Ketika kenyataan tak seindah bayangan...
Mampukah Radit, sosok lelaki yang sudah berstatus duda dan Jenna, gadis yang selalu merasa dirinya terkekang dalam menentukan pilihan hidup mampu melawan restu yang bahkan enggan menghampiri.
Atau terus berjuang hingga titik darah penghabisan.
Atau berlari demi cinta mereka yang tak lagi mampu dipisahkan.
"Kenapa harus datang jika hanya memberi luka, kenapa hadir jika selalu memberi perih"
~Jenna~
"The girl who make my world like a rainbow"
~Radit~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Galau
Lima hari sudah Radit berada di Semarang, Radit setiap hari pasti selalu menyempatkan untuk menelpon Jenna di saat jam-jam kantor jika sedang tak begitu sibuk. Terlebih Jenna adalah salah satu customer servis yang tak mungkin menerima panggilan atau membalas chat di saat jam kerja kroditnya. Radit akan menghubunginya saat pagi di awal hari, saat makan siang atau jam tiga sore menjelang Jenna merapihkan pekerjaannya, dan pukul sembilan menjelang Jenna pergi tidur. Jenna bilang seperti minum obat belum lagi membalas pesan-pesan singkat yang berisi banyolan lelaki itu namun Jenna suka di perhatikan.
Namun seharian ini Radit tak menghubunginya, Jenna kembali galau. Sedangkan waktu menunjukkan pukul delapan malam, satu notifikasi dari pesan bahkan telpon di gawainya pun tak ada.
Jenna jadi galau, perasaan yang tak dia miliki saat bersama Raka jika lelaki itu tak memberikan kabar sedikitpun padanya. Berbeda dengan Radit, iya Jenna galau ... galau karena Radit begitu perhatian, begitu lembut bahkan memperlakukannya begitu manis. Jenna jadi galau akan semua perlakuan lelaki itu. Ketika sehari saja kabar tak Jenna terima maka pikirannya pun terbang kemana-mana.
Setelah makan malam, jenna memasuki kamarnya, membersihkan muka dan seperti biasa ritualnya sebelum tidur adalah memoles sedikit skincare di wajahnya. Lalu meraih gawai yang berada di atas nakas. Gadis itu mulai merebahkan dirinya, menarik selimut dan mengusap layar gawai.
"Mas Radit," gumamnya saat melihat panggilan telepon sebanyak 15 kali.
Jenna tersenyum, hatinya kembali berbunga-bunga. Hanya saja Jenna masih malu untuk memulai membalas panggilan telepon dari Radit.
"Telpon balik gak ya?"
Jenna menggeleng.
"Gak deh ... nunggu di telpon aja."
Jenna mengerutkan alisnya.
"Iya kalo telpon lagi ... kalo gak?"
Jenna mengusap layar gawainya.
"Duh kok galau gini sih ... telpon gak ya?"
Lagi Jenna ragu.
"Telpon aja deh ... tapi ntar ngomong apa?"
Jenna bolak balik merubah posisi tidurnya masih dengan perasaan ragu.
"Oke ... oke aku telpon, tapi ntar di kira nyariin, kan malu," Jenna tersenyum lalu menutup wajahnya dengan bantal. Ya, bantal terkadang menjadi saksi bisu saat kita sedih, senang, bahkan bahagia saat jatuh cinta.
"Oke ... cuek, aku telpon," gumamnya lagi, belum sempat Jenna menekan panggilan telepon ternyata Radit lah yang akhirnya menelpon kembali.
Sudut bibir itu mengembang, Jenna mengatup bibirnya.
"Mas Radit," gumam Jenna lalu menggeser layar pada lambang berwarna hijau.
"Na," ujar suara di seberang sana yang seharian ini dia tunggu.
"Ya, Mas ...."
"Telpon aku gak diangkat."
"Tadi lagi makan malam di bawah."
"Oh ... udah mau tidur?"
"Belom."
"Nungguin telpon aku ya,"
"Pede deh."
Terdengar suara tawa renyah Radit.
"Aku baru sampe," ucap Radit.
"Di hotel?" tanya Jenna.
"Baru sampe di Bangka."
"Kok udah di Bangka, Mas Radit bilang mau ke Jakarta dulu," pungkas Jenna.
"Udah di urus sama tim yang di sana, udah beres."
"Oh."
"Kok oh doang ... gak seneng ya aku pulangnya cepet," goda lelaki itu.
Jenna kembali menutup wajahnya dengan bantal. Gadis itu benar-benar dibuat gila oleh Radit.
"Seneng gak?" tanya Radit lagi.
"Hhmm."
"Hhmm?"
"Iyaa ...iya."
"Cieee ada yang kangen ... cieee."
"Apaan sih."
"Becanda Na," Radit terkekeh. "Besok ketemu yuk, mau?"
"Emang gak capek?"
"Gak ... mana ada kata capek kalo ketemu kamu."
"Ya ampun ...." Jenna menepuk jidatnya.
"Kok ya ampun ... serius aku pengen ketemu."
"Kamu hobi ya ngegombal gitu ... banyak aja alasannya."
"Haha ... baru sama kamu."
"Percaya aku," ujar Jenna menepuk-nepuk gulingnya.
"Jadi?"
"Apa?"
"Ish, ketemu besok ... aku jemput ya."
"Jangan ... aku aja yang dateng, aku ke tempat Mas Radit, eh maksud aku ke coffee shop Mas Radit."
"Yakin?"
"Yakin ... biar aku yang kesana."
"Ok ... aku tunggu."
"Tapi aku gak tau jam berapa ... karena harus ijin mama dulu," ujar Jenna dan Radit mengerti.
"Mimpi indah, Na."
"Mas Radit juga ... istirahat," ujar Jenna menggigit jari telunjuknya sambil tersenyum.
Jenna tidak pernah tahu akan apa yang terjadi besok, dia akan memikirkan bagaimana caranya besok dia bisa bertemu dengan Radit. Entah alasan apa yang akan Jenna pakai, atau meminta bantuan siapa agar ia bisa mendapatkan ijin dari Mama Kartina.
Jenna kembali tersenyum mengingat perbincangannya dengan Radit. Selalu saja membuatnya tersipu dan salah tingkah. Lucu, tapi itu yang Jenna rasa.
Sekedar mengingat saat dulu bersama Raka, Jenna merasakan kenyamanan yang sama seperti saat ini, tapi rasanya Jenna hanya merasakan itu sebentar hingga akhirnya Raka sibuk dengan pekerjaannya.
Raka, lelaki romantis, lelaki yang pertama kali menciumnya, lelaki yang pertama kali mengukir perjalanan cinta yang indah dan lelaki yang pertama kali menoreh kekecewaan pada dirinya. Tapi entah mengapa, tak sedikitpun ada rasa benci pada Raka, Jenna pikir mungkin karena dia masih mencintai lelaki itu namun lambat laun kehadiran Radit seakan menutup luka di hatinya mengikis perasaannya pada Raka. Radit yang penuh perhatian, Radit yang lucu, Radit yang selalu menawarkan dirinya menjadi teman cerita, Radit yang selalu berusaha selalu ada di saat kapanpun dia butuh. Dua lelaki yang sama-sama membuat Jenna sekali lagi menjadi galau.
Jenna menghela nafas, kembali ia memandangi bingkai poto di atas nakas itu.
"Semoga yang terbaik kamu dapatkan Ka, begitu juga dengan aku," gumamnya lalu memejamkan mata.
...----------------...
Matahari mulai tinggi saat Jenna menuruni anak tangga. Melihat Pak Sofyan, Mama Kartina dan Akbar sedang berbincang di ruang tengah.
"Mama gak liat kamu turun sarapan tadi."
"Jenna baru bangun jam delapan Ma," jawab Jenna.
"Ini sudah setengah 11 ngapain aja kamu di kamar gak keluar-keluar." Mama Kartina terlihat kesal.
"Jenna ada zoom dengan tim di kantor, karena gak memilih lembur di hari Sabtu jadi kita meeting via zoom," jawab Jenna.
"Duduk," ujar Pak Sofyan lembut. "Papa mau ngomong sesuatu," katanya lagi.
Jenna duduk di samping Pak Sofyan.
"Papa mau membicarakan pertunangan Akbar dengan salah satu anak gadis teman Mama."
"Tunangan?" tanya Jenna lalu menatap Akbar. "Abang sudah ketemu orangnya?" tanya Jenna pada Akbar dan Akbar mengangguk. "Abang suka?'
"Jenna," ujar Mama Kartina.
"Iya, maaf Ma."
"Abang udah setuju, Abang suka orangnya ... baik, dan seperti yang Abang mau," ujar Akbar.
"Ah ... syukurlah, Jenna harap semuanya berjalan baik-baik saja Bang," kata Jenna lagi.
"Jadi acara itu akan di lakukan satu bulan lagi, sembari Akbar dan calonnya saling mendekatkan diri," ujar Pak Sofyan.
"Jadi, kenapa Papa setuju dengan acara perkenalan kemarin dan pertunangan antara Akbar dan gadis itu, karena bibit bebet bobotnya sudah terlihat tapi sebelumnya Papa juga memastikan Akbar apakah suka dengan dia atau tidak, dan syukurnya Akbar suka. Papa rasa seiring waktu mudah-mudahan cinta akan tumbuh, bukan begitu Akbar?"
"Iya, Pa ... mudah-mudahan," kata Akbar melirik Jenna.
"Begitu juga dengan Jenna," Mama Kartina menyambung pembicaraan. "Setelah pertunangan Akbar mungkin akan menyusul pertunangan kamu dengan Raka, Mama rasa kalian sudah lama menjalin hubungan, tidak ada salahnya jika diresmikan."
"Tunangan?"
"Raka sama kamu baik-baik aja kan?" tanya Pak Sofyan.
***enjoy reading 😘
bantu Chida dengan like dan komen ya 😘***
dalem banget artinya
Pun patah hati, sering datang tanpa aba aba