Cerita ini berawal dari seorang gadis cantik bernama Tari yang sedang melakukan KKN disebuah desa terpencil dipinggir laut. Ia bertemu dengan seorang pemuda yang sedang terjebak di desa itu karena mengalami amnesia.
Mereka pun akhirnya menjalin sebuah hubungan karena merasa saling menyukai, bahkan hubungan mereka sudah melampaui batas sampai Tari bisa hamil anak dari pemuda itu.
Tapi saat pemuda itu ingin mempertanggung jawabkan perbuatannya, ia ditemukan oleh keluarganya yang ternyata adalah pemilik kerajaan bisnis di kota J.
Dan lebih mengejutkan lagi ternyata ia sudah bertunangan dan sebentar lagi akan menikah, ia terpaksa meminta kakaknya yang sekaligus pewaris utama perusahaan keluarganya untuk menikahi Tari yang saat ini mengandung anaknya.
Bagaimana kelanjutan ceritanya??? ikuti terus yah novel ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Enni Chaka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lamaran
"Apa papa mengenalnya?" tanya Tari dengan raut muka yang masih nampak kaget.
"Siapa yang tidak mengenal Tuan Muda pertama keluarga Faresta, nak."
"Ayo silahkan masuk digubuk kami tuan muda," ajak papa Tari.
Zafran pun masuk setelah lebih dulu membungkukan sedikit badannya pada papa Tari.
Mereka duduk diruang tamu dipenuhi dengan banyak pertanyaan dikepala masing-masing. Zafran juga sepertinya pernah bertemu dengan papa Tari tapi ia tidak ingat lagi kapan dan dimana tepatnya apalagi papa Tari hanya sebagian kecil pengusaha dari kalangan menengah yang bekerja sama dengan perusahaannya.
"Mungkin tuan muda tidak mengenal saya tapi saya mengenal anda dengan baik karena anak perusahaan Faresta Grup pernah bekerja sama dengan perusahaan kecil kami," kata papa Tari memulai pembicaraan.
"Namaku Arif Irawan, tuan muda," kata papa Tari memperkenalkan diri.
"Senang bertemu dengan anda, tuan Irawan." Zafran membalas dengan wajah datar.
"Maafkan aku tuan tapi kedatanganku kemari justru untuk berkenalan lebih dekat dengan keluarga tuan Irawan," lanjut Zafran.
"Tuan muda jangan sungkan, aku bukan apa-apa dibanding tuan, aku merasa tidak enak kalau tuan muda terlalu merendah," lanjut papa Tari.
"Jangan berlebihan tuan karena aku juga hanya manusia biasa, sama seperti yang lainnya." Zafran masih terlihat dingin. Ia berbicara sangat datar tanpa ekspresi.
Tari dan kedua sahabatnya hanya mendengarkan sejak tadi. Tari sama sekali tidak menyangka kalau orang yang selama ini bersamanya dikampung sebagai anak dari pasangan sederhana bu Aminah dan pak Asep ternyata adalah laki-laki dari keluarga terkaya di kota J. Tapi ia sama sekali tidak perduli darimana laki-laki itu berasal, yang pasti saat ini ia sangat membencinya. Andai saja bukan karena anak yang dikandungnya sekarang butuh status, ia pasti akan pergi menjauh dari keluarga laki-laki itu.
"Kalau boleh saya tau tuan muda, ada apa gerangan yang membawa anda sudi mampir ke gubuk kami?" tanya tuan Arif. Tari yang mendengar papanya merendah sejak tadi merasa sangat kesal karena itu akan membuat Zafran lebih diatas angin.
"Aku datang kemari ingin melamar Tari, putri tuan Irawan." Tanpa berbasa-basi Zafran bicara sangat lantang. Membuat mama Tari yang baru datang dari dapur membawa minuman menjadi kaget sehingga menjatuhkan minuman yang dipegangnya.
"Mama kenapa?" Tari langsung berdiri menghampiri mamanya.
"Bi...bibi...," panggil Tari pada asisten rumah tangganya.
"Aku sudah bilang sama ibu non, biar aku saja, tapi ibu tetap mau membawanya sendiri," ucap Bi Imah.
"Mama hanya kaget nak mendengar perkataan tuan muda Faresta," jawabnya. Tari lalu memapahnya duduk di sofa tempat mereka berkumpul.
"Bikin minuman baru, Bi." Suruhnya pada Bi Imah.
Pembicaraan yang tadi sempat terhenti karena insiden yang dibuat oleh mama Tari, kembali berlanjut.
"Apa ucapan tuan muda tadi tidak main-main?" tanya tuan Irawan memastikan.
"Selama hidup aku belum pernah bermain-main dengan ucapanku tuan Irawan." Belum ada senyum yang terlihat dari wajah Zafran setiap ia berbicara tapi para pengusaha sudah sangat mengenal karakter tuan muda pertama keluarga Faresta sebagai direktur utama, termasuk tuan Irawan.
"Aku tidak bisa mempercayai ini tuan muda, keluarga kami sangat jauh dibawah dari keluarga Faresta," balas tuan Irawan. Ia seolah belum percaya dengan apa yang dikatakan oleh Zafran.
"Aku tidak pernah memandang perbedaan status dan semua keluargaku sangat menghargai keputusanku," jawab Zafran. Kali ini tuan Irawan tidak bisa lagi berkata apa-apa Ia sangat bahagia karena sebentar lagi putrinya akan menikah dengan laki-laki terkaya dinegaranya.
"Jadi apa tuan Irawan menerima lamaranku?"
"Tidak ada alasan untuk aku menolaknya tuan muda, aku yang harusnya berterima kasih karena tuan muda sudah sudi masuk kedalam keluarga kami," balas tuan Irawan sedikit menundukkan kepalanya.
Semua pengusaha kaya dinegaranya bahkan rela menyodorkan anaknya untuk dinikahi oleh pangeran keluarga Faresta tapi tidak ada respon yang mereka dapat dari para tuan muda itu. Dan sekarang bagai ketiban hujan emas, pangeran itu sendiri yang datang melamar anaknya. Bagaimana mungkin tuan Irawan bisa menolak.
"Aku akan menikahi Tari minggu ini juga, asistenku akan menyiapkan semua keperluannya. Tuan Irawan hanya perlu datang ketempat akad nikah nanti," ucap Zafran.
"Secepat itu tuan?" tanya tuan Irawan.
"Bukankah melaksanakan suatu niat baik itu akan lebih baik jika dipercepat?" Zafran balik bertanya pada tuan Irawan.
"Baiklah tuan muda, titah anda berarti perintah untuk saya," jawab tuan Irawan.
"Jangan seperti itu tuan Irawan, sebentar lagi saya akan jadi menantu anda. Saya paling tidak suka bagian dari keluarga saya terlalu merendah," ucap Zafran.
"Bersikaplah sewajarnya pada saya layaknya seorang ayah pada anaknya." Zafran berbicara lebih lembut kali ini.
"Om Irawan benar, apa ini tidak terlalu cepat kak Zafran?" Nara yang diam sejak tadi akhirnya buka suara. Ia sudah lebih bersikap baik pada Zafran sekarang dengan memanggilnya kakak. Bagaimanapun sebentar lagi Zafran akan menjadi suami sahabatnya, otomatis akan menjadi kakak iparnya juga.
"Asistenku bisa mengurus semuanya, kalian hanya perlu mempersiapkan diri masing-masing." Hanya itu jawaban Zafran untuk pertanyaan Nara tapi sudah bisa membungkam mulut Nara.
"Tapi maaf tuan Irawan, saya belum bisa mengadakan resepsi pernikahan saat ini. Seperti yang tuan ketahui, papa saya baru saja meninggalkan kami semua untuk selama-lamanya," ucap Zafran terlihat bersedih.
"Iya nak, saya sangat mengerti. Saya sempat melihat pemakamannya disiarkan oleh media kemarin. Saya sekeluarga turut berduka cita yang sebesar-besarnya untuk keluarga nak Zafran. Semoga keluarga Faresta diberikan ketabahan untuk menghadapi semuanya," balas tuan Irawan.
"Terima kasih untuk simpatinya tuan Irawan."
"Kalau tuan muda berkenan makan sianglah bersama kami dirumah ini sebelum pulang, ajak tuan Irawan.
"Terima kasih atas ajakannya tuan Irawan, tapi saya mohon maaf karena kali ini saya belum bisa bergabung memenuhi jamuan anda." Zafran menundukkan sedikit kepalanya.
"Lain kali kita akan lebih sering makan siang bersama," sambungnya.
"Anda benar tuan muda, kita akan lebih sering makan bersama nanti," balas tuan Irawan tersenyum.
"Kalau begitu berhenti memanggil saya tuan muda, bukankah sebentar lagi saya akan jadi anak tuan Irawan juga?" Kata-kata Zafran menghentakkan hati Tari, ia seperti penyejuk kegerahan hatinya saat ini. Ia tidak tau harus bahagia atau tidak karena orang yang akan menikahinya sekarang adalah bagian terdekat dari orang yang sudah menorehkan luka padanya. Sebuah luka yang memberi bekas untuk seumur hidup. Saat matanya mulai berkaca-kaca, ia segera menghapus bulir bening yang sudah lolos tanpa ia sadari. Ia tidak tahu kalau Zafran memperhatikannya dan ia sudah melihat setetes air mata Tari yang jatuh.
"Ya...ya...ya, nak Zafran." Tuan Irawan tidak berhenti menyunggingkan senyumnya. Mama Tari yang juga terdiam sejak tadi ikut tersenyum melihat suaminya begitu bahagia.
🤩 Maaf readers kalau mommy hanya bisa up satu bab sehari karena mommy masih fokus dinovel sebelah, maaf segala kekurangan mommy yah🙏😘
❤️ Jangan menolak sebuah kebaikan yang datang bertamu padamu, meski kebaikan itu berasal dari sebuah kesalahan karena tidak semua kesalahan berakhir buruk saat kamu sudah berniat memperbaikinya💙