Disekian banyaknya cinta,akhirnya aku hanya memilihmu untuk kucintai.
Suatu penantian dari seorang Ibu yang terbaring lemas dan berpesan kepada seorang pria muda yang selalu merawatnya
dan menjaganya. Bernama Dirga Arbian seorang aktor terkenal diamanahkan untuk menjaga anak gadisnya, ke Dirga seorang aktor kaya dan juga CEO terkenal memaksa menikahinya. Gadis tersebut bernama Tiara Bella.Tiara adalah Gadis nan cantik,terseret banyak masalah membajirinya.Hingga gadis yang yang dibenci seorang lelaki yang sah menjadi suaminya itu.Akhirnya mencintainya setulus genangan air mengalir.Bulir-bulir air mata bisa mereka lalui karena kisah cinta mereka yang datang sendiri.Tumbuhnya cinta membuat mereka buta akan nikmatnya.Kebencian dulu,hingga kebahagian datang dan kesedihan larut dalam garam yang mereka buat.
Akankah mereka selamanya bahagia?Sama dengan cerita drama?Ayo lanjutkan membaca awal kisah mereka...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ecca, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Acara
Dirga naik keatas ranjang karena tidak dapat menjangkau Ara.Ia naik keatas tubuh Ara,dan memulai memandang bibirnya.Melekatkan kedua bibir halus mereka.Tanpa sadar Dirga semakin tidak puas hingga menyadari sudah melewati waktu dan batas kontrak.Ara tidak kunjung bangun dari tempat tidurnya.Pasrah dengan memberikan nafas buatan.Dirga bangkit turun memasang sandal ke kakinya lalu memanggil Rayyan untuk kemari.
Setelah Rayyan memanggil dokter atas perintah Dirga.Beberapa menit lalu,untuk membantu Ara bangun Rayyan mengambil minyak kayu putih lalu,setelah menemukannya di kotak (Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan)berwarna putih diruang khusus rawat menginap jika sedang sakit.Untung dibawah laci kotak tersebut mudah ditemukan dan tinggal diangkat.Setelah Dirga mengambilnya,Dirga menyodorkan minyak kayu putih kehidung Ara.Karena tidak bangun-bangun padahal sudah dapat bonus nafas buatan alami dengan cara dari nafas ke nafas.
"Bagaimana Tuan?"
Rayyan berdiri disamping ranjang ruang rawat khusus yang berada di rumah Dirga persis sudah dilengkap fasilitas lengkap rumah sakit sudah sama seperti kamar mahal disuatu rumah sakit.
"Apa kamu sudah menelepon dokter.Lama sekali,padahal sudah diberikan nafas buatan.Tidak kunjung bangun juga."
Dirga memberikan botol berisi minyak kayu putih ke Rayyan.Rayyan menerimanya lalu diletakkan kembali ke tempat semula.
"Sebentar lagi datang Tuan."Rayyan membungkuk untuk pergi keluar.
Ara masih terlitang tidur saat masih pingsan.Dia masih terbawa harus bawah alam sadarnya.Setelah dokter datang Dirga menghadap dokter ingin tahu bagaimana keadaanya.
"Bagaimana keadaanya dok?"Dirga dari luar setelah menutup pintu kamar.
"Kondisi sekarang sudah stabil.Sepertinya dia terkena benturan dikepalanya.Mungkin karena jatuh.
Dan sekarang dia mengalami trauma berat.Saya harap anda tidak melukai perasahaannya dulu."
Dokter Jerl,dengan hormat selesai berbicara dan diantarkan Rayyan ke keluar.Dirga semakin dibuat gelisah.Pekerjaan,kematian Bu Ella,dan sakit trauma Ara membuatnya tercampur aduk dalam masalah.
"Rayyan.Kamu minta salah satu kepala pelayan untuk menjaganya.Aku akan pergi menguburkan beliau."
Dirga melipat lengan setelan kemejanya dan berlalu pergi diikuti Rayyan.
"Baik Tuan."Rayyan berbelok arah lalu memanggil Pak Landra melapor apa yang dibutuhkan Dirga.
Sore hari pukul 15.23 Ara terbangun memengangi kedua kepalanya.Terasa sakit,dadanya juga sesak.Radangnya seperti kembali.Memang semasa kecil selalu radang.Dan mengalami asma.
"Ibu.Aku mau lihat Ibu."Dia bangun dari ranjang melangkah membuka pintu.
"Nona.Sudah bangun,tolong jangan keluar Nona.Tadi Tuan Dirga memerintah pada saya agar menjaga Nona.
Untuk tidak keluar.Ini santap dulu buburnya lalu minum obat!"
Pelayan wanita dengan sabar dan ramah menarik lengan Nonanya.Walau ada rasa ketakutan dihatinya.Tapi ini adalah sebuah perintah dari Tuanya sendiri.
Kesal.Lagian dia Ibuku,bukan Ibunya.Aku juga ingin lihat Ibu.
Apa yang harus diperbuat lagi.Nasi sudah menjadi bubur sama seperti bubur yang ada di nakas yang baru dibuat pelayan itu.
"Nona.Duduk dulu.Agar bisa pulih."pelayan itu merangkul bahu Ara dengan sopan.
"Mbak.Ngomong-ngomong.Ibu saya sudah dimakamkan?"
Ara memandang pintu berharap ada orang yang membantunya keluar dari masalah ini.
"Iya Nona.Jenazahnya Ibu Non.Sudah dibawa di pemakaman teratai."pelayan itu mengambil nampan berisi semangkok bubur dan air putih dan dessertnya buah-buahan.
"Ini dimakan dulu Nona.Tadi Tuan menyuruh saya untuk mengantarkan sarapan."pelayan itu memengang nampan sebelum Ara menjawab mau makan atau tidak.
"Saya tidak nafsu.Saya butuh menyendiri di kamar.Mbak pelayan boleh keluar!Saya gak butuh.Terima kasih!"
Ara melangkah ke sofa lalu duduk memandang luar jendela.Yang tertata rapi diluar jendela pohon-pohon tinggi.
"Tapi Nona."pelayan takut jika Dirga marah setelah pulang jika Ara tidak sarapan.
"Nanti jika Tuan marah, saya akan bilang.Saya gak mau makan.Mbak bisa keluar sekarang!"
Ara tetap jengkel karena hari ini.Karena suasana hatinya sedang sangat buruk.
"Baik Nona.Saya permisi."
Dia membungkuk hormat karena pekerjaanya sudah selesai.Makanan yang dibawa pelayan sudah tertutup oleh tisu agar bisa dimakan nanti jika Ara membutuhkanya.
_ _ _
Siang hari yang cerah,seorang anak kecil mengandeng tangan Tantenya.Sudah biasa Tante anak kecil itu selalu mengantar jemput anak kecil yang sedang ia gandeng tersebut.
"Tante.Kok rumah kita ramai ya?"Anak kecil itu menarik tepian baju Tantenya.
"Sayang.Kamu jangan nangis,kamu harus menjadi anak yang kuat sama seperti Tante.
Janji jangan bawel ya!"
Raut muka Tante anak kecil itu terlihat sedih.Tentu Ara tahu.
"Ada apa Tante?"Ara terlihat muram.
"Ibu.Ibu aku pulang."teriak khas anak kecil masuk kedalam rumah kecil tempat tinggalnya.
Ara melihat sekitar rumah kecil itu sudah dipenuhi orang-orang.Dan tentangganya ikut serta duduk dan menunduk.Bu Ella tidak kuasa menahan kesedihanya.Dia terus menangis tersedu-sedu.Anak kecil bernama Ara itu mendekat dan memeluk erat Ibunya.Tidak ada Ayah disampingnya.
Biasanya jika Ibu duduk Ayahlah yang selalu bersanding disebelah Ibunya.
"Ibu.Ayah mana?"Anak kecil itu kedua tanganya memengangi pipi Ibunya dan menghapus air mata Ibunya.
Kamu masih terlalu kecil untuk mengetahui tentang ini semua.
Jika tahu Ayahmu telah pergi.Apakah kamu akan tinggalkan Ibu juga?Wanita yang dipanggil Ibu oleh anak kecil bernama Ara memeluk erat Ara kecil.
"Ayahmu.Sedang dipangkuan Allah."Bu Ella terus terang karena sudah tidak sanggup meredam masa lalunya bersama Ayah Ara.
"Ibu.Ibu bohong.Hiks....hiks..,"Ara menangis sama seperti anak kecil pada umumnya.
Ketika itulah masa lalu mengingatkanya tentang Ayahnya yang meninggal.Dia melamun terus suka menyendiri jika ada masalah.Suka meredam kesalahannya dan masalah.Dan suka terhadap dirinya yang tidak suka berinteraksi pada orang-orang.Setelah lamunanya buyar karena ada yang mengetuk pintu.Dia bangun dari sofa melangkah membuka pintu.
"Selamat sore Nona.Saya dititipkan ini oleh Tuan.Untuk kedaerah pemakaman.Agar Nona menyusul Tuan muda ke pemakaman teratai hari ini juga.
Disana juga sedang diadakan acara penghormatan khusus."
"Acara penghormatan khusus.Memangnya Ibu saya dimakamkan dimakam pahlawan Pak?"Dia mengerutkan dahinya tapi hatinya sedang buruk.
"Gak tahu Nona.Saya juga kurang tahu.Lebih baik Nona segera bergegas.Saya akan tunggu dan mengantarkan Nona."
Ara segera melangkahkan kaki ke ruang ganti dan menganti baju.Selesai berganti baju,dia naik mobil dan Pak Landra menjalankan mobil.Keluar area halaman.
Gak nyangka aku bisa kehilangan kedua orangtuaku.Apa coba kesalahanku di masa lalu.
Sampai aku menerima pahitnya
hidup.
Ara bersadaran ditempat duduk mobil sambil melihat jendela luar dan melihat banyak perpohanan dan kendaraan berseta toko-toko di tengah perkotaan.
Bersambung...
Mohon maaf kalau sy salah, tapi terus terang sy aga bingung mengimajinasikan reka adegannya di episode ini, terutama yg bagian akhir.. 🙏🏻
Semangat berkarya.. 💪🏻💪🏻💪🏻
lanjut tor...
ditunggu feedbacknya 🤗🦋