Hawa Hasnawi gadis penjual kripik singkong, yang dipaksa menikah dengan pemuda sombong, dingin dan angkuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon harsupi fakihudin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Akhirnya, Fariz Menemukan Hawa
Fariz akhirnya kembali keapartemen, dimana ia meninggalkan Hawa sendiri disana
Butuh satu jam lebih, ia menuju kekota Tangerang.
Fariz memasuki apartemen dengan keadaan sepi. Fariz membuka pintu kamar tamu yang tidak dikunci oleh penghuninya. Fariz mengabsen barang satu persatu
"Berarti benar, dia masih kuliah. Kenapa kemarin dia bilang akan berhenti kuliah. Tapi, kuliah dimana dia?"
Fariz meneliti semua barang barangnya milik Hawa, setelah puas dengan penelitiannya. Fariz pergi meninggalkan apartemen tersebut
-
Hari berikutnya, dipabrik
Tuying tuying
"Papi??" Fariz langsung menggeser ikon berwarna hijau "Hallo assalamualaikum pih"
"Waalaikumsalam Fariz.. Kau dimana? sibuk?" Anand disebrang sana
"Tidak, ada apa pih?" Padahal sibuk. Tapi biasa, jika urusan sama Anand ataupun Wahidah, Fariz akan menomor utamakan.
"Fariz, kalau tidak sibuk, datanglah kerumah sakit"
"Siapa yang sakit pih?!" Fariz langsung berdiri dari kursi kebesarannya
"Mamihmu"
"Mami sakit? sakit apa pih? rumah sakit mana?"
"Rumah sakit harapan sembuh. Entahlah, pusing tidak sembuh sembuh, mungkin darah tinggi"
"Yasudah, kalau begitu, Fariz akan meluncur kesana pih"
"Eh tunggu tunggu, selesaikan dulu urusanmu. Jangan tinggalkan jika itu urgent" Cegah Anand
"Tenang pih, Fariz kan sudah ada asisten"
"Ohh, bagus dong. Oiya... Sekalian, ajaklah istrimu kemari. Siapa tau, dengan kedatangan istrimu, mamih cepet sembuh"
"Hawa?"
"Iya... Kenapa? ada bersamamu kan?"
"Aduh Hawa... Dimana kamu"
"Fariz... Kau masih ada disana?" Panggil Anand lagi
"I iya pih, sudah dulu ya pih. Produksi membutuhkanku. Assalamualaikum"
Tut
"Anak jaman sekarang, ditanya malah main tutup hmm" Anand geleng geleng
"Gimana pih, apa Fariz mau datang kemari?" Wahidah
"Sepertinya"
"Kok sepertinya?"
"Lihat saja nanti mih"
-
Akhirnya Fariz menelepon Firad sahabat, sekaligus asisten pribadinya
"Firad, aku mau kejakarta. Tolong handle pekerjaanku"
"Fariz, apa ada sesuatu?" Ucapnya disebrang sana
"Iya, mamiku masuk kerumah sakit. Tolong handle ya?"
-
Didalam perjalanan, Fariz mengendarai mobil dengan bingung.
"Hawa.. Kamu dimana? ck, kenapa mami menanyai gadis itu. Bahkan, nomor ponselnya saja aku tak punya. Fariz Fariz, dasar bodoh. Ah, sebaiknya aku tunggu saja diapartemen, bukankah dia selalu pulang kesana" Fariz bermonolog
"Em, jika kubelikan sesuatu, kira kira apa ya?" Ucapnya sendirian
"Baiklah, apa ya kira kira? jangankan tau kesukaannya, ngobrol saja nggak pernah. Aduh, dulu Sis.. Akhh" Fariz memukul setirnya kesal. Fariz sudah tidak ingin kenal yang namanya wanita. Tapi karena Wahidah, mau tidak mau, ia harus mencari Hawa
Selama menjadi suaminya Hawa, Fariz belum pernah memberinya uang sepeserpun, bahkan hadiah saja, belum pernah ia berikan. Mas kawinpun, itu pemberian dari orang tuanya. Kebangetan kebangetan. Fariz pusing sendiri
Akhirnya, Fariz membelokkan mobilnya dihalaman toserba Sabar Subur Sekali.
Fariz berjalan, menuju pintu masuk toserba tersebut. Tak disangka tak diduga, ia melihat gadis yang sangat ia kenali, sedang tertawa riang dengan tukang ojek
Fariz akhirnya berbelok, dan berjalan, menuju gadis yang kali ini ia butuhkan
"Mari mbak, saya meluncur" Ucap Ucup tukang ojek makanan, yang mangkal didepan kedai Barudin
"Oke, hati hati ya mas" Jawab Hawa, dan langsung berbelok
Bluk
Hawa bertabrakan dengan dada seseorang
"Hawa / Abang" Ucap bersamaan
Hawa mau menghindar, tapi tangan Hawa langsung dicekal oleh Fariz
"Lepaskan tanganku, aku sibuk, aku tidak mau dipecat"
"Baiklah" Fariz langsung melepas tangan Hawa.
Hawa berjalan mendekati pemanggang, karena pekerjaannya belum selesai. Fariz berusaha sabar karena dia butuh
Fariz duduk disamping Hawa "Hawa" Bisik Fariz
"Hmm apa!"
Fariz menghela nafas "Aku ingin bicara denganmu penting" masih berbisik
"Ya sudah katakan, aku sibuk" Hawa fokus pada panggangan
Fariz mengusap mulutnya, berusaha mengontrol ucapannya, agar tidak lepas. Sekali lagi, karena dia butuh
"Mami sakit, kita disuruh kesana"
"Oh, karena itu kau mencariku?" Jawabnya datar
"Please Hawa, jangan keras kepala. Mami ada dirumah sakit sekarang"
Tangan Hawa masih sibuk dengan sostelnya "Bang Asep, ini pesenannya" Teriak Hawa
Asep situkang ojek makanan, maju mendekati Hawa "Oke mbak aku meluncur"
"Silahkan" Ucapnya pada Asep
"Hawa" Bisik Fariz kembali sambil gusar
Hawa memberi sostel dua tusuk untuk Fariz, biar tidak brisik "Ini makan dulu, aku lagi sibuk"
Lagi lagi Fariz menghela nafas "Hmm, aku lagi tidak lapar Hawa. Kenapa kau memberikan ini padaku. Ini makanan buat anak anak bukan buat orang dewasa sepertiku"
"Kalau tidak lapar mending diam"
Fariz melirik Hawa tak suka "Dasar keras kepala" Ucapannya masih didengar oleh Hawa
Hawa berbelok kearah Fariz
Cegut
Hawa menggigit sostel yang ia berikan pada Fariz "Ini makanan anak kecil ya? perasaan beberapa malam lalu, sostelku hilang satu. Berarti apartemen ada penunggunya ya? anak kecil hiiiiii" Hawa bergidik
Fariz tak menjawab, ia hanya menutup mulutnya dengan telapak tangannya
"Bang Idam, ini pesananmu" Teriak Hawa
"Siap mbak" Jawab Idam situkang ojek kenomor sekian, yang sudah bolak balik mendapat orderan
"Hawa... Selesainya kapan?" Fariz sudah tidak sabar
"Sabar, ini masih banyak ah brisik" Ucapnya enteng
Lagi lagi Fariz hanya bisa melirik Hawa tak suka, karena mengatakan brisik padanya. Padahal Fariz memang brisik
Daripada berantem, Fariz menunggu Hawa dengan sabar. Saking sabarnya, Fariz lupa, sostel yang katanya makanan buat anak anak, ia makan
"Mas, saya pesan jus jeruknya dong" Pintah Fariz pada Barudin
"Siap mas" Ucap Barudin "Wa, masih banyak orderan ya?"
"Iya Din" Jawabnya sambil menyeteples mika, dan terus memanggang
"Ini mas" Barudin menaruh jus pesanan Fariz, dimeja Fariz
Hawa berbelok pada Fariz, tapi tidak untuk bicara, melainkan minum minuman yang Fariz pesan
Glek glek
"Eh eh eh, itu minumanku" Tegur Fariz, tapi tetap disedot oleh Hawa
"Pesen lagi sana, aku haus" Hawa meletakkan gelas, yang isinya sudah kurang dari setengah
Fariz mengangkat gelas berisi jus jeruk yang sudah diminum oleh Hawa. Fariz hanya geleng geleng
"Mas, jus mangga" Pintanya pada Barudin lagi, tapi Fariz tetap meminum minuman bekas Hawa "hehh, makanannya bekas kamu, minumannya juga"
"Sudah kubilang aku haus" Hawa
"Kamu pesan sendiri kan bisa" Fariz
"Kelamaan" Hawa
"Ck maunya"
"Tenang, ntar kuganti" Hawa
"Bukan itu yang kuinginkan"
Hawa memandang Fariz "Lalu, apa yang kau inginkan?"
"Kita harus kejakarta. Sekarang"
"Kalau aku menolak"
"Kau tidak sayang dengan mami? kau juga lupa dengan kebaikan mami"
Hawa membungkuk agar bicaranya tidak didengar oleh orang lain "Aku tidak mau pergi dengan musuhku" Hawa mengangkat kepalanya, hingga Fariz mendongak
Mereka beradu pandang
"Kau menganggap aku musuh?" Tanya Fariz
"Kan dari dulu. Memangnya, kau menganggap aku apa? musuhkan?" Tantang Hawa
Hawa tetap sibuk dengan panggangannya
"Bang Adi, ini pesenanmu" Teriak Hawa "Kamu kurang tidak? ini sisa satu" Ucapnya pada Fariz
"Taruh saja, kan kamu yang akan bayar" Fariz
"Heh, cowok matre.. Kelaut"
"Terserah"
Lanjut lagi ya.....
BERSAMBUNG....
trenyuh aku..... banyu moto gak bisa mandek....
trenyuh aku..... banyu moto gak bisa mandek....