Kehidupan Ringgo yang selalu dibully tiba-tiba berubah saat ia tak sengaja bertemu dengan seorang gadis cantik yang ternyata seorang siluman.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Its Zahra CHAN Gacha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Patbelas
"Kenapa aku tiba-tiba muak melihat sikap kalian. Apa kalian sadar sedang berhadapan dengan siapa?" tanya Ningrum dengan mata yang mengintimidasi dan menerkam lawan-lawannya hingga.
*Plakkk!!
Seorang petugas kebersihan yang sedang membersihkan tempat itu tampak terkejut saat melihat kejadian itu.
"Ningrum??"
Ningrum reflek memegangi pipinya yang masih terasa panas saat seorang wanita menamparnya dengan keras.
"Meskipun dia masih anak-anak tapi sesekali kita juga perlu memberinya pelajaran agar ia tahu sopan santun," ucap seorang wanita itu berdiri angkuh di depan Ningrum Tatapannya yang sinis seolah menunjukkan rasa bencinya kepada gadis kecil didepannya itu.
"Dasar cewek aneh, sebenarnya apa yang kau lakukan sampai mereka berbuat kasar padamu!" gerutu petugas kebersihan yang mulai geram saat melihat Ningrum yang mulai di maki-maki.
Ia segera berjalan menerobos barikade para dukun dan menghampiri Ningrum. Dengan cepat ia menggandeng lengan perempuan itu dan mengajaknya pergi.
Namun seseorang langsung menghadangnya.
"Mau pergi kemana kalian?" tanya seorang pria menyeringai menghadang mereka
Dengan cepat Denis langsung menarik Ningrum ke belakang.
"Maafkan sikap lancang adik saya jika sudah membuat acara ini jadi kacau. Saya harap bapak-bapak dan ibu-ibu bisa memaafkannya apalagi adik saya ini memang sedang terguncang pasca kematian ibu kami," ucap Denis mencoba memberikan alibi agar mereka mau melepaskannya
"Sembarangan kalau ngomong memangnya siapa yang terguncang dan sejak kapan aku punya ibu!" seru Ningrum melepaskan tangan Denis
Denis yang tak mau berdebat dengan Ningrum hanya bisa memberikan isyarat kepada Ningrum dengan meletakkan telunjuknya di depan bibirnya.
Melihat ekspresi Denis tentu saja membuat para dukun menyimpulkan jika Denis sengaja berbohong untuk menyelamatkan Ningrum.
"Enaknya kita apakan mereka berdua, kita santet saja atau kita buat mereka gila?" ujar salah seorang dari mereka
"Buat gila betulan saja Bos!" teriak yang lain
"Coba saja kalau bisa, kalian tahu akibatnya jika bermain-main dengan Ningrum bukan!" seru Ningrum
Seorang dukun yang tak tahan mendengar ocehan Ningrum berusaha menangkap gadis itu, namun dengan cepat Denis langsung menyeruduknya hingga pria itu terjerembab ke lantai.
*Dug!
"Cepat lari!" seru Denis
Ningrum berusaha melawan saat para dukun itu hendak menangkapnya, namun merasa kalah jumlah ia pun terpaksa melompat dari jendela untuk menyelamatkan dirinya.
*Buugghh!!
"Kejar dia!"
Beberapa orang langsung turun untuk mengejar Ningrum, Gadis itupun berlari dengan cepat mencari pintu keluar.
"Itu dia!" seru para dukun yang berhasil mengejarnya
"Sial!" gerutu Ningrum saat melihat para dukun itu semakin dekat dengannya.
Sementara di tempat berbeda Wisnu dan Ringgo berjalan memasuki lobby hotel.
"Hari ini kita akan bertemu dengan keluarga besar jadi jaga sikapmu dan jangan bikin mali ayah!" seru Wisnu
Ringgo hanya mengangguk. Ia berjalan mengikuti sang Ayah. Namun karena Wisnu berjalan dengan cepat Ringgo pun sempat tertinggal.
Tiba-tiba dari arah berlawanan seorang perempuan menabraknya.
*Dug!!
"Sorry...." Ningrum terperanjat saat mengetahui siapa yang di tabrakannya.
"Ningrum???"
Senyum Ningrum merekah sempurna saat melihat Ringgo di depannya.
"Itu dia!" seru para dukun itu kemudian berhenti di depannya
"Dewi keberuntungan memang selalu bersamaku," ucapnya kemudian menggandeng lengan Ringgo dan membalikkan badannya.
Ia menatap satu persatu orang-orang yang mengejarnya.
Saat mereka merangsek maju, maka dengan cepat Ningrum menjentikkan jarinya. Tiba-tiba saja ular-ular berbisa melilit tubuh mereka membuat para dukun itu berlarian kesana kemari untuk melepaskan ular-ular itu dari tubuhnya.
"Ringgo!"
Tiba-tiba Ningrum dan Ronggo langsung menoleh saat mendengar seseorang memanggil Ringgo
"Ayah!"
Ringgo buru-buru melepaskan lengan Ningrum dan berlari menghampiri ayahnya.
Ningrum yang tak mau tertangkap para dukun pun mengikuti Ringgo diam-diam.
"Sepertinya aku harus selalu berada di dekatnya agar aku selalu aman,"
Ningrum menghentikan langkahnya di depan ruang VIP. Saat ia akan masuk seorang pria menahannya.
"Maaf hanya anggota keluarga yang boleh masuk ke ruangan ini,"
Ningrum hanya menghela nafas kasar saat kedua bodyguard itu melarangnya masuk. Tidak lama Nayra datang. Ia kemudian menghampiri Ningrum yang tampak manyun di sudut ruangan.
"Kenapa menyun-manyun gitu, pasti dilarang masuk ya?" tanya Nayra
Ningrum langsung mengangguk.
"Kamu mau masuk?"
Lagi-lagi Ningrum hanya mengangguk. Lalu Nayra pun mengajaknya masuk. Tentu saja Ningrum begitu senang saat wanita itu mengajaknya masuk bersamanya.
Semua mata tertuju kepada kedua perempuan itu saat mereka masuk.
"Bukankah kau hanya mengundang Nayra, lalu siapa perempuan muda di sampingnya itu?" tanya seorang wanita tua yang duduk di kursi utama
"Dia...dia...."
Melihat Wisnu terbata-bata menjawab pertanyaan ibunya, Nayra pun dengan cepat membantunya menjawab.
"Dia adalah kekasih Ringgo Ibu, namanya Ningrum," jawab Nayra memperkenalkan Ningrum kepada wanita itu.
Tiba-tiba saja wajah Marini seketika mengkerut mendengar jawaban Nayra. Bahkan tak ada senyuman di wajahnya seolah menunjukkan ketidaksukaannya kepada Ningrum.
"Jadi kau ingin bersaing dengan ayahmu memperkenalkan kekasih kalian kepada Nenek!" seru wanita itu menyindirnya
"Bukan begitu Ibu, sebenarnya Mas Ringgo tidak mengajak Ningrum masuk, saya yang membawanya masuk karena tak tega membiarkan dia menunggu di luar. Nanti apa kata para netizen jika mereka tahu kekasih Ringgo tak diizinkan masuk saat acara Lunch keluarga?" ucap Nayra mencoba menengahi
Tiba-tiba saja Wajah Marini yang sebelumnya tegang tiba-tiba mulai melunak dan mempersilakan Ningrum duduk.
Nayra tampak tersenyum bahagia saat berhasil menaklukkan wanita tua itu.
Saat acara Lunch dimulai, Wisnu mulai menyampaikan maksudnya kedatangannya mengajak Nayra. Melihat ketegangan di wajah Wisnu membuat Nayra langsung menggandeng lengannya.
"Sebenarnya maksud saya membawa Nayra adalah untuk meminta restu dari Ibu karena aku ingin menikahi Nayra menggantikan posisi Noura,"
Tiba-tiba saja Marini langsung tersedak saat mendengar ucapan Wisnu. Nayra buru-buru mengambilkan segelas air putih untuknya.
"Aku mengerti jika ibu terkejut. Memang kuburan Noura masih basah dan tidak seharusnya aku menikah lagi, tapi karena melihat kondisi Ringgo yang benar-benar terpukul pasca kematian ibunya membuat aku harus mencarikan seorang ibu yang bisa menggantikan posisi Noura untuk menjaganya. Jadi pernikahan ini sama sekali bukan karena nafsu tapi karena aku memikirkan kondisi putraku Ringgo. Aku tidak mau terjadi apa-apa kepadanya dan aku tak mau kehilangan orang yang ku sayang lagi Ibu. Kebetulan Nayra sangat dekat dengan Ringgo dan hanya dia yang paling mengerti perasaannya selain ibunya. Jadi aku mohon kepada ibu untuk merestui pernikahan kami, demi Ringgo juga Bu," tutur Wisnu
Seketika Marini meletakkan sendok makanya dan mengusap bibirnya dengan sapu tangan.
Wanita tua itu tampak kehilangan nafsu makannya saat mendengar ucapan anak pertamanya itu. Tanpa banyak bicara ia pun tak mempermasalahkan jika Wisnu akan menikah dengan Nayra.
"Terserah kau saja, lakukan saja semua yang ingin kau lakukan dan aku harap kau tidak menyesal dengan apa yang sudah kau pilih," jawab Marini kemudian meninggalkan ruangan itu di susul putra-putrinya yang lain.
Hanya Wisnu dan keluarganya yang masih menikmati makan siang mereka. Nayra yang begitu bahagia langsung memeluk erat Wisnu.
"Terimakasih ya Mas, akhirnya hubungan kita di restui juga," ucapnya lirih
Risih melihat sang Ayah yang bermesraan dengan wanita lain membuat Ringgo buru-buru menarik Ningrum keluar meninggalkan tempat itu.
"Stop, jangan tarik-tarik!" seru Ningrum berusaha melepaskan lengan Ringgo
Namun Ringgo tak menghiraukannya dan tetap menariknya meninggalkan tempat itu.
"Oi anak mamah, lepasin dia!" seru Denis
Tiba-tiba Ringgo menghentikan langkahnya saat mendengar suara Denis.
Jika Ringgo begitu ketakutan saat melihat kemunculan preman sekolah itu, justru hal sebaliknya dirasakan oleh Ningrum. Perempuan itu begitu senang saat melihat sosok tumbalnya ada di depannya.
"Sepertinya kelonggaran waktu yang sudah aku berikan padamu harus berakhir Denis, dan sekarang saatnya kau harus mengambil nyawamu," ucap Ningrum meletakan telapak tangannya ke atas kepala Denis.
pantesan ningrum tahan hidup 200th
ada hiburannya🤣
pak wisnu jadiin istri si nayra
tak jamin hidup pak wisnu jdi berwarna🤩
yg penting nyai seneng 😜
saling mencintai tapi tak bisa saling memiliki 🥺🥺🥺
berarti kemungkinan besar Nayra masih hidup donk
karena kamu baru aja membunuh Ringgo di depan mata Ningrum pula
yang ada malah kamu sendiri yang bakalan meninggal noooooh
gak bisa kebayang gimana paniknya Dion saat tahu mobil yang sedang di kendarainya bisa melayang di udara