Wang Chan hanyalah pemuda biasa dari Desa Hitam. Berkali-kali ditolak oleh sekte karena bakat rendah dan kekuatan lemah.
Namun saat desa mereka dihancurkan oleh monster iblis, ia tak punya pilihan selain melarikan diri sambil membawa seorang teman wanitanya.
Di tengah dunia kultivasi yang kejam, Wang Chan harus bertahan hidup dengan kekuatan yang nyaris tak berarti. Dari pelarian putus asa itulah, takdirnya mulai berubah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chizella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14: Rahasia kecil antara guru dan murid
Usai makan, Qing Yi pergi berlatih sendiri. Tidak begitu jauh, hanya di halaman kosong dekat rumah.
Dari jendela ruang tamu, Wang Chan sesekali bisa melihat bayangannya yang bergerak lincah, memutar pedang, melompat, dan menghujamkan tebasan ke udara.
Wang Chan duduk di ruang tamu dengan sedikit bosan. Ia mencoba menstabilkan kekuatannya seperti biasa, duduk bersila di atas lantai bambu, mengatur napas, mengalirkan Qi ke seluruh meridian.
Tapi tidak ada yang berkembang. Tidak ada peningkatan.
Rasanya seperti air yang menggenang di tempat yang sama tanpa pernah mengalir ke mana-mana.
Bahkan entah yang ke berapa kalinya, ia menghela napas hari ini.
Liu Chiyang yang baru turun dari kamarnya di lantai atas melihat itu.
Rambutnya masih sedikit basah selesai keramas, dan ia mengenakan jubah tipis yang sama seperti biasa.
Dengan langkah ringan, ia mendekati Wang Chan.
"Xiao Chanchan. Bagaimana dengan kultivasimu?"
Wang Chan menoleh. Wajahnya datar, tapi ada rasa frustrasi yang sulit disembunyikan di balik tatapannya.
"Tidak ada perkembangan sama sekali. Rasanya seperti aku melupakan sesuatu yang penting, tapi aku tidak tahu apa itu."
Liu Chiyang meletakkan jarinya di dagu, matanya menerawang seolah sedang berpikir keras.
"Xiao Yi meningkat begitu cepat setelah mencapai Ranah Nascent Soul, tapi kau sendiri malah semakin kesulitan." Ia menghela napas kecil. "Nampaknya bakatmu memang sebegitu buruknya."
Wajah Wang Chan berubah masam. Ia menatap Liu Chiyang dengan tatapan kesal yang tidak perlu diucapkan.
"Tanpa diberitahu pun, aku juga sudah tahu."
Liu Chiyang tertawa kecil. Tawa yang ringan, tidak bermaksud mengejek, lebih seperti geli melihat ekspresi Wang Chan yang merengut seperti anak kecil yang kehilangan permen.
"Tapi meski begitu, selama ini peranmu selalu penting dalam membantu Xiao Yi. Aku yakin dia akan kesulitan tanpamu."
"Itu semua karena mata ini." Wang Chan menyentuh mata kirinya. Ujung jarinya merasakan kehangatan samar di kelopaknya.
Liu Chiyang menatap mata Wang Chan lebih lama dari biasanya.
Matanya yang jernih menyelidik, seperti mencoba membaca sesuatu dari balik pupil gelap pemuda itu.
"Aku selalu penasaran dengan mata itu. Jelas sekali bukan hal biasa, bukan sebuah teknik. Lebih seperti... anugerah. Atau kutukan. Entahlah."
Wang Chan mengangkat bahu.
"Aku juga tidak tahu. Hanya saja mata inilah yang membantuku. Tanpa mata itu, aku tak lebih dari sekadar sampah."
Liu Chiyang menepuk punggung Wang Chan.
Cukup keras hingga membuat Wang Chan tersentak sedikit, tapi tidak sampai menyakitkan.
"Xiao Chanchan, jangan terlalu merendahkan dirimu sendiri. Kau adalah kau. Setidaknya aku mengakui kalau kemampuanmu memang hebat. Hanya saja kau tidak memiliki teknik yang cocok untukmu. Itu saja."
Wang Chan terdiam. Kata-kata Liu Chiyang sebenarnya tidak berbeda jauh dari apa yang sering ia katakan pada dirinya sendiri.
Tapi mendengarnya dari orang lain, terasa berbeda. Sedikit lebih hangat. Sedikit lebih berat.
Liu Chiyang sedikit mendekat. Wajahnya yang tadinya santai kini berubah serius.
Matanya menyipit, menatap Wang Chan dari dekat.
"Tingkahmu agak aneh sekarang."
Wang Chan seketika tersadar. Ia sedikit menjauh dari Liu Chiyang, tubuhnya bergeser ke sisi lain kursi bambu.
"A-apa? Tidak ada yang aneh."
Mata Liu Chiyang menyipit lebih sempit. Seperti kucing yang melihat sesuatu yang bergerak di semak-semak.
"Kau menyembunyikan sesuatu."
Wang Chan mundur lagi. Punggungnya hampir menyentuh ujung kursi. Tidak ada ruang untuk mundur lebih jauh.
"Tidak ada."
"Jawab aku dengan jujur, Xiao Chanchan. Aku melihat kebohongan di matamu."
Liu Chiyang tidak pernah salah membaca orang. Itu salah satu hal yang membuat Wang Chan takut pada wanita ini.
Wang Chan menggigit bibirnya.
Dalam kepalanya, ia cepat-cepat mencari alasan, mencari kebohongan yang bisa menutupi kebohongan lainnya.
Tapi ia tahu, tidak ada gunanya. Liu Chiyang akan terus menekan sampai ia mendapat jawaban.
Haruskah ia menjawab jujur? Itu terlalu sulit. Bagaimana caranya mengakui kalau ia melihat Liu Chiyang masturbasi di malam hari?
Bagaimana caranya mengatakan bahwa ia secara tidak sengaja menyaksikan gurunya sendiri dalam kondisi paling rentan?
Tidak bisa. Tidak akan pernah bisa.
"Kak Liu, kurasa sebaiknya ini tidak dilanjutkan..."
"Tidak!" potong Liu Chiyang tegas. Matanya tidak berkedip. "Katakan padaku, apa yang kau sembunyikan?!"
Suaranya meninggi sedikit, cukup untuk membuat Wang Chan menyadari bahwa wanita ini tidak akan menyerah.
Liu Chiyang adalah tipe orang yang lebih keras kepala daripada batu karang.
Begitu ia memutuskan sesuatu, tidak ada yang bisa menghentikannya.
Wang Chan mendecak kecil. Tangannya mengepal di pangkuannya.
Kepalanya terasa panas, campuran antara frustrasi, malu, dan rasa bersalah yang menggunung.
'Aku sudah menahannya, kau sendiri yang cari masalah.'
Ia sudah tidak tahan lagi.
"Tadi malam. Aku melihatmu masturbasi."
Hening.
Hening.
Hening.
Udara di ruang tamu itu terasa berhenti bergerak. Bahkan suara angin dari luar seolah ikut terdiam, segan mengganggu keheningan yang begitu pekat.
Liu Chiyang tidak bergerak. Tidak berbicara.
Matanya membulat sempurna, mulutnya sedikit terbuka, dan wajahnya yang biasanya pucat bersih itu berubah merah dalam sekejap.
Merah yang menjalar dari pipi ke leher, bahkan ke ujung telinganya yang mungil.
"Tu-tunggu... apa?"
Suaranya terputus-putus, tidak seperti Liu Chiyang yang biasanya tegas dan percaya diri.
Tangannya naik menutup mulutnya sendiri, seperti berusaha menahan sesuatu.
"Se-serius?"
Wang Chan belum pernah melihat Liu Chiyang seperti ini. Selama sebulan tinggal bersama, Liu Chiyang selalu tampil anggun, tenang, dan sedikit arogan dengan caranya sendiri.
Tapi sekarang, di depannya, wanita itu terlihat seperti gadis kecil yang ketahuan mencuri kue.
Wang Chan mengangguk. Pelan. Tapi tegas.
"Aku tidak sengaja. Aku mau keluar rumah sebentar, lewat ruang tamu, dan kau ada di sana."
Liu Chiyang menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Bahunya sedikit bergetar, dan untuk sesaat Wang Chan mengira wanita itu menangis. Tapi tidak.
Dari sela-sela jarinya, ia mendengar suara tertahan, setengah antara tertawa dan erangan malu.
"Astaga... astaga... astaga..."
Liu Chiyang menurunkan tangannya. Wajahnya masih merah, tapi kini ada ekspresi pasrah di sana.
"Kau... kau tidak bilang pada siapa pun, kan?"
"Belum," jawab Wang Chan cepat.
"Belum?"
"Maksudku, tidak. Aku tidak bilang pada siapa pun."
Liu Chiyang menghela napas panjang, sangat panjang, seperti orang yang baru saja selamat dari bencana alam.
"Jangan bilang pada Xiao Yi. Tolong."
Wang Chan mengangguk lagi. Ia tidak punya rencana untuk memberi tahu Qing Yi.
Bukan karena ia takut, tapi karena itu bukan urusannya.
"Baik."
Liu Chiyang menatap Wang Chan dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Kau... kau tidak akan menganggapku aneh, kan?"
Wang Chan menghela napas. Untuk pertama kalinya hari ini, ia tersenyum.
"Kak Liu, kita semua punya kebutuhan."
Liu Chiyang membuang muka. Tapi dari samping, Wang Chan bisa melihat sudut bibirnya yang sedikit naik.
"Dasar bocah kurang ajar."
"Kata siapa aku bocah? Usiaku mungkin tidak sampai setengah usiamu, tapi aku sudah cukup dewasa untuk tahu bahwa manusia butuh melepas lelah dengan caranya masing-masing."
Liu Chiyang menoleh lagi. Matanya menyipit.
"Kau benar-benar bocah yang kurang ajar."
"Kak Liu, itu sudah dua kali kau mengatakannya."
"Karena itu benar."
Mereka berdua terdiam. Keheningan kali ini tidak canggung seperti sebelumnya.
Ada kehangatan aneh yang mengisi ruang di antara mereka, semacam pengertian diam-diam bahwa rahasia ini akan tetap menjadi rahasia.
Dari luar, terdengar suara Qing Yi berteriak riang.
"Kak Liu! Wang Chan! Lihat aku!"
Mereka berdua menoleh ke jendela. Qing Yi berdiri di tengah halaman dengan pedang terhunus, rambutnya berantakan, dan wajahnya bersinar penuh semangat.
Di sekelilingnya, daun-daun kering beterbangan karena hembusan Qi-nya.
"Aku baru saja menguasai gerakan ketiga!"
Liu Chiyang tersenyum. Senyum yang hangat, penuh kebanggaan.
Kemudian ia bangkit dari kursinya.
"Aku ke luar dulu. Lihat muridku yang berbakat."
Ia melangkah menuju pintu. Tepat sebelum keluar, ia berhenti dan menoleh.
"Xiao Chanchan."
"Ya?"
"Terima kasih."
Wang Chan hanya mengangguk.
Liu Chiyang keluar.
Wang Chan mendengar suaranya yang ceria menyapa Qing Yi, lalu suara Qing Yi yang tertawa bangga.