NovelToon NovelToon
Istri Kedua

Istri Kedua

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis
Popularitas:1.4M
Nilai: 5
Nama Author: gustinara

Kini aku sudah resmi menjadi istri dari Anggara Putra Gibson. Namun, aku menjadi istri kedua. Aku yang masih duduk di perkuliahan semester delapan, menyusun skripsi sembari menata hidup baru bersama lelaki yang sudah mempunyai istri itu, dan dia adalah suamiku.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gustinara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#14

Hallo!!!

Ada yang nunggu kisah Luna?

Happy reading 😘

***

Luna pov

Sekarang aku sedang berada diatas kasur khusus. Mukaku sudah dilumuri oleh cairan berwarna putih yang didalamnya ada zat untuk kecantikan. Kuku-kuku ku di semir agar kinclong dan mereka mewarnainya dengan warna merah.

Badanku hanya dibalut dengan satu handuk. Aku sekarang berada di salon temanku, Nadine. Bunda menanyakan salon yang ingin aku kunjungi untuk persiapan pernikahan. Dan aku memilih salon ini karena pemiliknya adalah temanku sendiri. Tentu saja aku telah menjadi member disana.

Oh senangnya. Badanku terasa segar dan hampang. Sepertinya aku ingin setiap hari seperti ini.

Tak sampai acara salon saja, kali ini bunda mengajakku untuk membeli springbed dan juga beberapa make up. Padahal sudah aku beli kemarin saat kami pergi ke mall untuk membeli barang-barang yang akan menjadi persembahan seserahan nanti.

Walaupun keinginanku gagal untuk menjadi putri raja semalam, aku merasa bahagia karena bunda terlihat sangat menyayangiku. Aku tidak sedikitpun mengeluarkan uang sepeserpun. Ohiya, dan kali ini kami ke toko perhiasan. Katanya untuk mahar. Ntahlah, bunda lebih tahu akan hal seperti ini.

Drrtt drrtt

Ponselku bergetar. Itu panggilan dari kakak perempuanku.

"Hallo mbak?" Ucapku sembari berjalan mengekori bunda.

"Luna, mbak dan yang lain berangkat sekarang dari Yogjakarta ya." Ucapnya.

"Oke, safety flight mbak" ucapku.

"Ohh enggak. Papah pengen kita naik mobil aja katanya. Mau coba jalur baru, tol yang masuk dari semarang itu loh" ucapnya. Aku tak mengerti apa yang sedang ayuku ini bicarakan. Mengapa harus mengendarai mobil? Tuan Anggara kan sudah memberikan fasilitas untuk mereka terbang kesini. Seketika aku menghentikan langkahku.

"Tapikan mbak, tuan- maksudku masku udah beliin tiket pesawat kan?"

"Eh eh gak tau ya? Masmu itu udah ditolak sama papah mentah-mentah. Kata papah nanti aja pulangnya kita pake pesawat" ucapnya.

"Lah kok gitu sih? Papah kan gak boleh capek, gimana sih mbak. Bukannya larang gitu malah di iyain aja" terdengar helaan nafas disana. Sepertinya mbakku malas menjelaskannya.

"Luna, ngerti ya. Papah udah tua, biarin aja. Kita turutin apa yang dia mau ya.. maklumin lah" ucapnya yang kini aku renungi. Akhirnya aku mengiyakan dan mewanti-wanti untuk berhati-hati.

Tersadar dari itu, bunda sudah menatapku dari jarak dua meter. Aku terkejut karena merasa tak menghormati bunda.

"Maaf bunda, tadi mbak vina telfon. Katanya mereka bakal berangkat sekarang"

"Gak papa. Yuk" ucapnya yang sangat lembut. Sumpah aku merasa sangat beruntung sekali memiliki calon mertua sebaik bunda Nida.

Kami melanjutkan acara ngemall ini. Hingga akhirnya hari sudah sore dan saat kami sedang makan, bunda menerima telefon.

"Ya hallo? Ada apa mas?"

"...."

"Iya nih, bunda sama Luna kok. Mau ngobrol sama dia?" Dari perkataannya aku bisa menebak bahwa itu adalah telefon dari keluarga, namun tak tahu dari siapa.

"....."

"Huftt iya iya. Bunda pulang kok abis ini, kami lagi makan dulu"

"....."

Bunda menutup telfonnya dengan sedikit kesal. Ia lalu menatapku dan tersenyum padaku.

"Nanti jangan aneh ya kalau kamu dibawelin sama Anggara. Dia itu emang tukang ngomel" ucap bunda dijedai dengan helaan nafasnya. "Semoga aja Anggara benar-benar kembali lagi seperti dulu, bunda sangat kangen sama ocehannya" sambungnya.

Sepertinya perkataan tuan Richard tadi pagi memang benar. Ada sosok Anggara yang bunda Nida dan tuan Richard rindukan. Mungkin salah satunya adalah ocehannya.

Aku hanya membalas perkataan bunda dengan senyuman. Ntah kenapa semakin hari aku jadi semakin gugup bila berbicara dengan mereka. Aku takut jiwa senonoh ini keluar dan membuat image ku menjadi wanita tidak tahu sopan santun. Alhasil aku menjadi irit bicara, ya walaupun terkadang aku mencoba berbicara agar mereka merasa tidak mencurigai apapun.

***

Dalam perjalan pulang, aku membalasi satu persatu pertanyaan-pertanyaan membingungkan dari semua teman yang sudah aku undang. Yap, tuan Anggara tidak membatasiku untuk mengundang siapapun. Luna juga mengundang personil band Redrope yang didalamnya ada Cheko.

Dengan drama kemacetan kota Bandung, smapailah kami di kediaman rumah Gibson. Rumah yang sangat besar yang aku saja belum terlalu menjama seluruh sudut ruangan yang ada didalamnya.

Biasanya aku langsung berlari kecil kebelakang rumah yaitu paviliun tempat para pekerja tinggal dan beristirahat. Namun kali ini aku tidur didalam rumah yang besar ini. Hatiku semakin gugup, aku takut aku tak pantas untuk berada dalam bagian mereka. Tetapi sebisa mungkin aku menjaga etikaku dan memantaskan diri menjadi seorang menantu di keluarga ini.

Saat aku menenteng barang belanjaan ke ruang tamu. Aku bertemu dengan Lala yang seperti biasa menawarkan minum pada siapapun itu yang baru mendaratkan bokongnya di sofa.

Lala berlalu setelah menerima pesanan bunda. Aku izin meninggalkan bunda untuk mengikuti Lala, dan keinginan itu diangguki lembut oleh bunda.

"Lala" ucapku. Ia kini sedang mengambil gelas yang akan ia isi dengan pesanan bunda. Ia berdeham membalasku.

"Bantuin aku yuk, pindahin karya-karya aku dan barang lain yang masih di paviliun" ucapku meminta.

"Mbak please deh, minta bagian logistik aja dong. " sebenarnya aku memang sudah memikirkan untuk meminta bantuan Reno, tetapi aku terlalu malu untuk mengatakannya.

"Aduh gak bisa, udah sama kamu aja yuk bantunya. Please" ucapku memohon. Lala berdecak kesal tetapi ia menyetujuinya.

"Tapi nanti sehabis magrib ya mbak" ucap Lala. Aku langsung mengangguk cepat.

"Mbak mau minum apa?"

"Gausah aku minum air putih aja, bener ya habis magrib" ucapku meyakinkan. Kini Lala mengangguk lagi dan membawa nampan keruangan utama.

***

Author pov

Luna sudah membersihkan diri dan kini ia melaksanakan kewajibannya sebagai muslim. Walaupun ia terbilang bukan wanita yang lekat agama, tetapi ia selalu mengusahakan dirinya untuk melaksanakan satu kewajiban itu.

Ia lipat mukena yang tadi ia gunakan. Luna kembali berkaca, ia menyisiri rambut panjangnya yang basah. Ia siap untuk beraktivitas memindahkan sisa barangnya. Melangkahkan kaki kearah pintu. Dan saat ia menggapai handle pintu, ia terkaget melihat Anggara sudah berdiri didepan kamarnya. Anggara dengan posisi tangan yang akan mengetuk pintu, ia sama terkejutnya.

Anggara menatap Luna sebentar lalu menurunkan tangannya.

"A-ada apa tuan?" Ucap Luna.

"Saya mau ajak bicara sebentar, boleh?" Ucap Anggara.

"Sebentar kan?" Ucap Luna. Anggara langsung mengangguk.

Anggara mengisyaratkan tangannya kepada Luna untuk mengikutinya. Oke sekarang Kuna terlihat seperti anjing peliharaan yang sedang mengekori majikannya.

Anggara berjalan ke arah sofa tengah di lantai dua. Disana terdapat beberapa rak buku dan juga satu mesin espresso untuk membuat kopi. Kaca jendela yang sangat besar menghadap ke luar balkon bagian depan rumah. Langit yang mulai gelap terlihat dari dalam sana.

Luna dan Anggara sudah duduk di sofa yang berlawanan. Anggara menumpang kaki di sebelah kiri dan jemarinya ia tautkan. Sedangkan Luna, ia hanya meremas ujung kaos hijaunya.

"Begini Luna" ucap Anggara membuat Luna terkesiap mendengar lanjutan perkataan Anggara. "Sebaiknya kita-" ucapnya terpotong oleh teriakan bunda yang memanggil Luna untuk turun kebawah.

"Tuan, sebentar ya" ucap Luna sembari meninggalkan Anggara yang kesal dan membanting punggung lebarnya kekepala sofa.

Luna turun dari tangga dan melihat Alisa bersama tim lain membawa beberapa hiasan bunga yang akan mereka dekor dirumah ini. Luna mengembang senyum melihat teman-temannya dulu saat ia menempati pekerjaan sebagai floris disana.

Luna turut membantu mendekor. Walaupun sudah ditegur oleh bunda, ia membujuk bunda agar ia diperbolehkan membantu. Bunda mengiyakannya tetapi bunda akan mengawasi agar Luna tidak melakukan pekerjaan banyak-banyak. Fisiknya harus dijaga agar tetap sehat.

"Lala.. kayaknya gak jadi deh kita bawa barang-barangku. Dan itu buat tuan Anggara kan?" Ucap Luna diangguki Lala.

"Bilangin dong kata Luna ngobrolnya besok pagi aja. Maaf sebelumnya" ucap Luna dan langsung ia dipanggil oleh Alisa untuk membantu memegang sesuatu.

Anggara melihat pemandangan dekor mendekor itu dari atas. Ia tak menyangka dirinya akan sejauh ini. Bertolak belakang dengan pernikahan, fikirannya tidak sama sekali memikirkan itu. Yang ada dibenaknya hanya sosok Silvi, seorang wanita cantik yang sudah ia kagumi dari tiga tahun lalu. Ia merasa bersalah sekarang kepada wanita itu.

Tetapi fikiran itu ia buang jauh-jauh karena ia teringat bahwa Silvi saja bisa melakukan hal yang setega itu, Anggara yakin ini keputusan tepatnya.

Lamunannya di sadari oleh teguran Lala yang memberitahu bahwa kopi yang Anggara pesan sudah terjadi di atas meja.

"Tuan.. kata Luna, ngobrolnya besok pagi saja. Ia izin untuk mendekor dan ia meminta maaf untuk itu. Terimakasih" ucap Lala. Anggara mengangguk.

Akhirnya Anggara memutuskan untuk masuk kedalam kamarnya dan membersihkan diri karena penampilannya sekarang sudah seperti om om bergaya panas sedang mencari mangsa.

***

Sekitar jam 22.00, kegiatan dekor mendekor itu selesai. Kata bunda, pelaminan akan dipasang besok. Juga dekorasi lain seperti meja penerima tamu, meja dan kursi tamu undangan dan panggung kecil untuk grup akustik. Rumah ini sangat luas sehingga menurut Luna, pesta ini sangat terlihat besar. Ia tak memerlukan gedung yang besar, ini sudah cukup.

Sembari menunggu keluarganya datang, Luna berkeliling. Ia melihat dan mencek lagi tumbuhan yang sudah tim Alisa pajang disetiap sudut ruangan.

Seperti biasa dan seperti seharusnya, Luna menatap daun-daun itu dengan tatapan binar. Entah mengapa bila menyangkut tanaman hias, Luna sangat amat menyukainya. Sampai-sampai ia bisa terbawa bahagia. Wangi bunga mawar atau melati saja bisa jadi moodbooster nya Luna.

***

Akan aku up kalau likenya banyak, 20 deh boleh😍

Dan aku mohon vote nya ya teman-teman, i love you all🖤

Tbc-

1
Amilawati
cerita versi pelakor ini,,,pelakor ttp pelakor yg menjijikan TDK ad pelakor baik, cerita ini hanya hayalan seorang pelakor
Siska Siswanto
kapan ni up-nya?
🐧 Pororo 🐧
please, jangan stop lagi yah kak 🙏
Zenecka
ah happy bgt novelnya lanjut lg... sehat selalu kaaaa /Kiss/
Yovita Sintadewi
ya selalu aku lihatin, tidak ada kelanjutannya, dah hampir 1 thn thor
Tiwik Firdaus
emang udah diurus surst cerai terus udah diserahkan kembali kepada kefua orang tuanya dan menjelaskan semuanya bahwa anak yang dikandung silvi bukan anaknya
Tiwik Firdaus
ceraikan saja silvi udah selingkuhan kamu aja katanya diselidiki kok ngak ketauan2 sekingkuh to silvi kapan terbongkarnya masak nunggu sampai lahir baru ketsuan
Tiwik Firdaus
kebanyakan mikur anggara jadi bodoh sekarang
Tiwik Firdaus
makanya jadi laki jangan diam saja seperti kambing congek selidiki yang serius mana ada wanita hamil diantar kedokteran suaminya ngak mau masuk akal ngak hadi oria bodoh banget kamu katanya pinter jadi ceo kok bodoh jadi suami
Tiwik Firdaus
jangan percaya anggara kalau kamu udah lama ngak berhubungan badan sama dia kan twrus katanya kamu mengawasi silvi tau dong kalau silvi sering ketemuan sama mantan pacarnya
Tiwik Firdaus
biasa ngak ada tampan2nya sama sekali
Qorie Izraini
karena terlalu cinta kang Angga jd begi dan labil

kasihan mbak luna yg jd korban.
tapi y sdh lah, takdir kehidupan terus berlanjut, dengan jln ny masing2
Qorie Izraini
si jalang kena karma 😀😀😀
Mugi yg bosan dengan usaha ny tuk tanggung jawab pergi.
raasain lo dilvi nikmati hasil yg kau tanam
Qorie Izraini
lah udah taumlm pertama ny sama silvi jln tol, msh saja cinta setengah mati, gsk bisa mov on lg.
pantes aja si silvi ngelunjak.
Anggara ny yg bego
Qorie Izraini
dasar jd suami kok bego amat
udah di selinguhi, masih ja mau baikan.
stukurin ..bakalan ngebesarin anak orang yg nitip benih ny ke rahim silvi
Qorie Izraini
dasar istri jalang...
tapi takut di cerai kan 😀😀😀
takit gsk dapatateri dari kamg Anggara 😁😁😁
Qorie Izraini
sombong banget kang anggara, bikang gak tertarik.ntar bucin baru tau rasa.atau....
gak bisa mov on dari istri tercinta ny yg terang2 an selingkuh di belakang ny.
nino
thor ini upnya 2 tahun lagi ya
amalia
keren bgtt cerita nyaaa👏👏👏👏👏
amalia
apa suami nya nadine.selingkuh sm silvi
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!