“Aku hanya membutuhkanmu untuk melahirkan pewarisku. Tidak lebih!”
Itulah kata paling menyakitkan yang diucapkan Duke Cassian Clyvedon kepada Elowen Whitmore. .
Semua orang di kerajaan tahu bahwa Duke Clyvedon adalah pria yang ditakuti, dingin, kejam, dan tak pernah mempercayai siapa pun.
Sementara Elowen Whitmore hanyalah putri kedua dari keluarga bangsawan yang hampir bangkrut… seorang gadis yang bahkan tidak bisa berbicara.
Ia tidak seharusnya menjadi pengantin sang duke.
Namun ketika kakaknya melarikan diri dari perjodohan yang telah diatur kerajaan, Elowen dipaksa menggantikan posisi itu demi menyelamatkan kehormatan keluarganya.
Kini ia terjebak dalam pernikahan tanpa cinta dengan pria paling menakutkan di kerajaan.
Semua orang yakin pernikahan ini hanya akan berakhir dengan kehancuran.
Tapi tidak seorang pun menyadari satu hal, bahwa sang duchess bisu mungkin adalah satu-satunya orang yang mampu meluluhkan hati sang Duke.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon farchahcha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
Tidak ada yang tahu soal dirinya yang diperlakukan kasar oleh Lady Valerie. Saat ini Elowen hanya bisa diam ketika Cassian menariknya ke dalam kamar.
Cassian mendudukkan Elowen di sisi ranjang. Kemudian dia merendahkan diri di depan Elowen.
Elowen sempat tersentak ketika tangan Cassian menyentuh wajahnya. Tubuhnya gemetar halus, meski berusaha tetap tenang.
Cassian melihat ada bekas merah di dagu Elowen. Tatapannya menggelap, rahangnya mengetat.
“Ini apa?”
Hening.
“Siapa yang menyakitimu?” ujar pria itu lagi sembari melayangkan tatapan tajamnya.
Pupil mata Elowen melebar. Apa dia harus memberitahu Cassian?
Cassian mulai mengangkat dagunya sedikit ke atas.
Entah kenapa tubuh Elowen membeku, Dia merasa wajahnya memanas saat sentuhan tangan Cassian mengenai kulitnya.
Wanita itu menahan napas ketika wajah Cassian maju lebih dekat padanya.
“Kenapa tubuhmu panas sekali? Apa kau sakit?” tanya Cassian menempelkan telapak tangannya ke leher Elowen, memeriksa suhu tubuh istrinya.
Menyadari kalau Cassian mengusap menyentuh kulit Elowen dengan telapak tangannya yang besar itu, Elowen seketika menjauhkan dirinya.
Elowen mengerjapkan matanya, menepis tangan Cassian sedikit kasar hingga pria itu terkesiap. Tanpa memperdulikan perubahan ekspresi Cassian, Elowen mengambil catatan kecilnya.
“Aku tidak apa-apa,” tulisnya untuk Cassian. “Apa urusanmu dengan Harry sudah selesai?” tanya Elowen.
Beberapa jam lalu, Harry datang untuk menemui Cassian. Dari yang Elowen dengar, ajudan pribadi Cassian itu membawa berita penting.
“Kenapa kau ingin tahu?” Cassian balik bertanya.
Elowen menekan bibirnya, kemudian menggeleng. “Hanya… kulihat kalian tadi sangat serius,” tulisnya lalu memperlihatkan ke Cassian.
Mungkin saja Elowen salah bicara, karena setelah itu wajah Cassian terlihat mengeras. Buru-buru Elowen menuliskan sesuatu. “Maafkan aku… yang terlalu ikut campur. Lupakan saja semuanya.”
Setelah membaca tulisan Elowen, Cassian mengangkat wajahnya.
Pria itu diam sejenak setelah akhirnya kembali bersuara.
“Apa kau bisa berkuda?” tanya Cassian.
Elowen mencondongkan kepalanya, alisnya terangkat.
Berkuda…?
Tentu saja Elowen bisa.
Meski tidak sebesar milik Cassian, Duke of Clyvedon. Keluarga Whitmore juga mengelola peternakan kuda. Hampir semua anak-anak Whitmore mempunyai satu kuda kesayangan mereka.
Dan, Max adalah nama kuda milik Elowen. Sebelum kuda itu mati karena terserang penyakit.
Elowen mengangguk sebagai jawaban pertanyaan Cassian.
“Baguslah,” sahut Cassian, kemudian berdiri hendak keluar dari kamar.
Elowen yang masih penasaran, menahan tangan Cassian agar tidak pergi. Wanita itu menulis cepat di catatan kecilnya.
“Kenapa bertanya soal itu?” tulis Elowen.
Cassian tidak langsung menjawab. Pria itu tersenyum tipis sembari melepaskan tangan Elowen.
“Istirahatlah, kita akan menemui Marquess Lucien di Ravenhearst besok di pacuan kuda.”
Marquess Lucien di Ravenhearst?
***
Elowen pikir malam itu dia akan tidur bersama Cassian setelah kamarnya dipindahkan. Wanita itu bahkan sudah khawatir kalau malam panas itu akan kembali terjadi…
Namun, sepertinya kekhawatiran Elowen hanya sia-sia.
Karena, pagi ini Elowen bangun di atas ranjang sendirian. Tidak ada jejak Cassian sama sekali.
Elowen menarik napas kecewa. “Kenapa dia tidak kembali semalam?” ujarnya dalam hati.
“Apa dia bilang kalau ingin sekamar denganku hanya untuk membuat marah Putri Lidya dan Lady Valerie?”
Entah kenapa pagi itu Elowen merasa seperti dimanfaatkan oleh Cassian. Tangannya meremas selimut, dengan bibir yang mengetat. Amarah menguasai Elowen pagi itu sampai akhirnya… Pintu kamar terbuka.
Elowen menoleh ke arah pintu.
Cassian?
Ternyata bukan.
“Selamat pagi, Your Grace,” sapa Nyonya Wilson ketika memasuki kamar.
Elowen mengangguk membalas sapaan ramah wanita itu.
“Anda sudah ditunggu Tuan Duke di halaman utama.”
Elowen menunjuk dirinya, seolah bertanya pada Nyonya Wilson. “Cassian sudah menungguku?”
Nyonya Wilson mengangguk. “Saya akan membantu anda bersiap,” katanya sambil meletakkan gaun di tangannya ke meja rias tak jauh dari sana.
Senyum ramah diberikan Nyonya Wilson untuk Elowen yang masih setengah sadar itu.
Dengan bantuan Nyonya Wilson, Elowen bisa cepat bersiap. Dia cukup terkejut dengan baju yang dipersiapkan pagi ini.
Riding habit berwarna gelap, jaket yang pas membingkai tubuhnya rapi, sementara rok panjangnya tak mengurangi keanggunan seorang Duchess of Clyvedon itu.
Sarung tangan kulit, topi kecil bertengger di kepala Elowen.
Jelas sekali kalau ini baju untuk berkuda.
Berkuda di pagi hari?
Setelah selesai bersiap, Elowen didampingi Nyonya Wilson pergi ke halaman utama dimana Cassian sudah menunggu di sana.
Cassian sudah berdiri di halaman utama saat Elowen keluar.
Pria itu mengenakan pakaian berkuda berwarna gelap, potongannya yang tegas membingkai tubuh Cassian yang tinggi dan tegap. Jaket kulitnya sangat pas di bahu lebar pria itu.
Sesaat Elowen mematung ketika melihat Cassian.
Tidak bisa dipungkiri kalau Cassian pagi ini begitu tampan dengan pakaian berkudanya. Setiap potongannya seolah menegaskan garis otot sang duke.
Ditambah dengan sepatu boots tinggi membalut kakinya yang panjang. Sarung tangan kulit hitam itu sungguh menambah kesan dingin sang duke yang tak tersentuh.
Elowen juga tak bisa mengabaikan rambut Cassian yang tersisir rapi, namun tetap menyisakan kesan liar itu.
Rahangnya terlihat semakin tajam ketika cahaya matahari pagi menerpanya.
“Kau sudah siap?” suara berat itu terdengar lebih menggiurkan di pagi hari.
Astaga! Apa yang sebenarnya Elowen pikirkan? Dia hampir saja jatuh cinta dengan sang duke.
Atau mungkin Elowen memang sudah jatuh cinta pada sang duke?
***
klo di rupiah kan setara dgn berapa kah...?
auto lsg tanta mbh gogle
you're amazing writer