AL harus pergi dari rumahnya karena di usir oleh orangtuanya, mereka lebih menyayangi adiknya ketimbang dirinya.
Meskipun begitu, ia tatap bangkit untuk bertahan hidup. Takdir berkata lain, ia mendapatkan sebuah sistem yang mengubah hidupnya dan membuat orang tuanya menyesal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
13
Tante Siska melangkah maju dengan tubuh gemetar. Air mata membasahi pipinya yang kuyu. Ia memegang lengan seragam Amirul dengan ragu.
"Nak... Nak Al... ini benar? Tapi, kenapa?" bisik Tante Siska lirih, suaranya tercekat di tenggorokan.
"Kami... Tante tidak tahu bagaimana harus mengganti uang sebanyak ini. Tante cuma pencari rongsokan, Nak..." ucapnya dengan suara gemeteran.
Al memegang lembut tangan Tante Siska.
"Tante tidak perlu memikirkan cara menggantinya. Anggap saja ini rezeki dari Tuhan untuk Jenny. Jenny itu siswi pintar, Tante. Sayang sekali kalau sekolahnya harus putus cuma karena masalah administrasi seperti ini," ucapnya sopan.
"Tapi ini terlalu banyak, Nak..." Tante Siska terisak, menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan yang kasar.
"Jangan terlalu memikirkannya," kata Al menepuk pundak buk Siska.
Al kembali menghadap meja TU. "Bagaimana, Bu Widya? Sudah selesai menghitungnya?"
Ibu Widya dengan cekatan menekan tombol-tombol di kalkulator besarnya.
Ia mendongak dengan senyuman yang jauh lebih ramah, bahkan lebih manis dari biasanya.
"Baik, total semuanya untuk tunggakan dan pembayaran enam bulan ke depan untuk Al, Saka, dan Jenny adalah... totalnya empat juta lima ratus ribu rupiah," ujar Ibu Widya.
Amirul langsung mengarahkan ponselnya ke code yang ada di atas meja lalu mengscannya.
"Ah, baik, Al. Terima kasih banyak. Ibu akan segera buatkan kuitansi resminya dan mencabut surat peringatan untuk Jenny," kata Buk Widya tersenyum. "Dan kamu juga jangan pernah nunggak lagi ya.
Tante Siska langsung lemas. Ia hampir bersujud di lantai ruang TU jika Al tidak dengan cepat menahan kedua bahunya.
"Jangan begini, Tante. Enggak enak dilihat Ibu Widya," kata Al sambil tersenyum hangat.
"Terima kasih, Nak Al... Terima kasih banyak. Kamu sudah menyelamatkan masa depan anak Tante. Tante akan pastikan Jenny belajar lebih giat lagi," ucap Tante Siska berkali-kali sambil menggenggam erat tangan Al.
"Sama-sama, Tante. Sampaikan salam saya untuk Jenny. Bilang padanya, jangan telat masuk kelas lagi," jawab Al.
Tepat setelah kuitansi dicap lunas oleh Ibu Widya, bel tanda masuk sekolah berbunyi nyaring.
Kringgggggg!
"Nah, bel sudah bunyi. Kami masuk kelas dulu ya, Bu Widya, Tante," pamit Al.
Ia menarik lengan Saka yang masih tampak linglung seperti zombi.
"Ah, iya, silakan. Belajar yang rajin ya, Al, Saka!" seru Ibu Widya dengan nada yang luar biasa ramah, perubahan sikap yang membuat Al membatin dalam hati betapa saktinya kekuatan uang.
Saat mereka berdua berjalan cepat menyusuri koridor menuju kelas, Saka terus-menerus menatap Al dari samping dengan pandangan menyelidik.
"Al," panggil Saka.
"Apa lagi, Ka?"
Saka yang sejak tadi menahan diri, akhirnya tidak bisa diam lagi. Ia menarik kerah belakang seragam Al, membawanya sedikit menjauh dari meja Ibu Widya.
"Al, gila ya kamu?! Kamu dapat uang dari mana sebanyak ini? Jangan bilang kamu habis merampok bank atau ikut pesugihan? Kemarin kamu bahkan minjam uangku lima ribu buat beli es teh!" bisik Saka setengah berteriak dengan penuh curiga.
Al terkekeh pelan melihat sahabatnya. "Sudah kubilang kan tadi di kantin, tenang saja. Uang ini seratus persen halal. Anggap saja aku baru dapat uang kaget."
"Uang kaget apa, kamu pikir ini seperti di tv-tv!" semprot Saka, masih tidak habis pikir.
"Uang ini adalah jalur rahasia," sahut Al asal, membuat Raka hanya bisa melongo frustrasi.
Saka hanya bengong saja.
Al menghela nafas. "Baiklah, sebenarnya aku itu main saham dan, mendadak saja hari ini aku dapat rezeki karena investasi ku lagi naik, makanya aku bisa abang SPP," kata Al tersenyum untuk menutupi kebohongannya itu.
"Wah, luar biasa sekali," puji Saka terkagum-kagum.
"Al," panggil Saka lagi.
"Mulai hari ini, aku memutuskan untuk tidak memanggilmu Al lagi."
Al menoleh, menaikkan sebelah alisnya. "Terus?"
Saka menegakkan tubuhnya, lalu membungkuk hormat dengan gaya yang dilebih-lebihkan. "Mulai hari ini, panggil aku pelayanmu, wahai Baginda Al sang Sultan Rahasia!"
Al tertawa lepas, menoyor pelan kepala sahabatnya itu.
Ternyata Menjadi kaya ternyata bukan hanya soal bisa membeli apa saja, tetapi juga tentang membantu orang lain dalam sekejap mata dan membuat mereka kembali tersenyum.