Lanjutan dari "Istri Bar-Bar Milik Pak Dosen"
"Perasaanku sudah mati sejak lama. Tidak ada satu pun di antara kalian yang mampu membuat hatiku kembali bergetar seperti dulu. Berhentilah! Aku tidak akan memilih satu di antara kalian. Jangan perjuangkan sesuatu yang sia-sia!" ~Diandra.
"Aku tidak akan berhenti! Aku akan terus berjuang untuk mendapatkan hatimu kembali! Maafkan aku yang sudah pernah menorehkan luka yang sangat dalam di hatimu! Kamu tidak perlu memberi aku kesempatan, karena aku yang akan berusaha mendapatkan kesempatan itu!" ~Alden.
"Aku tidak akan berhenti! Aku mencintaimu apa adanya. Tapi, aku tidak akan egois. Semua terserah padamu. Aku tau betapa hancurnya hatimu, dan bukanlah hal mudah untuk kembali jatuh cinta setelah sakit yang teramat dalam. Aku ingin menjadi penyembuh hatimu yang luka, tapi itu semua terserah padamu. Siapa pun yang kamu pilih, aku harap kamu akan bahagia nantinya." ~Austin.
"Mau bermain? Bagimana jika kita putar balik alurnya." ~Unknown
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiara05, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ternyata CEO itu adalah Istriku!
"Baiklah, kalian berangkat bareng Papa aja, ya. Soalnya Mommy harus segera ke kantor pagi ini," ucap Rara pada anak-anaknya yang sudah terlihat tampan dan cantik dengan balutan baju sekolah.
"He'em." Baik Kelvin maupun Kanaya hanya berdehem saja menyahut ucapan ibunya.
"Kak, aku titip si kembar, ya. Maaf karena terus merepotkanmu," ucap Rara yang merasa sedikit tidak enak pada Austin.
"Sip Ra. Santai aja, toh mereka juga anak-anak ku," kekeh Austin.
Melihat mereka sudah pergi, buru-buru Rara siap-siap menuju kantornya. Rasanya ingin sekali menyelesaikan semua yang terjadi. Andai perusahaannya baik-baik saja, ia pasti memilih untuk tidak pulang, dan lebih baik menyuruh keluarganya untuk mengunjunginya ke London.
Selesai berdandan, Rara lalu berangkat dengan mengendarai mobil Ferrari miliknya. Sepanjang perjalanan ia bernyanyi, mungkin karena mood-nya yang sedang baik. Bagaimana tidak baik, bayangkan saja kamu memiliki perusahaan di umurmu yang masih muda, dan perusahaanmu itu berkembang dengan cukup pesat. Tentu itu menjadi kesenangan tersendiri untuk Rara.
******
"Perhatian semuanya! Hari ini kita kedatangan CEO perusahaan ini. Jadi, hormatlah pada dia nanti. Sebentar lagi dia akan sampai! Berbarislah yang rapi! Karyawan dengan karyawan, dan OB dengan OG," ucap Rika yang merupakan sekretaris Rara di perusahaan tersebut.
"CEO perusahaan ini adalah orang yang baik. Dia tidak pernah memandang rendah apa pun pangkat kalian. Menurutnya kita semua sama. Jadi, jangan merasa minder atau apa pun itu, karena dia adalah orang yang sangat baik, dan yang pastinya dia sangat cantik. Mungkin kalian akan terkejut melihat manusia bak bidadari," lanjut Rika sambil terkekeh lucu. Ya, Rika pernah bertemu dengan Rara, dan sekarang mereka sudah menjadi teman.
Semua yang mendengar penuturan Rika menjadi sangat penasaran dengan wajah pemilik perusahaan tersebut. Pasalnya mereka tidak pernah melihat wajah Rara, yang dirumor-rumorkan sangat cantik bak bidadari.
"Aku dengar-dengar sih pemilik perusahaan ini janda, dan sudah beranak dua. Tapi dia masih muda, mungkin 27 tahunan."
"Iya, aku juga dengar begitu. Andai aku karyawan di sini, sudah pasti aku akan mengejarnya," kekeh yang lain.
"Jangan ke pedean! Kita di sini hanya OB saja! Tidak mungkin Bu Bos kecantol dengan kita."
Samar-samar Alden mendengar teman-temannya yang membicarakan tentang wanita pemilik perusahaan tersebut. Alden yang sedang ikut berbaris merasa sangat salut dengan pemilik perusahaan ini. Menurut Alden kisaran usia tersebut terlalu muda untuk bisa membangun sebuah perusahaan, sungguh sangat luar biasa. Meski pun dirinya sendiri membangun perusahaan di usia 25 tahun.
Alden yang sedang ikut berbaris tiba-tiba merasa kebelet. Tanpa basa-basi laki-laki itu langsung mengundurkan diri dari barisan, lalu sedikit berlari menuju toilet.
******
Rara masuk ke dalam perusahaannya dengan gaya elegan. Senyum terbit di wajah cantiknya saat melihat orang-orang yang ia kerjakan sedang berbaris rapi menyambut dirinya.
"Selamat datang Bu!" Mereka semua serempak mengucapkannya begitu Rara masuk ke dalam perusahaan. Banyak dari mereka bahkan ternganga melihat Rara yang ternyata sangat benar-benar cantik.
"Selamat pagi, semuanya!" sapa Rara dengan suara lembut.
"Senang bisa bertemu kalian. Saya minta maaf karena ini kali pertamanya saya di perusahaan. Saya harap kalian merasa nyaman bekerja di sini. Nama saya adalah Diandra Latasha Jonshon. Saya adalah putri dari keluarga Jonshon. Saya harap kita bisa bekerja sama dengan baik." Rara memperkenalkan dirinya dengan senyum yang terus ia pertahankan.
Semua orang langsung heboh. Tidak menyangka jika pemilik perusahaan tersebut adalah putri dari keluarga Jonshon.
"Ada yang ingin ditanyakan?" tanya Rara lembut.
Tidak ada yang bertanya, mereka semua kompak menggeleng. "Baiklah kalau tidak ada, saya permisi ke ruangan saya dulu, ya. Semangat bekerjanya!" kekeh Rara yang justru menambah kecantikkannya.
Rara lalu berjalan menuju ruangannya yang ada di lantai 15. Melihat sekeliling ruangannya membuat dirinya semakin senang. Dulu ia hanya menjadi istri dari seorang CEO, tapi lihatlah sekarang, justru dirinya yang menjadi seorang CEO.
Andai tidak ada kejadian yang menimpa ia, dirinya pasti tidak akan bisa mengepakkan sayapnya seperti ini, dan mungkin tidak akan menjadi sukses seperti sekarang ini. Ah, haruskah ia berterima kasih pada masa lalu kelamnya? Karena berkat masa lalu itu, dia sekarang menjadi sosok yang lebih kuat. Setidaknya dirnya tidak bergantung pada orang lain seperti dulu yang selalu bergantung pada suaminya.
******
Alden lalu keluar dari toilet. Berjalan santai menuju barisan tadi. Tapi, baru saja ia sampai, semua orang sudah membubarkan diri. Apakah selama itu dia di dalam toilet? Begitulah pemikiran Alden.
"Eh, lo kenapa lama banget di toilet? Lo bersemedi? Lo kehilangan kesempatan lihat bidadari tadi," ucap Bima, salah satu teman Alden yang juga bekerja menjadi OB.
Alden hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Ya maaf. Tapi lo harus ingat! Secantik-cantiknya tuh CEO, tetap cantikkan istri gue!" jawab Alden cengengesan. Menurut Alden, tidak ada wanita yang lebih cantik dari pada istrinya. Rara adalah wanita yang paling cantik di matanya.
"Iya'in aja deh. Kayaknya istri lo yang paling cantik di dunia ini. Tapi awas aja kalau lo kecantol sama tuh CEO," kekeh Bima.
"Nih, bawain kopi ke ruangan Bu CEO! Gue mau ke toilet dulu. Lagian gue takut gugup ketemu sama bidadari. Entar gue khilaf lagi," lanjut Bima, lalu menyerakan segelas kopi tersebut tanpa menunggu persetujuan Alden.
Alden hanya mampu berdecak kesal, tapi mau bagaimana lagi? Ini adalah pekerjaannya, jadi tidak mungkin ia menolak.
Alden lalu berjalan menuju ruangan petinggi perusahaan tersebut. Entah kenapa semakin ia dekat dengan pintu, semakin dia gugup.
"Ckk ... ini kenapa gue tiba-tiba gugup?" Alden berdecak sendiri saat sudah berada di depan pintu ruangan CEO. Tidak biasanya ia menjadi gugup seperti ini.
Tok ... tok ...
"Masuk!" ucap Rara dari dalam.
Tubuh Alden sedikit membeku mendengar suara yang sangat ia kenali, dan suara yang selama ini selalu rindukan. Tapi, apakah mungkin itu suara dia?
Alden lalu membuka pintu tersebut, lalu masuk ke dalam ruangan.
"Permisi Bu, ini kopi Anda," ucap Alden yang masih menunduk.
"Oh iya, letakkan saja di atas meja. Terima kasih, ya." Rara berkata dengan lembut, tetapi pandangannya tidak lepas dari depan berkas-berkas yang ada di tangannya.
Tubuh Alden semakin membeku saat mendengar suara lembut itu. Perlahan Alden mendongakkan kepalanya, untuk memastikan apakah pemilik suara itu benar-benar orang yang selama ini ia rindukan.
Prang
Saat melihat sosok wanita yang menjadi CEO di perusahaannya, gelas yang ada di genggaman Alden sontak terlepas, dan menjadi pecah, sehingga lantai menjadi kotor dipenuhi oleh air kopi.
"Astagfhirullah!" Rara terlonjak kaget mendengar pecahan kaca tersebut.
"Kamu nggak ap-" Ucapan Rara sontak terhenti saat matanya melihat sosok laki-laki tampan yang sudah pernah menorehkan luka yang teramat dalam di hatinya.
Tu-tunggu?
Jadi ... Alden menjadi OB di perusahaannya? Dan dirinya tidak mengetahui hal itu?
"Sa-sayang?"
.
.
.
.
bs kalii dipakai disesuaikan dgn bahasa anak2 seusianya/Grin/