Dendam seorang adik kepada gadis yang dia cintai atas kematian kakaknya. Asmara, gadis sederhana, penyanyi dangdut hajatan yang sedang naik daun, berubah nasibnya saat sebuah tuduhan pembunuhan dia terima tanpa dia bisa membuktikan kebenarannya.
Nasib apa itu.?
sepahit apakah nasibnya.?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rcancer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dan Akhirnya..
"Angkasa, mamah berangkat dulu sama papah, kamu jangan telat nanti, acara akadnya jam 10.."
"Iya mah, aku usahakan.."
"'Emang kamu ada rencana lain sa..'
"Enga sih pah.."
"Biasa pah, dia paling males jika ikut keluarga besar ngumpul, orang disaranin mamah ngga mau.."
"Jangan mulai lagi deh mah.."
"Iya mah, pagi pagi, udah ngajak ribut anak.."
"Terserahlah, mungkin mamah akan tutup usia sebelum dapat cucu.."
"Mamah tu memang ngga pernah suka yah lihat Angkasa tenang,.." Dan Angkasa seketika langsung beranjak meninggalkan sarapannya.
"Mamah tuh memang susah di bilangin, kalau mamah ingin angkasa semakin jauh dari mamah, ya lakukan saja sesuka mamah, percuma nasehatin mamah panjang lebar.." Ujar suaminya yang juga turut serta meninggalkan sarapannya.
Sementara sang istri, menatap kepergian orang orang terdekatnya dngan perasaan sedih dan bersalah.
Ranti akui, sejak dia memaksakan anaknya untuk bertemu dengan wanita wanita pilihannya, anak itu sikapnya semakin dingin kepada dirinya. Mungkin menurut dia, alasannya benar demi kebahagiaan anak yang sepertinya telah kehilangan kebahagiaannya sejak isiden dulu. Tapi anak dan suaminya berpikir kalau tindakannya salah.
Tak terasa, Air matanya menetes di pipinya yang sudah menunjukan sedikit kerutan.
Di waktu yang sama, Di tempat berbeda.
"Mba mara, nanti jadi nyanyi..?"
"Ya jadilah Rin, tahu sendiri kan temenmu itu kalau minta gimana.."
"heheh, Zia dilawan, aku juga kadang sering bete tuh sama tu anak kalau lagi merengek, mentang mentang anak orang kaya.."
"Tapi ya di sisi baiknya, anak seperti itu mau berteman tanpa mandang status, apa lagi sampai sedekat ini sama kamu dan keluarga kamu.."
"Iya sih mba, aku juga kadang heran, kok bisa aku deket sama dia, padahal banyak loh anak anak orang kaya pengin akrab sama Zia.."
"Mungkin dia nyaman kali berteman sama kamu, berteman kan juga butuh kenyamanan, "
"Iya kali ya mba,..'
"Kita berangkat jam berapa sih Rin.?"
"Akadnya jam 10 mba, ya sebelum jam sepuluh kta udah disana, takut tu anak matanya jelalatan, nyariin.."
"Ya udahlah, bentar lagi kita siap siap aja, ibu kemana Rin, kok ngga kelihatan.."
"Tuh di warung depan, lagi ngrumpi, biasa sekalian beli sabun, bonusnya ngrumpi.'
"Hahaha, bisa aja kamu.."
Dan waktupun merangkak menuju siang.
"Nanti kamu jangan jauh jauh dari aku loh Don.." pinta Angkasa kepada seorang asisten yang sekaligus merangkap jadi sahabatnya itu. Kini mereka sedang dalam perjalanan menuju ke tempat berlangsungnya acara pernikahan sepupu angkasa
"Hahaha, kenapa tuan..?"
"Males aja berkumpul sama yang lain, kalau ngobrol yang dibicaraain itu mulu, bosen.."
"Oke, gimana kalau sekalian nyari cewek...?"
"Cihh, itu sih maunya kamu.."
"Ya kan aku juga butuh pendamping tuan, masa sejak aku ikut kerja sama kamu, aku benar benar jauh dari cewek.."
"Kamu aja yang ngga berbakat, pakai ngatain aku lagi buat alasan.."
"Emang iya, bayangkan. Lima tahun aku jomblo, gila aja, sia sia amat aku dikasih wajah tampan. mana jatah usia semakin menipis.."
"Dihh, itu mah memang nasib kamu aja yang lagi buruk."
Mobil yang Angkasa naiki terhenti, karena di depan ada palang pintu yang melentang, pertanda akan ada kerea api yang lewat. Saat mereka sedang menunggu palang pintu terbuka, tiba tiba,
"Asmara..!!" Ucap Angkasa. matanya membulat saat perempuan yang selama ini dia cari berada tepat di sisi mobilnya. Asmara berboncengan naik motor dengan posisi dia dibelakang menghadap mobil yang Angkasa naiki.
Matanya terpaku pada permpuan yang sedang tersenyum entah kepada siapa. namun terlihat Angkasa begitu sangat menikmatinya. Dia merindukan perempuan itu. Perempuan yang pernah dia cintai sepenuh hati, namun perempuan itu juga yang pernah dia sakiti segenap jiwa dan raganya.
Seandainya ada keberanian, Angkasa ingin segera keluar dari mobil dan merengkuh tubuh perempuan itu ke dalam dekapannya. Namun sayang, rasa bersalah dan ketakutanya membuat Angkasa hanya mampu menatapnya dari balik kaca mobilnya.
"Kalau hanya memandanginya, kapan kamu akan menyelesaikan masalahmu tuan.? Hampiri dia dan ajak dia bicara baik baik.."
"Entahlah Don, aku takut.."
"Kalau menghindar dari rasa takut mah, sampai kapanpun juga, masalahmu ngga akan pernah selesai.."
Terus kalau dia nolak dan justru lari menghindar, gimana.?"
"Ya tetep usaha lah, bukankah kamu hanya ingin minta maaf atas kesalah pahamanmu itu.."
"Entahlah Don.."
"Cihh, yang dicari sudah ada di depan mata, tempat tinggal juga bisa di cari lewat karyawan yang bernama Ririn, sesusah apa coba.."
"Susah lah, karena kamu ngga mengalaminya sendiri Don.."
Dan mobil mereka pun mulai melaju ke tempat acara yang sudah semakin dekat jaraknya.
Mobil yang di kendarai Angkasa kini telah sampai di hotel tempat berlangsungnya acara, setelah keluar dari mobil, Angkasa dan Doni melangkah menuju ke tempat yang akan digunakan untuk melakukan prosesi akad.
Beberapa tamu sudah nampak berada ditempat itu. mempelai lelaki juga terlihat sudah siap di depan meja yang akan digunakan untuk mengucapkan ijab qabul.
Setelah bersalaman dan berbasa basi dengan sanak saudara serta beberapa rekan yang mengenalnya, Agkasa memilih duduk di kursi paling belakang. Dan dia mulai asyik berselancar dengan ponselnya untuk mengecek beberapa email yang masuk dan mengecek perkembangan perusahaannya.
Tak lama kemudian, terdengar sedkit keriuhan dari arah luar, ternyata suara riuh itu berasal dari datangnya sang mempelai putri yang sedang melangkah pelan di apit dua wanita.
Angkasa mendongakkan kepalanya karena penasaran degan suara riuh yang dia dengar. Mata Angkasa membelalak. bukan karena kedatangan mempelai putri, tapi dia terkejut dengan salah satu perempuan yang sedang mengapit pengantin perempuan dan terlihat sangat akrab
"Asmara..!!' Gumamnya.
Berbagai macam pertanyaanpun muncul dipikiran Angkaa. Asmara terlihat begitu akrab dengan sepupunya yang tak lain adalah pengantin putri. Angkasa terus memperhatikan interaksi yang terjalin dari ketiga wanita yang sedang seperti bergurau dan terlihat begitu sangat akrab.
"Apa jangan jangan wanita yang dimaksud Zia itu adalah Asmara.? jika benar berarti Asmara sekarang memiliki anak darinya.? dan anak itu anak kembar.?
Entah Angkasa harus bahagia atau sedih atas kenyataan yang dia dapat.
Terlihat Asmara yang tak menyadari keberadaan Angkasa, mengambil tempat duduk yang tak jauh di depan Angkasa. Asmara lebih memilih duduk dikursi yang agak maju ke dalam. mungkin agar tamu yang belum datang bisa kebagian tempat duduk jadi membiarkan kursi di sebelah kanannya kosong.
Asmara sedang asyik ngobrol dengan Ririn yang duduk di sebelah kirinya sambil nunggu acara akad di mulai.
Namun tiba tiba..
"Eh tuan Angkasa.?" Ucapan Ririn yang sepertinya menyapa seseorang membuat Asmara terkejut. Dia menoleh ke arah sebelah kanan dan matanya membelalak. Angkasa sudah duduk di sebelah dirinya.
@@@@@@@
author ttp konsisten...
hidup bollywood..💪
1 server qitahh...😉👄👄👄
jadi angkasa bisa melihat apa yg terjadi .... kau akan sangat2 menyesal telah memperkosa .. mempermalukan dan menyakiti hati wanita yg kau cintai angkasa ...