NovelToon NovelToon
Hallo, Mas Sersan

Hallo, Mas Sersan

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Naylest

Nayra, siswi SMA yang cerewet, polos, dan sedikit konyol, tak pernah menyangka kalau hidupnya akan jadi seribet ini. Semua gara-gara ia jatuh hati pada kakak dari sahabatnya sendiri, Sersan Arga. Seorang Tentara muda yang dingin, cuek, dan hampir tak pernah tersenyum. Hari-hari selalu membayangkan betapa tampannya seorang Arga Arfian.

Nayra selalu mencari cara agar bisa bertemu dan menyapa sang Sersan. Banyak rintangan yang ia lalu, namun itu tak menyurutkan semangat nya untuk memiliki Sersan Arga.
___

"Hallo, Mas Sersan"

Akan menjadi teman bacamu lebih menyenangkan... Yuk Baca selengkapnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naylest, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14. Makan Malam.

Sekitar pukul enam sore, Nayra sudah tiba di rumah Dinda. Alasannya untuk belajar bareng. Tapi niat sebenarnya jauh lebih licik dari itu. Perutnya sudah keroncongan sejak pulang sekolah. Dan tentu saja, ada misi utama yang lebih penting, mendekati Arga.

Nayra menatap halaman rumah Dinda dengan degup jantung tak karuan, berharap laki-laki berseragam itu sedang berada di dalam. Sambil pura-pura merapikan rambutnya, ia menarik napas panjang.

"Semoga kak Arga ada di rumah," gumamnya sambil tersenyum kecil, berlagak seolah semuanya hanya kebetulan.

Ia berjalan menuju pintu, lalu menekan bel. Selang dua menit, Dinda membuka pintu dan mempersilakan Nayra masuk. Aroma masakan dari dapur langsung menyambutnya, Perut Nayra otomatis bergejolak, tapi ia berusaha tetap anggun. Baru dua langkah masuk, langkahnya terhenti saat melihat sosok pujaan hati.

Arga sedang duduk di ruang tamu, masih dengan kaos hitam yang menempel pas di tubuhnya, rambut sedikit basah seperti habis mandi. Ia sedang memperbaiki tali jam tangan, tak menyadari kedatangan Nayra.

"Serius banget sih, Kak?" Kata Dinda bersuara.

Arga mengangkat wajahnya, Tatapan dinginnya langsung jatuh pada Nayra, tajam. membuat gadis itu refleks merapatkan tas ke dada, karena deg-degan.

"Hallo, Mas Sersan." Sapa Nayra ramah.

Namun, hanya tatapan dingin yang didapat Nayra.

"Ayo, Nay. Simpen tas kamu di kamar. Nanti kita belajar di kamar aja."

"Gak di sini?" Tanya Nayra.

"Gak! Yang ada kamu gak konsentrasi belajarnya." Jawab Dinda, apalagi ada Arga di rumah, pasti Nayra tidak akan fokus.

Dengan wajah kecewa, Nayra mengikuti Dinda menuju kamarnya.

"Nay, kita bantu Mama masak yuk. Mbak cuti hari ini." Ucap Dinda setelah Nayra menyimpan tas nya di meja.

"Mama kamu tau kan aku ke sini? Ntar yang ada aku dibilang ngapain ke sini."

"Udah. Mama seneng kamu ke sini."

"Seneng lagi kalo Mama kamu tau aku calon menantunya."

"Dih, pede sekali anda." Cibir Dinda, membuat kedua nya tertawa.

"Udah yuk, keburu selesai Mama nanti."

Nayra dan Dinda keluar dari kamar, masih sambil tertawa kecil karena obrolan tadi. Aroma tumisan dari dapur langsung menyapa hidung mereka.

Sesampainya di dapur, mereka melihat mama Dinda sedang sibuk mengaduk masakan di wajan. Rambutnya disanggul sederhana, apron sudah penuh tepung di bagian depan.

Nayra segera mendekat dan tersenyum sopan. "Sore Tante." Sapanya ramah.

Mama Dinda tersenyum dan membalas sapaan Nayra. "Sore, Nak. Ini Nayra ya?" Tanyanya.

"Hehe, iya Tante."

"Dinda sering cerita loh tentang kamu. Tapi sayang ya, kamu udah sering ke sini, tapi kita tidak pernah bertemu. Ini kali pertama kita ketemu kan ya?" Kata Mama Dinda tersenyum.

"Iya, Tante,"

Mama Dinda tersenyum, lalu mematikan kompor nya dan mengambil mangkuk untuk sayur sop nya.

"Ma, kita bantuin ya." Ucap Dinda, lalu mendekati mama nya.

"Kalian bisa goreng telor sama ikan gak? Mama mau bikin teh buat Papa."

"Bisa, Tante." Jawab Nayra dengan percaya diri.

"Ya sudah. Kalian kerjakan ya, mama mau anter minuman buat Papa dulu."

"Siap Tante." Jawab Nayra, membuat mama Dinda tersenyum.

Setelah Mama Dinda meninggalkan dapur, Nayra dan Dinda mulai beraksi. Nayra akan menggoreng telur, sedangkan Dinda menggoreng ikan.

Nayra memecahkan empat butir telur ke dalam mangkuk, lalu mengocoknya dengan garpu. Setelah itu memberi penyedap rasa di dalam kocokan telur tersebut.

"Nay,"

"Ya?" Jawab Nayra, namun tangannya masih mengocok telur.

Sedangkan ikan Dinda sudah masuk ke dalam wajan.

Dinda mendekat, dan menjauh dari wajan penggorengan.

"Nay, kamu yakin mau deketin Kak Arga?"

"Kenapa? Kok kamu tanya kaya gitu?" Jawab Nayra, lalu menoleh ke Dinda.

"Kamu gak takut di marahin kak Arga kaya kemarin?"

"Enggak! Nama nya juga usaha."

"Gak malu?"

"Enggak. Din, kamu tahu gak? Aku kaya gini tuh buat menghibur diri aja."

Dinda mengerutkan keningnya. "Menghibur diri?"

Nayra mengangguk pelan. "Hm."

"Ada apa? Cerita sama aku." Ucap Dinda, sambil menepuk pundak Nayra.

"Sebenarnya aku gak mau suudzon, Din. Tapi gimana ya? Perasaan ini datang tanpa di mau."

"Jangan setengah-setengah dong, Nay. Cerita yang kira-kira aku faham dan gak banyak tanya. Ini malah setengah-setengah, kan aku gak ngerti."

"Ayahku, Din. Aku ngerasa ayah selingkuh."

Deg.

"Ss-selingkuh?" Ucap Dinda terbata-bata kaget.

"Aku juga tidak yakin Din. Tapi entah kenapa, aku ngerasa Ayah macem-macem di luar sana. Setiap pulang ke rumah, Ayah main hp terus, jarang banget ngajak Mama ngobrol. Kalo main hp, kaya senyum-senyum gitu, mana kalo main hp suka menyendiri di tempat sepi."

"Jangan berfikir yang bukan-bukan, Nay. Itu hanya merusak pikiran saja, lagipula itu belum tentu membuktikan Ayah kamu selingkuh kan?"

"Gimana aku gak kepikiran, Din. Aku udah coba gak nuduh Ayah selingkuh, tapi gerak-gerik Ayah kaya beda gitu. Beda banget dari biasanya."

"Seenggaknya cari tahu dulu, jangan asal nuduh ih."

"Aku mau nya juga gitu, Din. Tapi... Eh, bau apa nih?" Nayra tak melanjutkan ucapannya, saat mencium sesuatu yang menyengat.

"Iya ya, Nay. Bau apa ya?" Jawab Dinda dan ikut mencium aroma itu.

Nayra berbalik. "Dindaaaaaa ikannya gosonggggg."

"Huaaaaa."

Keduanya panik, lalu mematikan api kompor, yang mana ikan itu sudah hitam pekat seperti arang.

"Ada apa ini?"

Deg.

Keduanya menoleh ke arah pintu masuk dapur, di sana berdiri sosok pria tampan dengan tatapan tajamnya.

"Mampus." Lirih Dinda.

Arga mendekat, lalu melihat ke dalam wajah. Yang mana ikan itu sudah tak seperti ikan lagi.

"Goreng ikan atau bakar ikan?" Sindir Arga, membuat keduanya menunduk bersalah.

"Itulah kalau anak kecil sok-sokan pinter masak." Cibirnya lagi, membuat Nayra merasa kalau Arga menyindirnya.

"Ada apa?" Tiba-tiba Mama Dinda ikut masuk ke dapur.

"Lagi lihat mereka bakar ikan." Jawab Arga.

"Bakar ikan?" Bingung Mama Dinda.

"Tuh." Tunjuk Arga ke arah wajah dengan dagu nya.

Karena penasaran, Mama Dinda pun berjalan untuk melihat ikan bakar yang maksud Arga.

"Astaga." Mama Dinda geleng-geleng melihat wajan dan ikan sudah menghitam dengan asap tipis yang masih mengepul.

"Maaf, Ma." Ucap Dinda menyesal.

"Ikannya hilang identitas." Cibir Arga.

Mama Dinda hanya bisa tersenyum. "Ya sudah tidak papa. Kalian siapkan nasi sama lauk dan sop yang udah mama masa ke meja. Biar mama yang goreng telor dan ikannya." Kata Mama Dinda, dan mulai kembali menggoreng ikan yang baru, walaupun hanya tinggal dua ekor.

Sedangkan Dinda dan Nayra langsung menyiapkan makanan di atas meja. Kurang lebih 10 menit, masakan sudah tersaji di atas meja. Dan sekarang keluarga Dinda sudah semua duduk di kursi, begitupun dengan Nayra yang ikut makan malam di rumah Dinda.

"Jangan sungkan, Nay. Makan yang banyak." Kata Mama Dinda.

"Iya, Tante." Namun, matanya melirik Arga yang duduk di samping Mama nya.

"Ayo, makan." Kata papa Dinda.

Setelah nasi tersaji di piring, mereka pun mengambil lauk dan sayur. Arga mengambil sayur sop dan juga telur goreng, dengan perut yang terasa lapar. Arga pun menyendok nasi dan telur ke dalam mulutnya.

Byurrrrr.

"Akhh, apa ini?" Dengan cepat Arga meneguk air putih.

"Ada apa, Nak?" Tanya Mama Dinda bingung, begitupun dengan yang lainnya.

"Ini telor goreng apa garam goreng sih," ucapnya.

"Asin?" Tanya Papa Dinda.

"Lebih dari asin." Jawab Arga. Nayra menelan ludahnya, karena ia yang memberi penyedap rasa pada telor itu.

Karena penasaran, Mama Dinda mencicipi telor goreng itu.

"Pufz, asin." Ia pun meludahkan telor itu.

Arga menatap Nayra dan Dinda secara bergantian.

"Ulah siapa ini?" Tanyanya.

Dengan sangat terpaksa Nayra mengaku, walaupun harus menahan malu. "Saya, Kak."

"Pantes." Cibir Arga.

"Sudah-sudah, yang asin biarkan saja. Jangan di makan, makan yang layak untuk di makan saja." Ucap Papa nya Dinda.

Dan akhirnya telor goreng asin itu tidak satupun yang menyentuhnya lagi. Semuanya menikmati masakan Mama Dinda saja. Selesai makan, Dinda dan Nayra mencuci piring dan membereskan semua peralatan dapur yang masih kotor.

"Ke kamar yuk, Nay. Udah beres juga nih." Ajak Dinda.

"Ayo,"

Keduanya segera pergi dari dapur menuju kamar Dinda. Mereka beristirahat 5 menit, lalu memulai belajar bersama. Malam ini, Dinda melihat keseriusan Nayra dalam belajar, mungkin karena ia sangat serius untuk mendekati Arga. Atau memang serius untuk menjauhkan pikirannya dari kecurigaan nya terhadap ayahnya.

Tepat pukul sepuluh malam, mereka selesai belajar.

"Nay, nginep aja di rumah. Ini udah jam sepuluh loh." Kata Dinda, karena dia khawatir jika Nayra harus pulang sendirian, apalagi di malam hari.

"Mama aku sendiri di rumah, Din. Adek aku belajar kelompok di rumah temennya, mana nginep juga lagi." Jawab Nayra sembilu membereskan peralatan belajarnya ke dalam tas.

"Tapi ini udah malem loh, Nay. Kamu gak takut pulang sendiri?"

"Aku lebih takut Mama sendiri di rumah, Din. Gak papa, aku pulang aja. Kasian Mamaku." Ucapnya, lalu memakai tas ranselnya.

Dinda pun berdiri, saat Nayra berdiri.

"Aku ajak kak Arga buat nganterin kamu, aku takut kamu pulang sendirian, Nay."

Nayra tersenyum lebar. "Serius? Ayo-ayo, aku mau pulang sekarang."

Dan dengan semangat nya Nayra keluar dari kamar Dinda, mendengar akan di antar oleh Arga.

"Gercep banget."

Dan Dinda pun ikut keluar dari kamarnya. Saat ia dan Nayra turun dari lantai atas, mereka melihat Arga, Papa dan Mama Dinda sedang duduk di ruang tamu.

"Kak Arga." Panggil Dinda.

Arga menoleh, begitupun dengan kedua orangtuanya.

"Ada apa, nak?" Tanya Mama Dinda.

"Ini ma, Aku mau ajak kak Arga anter Nayra pulang. Kasihan kalo dia pulang sendiri malem-malem."

"Datang sendiri, pulang juga harus sendiri." Jawab Arga datar.

Papa Dinda melihat jam di dinding. "Kenapa gak nginep aja, Nay?"

"Mama sendiri di rumah, Om."

Papa Dinda mangut-mangut, lalu menoleh ke arah Arga. "Arga, temani adikmu nganter Nayra pulang. Ini udah malam, bahaya kalau gadis pulang sendirian."

Arga menjengah malas. "Pa-"

"Arga!"

Panggil itu seperti perintah yang tidak bisa di tolak. Dan Arga pun dengan sangat terpaksa berdiri untuk menemani Dinda mengantar Nayra pulang.

Sedangkan Nayra bersorak dalam dalam hati. Senang, sangat-sangat senang. Setelah berpamitan dengan kedua orangtua Dinda, mereka pun akhirnya bergegas pergi.

Nayra membawa motornya sendiri, sedangkan Dinda berboncengan dengan Arga. Nayra mengendarai motornya lebih dulu, lalu di susul Arga dan Dinda dari belakang.

Di perjalanan, Nayra tak henti-hentinya melihat kaca spion, kaca yang bisa memperlihatkan wajah tampan Arga dari jarak dekat. Ia tak henti-hentinya tersenyum, jantung berdetak kencang saking senangnya.

"Nayra ngapain sih, kok kaya gak fokus gitu bawa motornya?" Batin Dinda.

"Jangan-jangan dia ngantuk lagi." Sambungnya.

Dinda menepuk pundak kakaknya. "Kak, coba kejar Nayra. Kayaknya dia ngantuk deh."

Arga pun melajukan motornya, hingga motor mereka berdampingan.

"Nay, kamu ngantuk ya?" Teriak Dinda.

"Enggak kok." Jawab Nayra dan ikut berteriak.

"Kamu kaya gak fokus gitu."

"Gak papa, aku gak ngantuk kok."

Mendengar itu, Arga kembali ke posisi semula, yaitu di belakang Nayra.

"Aaa kak Arga ganteng banget." Ucapnya sambil menghentakkan kakinya di motornya.

Tatapan nya tidak pernah berpaling dari kaca spion, karena dari sana ia bisa melihat Arga sepuasnya. Namun, ia tidak memperhatikan jalan dengan baik, hingga....

"Huaaaaaaa."

Brukkkk.

"Astaga, Nayra." Pekik Dinda.

Arga mengentikan motornya, lalu turun bersamaan dengan Dinda.

"Nay, kamu gak papa?"

"Aduhhh, kaki aku sakit." ringis Nayra.

"Astaga."

Kaki Nayra terluka di bagian lutut dan membuat celana yang ia gunakan sobek dan sedikit berdarah. Sedangkan Arga, menegakkan motor Nayra yang tergeletak.

"Kak, kaki Nayra berdarah." Beritahu Dinda kepada kakaknya.

Arga mendekat. "Itu ada apotek, kita ke sana." Tunjuknya ke arah apotik yang masih buka.

"Ya udah, kita ke sana aja. Ayo, Nay." Dinda membantu Nayra berdiri.

"Lagian segala tumpukan pasir pake di tabrak. Nyari penyakit banget." Ujar Dinda, setelah Nayra berdiri.

"Gak sengaja, Din." Jawabnya, namun masih meringis.

"Bisa jalan?" Tanya Arga, karena ia melihat luka Nayra lumayan besar.

"Bisa, kapan?" Jawab Nayra bercanda.

"Ayo dek, kita pulang." Ajak Arga, lalu menarik tangan Dinda.

"Iya-iya, bercanda kak." Ucap Nayra dengan cepat, karena takut ditinggal.

"Minggir dek."

Sretttt.

Arga menggendong Nayra dengan gerakan cepat, membuat Nayra memekik kaget. Arga membawa Naura ke apotek terdekat untuk mengobati lukanya. Setelah selesai berobat, Arga dan Dinda mengantar Nayra pulang, dengan Dinda yang membonceng Nayra.

"Makasih ya Mas Sersan." Kata Nayra saat mereka tiba dirumah.

"Hm "

"Nay, kita pulang ya."

"Hati-hati, sekali lagi makasih.

"Hm. Dadaa."

"Daaaaa."

"Mas Sersan, hati-hati."

Arga melengos pergi, setelah Nayra melambaikan tangan kepadanya. Lagi-lagi gadis itu membuat nya jengkel. Nayra masuk ke rumah dan melihat Mama Indy tidur di sofa, mungkin karena menunggu dirinya pulang.

"Ma, semoga apa yang Nayra curigai tidak terjadi. Apa jadi nya jika itu terjadi, Nayra gak bisa bayangin bagaimana terpukulnya Mama." ucap Nayra menatap sedih ke arah mama nya yang sedang tertidur pulang.

************

1
Mashiro Shiina
Thor, aku rindu banget sama ceritamu, please update secepatnya!
Naylest: Akan saya usahakan ya kak☺️
total 1 replies
Gwatan
Wah, gila sukses bikin aku ketagihan bacanya! (👍)
Naylest: Terima kasih kak☺️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!