DILARANG PROMOSI DI KOLOM KOMENTAR!!
Ana, gadis yang baru berusia 18 tahun harus tinggal bersama pria asing yang telah menggelontorkan banyak uang demi biaya operasi sang adik yang terluka cukup parah karena penyerangan sedang kedua orang tuanya telah tiada.
Judul lama "Penjara Cinta"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gadis_Kecil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rumah Asing
Beberapa hari telah berlalu. Kondisi Lina, adik Ana sudah mulai membaik dengan dipantau dokter. Dia pun diajarkan oleh Aikara-dokter yang merawatnya berbahasa isyarat dan Lina cukup pandai belajar cepat.
Kendati demikian, Lina akan berada di tempat tersebut sampai luka di lehernya benar-benar kering. Hanya Dariel yang menemani Lina selama proses penyembuhan hingga Lina pun sudah menerima keberadaan pria itu.
Selain Dariel, anggota kepolisian datang bersama psikiologis untuk bertanya pada Lina tentang ciri-ciri si pembunuh tapi Lina yang trauma menolak semua itu dan tak nyaman.
"Saya mohon maaf ya pak, pasien saya tak ingin bertemu dengan kalian. Dia sepertinya trauma akan kejadian tersebut." ucap Aikara mencoba memberikan pengertian.
"Saya bisa mengerti dengan kondisi Lina sekarang, tapi kita juga tak bisa menunggu lama. Jika seperti ini maka kita bisa terlambat mencari pembunuhnya dan akhirnya dia melakukan pembunuhan sekali lagi." ujar direktur kepolisian.
"Iya saya mengerti jadi saya harap anda semua bersabar." Dariel terus menguping pembicaraan antara kepolisian dan dokter. Dia mengembuskan napas lalu meraih telepon untuk menghubungi Samuel.
"Jadi bagaimana Tuan? Apa saya harus memulangkan Lina dengan cepat? Kasihan gadis itu jika dia terus di sini dan dipaksa untuk mengingat wajah si pembunuh." Helaan napas berat terdengar dari balik telepon.
"Baiklah. Urus saja kepulangannya. Kabari aku jika administrasinya sudah selesai."
"Baik Tuan." Telepon dimatikan. Dariel lalu menghampiri Aikara yang telah menyelesaikan perbincangan antara Aikara dan polisi.
"Dokter ... saya mau bicara dengan anda. Apa boleh?"
"Tentu. Ada apa?"
"Ini tentang Lina ... saya mau bawa dia pulang."
"Pulang? Tapi kondisi Lina belum sepenuhnya pulih. Dia pun harus berbincang dengan--"
"Saya tahu hal itu dan sebagai walinya saya merasa tak enak ketika melihat Lina tertekan. Biarkan saya membawanya pulang beberapa hari. Saya berjanji akan selalu datang membawanya untuk cek." Aikara sebenarnya enggan menuruti permintaan Dariel.
Tapi perkataan Dariel ada benarnya juga. Dia merasa Lina agak tertekan dengan kedatangan para polisi yang terus menginterogasinya dan perlu melepaskan beban.
Pada akhirnya Aikara memutuskan untuk memulangkan Lina.
*****
Beberapa hari berlalu, Dariel menutup resleting tas milik Lina yang baru saja dia beli guna membawa semua barang-barang milik gadis itu sedang Lina terlihat termenung menatap di jendela.
Dia akan pulang tapi Ana, kakaknya tak pernah mengunjunginya sekali pun. Ya, dia mengerti bahwa Ana sedang sibuk menyelesaikan pekerjaan tapi bisakah sedikit saja Ana datang dan melihatnya kendati itu sebentar? Itu sama sekali tak membuang waktu.
Lina sangat rindu pada Ana!
Tanpa sadar air mata keluar dan mulai mengalir deras. "Nona Lina semuanya telah--" Dariel terkesiap melihat tubuh Lina bergetar dan ketika didekati ternyata Lina sedang menangis.
"Nona, kenapa anda menangis? Apa ada yang sakit?" Lina menggeleng.
"Apa karena anda rindu pada Nona Ana?" Air mata langsung mengalir deras tanda bahwa memang dia menginginkan perhatian dari sang kakak.
Dariel hanya bisa menatap sendu. Mengeluarkan napasnya secara perlahan dan menggenggam kedua pundak Lina. "Sudah Nona jangan menangis ... nanti jika kita sampai di rumah, saya akan menghubungi Nona Ana untuk berbicara dengan Nona."
Kedua mata merah Lina yang berkaca-kaca memandang Dariel penuh minat. Dia seakan bertanya pada Dariel apa dia bersungguh-sungguh? Dariel memberikan senyuman kemudian mengangguk.
Lina pun menyeka air matanya secara kasar dan berusaha untuk tenang kendati dia masih bersungut-sungut. Sambil menggandeng tangan Dariel, Lina keluar dan menyapa Aikara yang sudah menunggu. "Bye Lina, jangan lupa dengan ucapan dokter ya?"
Gadis kecil itu mengangguk dan melambaikan tangan ke arah Aikara saat dirinya perlahan menjauh bersama Dariel. Keduanya keluar dari rumah sakit dan masuk di dalam mobil.
Lina cepat-cepat menulis dan menyentuh pundak Dariel setelah menyelesaikan tulisannya. Dariel menoleh lalu membaca kalimat yang tertulis di buku. 'Apa kita akan berjumpa kakak?'
Dariel melemparkan senyum getir lalu menggeleng. "Kita akan ke rumah baru Nona. Bukankah aku sudah mengatakannya pada Nona kalau jika kita sampai aku menghubungi Nona Ana untuk anda."
Lina menunjukkan raut wajah masam sementara Dariel hanya bisa tersenyum simpul kemudian menepuk kepala Lina. 30 menit, mobil berhenti.
Setelah Dariel memarkirkan mobil dan mengeluarkan tas milik Lina, keduanya berjalan lebih dalam suatu gang yang sempit. Sesungguhnya Lina merasa agak ketakutan tapi karena tangan Lina digandeng oleh Dariel, ketakutannya itu tak menjadi-jadi.
Mereka lalu naik di sebuah tangga apartement hingga ke lantai atas. Di sana mereka menemukan rumah kecil yang agak luas. Adanya di lantai atas apartemen. Dariel mengeluarkan sebuah kunci dan membuka pintu dari rumah tersebut. "Ayo masuk."
Perlahan Lina bergerak masuk seraya meneliti dengan seksama. Ruangan kecil itu berisikan perabotan rumah yang rapi. Terdapat juga tv dan sebuah ranjang. "Ayo kita ke kamarmu."
Lina mengiyakan saja dan mengikuti langkah Dariel yang masuk ke dalam sebuah ruangan. "Ini sebenarnya kamar saya tapi karena Nona ada ini menjadi milik Nona. Saya juga sudah menyiapkan beberapa keperluan di sini dan merapikan tempat ini saya harap anda suka."
Gadis kecil itu lantas mengeluarkan catatan kemudian menuliskan sesuatu untuk dilihat Dariel. 'Kau akan tidur di mana?'
"Di ruang tamu Nona. Jika membutuhkan sesuatu saya akan selalu siap membantu." Dariel pun pergi meninggalkan Lina sendirian. Apakah rumah asing ini akan menjadi rumah yang layak untuknya?