fatimah azzahra yang kerap di panggil fafa atau patimah oleh teman dekat maupun orang lain. fatimah sudah 3 tahun nikah bersama Hengki Affandi.dari pernikahan itu belum juga mendapatkan seorang pun anak sampai ia di usir oleh suaminya.
beberapa tahun hengki dan fatimah berpisah dan gak pernah ketemu,di suatu hari hengki bertemu dengan fatimah dan kedua anak kembar fatimah dari pernikahan mereka.
apa kelanjutannya baca ajah yah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ridwan jujun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mulai berubah
Pagi ini keluarga Affandi sedang sarapan pagi bersama. Di sana Jihan terlihat menikmati sarapannya dengan tenang, begitupun Hengki beserta kedua orang tuanya.
20 mereka sarapan, mereka beralih ke ruang tamu untuk menikmati waktu weekend mereka dengan menonton televisi. Mereka hanya menikmati siaran berita yang memang sangat disukai keluarga itu ketimbang menonton sinetron.
"Mas," panggil Jihan lembut. Suaranya sudah terdengar seperti dulu lagi. Tak ada suara getir yang terdengar di indra pendengaran mereka yang duduk di sana.
"Iya, Sayang. Ada apa?" tanya Hengki menghadap sepenuhnya pada Jihan.
"Kita jalan-jalan yuk, Mas. Aku sumpek di rumah terus," pintanya tersenyum.
"Baiklah, mari kita jalan-jalan," jawabnya sambil mencubit kecil hidung mungil Jihan.
"Ma, Pa, aku pergi jalan-jalan sama Jihan dulu ya?" pamit Hengki yang duangguki Hendra dan Viola.
Hengki memutari kota Jakarta atas permintaan Jihan. Tak ada satupun tempat yang mereka kunjungi. Jihan yang ingin melihat apakah ada perubahan kota kelahirannya ini semenjak satu tahun tak pernah keluar rumah sejak kejadian dulu.
Jihan memerhatikan setiap jalan yang mereka lewati. Begitu banyak perubahan yang terjadi. Gedung-gedung pencakar langit sudah semakin banyak dibangun. Jihan tersenyum melihat perubahan tersebut.
'Nggak terasa sudah banyak perubahan pada kota ini,' batinnya.
"Sayang, kita nggak mampir ke mall? Mungkin kamu ada yang mau dibeli?" saran Hengki.
"Emm, boleh Mas, sepertinya bedak aku di rumah sudah hampir habis," balasnya.
Mobil yang dikendarai Hengki berhenti di sebuah Mall besar di kota itu. Ia mengandeng tangan sang istri menuju mall tersebut. Hengki tersenyum akhirnya istrinya bisa tersenyum seperti sebelumnya.
Tujuan pertama mereka ke tempat alat-alat kosmetik. Jihan memilih bedak yang biasa ia gunakan, juga mengambil lipstik dan teman-temannya. Saat dirasa cukup akhirnya mereka menuju kasir. Jihan tak mau membeli yang lain lagi setelah tadi Hengki tanya.
Mereka tiba di rumah pukul 13:00 siang. Mereka langsung melaksanakan kewajibannya sebagai umat Islam setelah itu baru maka siang bersama keluarga.
***
Hari-hari semakin berlanjut. Jihan sudah kembali seperti dulu lagi. Tak ada raut sedih dan penyesalan itu di wajah cantiknya. Senyuman selalu menghiasi wajah manisnya. Hari ini rencananya ia akan mengunjungi kantor sang suami untuk mengantar makan siang.
Rendang sapi kesukaan Hengki sudah siap dibuat Jihan. Sekarang ia sedang memasukkan ke dalam rantang tingkat bewarna biru langit itu. 'Semoga Mas Hengki senang dengan apa yang aku bawa hari ini,' monolognya sambil menatap rantang yang sudah siap ia isi.
Jihan melangkah menuju mobil yang tersedia di garasi. Ia bahagia akhirnya akan menginjakkan kakinya lagi di kantor Suaminya. Senyuman menghiasi perjalanan Jihan menuju perusahaan Suaminya.
29 menit perjalan akhirnya ia sampai di kantor. Jihan langsung berjalan menuju receptionist dengan rantang tingkat ditangan kanannya.
"Permisi Mbak, saya mau tanya, apa suami saya ada di ruangannya. Emm Masud saya pak Hengki," tanya Jihan yang melihat raut wajah receptionist itu berkerut saat mendengar ucapan suami dari mulut Jihan. Mungkin receptionis ini baru jadi dia tak mengenali siapa istri bosnya.
"Oo tunggu sebentar Bu, saya akan tanyakan pada sekretaris beliau," jawabnya.
"Baiklah,"
"Silahkan langsung menuju ruangan beliau, Bu, katanya Bapak menunggu anda di sana," jawab sang seceptionis itu setelah ia menelepon sekretaris atasannya.
"Terimakasih,"
"Sama-sama, Bu,"
Jihan melangkahkan kaki jenjangnya menuju ruang pujaan hatinya. Dengan langkah anggun ia berjalan menuju life karyawan. Bukannya Jihan tak mau menaiki lift khusus direktur, tapi ia lebih nyaman dengan life karyawan.
Sampai di depan ruangan Hengki, ia langsung masuk setelah dipersilahkan sekretaris Suaminya. Jihan dapat melihat suaminya sedang duduk dikursi kebesarannya sambil menutup matanya. Ia tak sadar jika pintu ruangannya sudah dibuka Jihan.
Jihan melangkah menuju suaminya lalu memeluk suaminya dari belakang. "Mas apa kamu capek?"
Hengki terkejut dengan tangan yang melingkar di bahunya. "Sayang, sejak kapan kamu disini?" Bukannya menjawab pertanyaan Jihan, Hengki malah balik bertanya.
"Baru saja, Mas. Apa kamu capek?" tanyanya lagi.
"Ya, sedikit Sayang,"
"Mau aku pijitin?"
"Nggak usah Sayang, kamu disini saja rasa lelah mas langsung hilang."
"Ihh, Mas gombal,"
"Nggak kok Sayang, mas serius,"
"Iyain deh biar senang,"
"Yasudah mari kita makan bersama,"
"Iya, Mas,"
Mereka makan bersama hingga makanan yang berasa dalam rantang tadi habis tampa sisa. Menikmati makanan bersama orang yang disayang sangat nikmat apalagi disertai kata-kata yang membuat hati berbunga-bunga. Itulah yang dirasakan Jihan saat bersama Suaminya.
Bersambung
walaupun singkat tapi mantap sekali 👍👍
teruslah berkarya dan sehat selalu 😘😘
makasih banyak kak thor 😘❤️