahan aku membalikkan badanku menghadap Kak Ivan, aku memejamkan mata, pura-pura tidur saja, batinku. Kini jemarinya sudah mulai menyentuh dahiku. Merinding rasanya seluruh tubuhku merasakan sentuhannya.
"Yang ... buka matanya dong?." Jemarinya menyusuri semua bagian wajahku. Aku memberanikan diri untuk membuka mataku perlahan.
Sial! Lagi-lagi, Kak Ivan sedang menahan tawa. Aku segera membalikkan badanku untuk memunggunginya. Aku mendengar Kak Ivan cekikikan, kemudian aku merasakan tangan Kak Ivan melingkar di pinggangku, dagunya menyentuh bahuku. Sekilas dia mencium leherku. Ya Tuhan ...
"Sha ... ngambek ya?."
"Enggak!."
"Kamu lucu banget sih, ngapain sih masih malu-malu."
"Ya ... nggak tau, Kak. Aku juga maunya biasa aja."
Kak Ivan makin mengeratkan pelukannya, "Kakak sayang banget sama kamu," bisiknya di telingaku.
Aku serasa melayang mendengar kata-kata dari Kak Ivan. Sebahagia inikah rasanya, ketika kamu dicintai dengan tulus?
***
Gara-gara Kak Ivan menarikku untuk tidur lagi, aku jadi kesiangan. Setelah mandi dan sholat shubuh, aku menuju dapur. Kulihat Mama dan Mba Cici sedang sibuk di dapur. Azka sedang duduk manis di kursi, sedang makan sesuatu di meja makan.
Aku sebenarnya malu sekali karena bangun kesiangan, dan membiarkan Mama sibuk di dapur bersama Mba Cici.
"Pagi, anak Mama. Lagi makan apa?," Tanyaku mengecup puncak kepala Azka.
"Bubur, Mama ..." Ucapnya sambil mengunyah.
"Pagi, Ma. Pagi, Mba." ucapku sambil mencium pipi Mama. Kulihat Mba Cici dan Mama senyum-senyum begitu melihat kehadiranku. Aku jadi semakin salah tingkah.
"Pagi, Sayang ... Nyenyak tidurnya?,"
"Eh- itu, Ma ... "
"Nyenyak, Ma. Pagi, Mama sayang" jawab Kak Ivan sambil mencium Mama.
Kulihat mama terkekeh melihatku. Entah sudah berubah menjadi warna apa mukaku sekarang.
"Pagi, Anak Papa, duh ... Pintarnya makan sendiri," sapa Kak Ivan sambil mencium pipi Azka.
"Aku bantu, Ma," ucapku mengalihkan perhatian.
"Nggak usah, sayang. Sudah mau selesai, kamu duduk saja."
"Sini, yang ... Duduk dekat suami tercinta," perintah Kak Ivan, sambil menarik kursi di sampingnya.
Mama dan Mba cici hanya bisa tersenyum dan geleng-geleng kepala mendengar ucapan Kak Ivan. Duh ... Sebenarnya aku nggak mau seperti ini, tetapi tetap saja aku masih merasa malu.
"Minta di peluk ya?" Tiba-tiba Kak Ivan memelukku dari belakang,
Aku berusaha melepaskan pelukan Kak Ivan, meskipun sudah halal, entah mengapa aku malu jika Mama melihat tingkah Kak Ivan yang ingin bermesraan.
"Nggak apa-apa, Sha, Mama paham kok," ucap Mama, seakan tahu apa yang ada di pikiranku.
"Tuh, kan, Sha ... Nggak apa-apa," Kak Ivan menimpali ucapan Mama dengan cekikikan.
"Ada Azka, Kak ... Malu."
"Nggak apa-apa, biar Azka cepat punya Adik," ucapnya sambil tertawa.
Mama memukul sayang lengan Kak Ivan, Kak Ivan hanya pura-pura meringis kesakitan.
"Sudah, ayo makan. Jangan suka iseng sama Aisha, kaya anak kecil, malu sama Azka." Ucap mama sambil membelai rambut Azka.
Melihat suasana seperti ini, aku tidak henti-hentinya mengucap syukur. Semoga selamanya akan tetap seperti ini. Aamiin.
***
Aku tidak pernah membayangkan, jika kehidupanku setelah berumah tangga dengan Kak Ivan begitu membahagiakan. Terlebih, beberapa bulan setelah menikah, aku dinyatakan positif hamil. Kebahagiaan kami semakin bertambah, begitu kami mengetahui, bahwa jenis kelamin janin kami adalah perempuan. Semakin melengkapi keluarga kecil kami.
Namun, seakan kami lupa, jika ada yang datang, pasti ada pula yang akan pergi.
Yang datang membawa senyuman, yang pergi meninggalkan air mata.
Yang datang membawa cerita baru, yang pergi meninggalkan kenangan.
Saat usia kehamilanku 6 bulan, Mama pergi menghadap Sang Pencipta, dan meninggalkan kami semua. Bisa kulihat betapa terpukulnya Kak Ivan, begitu mengetahui Mama telah tiada. Masih kuingat semalam kami masih bersenda gurau bersama, Mama masih memberiku beberapa nasihat, bermain dan tertawa bersama Azka.
Namun, saat pagi hari, aku melihat Azka yang berlari ke arahku sambil menangis.
"Mama ... Nenek nggak mau dibangunin sama Azka," ucapnya sambil memelukku.
Jantungku seperti berhenti berdetak, begitu mendengar ucapan Azka. Kak Ivan langsung berlari menuju kamar Mama, sedangkan aku masih berusaha menenangkan Azka. Aku meminta Mba Cici untuk menjaga Azka sebentar, sementara aku menyusul Kak Ivan untuk melihat keadaan Mama di kamarnya.
Kulihat Kak Ivan menangis sambil memeluk Mama, dan menggoyangkan tubuh Mama perlahan, berusaha membangunkannya.
Namun, sekeras apapun usaha Kak Ivan, mama tetap tertidur pulas. Aku mengusap bahu Kak Ivan perlahan, berusaha menahan air mataku. Kak Ivan berbalik ke arahku, menatapku, dan memelukku sambil menangis.
Bahunya bergetar karena menangis. Aku hanya bisa mengeratkan pelukanku, berusaha menguatkannya, meskipun aku juga merasa sedih, karena kehilangan sosok Ibu mertua yang sangat baik, seperti Mama.
Semoga Mama diampuni segala dosa dan khilafnya, di terima di sisi terbaikNya. Aamiin.
***
Suasana menjadi sunyi setelah kepergian Mama, terlebih, Kak Ivan lebih senang mengurung diri di dalam kamar Mama berhari-hari. Berkali-kali aku mengetuk pintu, tetapi Kak Ivan tidak membukanya.
Aku sedih dan bingung melihat Kak Ivan seperti itu.
"Kak, makan dulu ya, nanti Kakak sakit," ucapku sambil mengetuk pintu kamar Mama.
Hening.
"Kak, Mama juga nggak mau lihat Kakak seperti ini. Kakak nggak sayang sama Aku, Azka, dan calon bayi kita?," Tanyaku lirih. Tidak terasa air mata menetes di pipiku.
Aku sudah kehabisan akal, dengan cara apa aku harus membujuk Kak Ivan. Aku berjalan lunglai meninggalkan kamar Mama. Aku menghampiri Azka yang sedang bermain bersama Mba Cici.
"Sabar, Bu. Mungkin Bapak cuma butuh waktu." Ucap Mba Cici berusaha menenangkanku
"Makasih, Mba, semalam bapak makan jam berapa, Mba?."
"Maaf bu, saya kurang tahu. Tetapi pagi tadi, saya lihat ada piring kotor, mungkin bekas Bapak makan."
Aku hanya tersenyum getir mendengar ucapan Mba Cici.
"Azka, bobo yuk! Besok main lagi,"
"Oke, Mama," ucapnya sambil memperlihatkan deretan gigi susunya.
"Ya sudah mba, aku nemenin Azka dulu, ya." Mba Cici hanya menganggukkan kepalanya mendengar ucapanku.
Kemudian aku beranjak, menuju kamar Azka.
Entah aku yang tidak pengertian terhadap Kak Ivan, atau karena aku yang terlalu sensitif karena hamil. Setelah Azka tertidur lelap, aku masih saja menangis, hingga aku ikut terlelap di sisi Azka.
"Yang ... Bangun, kok tidur di sini?." Samar-samar aku mendengar Kak Ivan membangunkanku.
"Ketiduran, Kak."
"Pindah ke kamar yuk!."
"Malas, Kak, di kamar sendiri, Kakak juga di kamar Mama. Lebih baik aku di sini aja, nemenin Azka."
Tidak lama, aku mendengar suara kasur berderit, ternyata Kak Ivan tidur di belakangku sambil memelukku.
"Maafin Kakak, Sha ... Kakak sedih karena kehilangan Mama, tetapi Kakak lupa, kalau kamu juga butuh Kakak, terlebih kamu lagi hamil." Ucapnya lirih.
Aku yang mendengar penuturan Kak Ivan, malah menangis sesegukan. Kak Ivan semakin mengeratkan pelukannya.
"Maafin Papa ya, Anak cantik ... ." Ucapnya sambil mengelus perutku lembut.
Sepanjang malam, Kak Ivan memelukku sambil mengelus perutku, hingga aku terlelap.
***
Keesokan harinya, kulihat Kak Ivan sudah kembali seperti biasanya. Meskipun terkadang, masih dapat kulihat jelas, duka di matanya.
Aku langsung memeluk Kak Ivan erat, ketika aku melihat Kak Ivan berusaha menahan air mata di pelupuk matanya, mungkin karena rindu dengan Mama.
"Ciye ... Sekarang agresif ih, udah meluk-meluk duluan." Ucapnya tertawa terbahak-bahak
Aku yang mendengar ucapan Kak Ivan, langsung melepaskan pelukanku. Akan tetapi, kak Ivan menahannya dan membalas pelukanku.
"Udah sih, jangan malu-malu sama suami sendiri." Ucapnya sambil cekikikan. Aku hanya tersenyum bahagia mendengarnya.
🌺🌺🌺
Jangan lupa kritik dan sarannya
Vote dan comment nya ya
Makasih 🙏
emosi jiwaaa 😈😡😡😡