Bagaiaman jika kamu harus menikah dengan orang yang mempunyai rasa trauma akan sebuah hubungan masa lalu yang masih menghantuinya? Begitu juga dengan Darin dan Arga yang terpaksa harus menikah karena keegoisan kedua orang tuanya. Arga yang meliliki trauma karena perceraian kedua orang tuanya, harus dipaksa hidup bahagia dengan Darin yang juga masih menyimpan rasa sakit hati karena ditinggal pergi Akaz.
Awal rumah tangga mereka diselimuti perdebatan, sampai akhirnya Arga mengetahui siapa sosok Darin sebenarnya yang membuat semua pandangannya selama ini berubah. Arga kembali merasakan getaran dalam hatinya, ia kembali merasakan bagaimana rasanya cemburu dan gundah. Namun Arga hanyalah lelaki yang mempunyai sifat cuek dan dingin, ia tidak tahu bagaimana caranya mengutarakan perasaannya. Hanya diam-diam Arga bisa mengutarakan perasaannya lewat tindakan kecil. Sampai akhirnya Arga berani mengungkapkan perasannya secara lantang karena ia tahu jika Darin adalah perempuan yang dicarinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Snow White, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hadiah Untuk Darin
Sesuai permintaan Darin semua telah dilakukan oleh Arga. Sampai-sampai kedai kopi tempat Darin kerja dibeli olehnya. Bagi Arga semua sangat mudah dengan uang yang ia miliki bisa membeli semua yang Darin mau. Darin tidak tahu jika kedai kopi tempatnya bekerja adalah milik Richi.
"Kedai kopi lo mau dijual nggak?" tanya Arga saat menelepon Richi.
"Kenapa lo tanya kedai kopi punya gue, Bang?" suara Richi terdengar sedikit terkejut dan keheranan.
"Mau dijual nggak?"
"Mau."
"Gue beli."
"What! Serius lo? Ngapain lo beli kedai kopi punya gue? Bukannya kemarin lo nggak mau?" teriak Richi kaget tidak percaya.
Kemarin saat kedai kopi milik Richi hendak dijual kepada saudaranya semua tidak ada yang mau dengan alasan sibuk mengurus perusahaan, apalagi Arga yang menolak mentah-mentah karena ia tidak menyukai kopi sejak dulu. Memang Arga bukan pecinta kopi dan ia tidak menyukai kopi, bagi Arga air putih jauh lebih baik.
"Bawel banget, berapa mau dilepas?"
"1M semua lo terima beres," jawab Richi sembarang menawarkan harga yang lebih tinggi dari targetnya ia menjual.
"Oke. Beresin berkas-berkasnya, besok hubungi notaris pribadi gue," kata terakhir Arga tanpa berusaha menawar harga kedai kopi milik Richi.
Mendengar kesepakatan yang diiyakan oleh Arga tanpa ada negosiasi membuat Richi kaget, mengapa Arga mau mengeluarkan uang sebanyak itu hanya untuk membeli kedai kopi miliknya. Padahal Richi hanya sembarang membuka harga dan berharap jika Arga akan bernegosiasi. Tapi semua di luar dugaan Richi. Tidak biasanya Arga seperti ini, sesuatu yang akan ia beli pasti akan dipikirkan dulu, apalagi dulu Arga sempat menolaknya.
Hari ini adalah hari terakhir Darin bekerja karena besok ia akan menikah dengan Arga dan menjadi istri dari Arga Rakyan Atmaja Wiguna. Tentu saja kabar kepergian Darin membuat Sisi sahabat sejatinya selama ini bersedih, tidak akan ada lagi teman yang bisa Sisi ajak bicara dan makan di kaki lima.
"Gue sedih banget lo harus pergi dan kembali ke kehidupan lo." Air mata Sisi menetas ke pipi tak tahan menahan rasa sedih ditinggalkan oleh Darin.
Hanya senyum ringan yang bisa Darin lukiskan saat ini, perasaannya sama persis seperti Sisi. Darin begitu sangat sedih karena akan menikah, tapi bukan dengan lelaki yang ia cintai. Perasaannya telah mati dan belum bisa ada yang menggetarkannya lagi. Jika Darin bisa memilih, ia akan hidup sebagai orang biasa seperti Sisi.
"Nanti gue bakal nemuin lo kok, kapan-kapan," kata Darin mencoba menghibur Sisi yang sedih akan perpisahan mereka berdua.
"Jangan lupain gue," pinta Sisi sambil memeluk Darin begitu erat.
"Andai saja Tuhan mengabulkan doa gue agar bisa menjadi orang biasa kayak lo, pasti hidup gue mungkin akan bahagia tanpa ada bayang-bayang nama besar Adi Santoso."
Sudah hampir empat hari Darin dan Arga tidak berkomunikasi, semua karena rasa kesal Darin kepada Arga atas perbuatannya kepada Rian. Padahal tanpa sepengetahuan Darin, Arga sudah menemui Rian sehari setelah kejadian pemukulan.
"Gue berharap lo bisa ngejaga adek gue dengan baik," pinta Rian saat Arga memutuskan untuk menemui Rian di kantor milik Rian.
"Tenang aja, gue bakalan jaga adek lo baik-baik, Bang," jawab Arga meyakinkan permintaan Rian agar bisa menjaga Darin dengan baik.
"Dia adalah perempuan yang tumbuh dengan banyak luka sejak kecil." Rian mulai menceritakan adik kesayangannya.
Wajah Arga berubah seketika saat mendengar ucapan Rian, apa Rian juga mengetahui semua kebenaran Darin?
"Sebenarnya dia perempuan yang ceria, lembut, manja, dia juga perempuan hangat. Tapi keadaan yang dialaminya selama ini membuat dirinya jadi perempuan mandiri, tegas. Kadang ia terlihat sedikit kasar, dan susah diatur, itu karena nggak ada yang bisa menjadi sandaran hatinya. Gue terlalu sibuk dengan pekerjaan jadi kurang memperhatikannya." suara Rian mulai terdengar parau saat ia menceritakan tentang Darin.
"Dalam keluarga, dia selalu dibanding-bandingkan dengan kakak-kakaknya. Tapi dia nggak pernah mengeluh dan menangis, dia selalu terlihat kuat menutupi rasa sedihnya. Kadang gue merasa bersalah nggak pernah ada di sisi dia saat membutuhkan seseorang."
Ternyata ini alasan Darin mecari kebahagiaan di luar rumahnya dan menyembunyikan identitasnya sebagai putri Adi Santoso. Mengapa Darin bisa menyembunyikan semua luka dengan sikap manis dan senyumannya.
"Gue harap lo bisa belajar mencintai dan menyayangi dia, meskipun butuh waktu buat lo berdua saling menyukai. Seenggaknya gue lega karena mulai saat ini ada seseorang di sisi dia."
Wajah Darin masih terlihat sinis saat Arga menemuinya di tempat kerja Darin. Sesuai permintaan Rian mulai saat ini Arga akan melindungi Darin, tapi bukan untuk belajar mencintainya karena Arga masih merasakan trauma akan perceraian kedua orang tuanya.
"Mau apa kamu ke sini?" tanya Darin jutek saat melihat Arga berdiri di depan mobilnya di parkiran tempat kerja Darin.
"Menunggu kamu," jawab Arga singkat menatap Darin begitu lekat membuat Darin sedikit tidak nyaman akan tatapan Arga.
"Aku udah bilang kalau kita akan ketemu lagi nanti pas resepsi pernikahan. Bukan sekarang!"
"Tinggal besok kan? Aku ke sini mau minta maaf sama kamu."
"Aku menolak," balas Darin kekeuh.
"Kalau kita terus begini apa mereka nggak akan curiga? Bukannya kita harus terlihat bersama sampai resepsi nanti?"
"Terserah. Aku mau pulang, membereskan bunga-bunga yang udah kamu kirim ke rumahku."
"Bunga-bunganya sudah aku pindahkan," ucap Arga menghentikan langkah kaki Darin yang hendak meninggalkan Arga sendirian.
Darin menoleh ke arah Arga yang masih berdiri menatapnya. Dan tatapan mata Darin begitu tajam menghardik Arga seakan ia tidak mengerti apa maksud ucapan Arga.
"Bunga-bunga yang ada di rumahmu sudah aku pindahkan ke tempat yang seharusnya." Arga mengulangi ucapannya seakan ia tahu jika calon istrinya tidak mengerti akan ucapannya.
"Tempat seharusnya?" Darin masih tidak mengerti tempat seperti apa yang Arga maksud.
"Iya, di pulau yang sudah aku beli untukmu," jawab Arga dengan nada terdengar sangat lembut.
Pulau? Pulau apa yang dimaksud oleh Arga, kenapa Arga berbicara tentang pulau? Darin kaget bukan main saat Arga membelikan pulau untuknya. Apa Arga sudah gila sampai ia membelikan pulau untuknya.
"Untukku? Kamu membelikan aku pulau?" Darin masih tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
"Bukannya kamu sendiri yang minta dibelikan kapal pesiar dan pulau sebagai permintaan maafku." Arga mengingatkan kembali ucapan Darin beberapa hari lalu sebagai syarat permintaan maafnya.
Kedua bola mata Darin menatap Arga begitu tajam dan tubuhnya terdiam membeku, sepertinya Arga sedang bercanda dengannya tidak mungkin Arga membelikan kapal pesiar dan pulau untuknya. Lagian saat itu Darin hanya asal bicara saja karena tersulut emosi.
"Apa! Kamu membelikan aku kapal pesiar dan pulau?" Darin masih tidak percaya.
"Iya. Ini kunci bagian ruangan kapal pesiarnya. Jangan sampai hilang karena kita akan bulan mandu di sana." Arga melemparkan sebuah kunci kepada Darin dan dengan reflek secepat kilat Darin menangkapnya dengan sempurna.
Darin bisa melihat dengan jelas sebuah kunci berada di tangannya, ia tahu jika kunci yang ada di atas telapak tangannya itu adalah sebuah kunci yang tidak biasa dilihatnya. Seperti sebuah kunci bagian ruangan khusus.
Tiba-tiba saja Darin merasa gugup dan sesak di dadanya, tubuhnya menjadi gemetaran karena Arga telah menepati permintaan Darin. Kenapa Arga melakukan hal sejauh ini untuknya? Darin menatap Arga yang masih terdiam menatapnya.
"Nggak. Ini pasti mimpi, cuma mimpi," kata Darin dalam hati tidak percaya.
Kepala Darin terasa pusing sampai akhirnya tubuh Darin lemas hingga tak sadarkan diri. Secepat kilat Arga meraih tubuh Darin yang hendak jatuh, dan tubuh Darin berada di dalam dekapan Arga saat ini.
Deg, entah mengapa Arga sedikit merasa sangat gugup karena ini kali pertamanya ia menyentuh perempuan yang bukan muhrimnya. Apalagi bisa sedekat ini dengan Darin. Arga bisa melihat dengan jelas wajah cantik Darin yang membuatnya terpesona. Entah mengapa kedua bola mata Arga begitu sangat nakal karena berani menjelajahi setiap sudut wajah Darin.
Hidungnya yang lancip, bulu matanya yang lentik dan bibir tipisnya berwarna merah muda membuat Arga semakin gugup dibuatnya. Tanpa banyak bicara Arga membawa Darin ke dalam mobilnya.
Mengapa Arga merasakan hal aneh, mengapa ia berani menatap wajah Darin begitu lama. Padahal selama ini jika ada lawan jenis yang berada di depan matanya, Arga selalu membuang muka atau mengalihkan pandangannya. Ia enggan untuk menatap atau memperhatikannya, tapi berbeda dengan Darin yang membuatnya ingin selalu menatap dirinya lebih lama.
Kepala Dari terasa sangat berat saat ia mencoba untuk membuka kedua matanya, sedikit pusing ia rasakan namun ia sebisa mungkin membuka matanya. Saat kedua bola mata Darin terbuka lebar, ia sedikit kebingungan karena sudah berada di dalam mobil Arga. Dan Arga yang duduk di sampingnya sedang memainkan ponsel menunggu Darin sadar.
"Kenapa aku bisa di sini?" tanya Darin sambil menatap seisi mobil Arga.
"Kamu pingsan," jawab Arga meletakan ponselnya di dalam saku celananya.
"Jadi itu cuma mimpi," gumam Darin merasa sangat lega atas apa yang baru saja terjadi kepadanya.
"Mimpi?" tanya Arga tidak mengerti dengan ucapan Darin.
"Iya. Tadi aku mimpi kalau kamu membelikan aku pulau dan kapal pesiar."
"Tapi itu bukan mimpi. Itu kenyataan, makanya kamu pingsan."
"What! Kamu serius membelikan aku pulau dan kapal pesiar?" Darin kembali dibuat terkejut dan Arga hanya mengangguk sebagai tanda iya.
"Nggak bohong kan?" Darin masih belum percaya.
"Aku nggak akan pernah bohong. Apapun yang kamu minta akan aku turuti selama aku mampu, karena kamu calon istriku.
Deg, Darin terdiam saat Arga menyebut kata "Calon Istriku" apa itu tandanya semua yang Darin mau bisa Arga kabulkan? Bukan karena ada rasa Arga mau mengabulkan semua keinginannya, tapi karena harga diri keluarga Arga adalah prioritas utamanya.
"Aku lupa kalau calon suamiku adalah orang kayak raya yang bisa membeli apa aja, bahkan harga diri orang bisa dibeli olehnya," sindir Darin saat mereka membahas tentang harga diri.
Sepertinya Darin salah paham dengan apa yang dilakukan oleh Arga, kali ini bukan tentang harga diri tapi tentang hati. Arga hanya ingin menunjukkan bagaimana Darin mau memaafkannya. Semua yang diucapkan oleh Darin semampunya akan Arga turuti, karena sesuai permintaan Alex dan Rian. Jika dirinya jangan sampai membuat Darin bersedih, karena Darin adalah tanggung jawabnya saat ini.
"Aku nggak suka cara bicaramu," timpal Arga dengan nada tegas menatap tajam Darin.
Mereka berdua saling menatap satu sama lain, tatapan Arga saat ini terlihat sedikit sinis seakan ia tidak suka atas apa yang baru saja Darin ucapkan. Dan Darin merasa sangat bersalah karena telah menyindirnya.
"Aku hanya mencoba mendapatkan maaf darimu, bukan seperti apa yang kamu ucapkan. Sepertinya aku salah, seharusnya aku membiarkan diriku nggak mendapatkan kata maaf darimu," kata terakhir Arga sambil menyalakan mesin mobil miliknya dan pergi mengantarkan Darin pulang.
Ada rasa bersalah di hati Darin atas ucapannya tadi, mengapa Darin harus berbicara seperti itu kepada Arga. Baru Darin tahu jika marahnya Arga itu hanya diam tidak banyak bicara. Selama dalam perjalanan Arga mendiamkan Darin membuat gadis berambut panjang sebahu merasa tidak enak hati. Ingin rasanya Darin memulai pembicaraan mencairkan suasana yang beku sedari tadi, namun sikap dingin dan tatapan Arga membuat Darin enggan untuk melakukannya.
"Di depan bisa berhenti sebentar, ada yang mau aku beli," kata Darin meminta izin kepada Arga untuk berhenti di depan sebuah toko.
Tidak ada kata yang terucap dari mulut Arga, tidak ada reaksi sebagai tanda setuju dari gerakan tubuhnya. Ia hanya memberhentikan mobil di mana tempat Darin meminta. Lagi-lagi Arga hanya terdiam tidak mempersilahkan Darin untuk keluar atau ucapan semacamnya. Arga hanya menatap ke depan jalan tanpa menoleh menatap Darin yang menatapnya sedari tadi.
"Aku nggak lama," kata Darin kembali mencoba mengajak Arga untuk bicara dan hasilnya masih sama, Arga masih diam membeku tanpa sepatah kata.
Mengapa Darin merasa sedih ketika Arga mengabaikannya, hatinya terasa sakit ketika Arga tidak menatap matanya. Apa ini puncak marah seorang Arga Rakyan Atmaja Wiguna? Hanya diam dan tidak pernah meninggikan suaranya ketika ia sedang marah.
"Berkas-berkas udah gue urus, semua sesuai keinginan lo."
Isi pesan dari Richi saat Arga menunggu Darin kembali dari toko.
"Oke."
Balasan pesan dari Arga membuat Richi menggelengkan kepalanya, hanya satu kata yang keluar dari mulut seorang Arga yang terkesan dingin.
Darin kembali dengan membawa paper bag coklat di tangannya, namun Arga tidak mengeluarkan suara untuk bertanya kepada Darin. Ia hanya melihat apakah Darin sudah selesai menutup pintu mobilnya dengan aman. Setelah Darin duduk tenang baru Arga menyalakan mesin mobilnya dan bergegas mengantarkan Darin pulang, ia tidak mau berlama-lama dengan Darin karena wajah marahnya akan membuat Dari semakin tidak nyaman.
Beberapa menit kemudian mobil Arga memasuki gerbang rumah Darin dan berhenti tepat di depan teras. Masih sama seperti tadi sikap Arga tidak berubah. Arga hanya menunggu Darin untuk turun dari mobilnya, setelah itu ia kembali ke rumah. Namun Darin masih belum turun dari mobil membuat Arga menoleh ke arah Darin.
Diberikannya paper bag yang tadi Darin pegang di toko kepada Arga. Sengaja Darin membeli sesuatu kepada Arga sebagai permintaan maaf atas ucapannya tadi. Tidak seharusnya Darin berbicara seperti itu kepada Arga.
"Apa ini?" suara Arga baru terdengar kembali membuat Darin sedikit senang karena Arga masih mau berbicara dengannya.
"Permintaan maafku," jawab Darin dengan nada merasa bersalah.
"Permintaan maafmu aku tolak," balas Arga masih dengan nada lembut namun terdengar tegas.
Mendengar jawaban Arga sontak membuat Darin kaget tidak percaya, mengapa Arga menolak permintaan maafnya. Padahal Darin tidak melakukan kesalahan yang sangat fatal seperti dirinya lakukan kepada Rian.
"Loh kok ditolak? Aku nggak sengaja bilang kayak gitu sama kamu!" suara Darin mulai terdengar panik.
"Tapi aku nggak suka," balas Arga masih dengan sikap tenang berbeda dengan Darin yang terlihat semakin panik dan mulai emosi.
"Makanya aku minta maaf sama kamu." Darin tidak mau kalan mencoba membela dirinya.
"Permintaan kamu aku tolak." Arga mengulangi ucapannya membuat Darin semakin kesal.
"Jadi kamu nggak mau maafin aku?"
"Nggak," jawab Arga masih sama dengan prinsipnya.
Wajah Darin terlihat kesal saat Arga menolak permintaan maafnya, mengapa susah sekali meminta maaf kepada Arga padahal Darin tulus melakukannya.
"Kenapa nggak turun?" tanya Arga saat melihat Darin masih duduk dan tidak turun dari mobilnya.
"Aku nggak mau turun sebelum kamu maafin aku," ancam Darin membuat Arga tertawa kecil.
Memang benar apa yang diucapkan oleh Rian jika Darin kadang seperti anak kecil. Tidak biasanya Arga tertawa seperti itu, namun kali ini berkat Darin sepertinya hari-hari Arga akan lebih berwarna lagi.
"Terus kamu mau ikut ke mana aku pergi kalau aku belum maafin kamu?" tanya Arga menggoda Darin yang sedang merajuk karenanya.
"Iya!" jawab Darin dengan nada tegas dan wajah tidak menyenangkan.
"Yakin?" Arga mengulang pertanyaan menggoda Darin.
"Iya."
"Kalau aku ajak kamu ke pantai?"
"Aku mau," jawab Darin yakin pantang menyerah sebelum mendapatkan kata maaf dari Arga.
"Kalau aku ajak kamu ke luar negri?"
"Ke mana kamu pergi aku ikut, asalkan kamu mau maafin aku!" tegas Darin sambil menatap kedua bola mata Arga yang begitu sangat indah bagi Darin.
Deg, mengapa Arga selalu gugup saat Darin berada dekatnya. Seperti ada sesuatu yang sangat aneh.
"Oke." Arga menyetujui ucapan Darin dan itu artinya Darin harus mengikuti apa yang Arga mau demi mendapatkan maaf darinya.
Darin tidak tahu ke mana Arga akan membawanya, sepanjang jalan Darin hanya berpikir jika Arga akan memaafkannya dan tidak mendiamkannya. Selang beberapa menit kemudian mereka sampai di depan gedung bertingkat mewah, yaitu hotel berbintang lima. Melihat mobil Arga berhenti di hotel membuat Darin kebingungan menatap Arga. Mengapa Arga pergi ke hotel.
"Kenapa kita ke sini?" tanya Darin saat Arga baru saja memarkirkan mobilnya di depan pintu masuk hotel bintang lima.
"Kamu bilang mau ikut ke mana aku pergi, kan?" Arga mengingatkan ucapan yang baru saja diucapkan Darin kepadanya.
"Tapi nggak harus ke hotel juga!" Darin kembali terlihat sangat panik dan ketakutan saat Arga membawanya ke hotel.
Mengapa Arga membawanya ke hotel, apa yang akan dilakukan Arga kepada Darin? Apa Arga akan melakukan sesuatu kepada Darin? Saat ini Darin mulai ketakutan dan Arga begitu senang melihat ekspresi Darin saat ini.
"Janji adalah janji dan harus ditepati," kata Arga menggoda Darin sebelum ia turun dari mobilnya.
Pikiran Darin begitu kacau dan sedikit ketakutan saat Arga mengajaknya ke hotel, ada rasa menyesal karena Darin terlalu berlebihan meminta maaf kepada Arga. Kini semua sudah terlambat dan nasi sudah menjadi bubur. Saat ini yang bisa Darin lakukan adalah menepati janjinya, meskipun ada rasa penyesalan dalam hatinya.
Langkah kaki Darin mengikuti Arga yang sudah berjalan lebih dulu, sesekali Darin mencoba menarik napas panjang agar terlihat tenang. Entah apa yang akan terjadi dan Arga lakukan kepadanya, ia hanya bisa pasrah. Tapi Dari yakin jika Arga tidak akan melukainya ataupun menyakitinya.
Keduanya terhenti di kamar 201 lalu Arga membuka pintu kamar dengan santainya, dan masuk tanpa ada rasa bersalah. Sementara Darin masih saja berdiri di depan kamar memikirkan apa yang akan terjadi setelah ia masuk ke dalam sana. Apakah Arga akan melakukan sesuatu yang tidak pernah terpikirkan olehnya.
"Kenapa masih di luar?" tanya Arga saat melihat Darin masih berdiri di luar.
Dengan penuh keberanian akhirnya Darin masuk menyusul Arga. Ditatapnya isi kamar yang begitu luas dan indah. Kamar ini terlihat sederhana namun elegan dengan interior yang terlihat mewah membuat Darin sangat menyukainya.
"Kita selesaikan masalah di sini," kata Arga menyadarkan Darin yang sedari tadi melihat seisi kamar.
"Apa maksudmu menyelesaikan masalah di sini?" Darin terlihat mulai panik.
"Kamu mau minta maaf, kan?"
"Iya."
"Aku mau maafin kamu asalkan..." Arga menggantungkan ucapannya menggoda Darin.
Belum saja Arga menyelesaikan ucapannya dengan cepat Darin memotong pembicaraan Arga.
"Aku nggak mau melakukan itu. Kita menikah hanya formalitas dan aku nggak ada perasaan suka sekalipun denganmu. Begitu juga denganmu, jadi kita nggak perlu melakukan itu!"
Ucapan Darin membuat Arga tidak mengerti, sebenarnya Arga tidak membahas tentang apa yang Darin ucapkan. Tapi mengapa Darin mempunyai pikiran seperti itu?
"Apa maksudmu?" Arga tidak mengerti akan ucapan Darin.
"Untuk mendapatkan maaf, kamu nggak harus mengambil keperawanan aku kan?" tanya Darin ketakutan membuat Arga terkejut akan ucapan Darin.
Sepertinya Darin salah paham maksud dari Arga membawanya ke sini, bukan itu yang akan Arga lakukan kepada Darin tapi Arga ingin memberitahu Darin jika kedai kopi tempatnya bekerja dulu akan menjadi milik Darin setelah mereka berdua menikah. Tapi belum sempat Arga memberitahukannya, Darin malah berpikir yang macam-macam.
"Apa kamu bilang?" Arga terlihat kebingungan dengan ucapan Darin.
"Kamu bawa aku ke sini karena mau unboxing aku kan? Asal kamu tahu kalau aku masih mencintai mantan kekasihku dan aku masih belum bisa melupakannya!"
Deg, ekspresi wajah Arga yang tadinya berseri-seri melihat Darin yang begitu polos dan lugu kini berubah saat Darin menyinggung soal mantan kekasihnya, Akaz. Entah mengapa Arga terlihat sinis dan ketus saat ini. Tawanya hilang, tatapan mata yang berbinar saat menatap Darin kini berubah menjadi tatapan tajam karena satu nama yaitu, Akaz. Mengapa hati Arga terasa kacau dan kecewa mendengar ucapan Darin. Apalagi mendengar nama Akaz.