Berawal disalahpahami hendak mengakhiri hidup, kehidupan Greenindia Simon berubah layaknya Rollercoaster. Malam harinya ia masih menikmati embusan angin di sebuah tebing, menikmati hamparan bintang, siangnya dia tiba-tiba menjadi istri seorang pria asing yang baru dikenalnya.
"Daripada mengakhiri hidupmu, lebih baik kau menjadi istriku."
"Kau gila? Aku hanya sedang liburan, bukan sedang mencari suami."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kunay, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Interogasi
Suara Lizbet yang melengking—nyaris seperti sirene alarm—memenuhi ruangan sempit apartemen itu, memecah suasana sunyi yang baru saja tercipta antara Greenindia dan Rex. Greenindia segera mematikan lampu balkon, berharap keheningan bisa mengembalikan normalitas yang telah hilang.
"Kak! Jangan berteriak! Kau mau mengundang semua penghuni lantai ini?!" desis Greenindia, wajahnya yang tadinya tenang kini kembali tegang karena kombinasi malu dan kelelahan.
Tomi, yang mengenakan kaus band usang dan celana kargo, menutup pintu dan menyandarkannya perlahan, tetapi matanya yang tajam sudah mengunci Rex. "Siapa dia, Green? Kami khawatir setengah mati. Will bilang kau terlihat seperti..., lalu kau pulang dengan pria asing yang duduk di kursi roda?"
Lizbet menghampiri Greenindia dan mengguncang bahunya. "Kenapa kau merahasiakan pacar barumu, Green? Dan kenapa dia di kursi roda? Apa dia memaksamu pulang? Jangan-jangan dia yang membuatmu menangis tadi malam!"
Rex, yang terbiasa dihormati dan tidak pernah diinterogasi oleh orang yang tidak dikenal, mendapati situasi ini sedikit menggelikan. Ia menatap Tomi dan Lizbet dengan ekspresi datar, lalu berbicara.
“Aku Rex Carson. Dan aku bukan pacarnya,” kata Rex, suaranya tenang, tetapi memiliki lapisan otoritas yang kuat.
Lizbet mendengus, menunjuk Rex yang elegan di tengah apartemen sederhana. "Bukan pacar? Lalu kenapa kau berdua makan malam romantis di balkon? Kalian duduk di lantai beralaskan kain! Kau pikir kami buta? Jangan-jangan kau adalah simpanan tuan ini, Green? Astaga! Aku tahu kau butuh uang, tapi—"
"Cukup, Kak!" potong Greenindia keras, suaranya mengandung peringatan tegas yang jarang ia gunakan. "Dia bukan pacarku, dan aku bukan simpanannya. Dia... dia..."
Rex memotong kebingungannya dengan senyum dingin yang mencapai matanya. "Aku suaminya."
Seketika, ruangan itu sunyi. Tomi dan Lizbet membeku, menatap Rex dan Greenindia bergantian, memproses kalimat yang paling tidak masuk akal yang pernah mereka dengar.
Lizbet adalah yang pertama pulih. Ekspresinya berubah dari marah menjadi horor. "Apa?! Suami?! Green! Jangan bercanda! Kau tidak pernah memperkenalkan kami. Kau tidak pernah bilang kau punya pacar, apalagi suami! Kapan? Di mana? Kenapa aku tidak tahu apa-apa?"
Tomi mendekat dengan ekspresi lebih serius. "Benarkah, Green? Kapan kau menikah? Kau menikah dengan siapa?"
Greenindia memejamkan mata. Ia tahu penjelasan yang akan keluar dari mulut Rex adalah bencana.
Rex, tanpa menunggu Greenindia, kembali mengambil kendali panggung. "Tenanglah, nona. Kami menikah karena masalah administratif yang mendesak. Green memiliki keberanian untuk menyerangku. Aku hampir kehilangan kaki karena pisau lipatnya yang manis itu." Rex menunjuk kakinya yang terbalut perban tebal. "Sebagai kompensasi, aku memintanya menikahiku."
Lizbet dan Tomi kembali terkejut. Lizbet kembali berteriak, "Penyerangan?! Kau menusuk pria ini, Green?! Astaga! Kau benar-benar sudah gila! Kau dipaksa?!"
"Dia pikir aku adalah pencabul yang hendak melecehkannya di atas tebing, Tuan Tomi," Rex mengoreksi Tomi, dengan nada geli. "Aku sedang mencoba menyelamatkannya dari bunuh diri, dan dia mengira aku predator."
Greenindia hanya bisa menutupi wajahnya dengan kedua tangan, tenggelam dalam rasa malu. "Tomi, Kak, aku sungguh minta maaf. Semuanya sangat rumit. Aku tidak bisa menjelaskannya di sini."
Ia meraih lengan Lizbet. "Kak, ayo ikut aku ke atas. Sekarang! Aku akan ceritakan semuanya di sana. Tapi tolong, jangan membuat keributan di depan suamiku yang gila ini!" desak Greenindia, suaranya bergetar.
Lizbet, melihat kegilaan di mata Rex dan keputusasaan di mata Greenindia, akhirnya mengangguk. "Baiklah, baiklah! Tapi kau harus cerita dari A sampai Z, Green!"
Saat Greenindia dan Lizbet menghilang menaiki tangga ke atap, Tomi beralih menatap Rex. Tatapannya dingin.
"Tuan Rex Carson," Tomi memulai, nadanya rendah. "Greenindia sudah seperti adik perempuanku. Sekarang, di antara kita berdua, aku mau tahu alasan sebenarnya. Pernikahan, penyerangan, dan pisau lipat itu. Aku tidak percaya ini hanya 'kompensasi'."
"Tepat sekali. Tentu saja, aku mengancamnya dengan tuntutan hukum," jawab Rex santai, menikmati kejujuran brutalnya. "Dia hampir membunuhku. Aku meminta pernikahan sebagai ganti, bukan karena cinta. Itu adalah kesepakatan tanggung jawab atas tindakannya."
Tomi menghela napas panjang, menilai kerumitan situasi. "Dunia macam apa yang mengharuskan kompensasi atas luka tusukan adalah pernikahan?"
"Dunia tempat istriku tidak sengaja menyerang pria yang salah," balas Rex. "Tapi aku sudah memperingatkanmu. Apa pun alasannya, sekarang dia adalah istriku. Lebih aman bersamaku. Terutama setelah ia terlibat pertengkaran emosional dengan... keluarganya tadi malam. Aku mendengar dia dan seseorang yang disebut Chester berdebat keras."
Mendengar nama Chester, Tomi terkejut. "Kau tahu sesuatu tentang keluarganya? Kau tahu Chester Anderson itu kakaknya?"
"Aku tahu bahwa ia bekerja di tempat kotor di mana kakaknya, seorang aktor terkenal, mengadakan pesta, dan mereka berdebat hebat di parkiran. Aku mendengar semuanya. Dan aku melihat rahasia apa yang coba ia sembunyikan," Rex mengakui, sengaja membiarkan Tomi tahu betapa berbahayanya informasi yang ia pegang.
Mata Tomi membulat. "Chester Anderson? Kakaknya? Kenapa dia tidak pernah bilang? Dan kenapa mereka bertengkar sampai melibatkan Ayahnya?"
Rex menyeringai, ini adalah kartu AS-nya. "Itulah yang sedang aku cari tahu, Tuan Tomi. Tapi aku sudah memberitahumu. Sekarang dia adalah tanggung jawabku. Aku tidak akan menyakitinya. Justru sebaliknya, aku akan menjauhkannya dari masalah, dan dari minuman keras yang suka ia tenggak. Kau bisa pegang kata-kataku."
Sementara di rooftop yang diterpa angin malam, hanya cahaya minim dari kota yang menjadi penerangan. Greenindia duduk di tepi semen, memeluk lututnya, sedangkan Lizbet duduk di sebelahnya.
"Oke, Green. Sekarang, cerita dari awal. Aku mau dengar alasan kenapa kau setuju menikah dengan Rex Carson yang sinting itu," tuntut Lizbet.
Greenindia menceritakan momen di tebing, rasa paniknya, tusukan yang tidak disengaja. Kemudian ia menceritakan tuntutan Rex di rumah sakit, di mana Antonio mengancamnya dengan tuntutan kriminal serius.
"Aku... aku tidak sengaja, Kak! Aku hanya ingin menggertaknya! Tapi begitu Antonio mengancamku dengan pasal berlapis... Aku tidak bisa menanggung tuduhan kriminal lain!" Greenindia menangis tersedu-sedu. "Kau tahu, Kak. Kau tahu Ibuku menuduhku membunuh Ayah. Aku tidak bisa menghadapi kegilaan ini lagi, apalagi sampai berurusan dengan polisi dan hukum! Itu akan menghancurkanku!"
Lizbet segera memeluknya erat. "Oh, Green... Ya Tuhan. Aku mengerti. Itu pasti menakutkan. Kau terpojok. Rex Carson itu monster yang mengambil kesempatan dari kelemahanmu."
"Dia suamiku yang sah sekarang," isak Greenindia. "Dan dia tinggal di bawah sana, mengawasiku, mengancam akan membongkar semuanya jika aku tidak menuruti aturannya. Dan dia curiga tentang rahasia keluargaku karena tindakan impulsifku saat mabuk."
Lizbet berdecak. “Kapan kau akan berhenti minum? Lalu dia membelalakkan matanya. "Chester tahu kau sudah menikah dengan pria asing?"
"Tidak. Dia tidak tahu apa-apa. Dan sekarang Rex sudah mencurigaiku. Sepertinya dia mencari informasi tentangku... ,” ucap Green menggantung tapi dengan kemampuan keluarga Anderson aku yakin kalau dia tidak akan mendapatkan apa-apa. Apalagi... tentang ibuku.”
Lizbet menghela napas panjang. "Jadi, kau menusuk seorang pria kaya raya di tebing, menikahinya agar tidak dipenjara, dan sekarang suamimu itu menjadi bodyguard yang mengawasi semua rahasiamu? Ini bukan novel fiksi, Green! Ini novel thriller!"
"Aku tahu! Aku tidak tahu harus berbuat apa! Aku sudah terjebak, Kak. Benar-benar terjebak," ratap Greenindia.
Lizbet mengusap punggung Greenindia. "Baiklah. Sekarang tenanglah. Setidaknya kau sudah ceritakan semuanya. Kau tidak sendirian. Tapi Rex Carson ini... dia berbahaya. Dia punya kekuatan, Green. Kau harus sangat berhati-hati. Apa pun yang kau lakukan, jangan biarkan dia tahu kelemahanmu lebih dari yang sudah dia ketahui. Dan sekarang, mari kita turun. Aku yakin Tomi sudah mendapatkan semua informasi dari suamimu yang absurd itu."
Green mengangguk dan segera mengikutinya.
semangat up