NovelToon NovelToon
The Death Mirror

The Death Mirror

Status: tamat
Genre:Misteri / Horror Thriller-Horror / Model / Obsesi / Tamat
Popularitas:426
Nilai: 5
Nama Author: Richest

Michelle sudah lama mencintai Edward, namun ternyata lelaki itu justru jatuh cinta dan menjalin hubungan dengan Kimberly, teman baik Michelle sendiri.

Rasa benci Michelle terhadap Kim semakin membara. Sehingga salah seorang sahabatnya yang lain mengajaknya ke desa sepupunya.

Michelle membawa pulang barang antik berupa cermin tua yang sangat menyeramkan setelah pulang dari hutan. Cermin itu bisa mendatangkan petaka.

Hingga kabar tentang kematian Kim setelah beberapa hari menikah dengan Edward pun tersebar di kalangan masyarakat.

Ada misteri apa di balik kematian Kimberly?

Ayo temukan jawabannya dengan membaca novel ini sampai selesai, selamat membaca 🥳

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Richest, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14

Dua hari kemudian, Edward mengajak Michelle untuk dinner pada malam hari ini. Hubungan mereka berdua sudah semakin dekat dan mereka juga tidak segan untuk terang-terangan bersikap mesra di tempat umum.

Michelle tentu saja sangat senang karena pada akhirnya Edward mau diajak go public. Istrinya juga sudah meninggal lumayan lama jadi orang-orang pasti akan merasa itu hal yang wajar karena Edward juga berhak bahagia.

Michelle baru saja selesai memakai dress. Dia juga telah selesai make up. Kini, ia sedang mengambil tas selempangnya untuk pergi dinner.

Edward rupanya juga sudah menunggunya di luar. Ia membukakan pintu mobil untuk Michelle saat gadis itu tiba.

Mereka menempuh perjalanan cukup jauh. Hingga pada akhirnya mereka tiba di sebuah rumah yang tidak terlalu besar namun unik dengan desain barat klasik.

Michelle merasa agak kurang nyaman dengan tempat satu ini. Entah mengapa tiba-tiba firasatnya menjadi tidak enak begitu saja.

Alih-alih mengajak Michelle untuk masuk ke dalam rumah, Edward sudah lebih dulu mengirim pesan kepada Sisca untuk datang ke sana juga.

Dia bilang bahwa dia memiliki rencana yang bagus. Maka dari itu ia menyuruh Sisca untuk datang ke sana.

Sementara gadis itu sedang bersiap-siap. Dia juga kaget saat melihat Edward mengajaknya ketemuan namun jauh sekali. Bahkan tempatnya jauh dengan rumah warga yang lainnya.

Harus menempuh jarak sekitar satu kilometer lah baru mereka bisa menemukan rumah warga. Sangat jauh, bukan?

Dia kali ini memutuskan untuk pergi ke sana sendirian tanpa ditemani oleh Chris. Lelaki itu juga belum pulang dari bekerja di rumah sakit. Dia merasa sungkan untuk menghubunginya.

Setelah menghabiskan waktu cukup lama di perjalanan, Sisca telah tiba di sebuah rumah yang dimaksud oleh Edward. Dia memastikan terlebih dahulu dengan mengirimkan foto kepada Edward.

Lelaki itu segera berjalan menuju pintu luar untuk membukakan pintu. Ia mempersilakan Sisca untuk masuk ke dalam.

Saat akan ke meja makan, Sisca lebih kaget lagi karena ia melihat Michelle juga ada di sana. Apa maksudnya ini? Mengapa Michelle juga ada disini?

Tidak mungkin bukan jika Edward ingin membicarakan pasal rencana mereka namun ada Michelle disini. Dia sungguh tak mengerti dengan apa yang telah direncanakan oleh Edward.

Michelle menatap Sisca yang berdiri di hadapannya. Dia menjadi tergagap. Takut gadis itu membeberkan semua rahasianya di hadapan Edward.

Sementara Edward tampak seperti biasa saja. Dia sudah mempertemukan dua sahabat itu disini. Entah apalah maksudnya.

"Ss-Sisca?" ucap Michelle terbata-bata.

Bahkan raut wajahnya juga sudah berubah menjadi panik dan ketakutan. Edward bisa melihatnya dengan jelas.

"Edward, apa maksudmu mempertemukan ku dengan dia?" tunjuk Michelle kearah Sisca.

"Bukankah kalian berdua sahabat? Mengapa kamu harus marah, Michelle? Apa kamu tidak suka kalau aku mengajaknya kesini juga?" jawabnya santai.

"Tidak, dia sekarang bukan sahabatku lagi. Sekarang cepat kamu suruh dia pergi dari sini atau aku yang pergi."

"Maaf, aku enggak bisa, Chelle."

Dengan tatapan matanya yang tajam, gadis itu berdiri dan berjalan mundur ke belakang tanpa berbalik arah. Dia mengambil sebuah pisau yang sangat tajam dari dapur yang berada di dekat meja makan.

Dia menodongkan senjata itu ke arah Sisca. Sementara Sisca hanya terlihat sedikit panik. Bahkan dia belum berbicara sedikitpun namun Michelle sudah tampak ketakutan, pikirnya.

Michelle berpikir bahwa Sisca akan mengungkapkan semua keburukannya selama ini kepada Edward pada malam ini. Memang firasatnya sudah tidak baik sedari awal tadi.

"Sudahlah, Michelle. Tidak ada gunanya lagi kamu menodongkan senjata seperti itu. Kamu mau korban jiwa sebanyak apa lagi, huh?" tanya Edward.

"Lebih baik kalian berdua akur-akur saja ya. Aku ingin ke atas sebentar." Edward meninggalkan Sisca berduaan dengan Michelle di sana.

Sisca tambah dibuat tidak mengerti dengan sikap lelaki itu. Kenapa dia tiba-tiba pergi begitu saja. Bagaimana jika dia nanti diserang dan dihabisi oleh Michelle si psikopat itu.

Michelle benar-benar ingin menyerang Sisca. Sementara gadis itu reflek untuk terus bergerak mundur dan lari menjauh dari Michelle.

Michelle terus mengejar Sisca hingga ia berhasil menancapkan ujung pisau yang sangat tajam itu ke telapak tangan Sisca hingga membuatnya terluka dan berdarah.

"Arghh!!" teriak gadis itu kesakitan.

"Hahaha, kamu akan mati malam ini Sisca! Apa-apaan kamu ikut-ikutan datang kesini?!! Akhirnya kita bertemu lagi, hahaha."

Sisca melihat Edward datang menghampiri mereka berdua. Namun lelaki itu justru terlihat enjoy dan biasa saja. Tidak ada rasa takut dan panik sedikitpun.

"Ed, tolong aku!" teriaknya.

Dia tidak bisa melepaskan diri dari cengkeraman tangan Michelle yang terus membuatnya sulit untuk bernafas.

"Edward! Kenapa kamu diam saja?!! Bantu aku!" teriaknya lagi.

"Kamu lawan saja dulu dia sendirian. Aku pikir tidak seimbang jika aku membantumu tapi tidak membantu Michelle." sahutnya santai sambil duduk di atas kursi.

"Kamu memang bodoh, Sisca. Kamu mencoba untuk mengajakku bekerjasama denganmu. Itu berarti kamu lolos dari kandang buaya tapi kamu malah masuk lagi ke kandang harimau. CK, nikmati saja dulu penderitaanmu saat ini. Selepas itu kau akan mati." ucap lelaki itu sambil meminum bir nya.

"Haha, memang benar-benar bodoh. Kamu akan mati malam ini juga Sisca!" timpal Michelle.

Michelle menebas tubuh gadis itu dengan pisau hingga robek. Bahkan matanya sekarang terbuka sangat lebar seperti ingin keluar dari tempatnya.

Darah-darah gadis itu menyembur dan menodai dress Michelle. Gadis itu sudah mati dengan bersimbah darah. Kemudian Michelle mencongkel kedua mata Sisca dengan menggunakan ujung pisaunya.

Dia menjilati kedua bola mata yang berlumuran darah itu. Kemudian menyimpan bola mata itu untuk dijadikan koleksi. Edward sedikit ngeri melihat perilaku menyimpang dari pacar hinanya itu.

Dia menghampiri Michelle yang sudah berlumuran darah merah segar. Gadis itu bahkan terlihat tidak merasa bersalah sedikitpun telah membunuh orang lagi.

"Bagaimana? Apa kamu sudah puas, sayang?"

"Terimakasih, sayang. Aku sekarang sudah aman. Aku sangat mencintaimu."

Dia mendekatkan bibirnya dengan bibir lelaki itu. Kemudian mereka menikmati ciuman itu dengan dipenuhi rasa penuh berahi.

Edward menggendong gadis itu hingga ke lantai atas dan memasuki sebuah kamar yang sudah ia siapkan untuk ia dan Michelle pada malam ini.

Mereka melepaskan semua pakaian yang membalut tubuh hingga kini mereka sudah sama-sama dalam keadaan bugil.

Lelaki itu menciumi bagian-bagian tubuh Michelle dan menyusu dengannya. Mereka menikmati setiap bunyi desahan yang keluar dari keduanya.

Edward bermain di atas tubuh Michelle hingga beberapa ronde. Setelah selesai, ia juga turut berbaring di samping Michelle. Dia memeluk tubuh cantik gadis itu.

"I love you, Michelle." bisiknya.

"I love you more my darling."

Seketika Michelle merasakan rasa tidak nyaman pada organ intim bagian bawahnya. Entah mengapa dia merasakan nyeri dan sakit tiba-tiba. Rasanya juga sangat pedih.

Hingga ia tampak sedikit merintih kesakitan. Namun ia berusaha sekuat mungkin untuk menahannya karena ia takut Edward tahu.

Dia memegang area intimnya dengan menggunakan tangan kanannya. Dia merasakan becek dan kemudian melihat banyak nanah keluar dari dalamnya.

Aromanya sangat menyengat dan terasa tidak nyaman. Dia mengamati sekeliling. Dia melihat Edward juga sudah terlelap dalam tidurnya.

Kemudian ia beralih pergi ke kamar mandi dengan pergerakan dan langkah kaki pelan agar tidak disadari oleh lelaki yang sedang tidur itu.

Saat dia buang air kecil, banyak darah bercampur nanah keluar bersamaan dengan keluarnya air seni. Bahkan baunya jauh jadi lebih menyengat.

Rasanya juga lebih sakit dari tadinya. Dia merintih kesakitan. Rasanya sangatlah pedih. Sepertinya dia tidak tahan jika harus menunggu sampai besok untuk mengobatinya ke dokter.

Tapi mau bagaimana lagi dia juga tidak ingin membangunkan Edward untuk mengantarnya ke rumah sakit dan berobat. Dia juga berniat merahasiakannya.

1
Crazy Girl
Apa yang terjadi dengan Michelle selanjutnya? Semuanya ayo semangat lagi bacanya ☺️✌️
Isabel Hernandez
Sudut pandang baru
Crazy Girl: lanjut baca terus yaa 👍🙏
total 1 replies
Abdul Rahman
Nah, ini baru kualitas cerita yang oke!
Crazy Girl: Terimakasih, baca terus ya:)
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!