Bella sudah berusia dua puluh delapan. Ia masih belum memikirkan soal pernikahan dengan siapapun. Namun, ketika adiknya dilamar orang lain ia dijodohkan dengan seorang yang bahkan tak ia kenal dan sama sekali bukan tipenya.
Bella si perfeksionis harus menikah dengan Aska si urakan. Lantas kehidupan Bella berubah drastis setelah pernikahan tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Etika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hidup yang Penuh Warna
Feri baru saja sampai Bandara. Ditemani Istrinya dan Citra, lelaki berusia lima puluh tahun itu menggendong tasnya.
Pesawat berangkat jam tiga sore, sedangkan ia sudah sampai di Bandara jam satu lebih sedikit. Baginya menunggu di Bandara lebih baik dari pada terlambat.
Delapan tahun lagi, batinnya. Tinggal delapan tahun lagi pengabdiannya kepada Negara akan berakhir. Meski agak berat, tetapi ia harus tetap patuh pada aturan. Selain itu, Feri juga cukup senang karena ia akan menghabiskan masa tuanya dengan berkumpul bersama Istri, anak-anak dan cucu-cucu, barangkali.
Membayangkan seperti itu membuat perutnya tergelitik. Bella yang tampak kuat dari luar, rupanya sangat penurut dari dalam. Meski Feri tahu jika Bella tak menyukai Aska, ya biar saja waktu yang bicara. Lagi pula banyak orang yang menikah bukan karena cinta, tapi bisa bertahan lama.
Bukannya ia tak sayang dengan anak pertamanya. Sejak lama, Feri menunggu anaknya membawa seseorang untuk dikenalkan. Namun tak ada kabar.
Sejak lulus SMA, Feri sudah membolehkan Bella untuk menjalin hubungan dengan siapaun, tapi tak ada pergerakan apa-apa dari anak pertamanya. Ketika usianya sudah lebih dari matang dan ia tak melakukan apa-apa, sudah saatnya Feri mengambil alih semuanya. Namun rupanya tak ada yang sia-sia.
Bella mau saja dinikahkan dengan Aska. Anak Niko yang katanya bandel bukan main meski usianya sudah sangat dewasa.
***
Bella memandang jalanan Jakarta yang kian siang kian semrawut. Membelakangi Aska yang sedang sibuk dengan Diana, ia memejamkan mata. Ia tak pernah memikirkan pernikahan macam ini. Membuat persetujuan di malam pertama untuk tak melakukan apapun di antara ia maupun Aska. Mengizinkan Aska untuk bertemu siapapun termasuk kekasihnya.
Dulu, Bella selalu mengidamkan pernikahan penuh cinta dengan Arya. Melewati malam pertama dengan indah. Olahraga setelahnya. Masak makanan untuk disantap bersama. Belanja bersama. Melakukan semua aktivitas bersama-sama. Memiliki anak tiga. Dua laki-laki dan satu perempuan.
" Ibu..."
Bella menoleh mendengar rintihan itu. Membalikkan badan, ia tatap lamat-lamat wajah Diana yang pucat pasi. Bibirnya kering meski Aska berusaha memberinya minum.
Ponsel di atas nakas berdering. Bella melihat Aska melirik panggilan itu. Dari jarak yang cukup dekat dengan nakas, Bella melihat nama Steven terpampang di sana.
Aska tampak mengabaikan panggilan itu dan terus mengompres Diana menggunakan air dingin. Kemudian ponsel di atas nakas berdering lagi, menampakkan nama yang sama. Aska masih tak peduli dengan panggilan dari Steven. Namun, kontak itu terus-menerus menghubungi ponsel di atas nakas sampai-sampai Aska terlihat kesal. Aska mengangkat panggilan itu.
" Hallo, Diana."
Aska diam saja. Ia meng-speaker panggilan yang sedang berlangsung kemudian meteletakkan ponsel di atas nakas.
" Diana, kemana aja sih kamu. Dihubungi susah banget. Kamu dimana sekarang? saya sudah di lokasi casting."
Aska geleng-geleng kepala mendengarnya, " Steven ini Aska..."
Belum selesai Aska bicara, Steven menginterupsi, " loh, Ka. Diana mana. Saya sudah punya janji sama dia."
" Diana sakit. Jangan ganggu dia buat sementara waktu."
Sambungan telepon dimatikan Aska secara sepihak. Tak lama, Steven menelpon lagi dan lagi. Kesal, Aska mematikan ponsel Diana dan memasukkan ponsel itu ke dalam laci.
" Siapa dia?"
Aska mengecek suhu tubuh Diana yang mulai menurun, " Manager pacar saya," tak sadar tiba-tiba ucapannya jadi formal kepada Bella.
Bella mengangguk paham, " dimana keluarganya?"
Aska diam saja. Ia tak menjawab apapun. Ia sendiri tak tahu keluarga Diana.
" Kayaknya dia kangen sama Ibunya."
Aska masih diam.
" Dia keliatan nakal dari luar tapi rapuh di dalam."
Aska mengelus rambut Diana lembut, " saya mencintainya lebih dari apapun."
Bella sanggup mendengar kalimat itu, meski Aska adalah suaminya. Tapi tak seperti itu etika yang benar, " kamu yakin?"
Kali ini Aska menatap mata Bella yang hanya dibalas dengan mengangkat bahu seolah mengatakan, " lupain aja deh".
" Saya cuma butuh waktu kamu dari jam dua sampai jam tiga lewat dikit lah. Setelah itu kamu bisa urus pacar kamu di sini."
Aska terkesan dengan Bella. Perempuan itu, meski tahu suami sahnya masih berhubungan dengan kekasihnya, sama sekali tak cemburu. Atas kemauannya sendiri, Aska mengangguk setuju.
" Tolong jaga dia sebentar, biar saya siap-siap."
Bella mengangguk mengiyakan. Mengambil alih tugas Aska dan membiarkan lelaki tiga piluh tahun itu mempersiapkan diri.
Bella jelas lebih tahu apa yang harus dilakukan untuk menghadapi situasi seperti ini. Ia meninggalkan Diana dan mencari sesuatu di dalam kulkas. Mengambil seikat bayam, ia menyipit dan meraih Flouxetine di dalam sebuah botol kecil.
Bella meletakkan obat itu lagi di tempatnya kemudian memasak sayur bayam. Setelah matang, ia langsung membawa ke kamar Diana. Tapi Diana tak sadar juga.
Aska sudah kembali dengan kaus oblong warna putih dan jeans hitam. Agak terkejut melihat sayur bayam sudah ada di atas nakas.
" Kamu masak?"
" Dia butuh makan."
Aska manggut-manggut. Ia mengambil posisi di sebelah Bella. Membuat perempuan itu berdiri dan bersandar pada tembok di sebelah nakas.
" Dia sakit apa?"
" Gejala tifus kata Dokter."
" Itu bukan gejala tifus."
Aska menautkan alis memandang Bella, " dia overdosis obat anti depresi."
" Tahu dari mana kamu?"
" Saya lihat Fluoxetine di kulkas. Dia tahu kan kamu menikah hari itu? Dia pasti kacau dan minum obat anti depresan melebihi dosis."
Aska makin tak paham dan bingung, " jadi apa yang harus saya lakukan?"
" Kamu bisa bawa dia ke rumah sakit supaya ditangani langsung."
Aska memejamkan mata. Kemudian memutuskan menelpon ambulans. Mereka pergi setelah Memastikan Diana ditangani dengan benar.
***
Bella bukanlah perempuan biasa. Di perjalanan menuju Bandara, Aska sesekali melirik Bella di kursi sebelahnya.
" Kamu nggak mau beli apa-apa buat Bapak saya?" tanya Bella memecah keheningan.
Aska langsung memarkirkan mobil di sebuah minimarket, dan keluar dari mobil tanpa mengajak Bella. Apa salahnya memberi hadiah ke mertua? anggap saja sebagai ucapan terimakasih karena Bella sudah memberi solusi yang benar untuk Diana.
" Nih, buat kamu!" Aska melempar sebungkus permen rasa jeruk nipis kepada Bella setelah selesai belanja.
Melajukan mobil dalam diam rupanya membosankan. Aska menguap, menyetel musik, menguap lagi dan lampu merah.
" Kamu beli apa buat Bapak?"
" Cokelat."
" Kenapa cokelat?"
" Biar nggak bosen aja di dalem pesawat."
Bella ingin tertawa, tapi tidak jadi, " kenapa kamu beli permen buat saya?"
" Anggap aja itu ucapan terimakasih saya karena kamu udah bantu saya."
Bella tak merespon lagi. Ia melihat jalanan Jakarta yang terik sekali. Sesekali melihat lalu-lalang orang-orang, pengamen, bus berhenti dan sebagainya. Hidup memang penuh warna, tapi sampai saat ini warna hidup Bella masih di dominasi oleh abu-abu.
Dan Bella masih berpikir begitu sampai tiba di Bandara.
***
sukses
.....semangat