ALVINA ....
Itu namaku. Gadis berumur 17tahun baru lulus SMA. Aku yatim piatu yang diasuh oleh seorang wanita berhati mulia bernama Ardhina Devi. Wanita yang rela menghabiskan seluruh hidupnya untuk membesarkanku, mengorbankan kebahagiaannya demi merawatku dan merelakan cintanya untuk menyayangiku.
Hidupku berubah setelah kepergiannya, ditinggal untuk selamanya oleh satu-satunya orang yang aku sayangi, membuatku seperti kehilangan sebagian diriku.
Ini bukan kisah tentang anak angkat yang mencari siapa dan darimana dia sebenarnya. Tapi ini tentang diriku dan cintaku.
Maaf, jika ada kesamaan nama, karakter dan penggambaran tokoh yang aku ambil. Semua hanya buat pelengkap saja. Semoga suka dan menarik kalian baca sampai akhir.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sita Azzaky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
•Kondisi Kak Dhina•
"Assalamualaikum ... Pagi Dokter Arifin." sapaku lebih dulu.
"Waalaikumsalam. Kayaknya ada yang beda pagi ini?" Dokter Arifin akrab. Aku tersenyum semanis mungkin.
"Oh ya, Rizal bilang mau ketemu kamu disini hari ini, sudah ketemu Rizal?" tanya Dokter Arifin. Aku jawab dengan anggukan.
"Gimana menurutmu?" tanya Dokter Arifin lagi.
"Semua butuh waktu kan Dok .Entar biar waktu yang jawab." Tetap dengan senyum manis meskipun sebenarnya aku nggak tertarik bahas itu di sini sekarang.
"Mulai Minggu depan, kita akan sering ketemu, karna kondisi ginjal Dhina semakin buruk, hemodialisis akan di lakukan selama delapan sampe sepuluh jam, dan nggak mungkin kalau di selesaikan dalam sehari. Jadi mulai Minggu depan aku jadwalkan satu Minggu dua kali. Konfirmasikan waktu luangmu padaku ya Al ...." Dokter Arifin menerangkan.
Dua kali seminggu? Ya Allah ... Sanggupkah Kak Dhina menjalaninya? Membayangkannya saja aku udah nggak sanggup. Aku nggak sanggup melihat Kak Dhina kesakitan.
"Selain cuci darah apa nggak ada alternatif lain Dok? Aku khawatir justru Kak Dhina yang ngerasa lelah lalu putus asa." tanyaku penuh harap.
"Dari awal kan aku bilang transplantasi, donor ginjal"
"Tapi kan Dokter bilang, donor lebih baik dari pihak keluarga, tingkat kecocokannya lebih besar. Kak Dhina nggak pernah cerita tentang keluarganya, sedangkan aku ...." Aku gantung kalimatku. Dokter Arifin tahu, aku bukan saudara Kak Dhina.
Aku tundukkan kepalaku, aku nggak mau genangan air di mataku terlihat oleh Dokter Arifin. Sedih rasanya, di saat seperti ini, aku nggak bisa bantu Kak Dhina.
"Kamu masih ingat kan? Sebenarnya bisa donor dari orang lain, tapi biayanya lebih banyak karna harus membeli organnya dan tingkat kecocokannya kecil, hasilnya akan sama saja. Kalau tubuh Dhina nggak cocok dengan ginjal yang didonorkan, tiap hari dia harus minum obat untuk mengurangi reaksi penolakan ginjal barunya."
"Sama-sama akan terasa menyakitkan ya Dok?" Aku menghembuskan nafas berat.
"Dhina itu sudah sakit, kata sembuh sudah jauh dari dia, dia hanya bertahan hidup. Beri dia semangat hidup, atau beri dia kepastian kalau kamu sudah bisa hidup tanpa dia." Dokter Arifin menyobek resep obat dan menjulurkan ke aku.
"Maksud dokter?" Aku dongakkan kepalaku.
Aku beri kepastian kalau aku udah bisa hidup tanpa Kak Dhina? Gimana caranya? Bahkan aku sendiri belum sanggup ninggalin atau ditinggalkan Kak Dhina.
"Al, jam berapa kamu ke kampus?" suara Kak Dhina membuyarkan lamunanku. Kak Dhina datang bersama seorang suster mendorong kursi rodanya.
Wajahnya terlihat pucat, lengannya membiru dan bengkak bekas suntikan jarum. Ya Allah, nggak kebayang gimana sakitnya kalau harus cuci darah dua kali seminggu.
"Hasil seleksi beasiswanya keluar hari ini Dok" Kak Dhina berusaha terlihat baik-baik saja.
"Oh ya? Semoga hasilnya yang terbaik buat kamu Al. Tapi menurutku, nikah saja dulu itu yang terbaik. Cita-cita bisa di kejar setelahnya. Kamu bisa tetep kuliah setelah menikah." celetuk Dokter Arifin.
"Emang bisa ya Dok?" Kak Dhina menanggapi.
"Bisa, nggak ada yang mengharuskan mahasiswa itu berstatus single"
"Makasih Dok. Makasih sus. Alvi pamit dulu ya Dok." Aku harus cepat-cepat pergi dari sini sebelum Kak Dhina berubah pikiran. Aku ambil alih pegangan tangan kursi roda Kak Dhina.
"Sama-sama. Kalo ada waktu, mainlah ke rumah!" seloroh Dokter Arifin.
"InsyaAllah pasti. Asal ada yang datang minta izin ke Kak Dhina." balasku.
"Oh ya, boleh aku pastikan itu?" tantang Dokter Arifin. Aku ngangguk.
"Assalamualaikum Dokter."
"Waalaikumsalam." Aku dan Kak Dhina keluar dari ruang dialisis.
"Lho Rizal?" suara Kak Dhina pelan tapi terdengar olehku. Mas Rizal berdiri dari duduknya. Dia belum pulang. Apa dia nungguin aku?
HBD 😘😘🎉🎉🎂🎂🎁🎁🦀♋🦀♋🌷🌷💜💜😂😂
Welcome Cancer ♋🦀♋HBD Author 🎉🎉🎉🎂🎂🎂🎁🎁🎁🎂🎂🎂🎉🎉🎁🎁🎁
HBD 🎂🎂🎂🎂🎂🎁🎁🎁🎁♋♋♋♋♥️♥️♥️♥️🦀🦀🦀🦀💜💜💜💜🌷🌷🌷🌷🎂🎂🎂🎂🎁🎁🎁🎉🎉🎉🎉
HBD
🎂🎂🎂💜💜💜♋♋♋🦀🦀🦀
🎂🎂🎂♥️♥️♥️🎁🎁🎁🌷🌷🌷
HBD ♋♋♋💜💜💜🎁🎁🎁♥️♥️♥️