Arini harus menjalani hidup sebatang kara ketika di tinggal neneknya untuk selamanya.
Rintangan untuk bertahan hidup di kota Jakarta yang besar, ditambah dengan rumitnya kisah cinta segi tiga membuat Arini harus menguatkan hatinya.
Kisah masa lalu yang kelam membuat Arini trauma akan percintaan. Namun Radit dan Bayu sepertinya berusaha sekuat tenaga mereka untuk menghancurkan sebuah dinding pembatas di hati Arini.
Lalu pada siapakah hati Arini akan berlabuh nantinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon @pelipena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14
Jarak ke toko tidaklah terlalu jauh, namun kini Arini merasa perjalanan ini begitu lama, waktu pun berputar lama sekali, langkah kaki seolah berjalan sangat lambat. Rasanya Arini sudah ingin cepat-cepat sampai. Orang yang berjalan di sampingnya begitu dingin, sampai-sampai ia bisa merasakan hatinya yang beku.Tatapan mata Bayu kosong, entah apa yang sedang ia pikirkan. Mulutnya diam seribu bahasa, harusnya jika ia keberatan mengantarnya katakan saja pada eyang. Lagi pula Arini juga tidak minta untuk di antar.
"Terimakasih." kata-kata Bayu mengagetkan Arini.
"Untuk apa mas? aku tak melakukan apapun." Arini merendah.
"Kau yang menolong eyang tempo hari bukan?" Bayu mengingatkan.
"Oh soal itu ternyata."
"Karena kau luka eyang jadi cepat di tangani." kata Bayu datar.
"Itu sudah kewajiban sesama manusia untuk saling menolong."
Deg... tiba-tiba Bayu terdiam, seolah ada yang menyentak di dalam dadanya. Kata-kata Arini membuatnya teringat akan sesuatu.
"Mas, sampai sini saja. Toko sudah dekat." kata Arini.
"Tak mengapa, aku juga ada perlu di sana."
"Oh baiklah."
Waktu masih tergolong pagi, namun suasana jalan raya di depan mereka begitu padat merayap. Sepertinya ini sudah memasuki jam masuk kantor, untungnya toko buka jam 9 pagi. Jadi Arini masih punya waktu sejam untuk bersiap-siap.
"Mas awas!!" Arini menarik tangan Bayu.
Hampir saja sebuah mobil menyerempet tubuh gagah itu.
"Mas tidak apa?" tanya Arini khawatir.
"Maaf, aku melamun tadi." kata Bayu.
"Mas hati-hati kalau menyeberang, mas bisa celaka kalau melamun seperti tadi."
"Terimakasih" ucap Bayu setengah terkejut.
"Mas maaf ya, tanganmu jadi berdarah. Sepertinya tadi tak sengaja tergores kuku Arini saat menarik tanganmu."
"Oh ini.. it's okay." Bayu tak mempermasalahkan.
°°°°
Arini tengah memakai kerudung dan bersiap-siap untuk memulai pekerjaannya ketika tiba-tiba ketiga temannya datang bergerombol menghampirinya.
"Ada apa nih." Arini bingung.
"Bagaimana bisa tadi kau jalan bareng dengan dia?" tanya Vina.
"Kau mengenalnya?" tanya Mira.
"Kalian beneran jalan berdua?" tanya Dea.
Pertanyaan yang bertubi-tubi itu membuat Arini tercengang, sepertinya kejadian tadi pagi membuat mereka syok.
"Hei itu bisa ku jelaskan."
"Kau mengenalnya?" tanya Mira menekankan.
"Baru saja."
"Bagaimana kau bisa jalan bersamanya?" tanya Dea penasaran.
"Ah itu tadi tidak sengaja, eyang yang menyuruhnya mengantar Arini."
"Tau begitu tadi Vina harusnya ikut kamu jalan pagi." kata Vina menyesal.
"Tadi kan Arini udah ngajak."
"Andaikan waktu bisa ku putar kembali."
"Lah malah konser lu Vin." kata Dea mendengar Vina bernyanyi.
°°°
"Mas curang sih." ucap Ardan dengan nada kesal.
"Lah curang apa sih, baru pulang juga." Bayu bingung.
"Kok mas anterin Arini? dia kan gebetanku." protes Ardan.
"Dih pede banget sih tulang ikan." canda Bayu.
"Hei oncom." gerutu Ardan.
"Udah-udah... kalian itu kerjaannya berantem terus." bu Lily melerai.
"Mas Bayu yang mulai."
"Lah mulai naon sih, lieur urang teh." ucap Bayu.
"Sampeyan ki ngopo nyedaki dek Arini?" balas Ardan.
"Dasar **** boy."
"Dari pada mas Bayu. Manusia gagal move on."
"Woy.... mami nih." bu Lily mulai kesal.
"Serah dah." Ardan berlalu pergi.
"Kenapa si kak adikmu itu?" tanya bu Lily.
"Bayu di kira deketin Arini mi, padahal tadi aku di suruh eyang buat nganterin dia." Bayu menjelaskan.
"Oh gitu... emm, menurutmu Arini gimana orangnya?" tanya bu Lily dengan gestur tubuh sangat serius.
"Gimana yang bagaimana mi?" Bayu tak mengerti maksud ibunya itu.
"Orangnya lah."
"Nggak tau, Bayu nggak akrab."
"Terus tadi sepanjang perjalanan cuma diem-dieman gitu?"
"Ya gitu." jawab Bayu cuek.
"Astaga nih anak." bu Lily menepuk jidatnya.
Saking cueknya Bayu, bu Lily sudah tak tahu lagi mau bagaimana kehidupan anaknya itu di masa depan. Dia terlalu cuek dengan kehidupannya, apalagi dengan masalah hati.
Hatinya benar-benar mati, seolah-olah menolak dengan adanya pengisi hati yang baru. Garis luka di hatinya belum kunjung terobati. Goresan luka di hatinya teramat dalam. Sebagai seorang ibu, di usianya yang sekarang tentu bu Lily berharap agar putra sulungnya itu segera mendapatkan seorang pendamping yang setia padanya. Kesabarannya dalam menanti sudah hampir habis, tetapi putranya tak kunjung menemukan wanita yang sanggup mengirim kekosongan hatinya.
°°°
Kriieett....
Suara pintu toko terbuka membuat Arini dan teman-temannya itu bersiap menyambut pelanggan.
klotak.. klotak... klotak...
Sepatu hak setinggi 9 cm itu di pakai oleh sepasang kaki jenjang yang putih mulus, dengan wajah oriental, tubuh yang body goals, rambut hitam panjang terurai dan gaya fashion yang sangat menawan membuat siapapun akan sepakat jika pelanggan wanita yang baru saja tiba itu hampir sempurna, cantik sekali.
"Silahkan kaka, mungkin ada yang bisa kami bantu." ucap Dea ramah.
"Aku mencari gaun malam yang terlihat mewah." katanya singkat.
"Boleh kaka, kebetulan kami punya gaun malam keluaran terbaru." ucap Dea sambil menunjukan tempat gaun itu di pajang.
"Apa tidak ada yang lebih terbuka? kuno sekali." kata wanita itu sinis.
"Kalau begitu silahkan ikuti saya nona." kata Dea mengarahkan.
Wanita itu mulai melihat-lihat dan mencoba gaun malam itu satu persatu, seleranya benar-benar tidak bisa di ragukan lagi. Dia memilih gaun yang sedikit terbuka, dengan belahan di bagian dada yang membuat Arini merasa ngilu. Bagi Arini itu tentu sangat menggelikan, dengan bagian tubuh yang di perlihatkan pada orang lain. Bukankah itu terlihat sangat berani?.
Saat ini mungkin wanita itu telah menetapkan pilihannya, gaun malam berwarna silver itu terlihat sangat mahal ketika di kenakan olehnya.
Bruukkk....
Tiba-tiba saja Vina yang sedang membawa tumpukan baju menabrak wanita itu.
"Jalan pakai mata!!" bentak wanita itu.
"Maaf mbak." Vina menyesal.
"Maaf-maaf!!! Kalau ini rusak lo mau ganti!!"
"Maaf mbak, aku nggak lihat tadi."
"Harga gaun ini dengan dua bulan gaji lo aja nggak cukup!! makanya punya duit sesekali buat periksa mata. Jangan buat makan doang!! pantes aja itu badan kaya truk molen." ucap wanita itu angkuh.
"Ada apa ini?" tiba-tiba bu Lily datang.
"Tante, lihat tuh karyawan tante teledor." wanita itu mengadu.
"Cindy??" bu Lily terkejut.
Wanita itu tersenyum kemudian berlari menghampiri bu Lily dan lantas memeluknya.
"Kapan kamu pulang?" tanya bu Lily.
"Kemarin tante, oh ya gimana kabar mas Bayu tante?" tanya wanita yang baru saja di ketahui bernama Cindy itu.
"Biasalah, sibuk dengan urusan kantornya." kata bu Lily.
"Cindy kesini lagi nyari gaun buat nanti malam te." Cindy memberitahu.
"Untuk acara apa kalau tante boleh tahu?"
"Reuni SMA tante di hotel chagia."
"Oh begitu."
"Mas Bayu datang nggak ya?"
"Biasanya datang kalau reuni SMA setau tante."
"Wah jadi nggak sabar buat nanti malam."
Cindy kebetulan adalah mantan adik kelas Bayu saat SMA, dulunya ia adalah mantan kekasih Bayu saat di bangku sekolah. Sebelum Bayu bertemu dengan wanita itu. Wanita yang sulit di lupakan oleh Bayu hingga saat ini.