Syakayla Abidah Umar, gadis berusia 19 tahun itu merupakan putri bungsu dari pasangan Abi Umar dan Umi Nafiza. Pada usia yang masih terbilang muda, Kayla harus merasakan pahitnya sebuah penghianatan yang dilakukan oleh kekasihnya. Kayla bahkan rela berbohong pada seluruh keluarga demi menutupi hubungannya bersama sang kekasih. Karena sejak kecil Kayla hidup di keluarga yang sangat menekankan ilmu agama dan secara tegas melarangnya untuk berpacaran.
Belum selesai dengan masa patah hatinya akibat perbuatan sang kekasih, nyatanya Abi Kayla secara diam-diam menjodohkan gadis itu dengan anak sahabatnya. Dia adalah Muhammad Fatih Akbar yang merupakan pengusaha muda yang sukses membangun sebuah restoran dengan hasil jerih payahnya sendiri. Mereka berdua dijodohkan dengan umur yang terpaut 5 tahun. Hal tersebut tentu saja membuat Kayla menolak.
Bagaimana kelanjutan kisah Kayla?
Yuk, langsung baca!
Silahkan berkunjung di IG author: awanmendung_26
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AwanMendung26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kesedihan Kayla
...Jika saja air mata itu jatuh karena rasa bahagia yang kamu rasakan, mungkin saya akan membiarkannya untuk terus mengalir. Tapi, untuk saat ini biarkan saya menjadi orang pertama yang menghapus air mata kesedihan itu. ...
...-Muhammad Fatih Akbar-...
.
.
.
HAPPY READING....
Sesuai dengan janji Fatih untuk mengantar dan menemani Kayla ke supermarket, dan disinilah mereka sekarang. Di sekeliling mereka sudah dipenuhi dengan ibu-ibu yang terlihat sibuk berbelanja kebutuhan rumah masing-masing. Saat ini, Fatih seperti suami yang begitu perhatian dan romantis dengan menemani istrinya untuk berbelanja. Suami Kayla itu sibuk mendorong troli, sedangkan Kayla terlihat sibuk mengecek buku yang berisi list catatan bahan-bahan yang akan mereka beli seperti ayam, ikan dan tempe sebagai lauk. Sedangkan di bagian bumbu dapur Kayla juga mencatat beberapa bumbu dapur yang akan di belinya seperti bawang putih, bawang merah, bawang bombay, lengkuas, jahe dan lain-lainya. Serta keperluan rumah lainnya.
Sudah sekitar 30 menit mereka berkeliling untuk mencari satu persatu bahan yang akan di beli Kayla. Gadis itu lalu mengecek troli untuk memastikan tidak ada yang tertinggal untuk dibeli.
"Kayaknya udah lengkap deh kak." Ucap Kayla setelah mengecek barang belanjaannya di troli.
"Kakak mau beli buah-buahan nggak?" Tawar Kayla pada Fatih.
"Boleh."
"Kalau gitu kita ke sana, yuk, kak." Ajak Kayla sambil menunjuk kearah jejeran buah-buahan yang tidak jauh dari tempatnya berdiri.
Fatih hanya menurut dengan mendorong troli yang berisi belanjaan sang istri. Jika ada yang menyaksikan kedua pasangan itu, maka orang-orang pasti menganggap mereka layaknya pasangan muda yang begitu romantis. Namun, sayang semuanya hanyalah sebuah angan. Karena Kayla hanya bisa menganggap Fatih sebagai teman dan sahabatnya saja.
"Wah, adek belanja sama suaminya, ya?" Tanya salah satu ibu-ibu yang berdiri di samping Kayla.
Istri Fatih itu menoleh mendengar pertanyaan dari ibu-ibu tadi. Dengan ragu Kayla mengangguk lalu tersenyum manis kearah ibu tersebut.
"Maasyaa Allah, semoga pernikahan kalian selalu bahagia, ya. Jarang lho dek, ada suami mau nganterin istrinya untuk belanja bulanan. Adek sudah termasuk yang beruntung karena ditemani suami. Pasti suaminya ini sayang banget sama adek." Sahut ibu itu kembali. Kayla hanya diam sembari tersenyum menanggapi.
"Aamiin makasi untuk do'anya, ya, Bu." Ucap Fatih seraya tersenyum.
"Iya, sama-sama dek. Kalau gitu ibu kesana dulu, ya." Ucap Ibu itu permisi.
Setelah ibu tersebut pergi, Kayla kembali mengalihkan atensinya menatap buah-buahan yang berada di depannya.
"Kakak suka buah apa?"
"Saya suka semua buah kok." Jawab Fatih.
"Kalau disuruh pilih 3 buah yang paling kakak suka. Kakak bakalan pilih apa?" Fatih menyerit bingung, kenapa Kayla malah bertanya seputar buah kesukaan Fatih?
"Apel, anggur sama jeruk." Bersamaan dengan ucapan Fatih, jari sang istri terlihat mengambil buah apel, anggur dan jeruk kemudian menyimpannya ke troli.
"Lho, kamu kok beli itu?" Tanya Fatih heran.
"Kakak kan suka sama buahnya, makanya aku beli." Jawab Kayla singkat. Bisakah Fatih bahagia hanya dengan kalimat sederhana itu.
"Tapi, kamu nggak pilih buah yang kamu suka?" Tanya Fatih saat melihat sang istri hanya memasukkan buah-buahan yang disukainya saja.
"Aku suka semua buah sih kak. Dan kebetulan buah yang kita suka itu sama. Apel, anggur sama jeruk juga buah kesukaan aku." Jawab Kayla dengan tersenyum.
"Ya, udah kita ke kasir, yuk kak."
Mereka berdua lalu mengantri di bagian kasir untuk membayar belanjaan. Setelah itu, mereka keluar dari supermarket dan bersiap untuk masuk ke dalam mobil. Namun, langkah keduanya terhenti saat terdengar suara seseorang memanggil nama Kayla.
"Kayla!" Panggil seseorang yang membuat Kayla segera menoleh.
"Mayra?"
"Aku senang banget akhirnya kita bisa ketemu disini. Aku mohon Kay, jenguk kak Amran di rumah sakit, ya. Kak Amran udah sadar dan dia nanyain kamu terus." Pinta Mayra sambil mengenggam kedua tangan Kayla berharap gadis itu bisa menemui kakak sepupunya yang tidak pernah lelah menanyakan kabar gadis itu.
"Mayra aku minta maaf, bukannya aku nggak mau jenguk kak Amran. Tapi, sekarang kondisinya sudah berbeda, May." Jawab Kayla pelan.
"Aku tahu kesalahan kak Amran sama kamu itu terlalu besar untuk bisa dimaafin. Tapi, untuk kali ini aja, Kay. Kasian kak Amran." Mohon Mayra kembali. Sepupu Amran itu bahkan tidak menyadari jika Kayla sedang bersama seseorang.
"Kamu kesini sama siapa? Kalau mau, kamu bareng aku aja ke rumah sakit." Lanjut Mayra.
"Aku kesini sama kak Fatih, May." Gadis dihadapan Kayla menyerit bingung. Siapa Fatih? Dan kenapa Kayla bisa bersama dengan laki-laki itu? Bukankah Kayla sangat jarang berpergian dengan laki-laki yang bukan mahramnya. Setahu Mayra, Kayla memang memiliki seorang kakak laki-laki, tapi namanya adalah Ali, bukan Fatih.
Mayra kemudian menoleh ke samping kirinya dan mendapati sosok laki-laki yang berdiri dan menyaksikan obrolan mereka.
"Kalau boleh tahu, siapa laki-laki itu Kay?" Tanya Mayra yang diliputi rasa penasaran yang tinggi.
"D-dia suami aku May." Mayra terpelonjak kaget. Perempuan di hadapan Kayla itu menatap Fatih dan Kayla secara bergantian. Pasti Kayla sedang berusaha menciptakan kebohongan demi menolak ajakan Mayra untuk menjenguk Amran. Ya, Mayra percaya Kayla sedang berbohong saat ini.Tidak mungkin Kayla sudah menikah.
"Kay, kamu pasti bercanda kan? Aku tahu kamu nggak siap buat jenguk kak Amran, tapi nggak gini cara kamu nolak Kay. Bercandaan kamu nggak lucu." Sentak Mayra yang mencoba menolak kebenaran yang baru saja didengarnya.
"Aku serius May. Kami berdua sudah menikah 2 hari yang lalu." Jelas Kayla. Dia tidak ingin menyembunyikan statusnya pada Mayra lagi. Sepupu Amran itu harus tahu kebenarannya agar Mayra tidak lagi mendesak Kayla untuk menemui Amran.
"Kenapa kamu ngelakuin semua ini sama kak Amran, Kay? Aku nggak nyangka kamu sampai setega ini untuk balas perbuatan kak Amran. Asal kamu tahu aja, kak Amran itu sangat menyesal dengan perbuatannya, setiap hari aku selalu liat dia melamun di dekat jendela dan nangis sambil ngucapin kata maaf. Dia sadar kalau dia salah dan dia mau perbaiki semua kesalahan dia. Tapi, kenapa kamu hukum dia dengan cara seperti ini. Bukannya kalian saling mencintai? Seharusnya kalian bisa bersatu kan?" Cecar Mayra yang tidak menyangka bahwa Kayla benar-benar sudah menikah. Mayra seketika tidak bisa membayangkan bagaimana jika sampai Amran tahu mengenai hal ini, sepupunya itu pasti akan hancur dan merasa sangat sedih. Perempuan yang ingin dia perjuangkan ternyata sudah menikah dengan laki-laki lain.
"Hubungan aku dan kak Amran itu sudah menjadi masa lalu May. Sekarang aku cuman mau melanjutkan kehidupan aku. Dan aku cuman bisa berdoa semoga kak Amran segera di beri kesembuhan dan diangkat segala penyakitnya."
"Aku permisi, assalamu'alaikum." Lanjut Kayla kemudian masuk ke dalam mobil dan diikuti oleh Fatih.
"Bagaimana mungkin kak Amran bisa sembuh, sedangkan obatnya itu kamu, Kay." Gumam Mayra sambil menatap mobil Fatih yang sudah menjauh.
Mobil yang dikendarai pasangan suami istri itu kini melanju meninggalkan area supermarket. Sedangkan Mayra hanya bisa diam membisu. Apa yang harus dia katakan pada Amran jika laki-laki kembali menanyakan tentang Kayla. Apa dia harus mengatakan yang sebenarnya? Tapi, Mayra tidak sanggup melihat kakak sepupunya itu sedih dan terpuruk lagi.
Sedangkan Kayla yang kini sedang berada di dalam mobil hanya bisa menatap kearah luar kaca jendela mobil. Ingatannya kembali berputar pada percakapannya dengan Mayra sewaktu di supermarket tadi.
"Saya tahu kamu sedih saat ini. Dan kalau memang kamu mau menangis, silahkan. Siapa tahu dengan menangis bisa sedikit memberi rasa lega di hati kamu." Ucap Fatih yang sesekali melirik sang istri yang duduk diam disampingnya.
Tidak lama setelah Fatih mengucapkan kalimat tersebut, suara tangisan terdengar begitu menyayat hati. Laki-laki itu juga ikut merasakan kesedihan yang dirasakan sang istri. Fatih kemudian menepikan mobilnya di pinggir jalan dan memberikan Kayla waktu untuk menangis sepuasnya. Satu-satunya yang bisa Fatih lakukan adalah menatap istrinya. Ingin rasanya memeluk tubuh ringkih itu kedalam dekapannya. Namun, sepertinya Kayla belum membutuhkan itu semua.
Fatih yang tidak lagi sanggup melihat cairan bening itu terus saja jatuh di pipi sang istri akhrinya dengan sigap menghapus air mata Kayla.
"Jika saja air mata itu jatuh karena rasa bahagia yang kamu rasakan, mungkin saya akan membiarkannya untuk terus mengalir. Tapi, untuk saat ini biarkan saya menjadi orang pertama yang menghapus air mata kesedihan itu." Ucap Fatih sembari terus menghapus sisa air mata di pipi sang istri.
Tanpa sadar Kayla berhambur kedalam pelukan suaminya. Gadis berhijab itu menumpahkan segala rasa sedihnya dalam bentuk air mata. Dia tidak lagi peduli jika baju Fatih sudah basah karena air matanya yang terus saja mengalir tanpa henti.
"Saya disini. Kalau kamu memang membutuhkan pundak untuk bersandar, maka saya siap untuk menegakkan pundak saya untuk kamu melepas semua kesedihan yang kamu rasakan." Entah kenapa setiap kalimat yang diucapkan oleh Fatih membuat Kayla begitu nyaman dan tenang. Dia seolah telah menemukan tempat terbaiknya untuk berbagi kesedihan.
Kayla tidak lagi bisa menjawab Fatih, gadis itu hanya bisa memeluk erat tubuh laki-laki yang telah sah menjadi suaminya. Cukup lama Kayla dengan posisi memeluk Fatih, hingga akhirnya gadis itu tersadar dan segera menegakkan tubuhnya menjauh dari tubuh sang suami.
"M-maaf kak, aku lancang peluk kakak." Ucap Kayla dengan suara sedikit serak. Hidung dan mata gadis itu juga tampak memerah sehabis menangis.
"Tidak apa-apa. Jadi, perasaan kamu sudah lebih baik sekarang?" Kayla lalu mengangguk sebagai jawaban.
"Kalau gitu, kita langsung pulang ke rumah, ya." Ucap Fatih lembut.
*****
Di rumah sakit, Mayra berjalan menyusuri setiap lorong bangunan dengan cat serba putih itu. Langkah gadis itu begitu lemah, dia hanya bisa berdoa semoga Amran tidak menanyakan Kayla lagi.
Pintu ruangan Amran terbuka dan menampilkan sosok Mayra disana. Senyuman Amran seketika merekah seolah-olah menanti kedatangan Mayra sejak tadi. Berharap Mayra membawa kabar bahagia untuk dirinya.
"Kamu udah ketemu sama Kayla?" Tanya Amran yang kini duduk di atas ranjang rumah sakit.
Mayra mendongak menatap Amran. "S-sudah kak." Jawab Mayra jujur.
"Terus apa kata Kayla? Dan kapan Kayla bakalan kesini jenguk kakak?" Tanya Amran kembali dengan raut wajah berbinar.
"K-kayla bilang kalau dia kangen sama kak Amran. T-tapi, Kayla belum bisa jenguk kakak untuk saat ini soalnya Kayla lagi ada urusan penting kak." Ucap Mayra seraya tersenyum dan mencoba meyakinkan Amran bahwa ucapannya bukanlah sebuah kebohongan.
"Beneran Kayla ngomong gitu? Itu artinya Kayla udah maafin aku kan May?" Ucapan Mayra barusan seolah menjadi obat paling ampuh bagi Amran. Laki-laki itu terlihat kembali semangat.
"Iya kak." Jawab Mayra sedikit ragu. Dia benar-benar tidak tega menghapus kebahagiaan di wajah Amran dengan mengatakan yang sebenarnya. Apalagi saat ini yang peduli pada Amran hanyalah Mayra dan mamanya. Sedangkan kedua orang tua Amran terlalu sibuk dengan urusan masing-masing bahkan tidak memperdulikan anaknya yang sedang terbaring lemah di rumah sakit. Meski Amran adalah anak tunggal, tapi Amran tidak pernah merasakan kasih sayang dari orang tuanya seperti anak pada umumnya. Jika menyangkut materi, maka Amran tidak pernah kekurangan sedikit pun. Tapi, untuk merasakan kasih sayang dari orang tua, Amran sama sekali tidak pernah mendapatkannya sejak kecil. Maka dari itu, Mayra sengaja menyembunyikan kebenaran bahwa Kayla yang sudah menikah dengan laki-laki lain.
jauh kan amran ternyata pleboy