Monique "Momo" Salim — gadis Tionghoa dari gang sempit Pecinan Semarang, anak haram yang dijual ayahnya sendiri, tabungan Rp 300.000 — terbangun di sebuah pulau mewah yang tak pernah ada di peta mana pun.
Di hadapannya berdiri seorang pria yang menguasai separuh ekonomi Asia Tenggara.
Renard Aurelius Widjaja.
CEO Widjaja Group. Konglomerat paling berkuasa — dan paling berbahaya — di Indonesia. Matanya amber seperti matahari terbenam, tapi tatapannya lebih dingin dari es.
"Kamu milikku," katanya. Bukan pertanyaan. Bukan permintaan. Itu pernyataan.
Momo dikurung. Bajunya diganti. Ponselnya disita. Satu-satunya yang tersisa: setengah gelang sakura di pergelangan tangannya — dan ingatan samar tentang pil putih yang memulai segalanya.
Tapi Momo bukan gadis yang mudah tunduk.
Di balik tembok emas penjara Renard, ada rahasia yang lebih gelap dari obsesinya:
— Seorang hacker jenius yang menawarkan kebebasan... dengan harga yang tak terduga.
— Sebuah password sembilan huruf yang menyimpan cinta bertahun-tahun.
— Dan kebenaran tentang keluarga Widjaja yang bisa menghancurkan segalanya.
Ketika cinta paksa berubah menjadi cinta sungguhan — siapa yang sebenarnya menjadi tahanan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Buana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 14
Bab 14: Pemulihan dan Pertanyaan
Anthony datang langsung ke Pulau Raja keesokan paginya.
Ia tidak seperti yang Momo bayangkan. Untuk dokter pribadi pria seperti Renard, Momo mengira Anthony akan setegang Albert atau sedingin para pengawal. Ternyata pria itu masuk ke kamar medis dengan rambut pirang diikat rapi, jas putih terbuka, dan wajah orang yang terlalu lelah untuk takut pada siapa pun.
"Panggil saja Dok," katanya sambil memeriksa monitor. "Kalau panggil Dr. Lorenz, aku merasa sedang dimarahi istriku."
Momo menatapnya dengan mata setengah terbuka. "Aku tidak punya tenaga untuk memanggil panjang-panjang."
"Bagus. Pasien yang masih bisa menyindir biasanya belum mau mati."
Renard berdiri di sudut ruangan. Wajahnya datar, tetapi matanya mengikuti setiap gerakan Anthony. Momo melihat luka kecil di tangannya sudah diperban. Tidak ada yang menyebut bagaimana luka itu didapat.
Anthony memeriksa tulang rusuk, paru, suhu tubuh, dan refleks Momo. Kesimpulannya: tidak ada patah tulang, paru-paru bersih, memar akan sakit beberapa hari, hipotermia sudah lewat.
"Kau beruntung," kata Anthony.
Momo melirik Renard tanpa sadar.
Anthony menangkap gerakan itu. Ia tidak berkomentar, hanya tersenyum tipis.
Saat ia menulis catatan, ponselnya menyala di meja. Pesan masuk terlihat sekilas.
Vel: Jaga pasiennya ya, Sayang. Jangan lupa makan juga.
Anthony cepat membalik layar, tetapi terlambat. Momo sudah melihat cincin kawin di jarinya. Sesuatu di dadanya terasa aneh. Di dunia yang sama dengan Pulau Raja, ternyata ada pasangan yang bisa saling mengingatkan makan tanpa menjadikan tubuh orang lain sebagai wilayah kekuasaan.
"Istrimu?" tanya Momo pelan.
Anthony tersenyum lebih lembut. "Velyne. Dia jauh lebih menakutkan dari Renard kalau aku lupa makan."
Renard mendengus kecil.
Itu suara hampir manusia.
Hari-hari pemulihan berjalan lambat. Momo dipindahkan dari kamar medis ke kamarnya sendiri. Bunga segar muncul setiap pagi di vas dekat jendela. Hari pertama mawar putih. Hari kedua krisan kuning. Hari ketiga bunga kecil ungu yang tidak Momo tahu namanya.
Renard tidak mengatakan itu darinya.
Tidak perlu.
Momo tahu dari cara bunga-bunga itu dipilih. Tidak terlalu romantis, tidak mencolok, tetapi selalu segar, selalu diletakkan sebelum ia bangun, seolah seseorang ingin menyentuh ruangnya tanpa membuatnya merasa dikepung.
Pada hari ketiga, Momo bertanya kepada Albert saat pria itu mengganti air vas.
"Sen... siapa dia sebenarnya?"
Tangan Albert berhenti sebentar.
"Orang berbahaya."
"Aku sudah tahu itu."
"Kalau begitu Nona tahu cukup."
Momo menatapnya. "Dia sengaja melepaskanku."
Albert tidak tampak terkejut. Itu jawaban tersendiri.
"Kenapa Renard tidak bilang sejak awal?"
"Ada hal yang Tuan pilih tanggung sendiri."
"Itu bukan jawaban."
Albert menatap bunga di vas, lalu berkata pelan, "Ada orang yang tampak hangat tapi hatinya es. Ada juga yang tampak es tapi hatinya..."
Ia berhenti.
"Saya tidak berhak bicara lebih."
Malam itu Momo terbangun karena haus. Kamar gelap, hanya lampu kecil dekat sofa menyala. Di kursi samping ranjang, Renard tertidur.
Ia duduk dengan posisi tidak nyaman, kepala sedikit tertunduk. Di tangannya ada buku terbuka. Momo menyipitkan mata, membaca judul halaman.
Tanaman Obat Tradisional Indonesia.
Ada penanda di bagian tentang ramuan penghangat tubuh setelah masuk angin dan pemulihan paru.
Momo menatapnya lama.
Pria itu menculiknya. Membelinya. Mengurungnya. Menyelamatkannya. Menangis untuknya. Lalu duduk di kursi sempit, mempelajari tanaman obat tradisional karena ia hampir tenggelam.
Tidak ada manusia yang seharusnya serumit ini.
Renard bergerak sedikit. Buku di tangannya hampir jatuh. Refleks, Momo mengulurkan tangan dan menahannya.
Jari mereka bersentuhan.
Renard membuka mata.
Untuk beberapa detik, tidak ada yang berbicara.
Momo menarik tangannya lebih dulu.
"Bukunya hampir jatuh," katanya.
Renard menatap buku itu, lalu Momo. "Tidur."
"Kamu juga."
Kalimat itu keluar terlalu cepat.
Mata Renard berubah, sangat sedikit.
Momo segera membalik tubuh, pura-pura tidak melihat.
Di belakangnya, ia mendengar Renard menutup buku perlahan. Tidak pergi. Hanya duduk lebih diam.
Anthony memeriksa layar monitor portabel, lalu melirik Renard lewat kacamata tipisnya. "Pasien harus istirahat."
"Aku sudah istirahat," kata Momo.
"Saya bicara tentang pasien yang lebih sulit diatur." Anthony menunjuk Renard dengan pena. "Anda. Duduk. Jangan berdiri seperti patung hukuman."
Albert pura-pura menunduk, tetapi bahunya bergerak.
Renard menatap dokter itu. "Bicaralah seperlunya."
"Saya selalu bicara seperlunya. Masalahnya, keperluan Anda banyak." Anthony berbalik kepada Momo. "Panggil saya Dok saja. Kalau setiap orang di rumah ini memanggil saya Dokter Anthony dengan nada seolah saya bagian dari upacara pemakaman, saya akan cepat tua."
Momo hampir tersenyum.
Renard melihat hampir-senyum itu.
Tatapannya tinggal di wajah Momo lebih lama dari pantas. Bukan seperti menilai tahanan. Lebih seperti seseorang yang memastikan cahaya kecil benar-benar masih ada. Momo merasakan pipinya panas dan langsung membenci dirinya.
Setelah Anthony pergi, Renard kembali malamnya dengan setangkai bunga putih dan buku tebal tentang tanaman obat Indonesia. Ia tidak mengatakan dari mana ia mendapatkannya. Ia hanya meletakkannya di meja.
"Bunga untuk pasien?" tanya Momo.
"Untuk kamar."
"Takut kalau bilang untukku, harga dirimu runtuh?"
"Harga diriku selamat dari hal yang lebih buruk."
"Seperti apa?"
Renard menatapnya. "Kehilanganmu di laut."
Momo kehabisan kata.
Pria itu duduk di kursi dekat jendela, membuka buku, dan mulai membaca seolah tidak baru saja melempar batu ke tengah dada Momo. Lampu kamar membuat sisi wajahnya lembut. Luka di pelipisnya tertutup plester. Tangan yang memegang halaman masih punya goresan.
Momo berbaring menghadapnya.
"Kamu tidak perlu di sini."
"Aku tahu."
"Lalu kenapa?"
"Karena aku ingin."
Jawaban itu terlalu telanjang untuk seorang Renard. Momo memejamkan mata, pura-pura lelah sebelum tubuhnya mengkhianati wajahnya lebih jauh.
Di antara tidur dan sadar, ia mendengar suara halaman dibalik. Pelan. Teratur. Seperti seseorang menjaga malam agar tidak menyentuhnya terlalu kasar.
Dan anehnya, malam itu Momo bisa tidur lagi.