Keira baru saja menyaksikan kedua orang tuanya meninggal dalam kecelakaan mobil.
Detik berikutnya, dia membuka mata -- dan menyadari dirinya terjebak di tubuh bayi berusia satu setengah tahun.
Ini bukan mimpi. Ini adalah kehidupan keduanya. Dan hari ini... adalah sehari sebelum Papa Jiankok dan Mami Sherly bercerai.
Di kehidupan pertamanya, perceraian itu menghancurkan segalanya. Papa kembali menjadi budak Oma Hoo -- nenek yang pernah mencubit bayi Keira sampai merah, yang menyebut cucunya sendiri "anak cewek nggak berguna," yang menggeledah kantong celana Jiankok sampai ke dalam untuk merampas uang terakhirnya. Mami Sherly berjuang sendirian sampai tubuhnya hancur. Dan pada akhirnya, mereka berdua pergi meninggalkan Keira selamanya.
Tapi kali ini, Keira tidak akan membiarkan itu terjadi.
Dengan otak dewasa di balik wajah bayi yang menggemaskan, Keira mulai bergerak. Langkah pertama: pastikan Papa tidak menyerahkan uang terakhirnya ke Oma. Langkah kedua: bantu Mami jualan nasi di pinggir proyek -- dari penghasilan dua puluh dua ribu per hari. Langkah ketiga: gunakan ingatan dari kehidupan sebelumnya untuk mengubah keluarga kecil ini dari nol... menjadi kerajaan bisnis bernilai miliaran.
Tapi mengubah nasib tidak semudah membalik telapak tangan.
Oma Hoo datang dengan rencana menculik Keira. Keluarga Goh menuntut Sherly jadi "ATM" untuk adik laki-lakinya. Dan ketika keluarga Hoo mulai kaya, seluruh kerabat yang dulu menginjak-injak mereka tiba-tiba datang mengetuk pintu dengan senyum manis.
Maka Keira merancang satu strategi besar: **pura-pura miskin**.
Di balik baju lusuh dan mobil butut, tersembunyi kekayaan yang tak seorang pun tahu.
Dan di antara semua kekacauan ini, ada seorang anak laki-laki pemurung bernama Yuchuan -- pewaris keluarga konglomerat Tjia -- yang tujuh tahun lalu pernah diselamatkan oleh seorang gadis kecil gemuk yang memanggilnya "teman."
Akankah Keira berhasil menyelamatkan keluarganya, menjaga rahasia kekayaannya, dan menemukan kembali cinta pertamanya... sebelum semuanya terlambat?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 14
Bab 14: Strategi Benalu Berhasil
Besok, mereka sendiri yang akan membuka pintu kandang.
Keira tidur dengan senyum kecil malam itu. Pagi harinya, ia bangun lebih awal dari orang dewasa, tapi tetap pura-pura masih mengantuk di pelukan Sherly. Strategi hari ini sederhana: jangan terlalu rajin, jangan terlalu pintar, jangan membuat siapa pun merasa keluarga kecil mereka berguna.
Semakin tidak berguna mereka terlihat, semakin cepat orang ingin memisahkan.
Jiankok menjalankan perannya dengan sangat serius. Matahari sudah naik tinggi ketika ia keluar kamar sambil menguap. Rambutnya berantakan, baju lamanya kusut, dan langkahnya lambat seperti orang yang kehilangan arah hidup.
Oma Hoo melihatnya dari dapur. "Baru bangun? Di Jakarta kamu juga begini?"
Jiankok menggaruk kepala. "Kalau tidak ada kerjaan, mau bangun pagi buat apa, Ma?"
Tante Cuihong yang sedang mencuci sayur langsung mengangkat wajah. Tante Yenni hampir menjatuhkan pisau.
Keira menunduk di mangkuk buburnya.
Papi, jawabanmu sempurna.
Siang hari, Sherly memasak lagi. Kali ini ia memakai minyak agak banyak, menggoreng telur untuk semua orang, dan merebus sup dengan sisa tulang ayam yang masih disimpan Tante Yenni. Setiap gerakannya tampak tulus membantu, tapi hasil akhirnya membuat stok dapur menipis cepat.
"Ci Sherly," kata Tante Yenni dengan senyum kaku, "minyaknya dipakai banyak sekali."
Sherly menoleh, wajahnya polos. "Imlek kan harus makan enak. Lagi pula, kalau kami tinggal di sini, aku bantu masak setiap hari."
Kata `setiap hari` membuat wajah Tante Yenni pucat.
Tante Cuihong menarik Om Jianye ke sudut halaman. Suaranya tidak keras, tapi Keira yang sedang bermain batu kecil dekat pintu bisa mendengar.
"Kalau nggak pisah sekarang, kita yang rugi. Lihat saja, baru dua hari ayam, telur, minyak habis."
Om Jianye mengusap wajah. "Tunggu Pa selesai makan."
"Jangan tunggu terlalu lama. Nanti mereka betah."
Sore itu, Opa Hoo minum arak sedikit lebih banyak setelah makan. Wajahnya memerah, suaranya lebih berat daripada biasa. Oma Hoo duduk di sampingnya, masih puas melihat Jiankok pulang sebagai anak gagal yang bisa ia kendalikan lagi.
Om Jianye berdeham.
"Pa, ada yang mau kami bicarakan."
Ruang tengah langsung tenang.
Keira yang duduk di pangkuan Sherly menggenggam ujung baju Mami.
Pintu kandang terbuka.
Opa Hoo menyipit. "Apa?"
Om Jianye menatap Om Jianming. Adiknya mengangguk kecil.
"Kami pikir... anak-anak sudah besar. Rumah makin ramai. Lebih baik urusan dapur dan uang dipisah."
Oma Hoo langsung menoleh. "Pisah? Pisah apa?"
Tante Cuihong cepat menyambung, "Bukan pisah hati, Ma. Cuma pisah pengeluaran. Biar jelas siapa makan apa, siapa bayar apa."
Sherly menunduk, menyembunyikan senyum.
Jiankok memasang wajah terkejut yang agak berlebihan. "Kalian mau pisah keluarga?"
Om Jianming tampak kesal. "Bukan begitu. Tapi kalau semua gabung, susah hitungnya."
Opa Hoo meletakkan gelas. "Kalau pisah, siapa yang jaga aku dan Oma kalian?"
Pertanyaan itu membuat dua adik Jiankok diam sebentar.
Keira menahan napas. Ini titik penting. Kalau mereka memaksa Papi tinggal, rencana bisa melenceng.
Om Jianye akhirnya berkata, "Ko Besar kan pulang. Dia bisa tinggal di rumah utama dulu. Kami bangun rumah kecil dekat sini."
Dalam hati Keira mencibir.
Enak sekali. Mau mengusir beban dapur, tapi tetap ingin Papi jadi penjaga gratis.
Jiankok menunduk sesuai latihan. "Aku juga mau jaga Pa dan Ma. Tapi aku tidak punya uang bangun rumah. Kerja belum ada. Kalau tinggal di sini, mungkin aku bantu sebisanya."
Tante Cuihong langsung tegang. "Maksudnya tinggal terus?"
"Kalau Pa butuh..."
"Tidak, tidak." Om Jianye cepat memotong. "Maksudku, kita atur saja. Masing-masing kasih uang untuk Pa dan Ma. Ko Besar cari kerja lagi di luar."
Keira hampir tertawa.
Begitu mudah.
Opa Hoo menatap ketiga anak laki-lakinya. "Kalau begitu, uang bulanan untuk orang tua berapa?"
Om Jianming menjawab paling cepat. "Tiga puluh ribu sebulan cukup, Pa."
Opa Hoo membanting gelas ke meja. Tidak pecah, tapi semua orang terlonjak.
"Tiga puluh? Untuk dua orang tua? Kalian kasih makan ayam saja lebih mahal!"
Tante Yenni langsung menunduk. Om Jianming mengatupkan mulut.
Jiankok menghela napas panjang, seperti orang miskin yang dipaksa menanggung beban besar. "Aku... kalau nanti dapat kerja, bisa kasih lima puluh ribu. Tapi mungkin tidak selalu tepat waktu."
Mata Opa Hoo bergerak kepadanya.
Keira tahu kalimat itu sengaja dibuat pas. Tidak terlalu besar sampai dicurigai, tidak terlalu kecil sampai Opa marah.
Oma Hoo langsung berkata, "Si Abang saja berani lima puluh. Kalian berdua masa tidak?"
Wajah Om Jianye dan Om Jianming sama-sama kaku.
Keira turun dari pangkuan Sherly, berjalan ke arah Opa Hoo, lalu memegang lututnya.
"Opa..."
Opa Hoo menunduk. "Apa, Kei?"
"Om... rumah dekat. Opa bisa jalan... makan."
"Maksudmu?"
Keira menunjuk halaman samping. "Rumah Om sana. Oma sana. Dekat. Ramai."
Sherly segera menambahkan dengan nada lembut, "Kei maksudnya, kalau Om Jianye dan Om Jianming bangun rumah dekat sini, Opa dan Oma bisa tinggal di rumah utama. Anak-anak tetap dekat, tapi dapur dan uang masing-masing jelas."
Opa Hoo mengusap dagu.
Ide itu terdengar seperti membuat semua orang tetap berbakti, padahal sebenarnya memisahkan beban.
Om Jianye cepat menangkap peluang. "Betul, Pa. Kami tetap dekat."
Om Jianming ikut mengangguk. "Kalau Pa butuh, tinggal panggil."
Opa Hoo menatap Keira lagi. "Cucu perempuan ini kecil-kecil ada saja idenya."
Keira tersenyum manis. "Opa senang?"
Wajah Opa Hoo melunak. "Senang kalau kalian tidak ribut."
Setelah tarik ulur cukup lama, angka lima puluh ribu per anak per bulan disepakati. Om Jianye dan Om Jianming tampak seperti baru menelan obat pahit, tapi mereka lebih takut keluarga Jiankok terus tinggal dan menghabiskan dapur. Oma Hoo masih menggerutu, tapi karena uang bulanan terdengar seperti kemenangan, ia tidak menolak.
Opa Hoo meminta kertas bekas kalender dan menuliskan garis besar kesepakatan dengan tulisan besar-besar. Belum resmi, hanya catatan keluarga: masing-masing anak laki-laki memberi uang bulanan, dapur dipisah, biaya rumah masing-masing ditanggung sendiri. Jiankok sengaja membaca lambat, lalu mengangguk seperti orang yang tidak punya pilihan.
"Besok baru ditulis rapi," kata Opa Hoo. "Biar tidak ada yang pura-pura lupa."
Tante Cuihong dan Tante Yenni saling pandang. Mereka tidak suka ada catatan, tapi lebih tidak suka kalau Jiankok tetap tinggal tanpa batas.
Malamnya, ketika semua orang mulai bubar, Sherly masuk kamar dengan langkah ringan.
Jiankok menutup pintu, lalu berbisik, "Berhasil?"
"Setengah," jawab Sherly. "Pisah biaya sudah. Tapi KK belum."
Jiankok mengerutkan kening. "KK bagaimana?"
Sherly menatap Keira.
Keira yang sedang duduk di atas tikar memeluk lutut dan tertawa kecil.
"Besok Papi... malas lagi."
Jiankok berkedip.
"Opa kesal," lanjut Keira dengan suara manis. "Kasih KK... biar Papi pergi."
Sherly menutup mulut, menahan tawa.
Jiankok memandang putrinya cukup lama, lalu mengangkat ibu jari.
"Anak Papa benar-benar guru strategi."
Keira menyandarkan kepala ke bantal tipis.
Belum, Papi.
Besok baru pelajaran terakhir.
jadi makin seru
Ending nya dapet banget
💪semangat thoor