Pernikahan yang terjalin selama lima tahun tiba-tiba saja kandas akibat perselingkuhan yang dilakukan sang suami.
Awalnya Maya berusaha berdamai dengan sang suami yang berjanji untuk tidak mengulangi kesalahannya. Namun, rasa sakit yang tak kunjung hilang membuat Maya akhirnya memilih untuk berpisah.
Bukannya reda, rasa sakit itu malah semakin membengkak tatkala mantan suaminya kembali menjalin hubungan dengan wanita selingkuhannya dulu.
Sejak saat itu Maya bertekad membalas dendam dengan cara halus, membuat mantan suaminya terpikat kembali lalu membuangnya begitu saja.
Akankah Maya berhasil melakukan balas dendam? Atau justru Maya terjebak dalam misinya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon iraurah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menggali Informasi
Pagi menjelang, matahari kian menampakkan diri dengan malu-malu. Menebar cahaya kuning dari arah timur untuk memancarkan kehangatan kepada seluruh makhluk bumi.
Maya membuka mata yang masih terasa berat, wajah Shakeel yang pertama kali ia lihat, anak itu masih tertidur pulas, belum ada tanda-tanda untuk bangun.
Maya menatap jam dinding yang sudah menunjukkan pukul setengah enam pagi, Maya menggerakkan tubuhnya untuk duduk.
Perlahan Maya menyentuh dahi serta bagian pipi Shakeel guna memastikan keadaannya sekarang, sudah tidak demam lagi, Maya bernafas lega, semoga makin membaik seterusnya.
Maya tak memilih untuk tidur lagi, ia justru bergegas menuju kamar mandi untuk mencuci muka dan menggosok gigi. Kemarin sore Adhi memberikan Maya peralatan mandi dan sabun cuci muka dan beberapa kebutuhan selama Maya menginap.
Sesudah mencuci wajah Maya memutuskan keluar kamar, tempat yang pertama kali ia tuju adalah dapur. Maya menuruni tangga, tak ada siapapun di lantai dasar, mungkin Adhi juga belum bangun karena tadi malam mereka mengobrol cukup larut.
Maya menyeret kakinya hingga sampai di ruang memasak, ia cukup tersentak ketika mendapati pelayan yang sudah berada disana. Maya menghampiri beliau.
"Eh Nona Maya, sudah bangun?"
Maya mengangguk sambil mengulas senyum.
"Iya, bibi sedang memasak?"
"Belum Non, saya baru pulang dari pasar. Tuan menyuruh saya untuk membeli stok makanan, beliau ingin saya memasak makanan spesial untuk Nona dan Tuan Shakeel" jelasnya.
"Oh ya?? Padahal tidak perlu repot-repot seperti itu" kata Maya tidak enak.
"Tidak apa-apa, Nona. Saya justru senang..." Balas pelayan sumringah.
"Kalau begitu saya bantu ya, bibi beli apa saja?" Maya mencoba membuka salah satu kantung kresek, pelayan buru-buru menghentikannya.
"Eh! tidak usah Nona, nona kembali istirahat saja. Biar saya selesaikan ini semua, Nona kan tamu disini masa malah nona yang memasak" tolaknya hati-hati, sebagai asisten rumah tangga ia jelas sedikit keberatan dengan keinginan Maya, ia tak enak membagi tugas apalagi dengan tamu dari majikannya.
"Sudah jangan merasa tidak enak begitu, saya juga ingin memasak sesuatu untuk mas Adhi. Bibi punya stok cumi? Biasanya mas Adhi suka makan cumi saos tiram"
"Kalau seafood saya belum beli Nona, paling hanya ada daging sapi dan daging ayam yang saya beli tadi"
"Ya sudah saya yang masak daging sapinya, saya mau buat daging sapi semur kesukaan mas Adhi. Bibi yang masak daging ayamnya saja"
"Baik Nona, biar saya keluarkan bahan-bahan dulu"
Sepanjang acara memasak Maya asyik bercengkrama dengan pelayan disana, sesekali mereka tertawa dan bercerita seputar pekerjaan keduanya.
Tak ada kecanggungan, keduanya langsung akrab satu sama lain, tidak ada yang namanya kesenjangan sosial diantara dua perempuan tersebut.
"Nona sepertinya tau betul tentang dapur ini, saya lihat Nona hapal semua letak benda-benda disimpan" ucap wanita setengah baya itu yang sedari tadi memperhatikan Maya.
"Saya masih ingat sedikit-sedikit meski sudah dua tahun lamanya, dan lagi letak semua benda tidak ada yang berubah dari dulu" Maya mengungkap.
"Saya kira penghuni di rumah sebesar ini tidak ada yang pernah memasuki daerah dapur, apalagi sampai hapal semua posisi bahan dan alat memasak" pikir pelayan terkekeh, ia kira semua orang kaya seperti alur cerita di film-film.
"Tidak semua seperti itu, saya juga kebetulan hobi memasak. Dulu mas Adhi cuma mau makanan buatan saya saja, jadi mau tidak mau setiap hari saya selalu beraktivitas disini" cerita Maya mengingat masa-masa itu.
Pelayan pun manggut-manggut mengerti, mendengar cerita Maya ia jadi penasaran kenapa pasangan itu memilih berpisah di usia pernikahan yang masih sangat muda. Tapi ia tak mau lancang menanyakan hal demikian.
"Ngomong-ngomong.... Ada yang saya ingin tanyakan pada bibi" seru Maya sambil mengoseng-oseng masakan di panci.
"Apa Non? Mungkin saja saya bisa jawab"
"Emm, apa.... Selama bibi bekerja disini, mas Adhi pernah membawa seorang wanita? Tapi bukan yang berasal dari keluarganya" tanya Maya mencoba menggali informasi.
"Maksud Nona pacar Tuan Adhi?" Tebaknya.
"Emm... I-iya, bisa dibilang seperti itu" jawab Maya tergagap-gagap.
"Pernah waktu itu ada seorang wanita datang kemari mencari Tuan, meskipun tidak terlalu sering tetapi setidaknya setiap bulan pasti ada, perempuan itu juga memanggil Tuan dengan sebutan yang cukup romantis, tetapi sudah dua bulan ini saya tidak pernah melihatnya lagi, entah Tuan sudah putus atau belum, saya juga kurang tau"
Maya termenung dalam hitungan detik, ternyata hubungan Adhi dengan perempuan tersebut sudah sejauh itu. Mungkinkah Adhi memang serius dengan wanita tersebut? Tetapi jika iya, kenapa sampai sekarang mereka belum juga menikah?
"Ngomong-ngomong apa Nona juga sudah punya pasangan lagi? Maaf jika saya tidak sopan, soalnya saya sangat penasaran, Nona kan cantik pasti banyak laki-laki yang mau meminang anda" pelayan itu cekikikan menutupi rasa gugupnya sambil terus memotong bahan masakan.
Maya membalasnya dengan tawa ringan, "Saya masih ingin fokus pada Shakeel, dari usia tiga tahun dia sudah harus terpisah dengan ayahnya dan kekurangan perhatian yang cukup. Apalagi jika saya harus menikah, saya khawatir tidak bisa memberi perhatian dan kasih sayang yang besar kepadanya" jawab Maya, selama ini ia memang menutup hatinya bagi para lelaki, tujuannya karena Maya belum siap membangun rumah tangga baru dan membagi cinta dan kasih kepada selain Shakeel.
"Ah... Begitu rupanya, Tuan Shakeel sangat beruntung memiliki Ibu seperti Nona Maya. Apalagi seorang Ibu adalah cinta pertama anak laki-lakinya, saya berdoa supaya kalian diberi kebahagiaan dan umur panjang"
"Amin... Terimakasih bibi" balas Maya tak kalah tulus.
"Mamiiiiiii..........!!!!" Tiba-tiba suara teriakan menggema ke seluruh ruangan.
Suara nyaring itu berasal dari Shakeel, bocah lima tahun tersebut berlari ke arah dapur dan langsung menghampiri sang bunda yang tengah memasak.
Maya mematikan kompor terlebih dahulu, barulah ia berbalik.
"Sudah bangun sayang? Apa masih sakit?"
Shakeel dengan cepat menggeleng, wajahnya nampak ceria seperti biasa.
"Enggak mami, Shakeel sudah sembuh" katanya tersenyum menampilkan deretan gigi berwarna putih.
"Syukurlah... Hari ini libur sekolah dulu ya, Shakeel harus banyak istirahat kata dokter. Nanti biar mami yang minta izin pada Bu guru"
"Beneran mami? Yesss..... Shakeel libur sekolah" soraknya gembira, tak dipungkiri memang hal tersebut sudah menjadi kesenangan bagi semua anak-anak.
"Tapi bukan berarti Shakeel bisa main seperti biasa, loh!" jelas Maya mengingatkan.
"Iya mami, tapi mami gak akan kerja kan?"
"Iya sayang, mami juga akan cuti selama Shakeel belum sembuh" Shakeel makin berteriak kegirangan, ia meloncat-loncat sambil mengangkat tangannya.
"Sudah-sudah... Sekarang mami mau masak dulu, Shakeel tunggu di meja makan ya"
"Siap mami" dengan semangat empat lima Shakeel melangkah ke luar meninggalkan Maya disana.
tp mw gimana lagi... setiap orang mempunyai pemikiran sendiri seperti maya,,, mungkin karena terlalu sakit hatinya,,