Dewangga tak menyangka di usianya yang menginjak 42 tahun, dia harus menikahi sahabat putrinya karena kesalahan pahaman. Pernikahan mereka pun harus dirahasiakan dari sang putri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Escendol94, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14~ Jarak yang semakin nyata
Dewangga menarik satu kursi di samping Dirga, lalu duduk di sana tanpa memedulikan tatapan heran yang tertuju padanya.
"Papa kok ada di sini?" Nura menatap Papanya dengan heran.
“Tadi Papa ketemu klien. Kebetulan tempatnya dekat dengan mall, jadi Papa sekalian mampir," jawab Dewangga. Padahal tempatnya lumayan jauh dari mall. Ia sengaja mencari alasan yang terdengar masuk akal.
"Oh, kirain sengaja nyusulin aku." Bahu Nura merosot kecewa. Sejak dulu papanya memang tidak pernah mau diajak ke mall ataupun menonton film. Om Dirga-lah yang selalu menemani.
"Papa memang ingin melihat kamu," jawab Dewangga.
'Juga ingin lihat Mama tirimu,' batinnya sambil melirik Riri.
Nura tersenyum lebar, wajahnya berseri bahagia. "Aku tau, Papa paling sayang sama aku."
Meskipun Dewangga hampir tidak pernah menemaninya, Nura tetap percaya bahwa papanya sangat menyayanginya.
"Mau aku pesankan makanan sekalian?" tanya Dirga, melirik Dewangga, takut pria itu belum makan setelah bertemu klien.
"Aku sudah makan," jawab Dewangga singkat.
Dirga kembali menutup buku menu. "Selesai makan kita akan menonton film. Mas Dewangga mau ikut? Terakhir kali Mas menemani Nura nonton itu waktu dia masih lima tahun."
Dewangga sempat terdiam sejenak. Dalam hati, ia justru bersyukur Dirga menawarkan. Ia tak perlu repot mencari alasan untuk ikut.
"Boleh."
Senyum Nura langsung mengembang lebih lebar. Sudah lama ia menginginkan momen seperti ini- ditemani papanya. Dan akhirnya, malam ini keinginannya terkabul.
Tak lama, pesanan mereka datang.
Nura kembali menatap Papanya. "Pa, beneran Papa nggak mau pesan makanan?"
Dewangga tersenyum tipis. "Papa sudah makan, Sayang."
Di sisi lain meja, Riri yang sejak tadi terdiam akhirnya mengangkat wajahnya sebentar. Tatapannya sempat bertemu dengan Dewangga, tapi hanya sekejap sebelum ia kembali menunduk.
Saat Pelayan meletakkan makanan di atas meja, Dirga mengernyit. "Riri nggak pesan makanan lain? Kamu alergi seafood bukan?"
Riri mengangkat wajah menatap Dirga. "Pesan kok, Om. Aku pesan nasi biryani," jawabnya.
"Aku yang pesan ini, Om," timpal Nura.
Dirga mengangguk, ingat jelas saat Riri tidak sengaja memakan makanan yang mengandung udang. Malam itu gadis itu harus dilarikan ke rumah sakit karena alerginya kambuh. Untungnya tidak terlalu parah, meksipun ia tetap harus dirawat selama dua hari.
Dewangga menatap dalam diam. 'Dia alergi seafood?' batinnya. Informasi itu langsung ia simpan rapi di kepalanya.
Selama makan, Riri hanya fokus pada piringnya. Ia tidak berani mengangkat wajah, takut tatapannya bertemu dengan Dewangga. Entah mengapa, Ia selalu merasa lelaki itu terus memperhatikannya.
"Ada makanan di bibir kamu."
Dirga mengulurkan tangan, mengusap sudut bibir Riri dengan tisu.
Riri refleks tersentak. Dengan cepat merebut tisu itu. "Aku bisa lap sendiri, Om." Nada suaranya terdengar kaku.
Dirga terdiam, menatap Riri dengan sorot kecewa yang tak bisa ia sembunyikan. Gadis itu semakin menjauh darinya.
Di sisi lain, Dewangga mengepalkan tangan di bawah meja. Rahangnya mengeras. Ada sesuatu yang bergejolak di dalam dadanya- panas, menekan, dan rasa itu semakin membuat tak nyaman. Ia cemburu.
Riri sempat mengangkat wajah, melirik sekilas ke arah Dewangga yang duduk di depannya. Namun, saat mata mereka hampir bertemu, ia kembali menunduk.
'Apa Om Dewangga marah?' pikirnya cemas.
*,*
Selesai makan, mereka berempat menuju bioskop.
Nura bersikeras memilih film romantis, sementara Riri lebih condong ke film aksi. Perdebatan kecil pun tak terhindarkan.
"Aku lagi pengen yang baper," protes Nura.
"Aku maunya yang seru," sahut Riri pelan, meski suaranya kalah tegas.
Pada akhirnya seperti biasa... Nura menang.
Di dalam studio yang gelap, mereka mulai mencari tempat duduk.
Formasinya, tanpa sengaja membuat Riri terjebak di posisi yang paling tidak nyaman.
Di kuris : Nura-Dewangga-Riri-Dirga.
Riri berada tepat di tengah, diapit dua lelaki. Ia hanya mampu menggerutu dalam hati. Ingin meminta tukar posisi duduk dengan Nura pun, ia tak berani.
Ia melirik sebelah kanan di mana ada Dewangga, lalu melirik sebelah kiri di mana ada Dirga, ia menelan ludah. Rasanya ia ingin menghilang dari sana apalagi saat melihat wajah suaminya yang terlihat dingin.
Film mulai diputar.
Lampu padam. Layar menyala.
Suasana mulai hening.
Beberapa menit pertama, Riri berusaha fokus menonton, tapi keberadaan Dewangga serta Dirga membuatnya benar-benar tidak nyaman.
"Ini rasa yang kamu suka." Dirga mengulurkan tangannya, menyodorkan popcorn ke arah Riri.
Riri langsung mengambilnya dari tangan Dirga lalu memakannya. "Makasih, Om. Enak... aku suka," ucapnya sambil menoleh sekilas, menghadiahkan senyum kecil.
Dirga menarik tangannya perlahan. Ada rasa kosong yang tiba-tiba muncul. Ia berusaha mendekat, tapi Riri justru seperti menjaga jarak- halus, namun terasa nyata.
Namun, Dirga tidak ingin menyerah. Perasaan yang terlanjur tumbuh itu tidak bisa ia abaikan begitu saja.
Ia hanya perlu waktu... dan cara yang tepat, untuk membuat Riri melihatnya seperti dulu.
"Mau minum?" Dirga kembali menyodorkan gelas ke depan bibir Riri.
Riri langsung mengambilnya. "Makasih, Om."
Dirga menghela napas pelan. Ia mencoba menenangkan diri. Tidak apa-apa... pelan-pelan saja. Mungkin Riri hanya kecewa karena terlalu lama menunggu. Kalau dia berusaha lebih keras, mungkin gadis itu akan kembali seperti dulu.
Pandangannya jatuh pada wajah Riri. Dalam temaram lampu bioskop, gadis itu terlihat jauh lebih mempesona dari biasanya.
Tangan Dirga mengepal tanpa sadar. Ada dorongan dalam dirinya untuk menarik Riri dalam ke pelukan.
Namun, keinginan itu hanya berhenti sebagai angan - sesuatu yang tak berani ia wujudkan.
Dewangga yang sejak tadi memperhatikan keduanya, terbakar cemburu. Tangannya mengepal kuat, rahangnya mengeras, wajahnya memerah, menahan emosi yang hampir meluap.
Jika saja itu bukan Dirga, mungkin akan ia hadiah bogem mentah tanpa pikir panjang.
Namun, ia hanya bisa diam. Menahan semua yang bergolak di dalam dada. Hubungannya dengan Riri masih menjadi rahasia- dan itu membuatnya tak punya hak untuk bertindak terang-terangan.
Saat perhatian Dirga teralihkan, Dewangga bergerak cepat. Ia meraih tangan Riri dan menggenggamnya erat.
Genggaman itu hangat, tapi penuh tekanan seolah menyampaikan sesuatu yang tak bisa ia ucapkan.
Riri terkejut. Ia langsung berusaha melepaskan diri, jantung berdegup tak karuan. Takut jika Nura atau Dirga menyadari apa yang terjadi.
Namun, Dewangga justru menahannya.
Riri menoleh, menatap lelaki itu dengan sorot permohonan. "Om, lepas...," bisiknya pelan, nyaris tak terdengar.
Tak ada jawaban.
Sebaliknya, genggaman Dewangga semakin erat. Ibu jarinya bergerak perlahan, mengusap telapak tangan Riri dengan sengaja.
Riri menggigit bibir, menahan kesal. Ia mencoba menarik tangannya, tapi sia-sia. Pada akhirnya, ia hanya bisa diam, meskipun dalam hati terus menggerutu.
Sementara itu, sudut bibir Dewangga terangkat tipis.
Ada kepuasan aneh yang muncul saat Riri akhirnya berhenti melawan. Tatapannya meredup, namun justru terlihat semakin dalam, seolah mengatakan jika Riri hanya miliknya.
*,*