Sekuel dari "Bukan Salah Cinta"
Siapkan tissu, lap, atau kanebo ya readers 🤧
Takdir seseorang tidak ada yang bisa menebak. Takdir mampu mempertemukan seseorang, takdir juga yang mampu memisahkan orang itu.
Pertemuan tidak sengaja oleh takdir antara Melodi dengan pemuda hangat dan humble bernama Ben Damian Ezra.
Disaat cinta mulai tumbuh, terjadilah sebuah tragedi yang mengharuskan Melodi meninggalkan Ben.
Tahun-tahun berlalu, bagaimanakah kehidupan mereka?
Akankah takdir mampu mempertemukan mereka kembali?
Mampukah Melodi memaafkan Ben hingga mereka bersatu kembali?
"Dunia mungkin akan mampu mengubah hidupku, tapi tidak dengan rasa cintaku padamu."
"Kamulah Takdirku"
Happy reading ya guys, i hope you'll enjoy it😉
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riana Kristina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Happy reading,
💕💕💕💕💕
"Apa kau tidak mengabari ibumu?"
"Sudah tadi, sewaktu kita makan siang. Cuma aku belum bilang kalo keluar hingga hari gelap begini."
"Ah iya, maafkan aku. Aku sudah menjadikanmu berdosa karena membuat ibumu cemas."
"Tidak Kak, justru aku yang harus minta maaf. Aku sudah merusak suasana karena ...."
"Sudahlah, sebaiknya kita segera pulang." Menyelipkan rambut Melodi yang diterbangkan angin ke belakang telinga gadis itu.
Wajah Melodi semakin merona karena perlakuan Ben, apalagi saat pemuda itu menatapnya hangat dan tersenyum lembut. Kedua pipinya pun akhirnya ikut mengembang.
Ingin rasanya Ben mencubit pipi Melodi lantaran gemas melihat pipi merah muda itu membulat. Namun, dia merasa malu melakukannya, akhirnya dia hanya mengusap pipi Melodi yang sudah dingin lantaran diterpa angin malam pantai yang semakin dingin menyusup ke pori-pori kulit terdalam. Ben merapikan jaketnya di tubuh Melodi lalu menarik tangannya, menuntun gadis itu melewati bebatuan yang bertebaran di sepanjang bibir pantai. Dia tidak ingin Melodi sampai terjatuh di sana.
❤️❤️❤️❤️❤️
"Mana ponselmu?" tanya Ben saat mereka sudah sampai di depan rumah susun Melodi.
"Untuk apa?" Meskipun bingung, Melodi tetap mengambil ponselnya dari dalam tasnya dan memberikan pada Ben.
Ben hanya menyunggingkan senyum. "Tidak pakai sandi, 'kan?" tanyanya tanpa mengalihkan pandangan dari layar ponsel Melodi.
"Tidak," jawab Melodi polos.
Beberapa detik berikutnya terdengar dering ponsel dari saku celana Ben. Pemuda itu mengambil ponselnya dan tersenyum penuh makna.
"Masuklah, aku akan melihatmu dari sini." Mengembalikan ponsel Melodi.
"Tidak usah Kak, kau pulang saja, ini sudah malam."
"Justru karena ini sudah malam, aku ingin memastikan kau tidak kekurangan satu apa pun sampai di rumahmu. Aku tadi yang membawamu pergi maka aku bertanggungjawab penuh atas dirimu sampai kau kembali pada ibumu." Melodi hanya terdiam mendengar ucapan Ben. "Aku sudah menuruti inginmu untuk tidak mengantarmu masuk dan menemui ibumu. Jadi, kau juga harus menuruti inginku. Cepatlah masuk jika kau tidak ingin melihatku berada lama-lama di sini."
"Baiklah, terima kasih untuk hari ini, Kak. Selamat malam." Melodi melempar senyum sebelum berbalik meninggalkan Ben.
Sementara Ben terus memandangi punggung Melodi yang semakin menjauh darinya dan menghilang di balik pintu lift. Beberapa menit berikutnya, dia menengadahkan wajahnya menghadap ke lantai delapan, tempat Melodi berada. Gadis itu ternyata sudah sampai dan melambai dari atas balkon rumahnya. Seperti ada kontak batin di antara keduanya. Jika tidak, bagaimana bisa Ben dengan tepat mengetahui Melodi sudah sampai di rumahnya?
Ben balas melambai sembari tersenyum simpul. Kemudian, dia mengusap layar ponselnya dan mendekatkannya ke telinganya.
"Cepatlah masuk, tiga puluh menit lagi aku akan menelponmu."
"Hah?" kaget Melodi. Tangannya yang tadinya sudah bersiap memutar handle pintu kembali diam setelah ponselnya bergetar. Yang membuatnya bertambah kaget lagi, nama kontak yang tertera di layar ponselnya yang bertuliskan,
"Abang kesayangan"
Mungkin ini tujuan Ben meminta ponsel Melodi tadi. Rupanya pemuda itu mencuri nomor Melodi dan menyimpan kontaknya sendiri di ponsel gadis itu.
"Jangan kaget begitu. Kau harus terbiasa memanggilku dengan sebutan itu mulai sekarang." Ben terkekeh geli. Dia sudah membayangkan seperti apa lucunya ekspresi Melodi sekarang.
"Bukan begitu Kak ...."
"Abang!" potong Ben cepat.
"Iya, A—bang."
"Hm, good. Cepat paham pula kau rupanya. Cepat masuk, aku ingin segera pulang dan membersihkan diri."
"Hm, baiklah. Hati-hati di jalan Kak," jawab Melodi yang terdengar pasrah.
"Oke, aku tutup telponnya sekarang. Tiga puluh menit lagi aku menelponmu, mengerti."
"Hm," angguk Melodi. Namun, dia tidak segera membuka pintu. Gadis itu masih berdiri di balkon rumahnya menatap ke bawah sana. Memperhatikan Ben yang menyalakan motornya hingga suara motor Ben semakin menjauh dari area rumahnya dan tidak terdengar lagi.
Seketika hatinya serasa mencelos. Tiba-tiba saja dia merasa hampa kembali seperti biasanya. Namun, di detik berikutnya kedua sudut bibirnya kembali terangkat saat teringat ucapan terakhir Ben di telepon.
"Tiga puluh menit lagi aku akan menelponmu." Ucapan Ben berputar-putar terus di otaknya. Dengan semangat dia melangkah masuk ke dalam rumahnya. Dia ingin segera menemui ibunya untuk meminta maaf, lalu makan dan membersihkan diri, sebelum tiga puluh menit yang dibilang Ben itu datang.
❤️❤️❤️❤️❤️
Dukung aku yuk dilapak sebelah, bacanya juga sama tanpa koin,
Jgn lupa mampir ya krna ada give away di akhir bulan,
Aku tunggu 😊