Arion adalah seorang pemuda biasa yang terobsesi dengan novel fantasi populer berjudul Magic Knight, ia bukan penggemar pahlawan suci kerajaan Ashford, namun seorang antagonis yang namanya samapersis Arion. Arion didalam cerita novel, merupakan seorang antagonis yang dikhianati oleh kerajaannya sendiri, ia putra mahkota yang dilengserkan karena alasan Arion terlalu kejam dan tidak layak untuk menduduki tahta, namun kenyataannya para petinggi istana taku akan kekuatannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arion Saga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14. Bau Pengkhianat Di Balik Dinding Emas
Di dalam kamar yang temaram dan pengap oleh aroma obat-obatan yang tajam, Arion berdiri diam di samping ranjang besar tempat Raja Beast terbaring.
Matanya menatap sosok layu itu tanpa belas kasihan, namun dengan rasa ingin tahu yang mendalam.
Penguasa yang dulunya merupakan simbol kekuatan liar ras Beast, kini tak lebih dari seonggok daging yang menunggu ajal.
"Elara," panggil Arion pelan.
"Katakan padaku, pria seperti apa ayahmu sebelum ia menjadi tumpukan daging yang tak berdaya ini? Apa yang biasanya ia lakukan?"
Elara mendekat, jari-jarinya yang gemetar menyentuh tangan ayahnya yang dingin.
"Ayahanda... dia adalah pria yang sangat bersemangat. Dia membenci kesunyian. Baginya, darah ras Beast akan membeku jika tidak digunakan untuk bertarung. Dia menyukai debu di arena latihan dan sering mengajakku mengayunkan pedang bersama sejak aku kecil. Dia bukan pria yang pantas mati di atas ranjang karena racun, Tuan Muda."
Arion mengangguk kecil.
Tipe petarung murni. Pria seperti ini tidak akan jatuh sakit karena usia, apalagi secara mendadak. Ini adalah serangan pada jiwanya, batin Arion.
Arion segera berbalik, jubah hitamnya berdesir menyapu lantai.
Di ambang pintu, para ajudannya sudah menunggu perintah dengan kesiagaan penuh.
"Sebas," panggil Arion datar.
"Aku ingin laporan lengkap tentang setiap pejabat di istana ini. Cari tahu siapa yang paling banyak diuntungkan jika Raja mati."
"Aku ingin tahu seberapa busuk fondasi politik yang mereka banggakan ini."
"Sesuai perintah, Tuan Muda,"
Sebas membungkuk dan menghilang dengan langkah cepat.
Arion kemudian melirik ke arah bayangan di sudut langit-langit kamar raja.
"Nyx, kau tetap di sini. Masuklah ke dalam bayangan kamar ini. Jangan biarkan siapa pun-termasuk dokter istana-menyentuh Raja tanpa pengawasanku. Jika ada yang mencoba mencabut nyawanya sebelum aku mengizinkan, cabut nyawa mereka lebih dulu."
"Dimengerti,"
suara Nyx bergema tanpa wujud sebelum kegelapan seolah menelan keberadaannya. Setelah instruksi diberikan, Arion tidak melangkah menuju kamar tamu mewah yang telah disiapkan oleh para pelayan istana yang gemetar.
la justru berjalan keluar menuju halaman kastil, melewati para ksatria Beast yang masih menatapnya dengan penuh kebencian dan kebingungan.
"Kau mau ke mana, Manusia?" tanya Gorgos dengan suara berat yang tertahan.
"Kami sudah menyiapkan jamuan dan tempat peristirahatan terbaik di dalam kastil." Arion berhenti sejenak, namun ia bahkan tidak menoleh ke arah sang Komandan.
"Bau pengkhianatan di dalam sini terlalu menyesakkan bagi hidungku. Aku tidak bisa tidur di tempat di mana musuh merayap dari belakang sambil memegang belati berlapis emas."
Arion memerintahkan pasukannya untuk bergerak.
la memilih untuk kembali menuju Ibukota yang letaknya tak jauh dari sana. Arion mengajak Elara untuk tetap berada di sampingnya, memisahkan sang putri dari intrik istana yang bisa menelannya hidup- hidup kapan saja.
Saat rombongan memasuki gerbang Ibukota, Arion berhenti di sebuah pojok gang yang gelap dan tak terlihat.
Di sana, ia menatap Kael, anggota baru mereka yang masih tampak canggung dengan seragam barunya.
"Kael, ini tugas pertamamu," ucap Arion dingin.
"Tetaplah di sini, masuklah ke sela-sela kota. Aku ingin kau berkeliling dan melihat bagaimana keadaan masyarakatnya. Apakah mereka tahu raja mereka sedang sekarat? Atau mereka sedang disuapi kebohongan oleh pejabat mereka? Jadilah mataku di jalanan."
Kael mengangguk mantap, wajahnya terlihat serius.
Dalam satu kedipan mata, ia menghilang ke dalam udara tipis, menyatu dengan kegelapan Ibukota.
Arion kemudian memacu kudanya menuju penginapan terbaik di pusat kota, diikuti oleh pasukan Black Knight yang membuat penduduk kota terkesiap.
Malam itu, Arion memilih untuk tidur di tengah hiruk pikuk rakyat jelata dan penjagaan ketat pasukannya sendiri, daripada di bawah atap mewah kastil yang penuh dengan "bau" peperangan politik.
"Besok," gumam Arion sambil menatap ke arah kastil yang berdiri megah di kejauhan.
"Saat informasi dari Sebas dan Kael tiba, kita akan mulai membedah siapa yang paling berani bermain api denganku."