NovelToon NovelToon
Penyesalan Berdarah Sang Mantan Suami

Penyesalan Berdarah Sang Mantan Suami

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami
Popularitas:20.9k
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira ohyver

​"Setelah lima tahun menjadi pelayan tak bergaji bagi suami dan keluarga mertuanya, Rania pergi membawa luka dan kembali sebagai badai yang akan menghancurkan kerajaan mereka."

Selamat membaca...jangan lupa dukung authir yaa...terimakasih.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira ohyver, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Guncangan di Pucuk Takhta

Suasana di dalam ruang pertemuan VIP Grand Hyatt terasa begitu mencekam. Sentuhan dingin dari pendingin ruangan seolah tidak mampu meredakan ketegangan yang merayap di antara kedua belah pihak.

​Tuan Baskoro menatap ponsel Rania yang menyala di tengah meja dengan kening berkerut. Namun, alih-alih panik seperti yang diharapkan, rubah tua itu justru menyandarkan tubuhnya ke sofa kulit, memutar cerutu mahalnya dengan gerakan lambat yang penuh percaya diri.

​"Honeypot?" Tuan Baskoro terkekeh rendah, suara tawanya terdengar berat dan penuh ejekan.

"Rania, Rania... kamu pikir aku ini pengusaha amatir seperti mantan suamimu yang bisa kamu jebak dengan trik IT tingkat dasar?"

​Tyas yang sempat menahan napas, langsung mengembuskan napas lega mendengar reaksi bos barunya. Ia kembali membusungkan dada, menatap Rania dengan tatapan merendahkan. "Benar! Kamu pikir Tuan Baskoro sebodoh itu? Tim IT Rusia yang kami sewa bukan peretas amatiran, Rania!"

​Tuan Baskoro mengetuk layar tabletnya sendiri, kemudian menggesernya ke depan Elang Danuarta dan Rania. "Buka matamu, Nona Muda. Timku memang masuk ke dalam server umpan yang kamu buat. Tapi tahukah kamu apa yang mereka lakukan di sana? Mereka sengaja membiarkan diri mereka terisolasi di dalam honeypot itu, hanya untuk menanam virus Trojan tipe delayed-burst."

​Mata Rania menyipit. Ia segera meraih tablet tersebut. Detak jantungnya berdegup kencang saat melihat grafik jaringan perusahaannya.

​"Begitu sistem umpanmu mengunci alamat IP palsu yang kami sediakan," lanjut Baskoro dengan senyuman licik yang mengerikan, "virus itu justru meledak dari dalam dan mereplikasi diri ke server operasional utama Arania International. Sekarang, coba periksa logistik pengiriman barangmu yang berjalan secara real-time. Semuanya lumpuh, bukan?"

​Tepat saat itu, ponsel Elang Danuarta bergetar hebat. Elang mengangkatnya, dan ekspresi wajahnya seketika mengeras. Rahang pria gagah itu mengetat sempurna.

​"Rania... sistem pelacakan armada logistik kita di pelabuhan down total," bisik Elang dengan suara berat yang dipenuhi tekanan. "Antrian truk kita tertahan di gerbang utama karena manifes digitalnya tidak bisa diakses. Jika ini berlangsung sampai besok, kita harus membayar denda keterlambatan kepada pihak otoritas pelabuhan."

​Tyas langsung tertawa terbahak-bahak, suara tawanya melengking puas di dalam ruangan mewah itu. "Hahaha! Rasakan itu, Rania! Kamu pikir kamu adalah arsitek tunggal yang tidak bisa disentuh? Sekarang, sistem kebanggaanmu justru menjadi senjata yang melumpuhkan perusahanmu sendiri!"

​Ibu Ratna yang duduk di barisan belakang ikut berdiri, melipat tangannya di dada dengan keangkuhan yang kembali membubung tinggi. "Makanya, jadi perempuan jangan sok pintar! Kualat kamu melubangi jalan hidup anakku Rendra! Sekarang giliran kamu yang merangkak di bawah kaki Tuan Baskoro!"

​Rania menatap layar tablet dengan napas yang sedikit tertahan. Ia harus mengakui di dalam hatinya—kali ini dia benar-benar meremehkan Baskoro. Pria tua ini menggunakan kelicikan berlapis. Dokumen lama yang dibawa Tyas memang sistem usang, tapi Baskoro memanfaatkannya sebagai jembatan untuk memasukkan virus yang jauh lebih modern.

​"Dan jangan lupakan lahan di Cikarang," Tuan Baskoro mengetuk dokumen sertifikat tanah asli di atas meja. "Tanah itu sah milikku sekarang. Surat kuasa Rendra legal dan telah dilegalisir notaris sebelum putusan sita pengadilan keluar enam bulan lalu. Pengadilan melewatkannya, dan hukum perdata berpihak pada siapa yang memegang sertifikat asli terlebih dahulu. Jika kalian ingin jalur logistik Danuarta Group kembali terbuka melalui lahan itu... harganya tetap sama. Lima ratus miliar rupiah. Tunai."

​Elang Danuarta berdiri, mencengkeram tepi meja dengan urat-urat tangan yang menonjol. "Baskoro! Ini pemerasan! Kamu sengaja menyabotase proyek strategis nasional!"

​"Ini bisnis, Elang," jawab Baskoro dengan santai, mengembuskan asap cerutunya ke udara. "Dalam bisnis, siapa yang memegang kartu truf, dialah yang mengatur aturan main. Aku berikan waktu tiga hari bagi kalian berdua untuk berpikir. Membayar lima ratus miliar, atau melihat saham Arania International hancur dan reputasi Danuarta Group dinilai cacat oleh pemerintah karena gagal mengeksekusi proyek nasional."

​Baskoro berdiri, merapikan jasnya. "Ayo Tyas, Nyonya Ratna. Kita biarkan dua orang sukses ini menikmati waktu mereka untuk menghitung kerugian."

​Tyas melangkah mendekati Rania, mendekatkan wajahnya hingga Rania bisa mencium aroma parfum mahal yang kini dipakai adik mantan suaminya itu. "Nikmatilah malam-malam penuh kegelisahanmu, Kak Rania. Ini baru permulaan dari penyesalanmu karena telah mengusik keluarga Wijaya," bisik Tyas penuh kemenangan sebelum berbalik dengan sentakan kaki yang anggun berkelas.

​Rania hanya diam terpaku di kursinya, menatap kepergian Baskoro, Tyas, dan Ibu Ratna yang keluar dari ruangan dengan kepala tegak dan tawa yang menggema.

​Setelah pintu VIP tertutup, ruangan menjadi hening. Elang kembali duduk di samping Rania, wajahnya dipenuhi kabut kecemasan yang mendalam. "Rania, maafkan aku... aku tidak menyangka Baskoro akan bermain sekotor ini dengan memanfaatkan Tyas. Bagaimana dengan server perusahanmu? Apa bisa dipulihkan malam ini?"

​Rania menarik napas panjang, kemudian menghembuskannya perlahan. Ketakutan yang sempat melintas di matanya kini meredup, digantikan oleh tatapan sedingin es yang penuh dengan kalkulasi ulang.

​"Sistem utamaku butuh waktu empat puluh delapan jam untuk melakukan pembersihan total dan isolasi Trojan itu, El," ucap Rania, suaranya kembali terdengar jernih sekaligus berat. "Kita akan mengalami kerugian operasional yang cukup besar dalam dua hari ini. Dan saham kita pasti akan sedikit terkoreksi besok pagi."

​Rania mengepalkan tangannya di atas meja. "Aku harus akui, Tyas berhasil menjadi pion yang merepotkan di tangan Baskoro. Tanah Cikarang itu benar-benar menjadi sumbat bagi aliran dana kita."

​Elang menatap Rania dengan penuh kekhawatiran. "Lalu apa rencana kita sekarang? Kita tidak mungkin menyerah dan membayar lima ratus miliar pada pria serakah itu."

​Rania berdiri, berjalan menuju jendela kaca besar yang menampilkan pemandangan kota. "Tentu saja tidak, El. Baskoro baru saja memenangkan pertempuran kecil, tapi dia belum memenangkan peperangan. Dia mengira dia sudah mengunci kita, padahal dia baru saja membuka pintu bagi dirinya sendiri untuk masuk ke dalam konflik yang jauh lebih besar."

​Matanya menatap lurus ke depan, tajam dan penuh dendam yang terkendali. "Biarkan Tyas dan Ibu Ratna menikmati uang saku dari Baskoro untuk beberapa waktu ini. Biarkan mereka merasa mereka sudah berhasil membalaskan dendam Rendra. Karena semakin tinggi mereka merasa terbang, maka hantaman saat mereka dijatuhkan nanti akan jauh lebih mematikan. Aku akan mencari tahu apa kelemahan finansial terbesar Baskoro Group... dan aku akan menghancurkannya dari akar yang paling dalam."

​Malam itu, di rumah kontrakan berpetak dua yang kini terasa sedikit lebih mewah karena Tyas mulai membawa barang-barang baru, Ibu Ratna dan Tyas merayakan kemenangan pertama mereka dengan makan malam mewah yang dipesan dari restoran berbintang. Mereka merasa berada di atas awan, yakin bahwa Rania sebentar lagi akan jatuh merangkak.

​Sementara di dalam sel penjara yang gelap, Rendra yang menerima surat dari Tyas tentang keberhasilan rencana mereka, tersenyum licik di balik jeruji besi. Rasa penyesalannya menguap, digantikan oleh harapan palsu bahwa dia akan segera bebas dan merebut kembali takhtanya.

​Para pengkhianat itu bersulang untuk kemenangan yang semu, tanpa menyadari bahwa Rania sedang duduk di ruang kerjanya semalaman suntuk, menyusun cetak biru serangan balik.

1
Himna Mohamad
kereeeen 👍👍👍👍👍
Himna Mohamad
👍👍👍👍👍
Anonim
Yah begitu..... BUAT MEREKA MENDERITA
aku
kan bener lagi kata tetanggaku, tidak ada yg lebih mengerikan selain tidak ada uang adalah wanita yg bls dendam krn skt hati 😌😌
aku
lagian lu udh dikasih kesempatan bukannya lnjut hdp lbh baik malah cari mati. hedehh gk pinter 😁
Dwi Setyaningrum
wah wah penyesalannya hanya Krn terpuruk wkt itu setelah ekonominya mulai membaik berbuat ulah lagi..hadehhh..
Dwi Setyaningrum: minta dirujak thor..🤭😂
total 2 replies
𝐀⃝🥀Yαͫηᷰυͫαᷰя⒋ⷨ͢⚤ •§͜¢•🦢🍒
tanpa rania kamu bukan apa" rendra🤭
𝐀⃝🥀Yαͫηᷰυͫαᷰя⒋ⷨ͢⚤ •§͜¢•🦢🍒
ternyata gisela itu anak buah perusahaan lain
𝐀⃝🥀Yαͫηᷰυͫαᷰя⒋ⷨ͢⚤ •§͜¢•🦢🍒
iya tinggalin aja wes Rendra
𝐀⃝🥀Yαͫηᷰυͫαᷰя⒋ⷨ͢⚤ •§͜¢•🦢🍒
suami jahat Rendra
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘмυмυ⁷
hukuman rania belum sbrpa ini
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘмυмυ⁷
korupsi demi apa ini baskoro
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘмυмυ⁷
wah nyonya datang
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘмυмυ⁷
tiket exclusive😄😄😄😄
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘмυмυ⁷
ini sih cari mati dia🤣🤣🤣
pst dapat cap pelakor😄🤭
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘмυмυ⁷
badainya terlalu dasyat
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘмυмυ⁷
seorang ibu bisa ngomong kasar begini
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘмυмυ⁷
kena jebakan balik kah
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘмυмυ⁷
menghamliri kalian past
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘмυмυ⁷
enam bulan ga bisa bikin kamu tobat tyas
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!