Rania Azarina Seorang manajer Brand Strategy di perusahaan ternama, ia sudah bekerja mati-matian demi kursi Direktur Regional. Sayangnya, tepat ketika garis finis sudah di depan mata, direksi mengumumkan syarat paling absurd dalam sejarah perusahaan: kandidat direktur harus memiliki kehidupan pribadi yang stabil—alias sudah menikah.
Masalahnya, Rania masih lajang.
Lebih parah lagi, pesaing terbesarnya adalah Gavin Mahendra—manajer Creative Campaign yang menyebalkan, terlalu santai, dan punya bakat alami membuat tekanan darahnya naik hanya dengan satu senyuman tengil.
Ketika keduanya sama-sama terancam kehilangan peluang promosi
sebuah ide nekat muncul, menikah kontrak.
Kesepakatannya sederhana. Menikah selama enam bulan, lalu bercerai setelah salah satu mendapatkan jabatan impian.
Tapi Bagaimana jika pernikahan palsu ini justru melahirkan perasaan yang terlalu nyata untuk diakhiri?
⚠️⚠️⚠️
DILARANG KERAS PLAGIAT ATAU COPY PASTE JIKA TIDAK INGIN KENA DENDA KARNA PELANGGARAN HAK CIPTA
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ana Mi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps 14 Ciuman yang Terlalu Menyakinkan
“...Maksud Anda?”
Robert tersenyum lebar.
“Kiss your wife, Mr. Mahendra.”
Kalimat itu jatuh seperti bom.
Seluruh meja mendadak hening.
Clarissa menegakkan tubuh.
Beberapa direksi saling melirik.
Di sudut ruangan, Theo bahkan tidak berkedip.
Seolah ini bagian dari KPI kuartal.
Jantung Rania langsung menghantam tulang rusuknya.
Ia menoleh pada Gavin.
Pria itu terlihat tenang.
Terlalu tenang.
Namun Rania yang duduk sangat dekat dengannya bisa melihat jemarinya sedikit menegang di atas meja.
Ia gugup.
Dan entah kenapa, fakta itu justru membuat Rania lebih gugup lagi.
Robert tertawa kecil.
“Unless your romance is all business?”
Ballroom mewah itu mendadak terasa jauh lebih sempit.
Rania Azarina membeku di kursinya.
Di hadapannya, Robert Lim masih tersenyum santai. Seolah permintaannya barusan bukan sesuatu yang berpotensi menyebabkan serangan jantung massal.
Clarissa menatap mereka dengan mata berbinar penuh antisipasi.
Theo Santoso berdiri di sudut ruangan dengan ekspresi datar khasnya.
Tidak membantu. Tidak menyelamatkan. Tidak berkedip.
Seolah ini memang bagian dari evaluasi kerja.
Dan di sebelahnya, Gavin Mahendra perlahan menoleh.
Tatapan mereka bertemu.
Untuk beberapa detik, dunia seolah mengecil hanya menjadi meja bundar itu.
Tidak ada investor.
Tidak ada direksi.
Tidak ada puluhan pasang mata yang menunggu.
Hanya mereka.
Gavin menatapnya tenang.
Lalu, nyaris tak terdengar, ia bertanya pelan,
“Bisa?”
Satu kata sederhana.
Namun cukup membuat dada Rania menegang.
Karena di balik pertanyaan itu, ada sesuatu yang tidak ia duga.
Pilihan.
Ia bisa menolak.
Bisa mundur.
Bisa menghentikan semua ini.
Dan justru karena Gavin memberinya pilihan, keputusan itu terasa jauh lebih berbahaya.
Rania menelan ludah.
Lalu memberi anggukan kecil.
Nyaris tak terlihat.
Namun cukup.
Tidak ada pilihan.
Kalau mereka mundur sekarang, seluruh sandiwara bisa runtuh.
Kesepakatan bisnis gagal.
Theo mungkin akan mengubur mereka hidup-hidup dalam laporan evaluasi.
Lalu dengan sangat pelan, nyaris tak terdengar, ia berbisik,
“Lakukan.”
Tatapan Gavin langsung terkunci padanya.
“Kamu yakin?”
“Tidak.”
“Menenangkan sekali.”
“Cepat.”
Tatapan Gavin berubah.
Sedikit.
Lebih dalam.
Lebih serius.
Lalu pria itu mengangkat tangannya perlahan, menyentuh sisi wajah Rania.
Jemarinya hangat.
Lembut.
Sentuhan sederhana itu saja sudah cukup membuat seluruh sistem saraf Rania kacau total.
Ia menahan napas.
Ruangan di sekeliling mereka seperti menghilang.
Tidak Robert Lim.
Tidak ada Clarissa.
Tidak ada Theo.
Hanya ada tatapan Gavin yang terlalu dekat.
Dan cara pria itu menatapnya seolah ia benar-benar berarti.
“Kalau kamu mau mundur, sekarang,” bisiknya sangat pelan.
Rania tidak tahu kenapa.
Mungkin karena tekanan situasi.
Mungkin karena semua momen kecil selama beberapa hari terakhir.
Atau mungkin karena ia lelah berpura-pura tidak merasakan apa-apa.
Namun alih-alih mundur—
ia justru diam.
Dan itu cukup menjadi jawaban.
Gavin menunduk.
Bibir Gavin menyentuh bibirnya.
Ringan.
Hanya sepersekian detik.
Seolah sekadar formalitas.
Seolah memberi pilihan terakhir.
Namun ketika Rania tidak menjauh—
Gavin tetap di sana.
Ciuman itu lembut.
Pelan.
Nyaris hati-hati.
Seolah memberi ruang bagi Rania untuk mundur kapan saja.
Namun saat Rania tidak bergerak—
ciuman itu berubah.
Bukan ciuman penuh gairah.
Tapi terlalu pelan.
Terlalu hati-hati.
Terlalu nyata untuk disebut akting.
Dan entah sejak kapan, Rania mendapati dirinya membalas.
Tangannya refleks mencengkeram lengan jas Gavin.
Jantungnya berpacu liar.
Otaknya kosong.
Semua logika, semua pasal kontrak, semua batas profesional yang selama ini ia pertahankan mendadak menguap begitu saja.
Yang tersisa hanya rasa hangat.
Dan fakta mengerikan bahwa untuk beberapa detik—
ia lupa bahwa seharusnya ini cuma akting.
Ketika Gavin akhirnya menjauh, jarak mereka hanya terpaut beberapa senti.
Napas keduanya sama-sama tak stabil.
Tatapan mereka bertemu.
Dan untuk sepersekian detik, tak satu pun bergerak.
Rania bisa melihat sesuatu di mata Gavin.
Sesuatu yang terlalu nyata untuk disebut akting.
Tepuk tangan meriah meledak di seluruh ballroom.
Realitas menghantam kembali.
Robert Lim tertawa puas.
“Now that is chemistry.”
Beberapa investor lain ikut tersenyum.
Clarissa tampak kehilangan warna wajah.
Di sudut ruangan, Theo hanya mengangguk tipis.
Psikopat.
Rania buru-buru menarik tubuhnya menjauh.
Wajahnya panas.
Sangat panas.
Ia tidak berani menatap Gavin.
Tidak setelah—
Ia menolak memproses itu sekarang.
Dinner berlanjut.
Entah bagaimana.
Rania sama sekali tidak tahu apa yang dibicarakan sepanjang sisa pertemuan.
Ekspansi regional?
Kerja sama digital?
Proyeksi pertumbuhan kuartal empat?
Bisa saja mereka membahas kolonisasi Mars dan ia tetap tidak akan sadar.
Karena seluruh fokusnya tersedot pada satu fakta sederhana:
Bibir Gavin tadi terasa hangat.
Dan ia masih bisa merasakannya.
Sial.
Satu jam kemudian, begitu acara resmi selesai, Rania nyaris kabur ke pintu keluar.
Nyaris.
Karena sebuah tangan meraih pergelangan tangannya.
Hangat.
Mantap.
Ia menoleh.
Gavin.
“Sebentar.”
“Ada apa?”
“Robert mau foto bersama.”
Tentu saja.
Karena semesta belum cukup puas mempermainkannya.
Sesi foto berlangsung cepat.
Terlalu cepat.
Setelahnya, mereka akhirnya berhasil keluar menuju area parkir hotel.
Gavin diam tapi beberapa kali melirik Rania.
Malam Jakarta terasa lebih dingin.
Atau mungkin itu hanya perasaan Rania yang masih kacau.
Begitu pintu mobil tertutup, keheningan langsung menyelimuti.
Tidak ada musik.
Tidak ada percakapan.
Hanya suara mesin mobil dan napas mereka.
Gavin fokus menyetir.
Terlalu fokus.
Rania menatap keluar jendela.
Terlalu pura-pura tenang.
Lima menit.
Sepuluh menit.
Akhirnya Gavin berdeham.
“Rania.”
“Hmm?”
“Kalau soal tadi—”
“Jangan.”
Gavin melirik sekilas.
“Jangan?”
“Jangan dibahas.”
“Kenapa?”
Karena kalau dibahas, ia takut harus mengakui bahwa dirinya ikut larut.
Bahwa ia membalas.
Bahwa untuk beberapa detik ia benar-benar lupa semua alasan kenapa pernikahan ini seharusnya hanya kontrak.
Namun tentu saja, Rania tidak mungkin mengatakan itu.
“Karena itu cuma akting,” jawabnya cepat.
Kalimat itu menggantung di udara.
Dan entah kenapa, mobil mendadak terasa lebih dingin.
Gavin mengangguk pelan.
“Benar”
Lalu kembali fokus ke jalan.
Terlalu diam.
Terlalu tenang.
Dan entah kenapa, justru itu terasa lebih buruk.
Dan anehnya, itu justru membuat dada Rania terasa tidak nyaman.
Ia menoleh ke jendela lagi.
Membenci fakta bahwa sebagian kecil dirinya berharap Gavin membantah.
Setibanya di apartemen, suasana tetap sunyi.
Mereka masuk.
Melepas sepatu.
Menghindari tatapan.
Semuanya terasa canggung.
Jauh lebih canggung daripada malam pertama mereka tidur sekamar.
Saat Rania hendak masuk ke kamarnya, suara Gavin menghentikannya.
“Rania.”
Ia menoleh.
Pria itu masih berdiri di dekat pintu.
Dasi sudah terlepas.
Dua kancing atas kemejanya terbuka.
Dan entah kenapa, penampilannya yang sedikit berantakan justru membuat jantung Rania kembali salah irama.
“Apa?”
Gavin terdiam beberapa detik.
Seolah sedang mempertimbangkan sesuatu.
Lalu berkata pelan,
“Untuk ukuran akting… kamu cukup meyakinkan."
Apalagi Mama Ratna dan Mama Ambar.
Ceritanya bikin penasara.