Langit malam menggantung pekat ketika langkah Viona tersandung di gang sempit napasnya memburu, jantungnya nyaris pecah saat suara tawa kasar para pria di belakangnya semakin dekat.
“Jangan lari, manis...kami cuma ingin bersenang-senang bersamamu...”
Air mata Viona jatuh tanpa suara hingga tiba-tiba, langkah lain memecah malam.
Satu sosok berdiri di hadapannya.
Bryan.
Tatapannya dingin, tajam, tak tersentuh. Dalam hitungan detik, teriakan berubah menjadi pekikan. Baku hantam tak terhindarkan, cepat, dan tanpa ampun.
Sunyi kembali turun saat para pria itu terkapar.
Dengan tubuh gemetar, Viona mendekat.
“Te-terima kasih...”
Namun Bryan bahkan tak menoleh lama padanya.
“Gak usah berlebihan,” ucapnya datar.
“Lekas pulang. Area ini bukan untuk gadis kecil sepertimu.”
Dingin. Jauh dari kata ramah. Tetapi sejak malam itu takdir mereka telah saling terikat satu sama lain. Mereka kerap tak sengaja bertemu di tempat yang sama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yogitha Ratnajyoti , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Langkah Baru Di Ambang Pintu Yang Tak Dikenal
Sore ini, setelah jam operasional coffee shop berakhir, Roy masih duduk di meja kasir sambil memperhatikan brosur yang diberikan Viona.
Ia mengenali logo perusahaan itu hanya dalam hitungan detik. Bagaimana mungkin tidak, perusahaan tersebut milik seseorang yang sudah menjadi rivalnya sejak masa SMA.
Roy menyandarkan tubuhnya ke kursi, tatapannya jatuh pada Viona yang sedang merapikan beberapa gelas di balik meja. Jujur saja, ia merasa ada sesuatu yang aneh dalam hatinya.
Terlalu kebetulan, terlalu tepat sasaran dan terlalu mendadak. Namun di sisi lain, ia juga tidak menemukan alasan untuk melarang Viona mencoba kesempatan itu. Karena jika dilihat secara objektif, lowongan tersebut memang jauh lebih baik daripada pekerjaannya saat ini.
"Vi..."
Viona menoleh,"Hm?"
"Kalau memang penasaran, coba aja datang..."
Viona terlihat ragu.
"Serius?"
Roy mengangguk.
"Anggap aja buat cari pengalaman..."
"Tapi kalau aku gagal?"
Roy tersenyum kecil.
"Ya pulang..."
Viona terkekeh.
"Kak Roy gampang banget ngomongnya ya..."
"Soalnya emang sesederhana itu..."
Roy lalu berdiri.
"Kalau keterima, bagus..."
"Kalau nggak keterima, hidup juga tetap harus berjalan kan..."
Perlahan Viona mengangguk ucapan Roy berhasil membuat beban di hatinya sedikit berkurang.
...****************...
Malam harinya di apartemen Viona kembali membaca brosur itu untuk kesekian kalinya. Di atas meja terdapat secangkir teh jahe hangat dan sebuah formulir lamaran yang sudah hampir selesai diisi.
Ia menatap langit malam di balik jendela, jantungnya berdebar. Bukan karena takut melainkan karena merasa gugup. Sudah lama sekali ia tidak mencoba sesuatu yang benar-benar baru.
"Aku harus coba dulu..." gumamnya pelan.
Dan malam ini, Viona akhirnya membuat proposal lamaran tersebut. Tanpa mengetahui bahwa seseorang sedang menunggu kabar itu.
...****************...
Keesokan paginya di ruang kerja utama Briliant Wijaya Group, Arlian masuk membawa tablet.
"Tuan..."
Bryan yang sedang menandatangani beberapa dokumen tidak mengangkat kepala.
"Ada apa?"
"Lamaran Viona sudah masuk."
Pulpen di tangan Bryan berhenti sesaat. Namun Arlian tetap menyadarinya.
"Begitu..."
Bryan kembali menandatangani dokumen berusaha terlihat biasa saja.
"Jadwalkan wawancara..."
Arlian mengangguk.
"Baik..."
"Tapi lakukan sesuai prosedur..."
Arlian sedikit terkejut.
"Tidak ada perlakuan khusus?"
Bryan mengangkat pandangan.
"Tidak." Jawabannya tegas.
"Kalau dia memang mampu, dia akan lolos dengan kemampuannya sendiri..."
...****************...
Dua hari kemudian Viona berdiri di depan gedung megah Briliant Wijaya Group. Tangannya menggenggam map berisi dokumen lamaran kerja Ia mendongak ke atas gedung itu jauh lebih besar daripada yang ia bayangkan.
"Ya ampun...gede banget..." gumamnya kagum.
Beberapa karyawan berlalu-lalang di sekitarnya. Semuanya terlihat profesional membuat rasa gugupnya semakin bertambah.
"Ayo, Viona..." Ia menarik napas panjang.
"Lakukan saja..."
Lalu ia melangkah masuk ke dalam gedung. Di lantai paling atas Arlian berdiri di dekat jendela melihat ke arah lobi melalui monitor keamanan.
"Tuan..."
Bryan yang sedang membaca laporan mengangkat kepala.
"Ya?"
"Dia sudah datang..."
Bryan terdiam Arlian tidak perlu menjelaskan siapa yang dimaksud karena mereka berdua sudah tahu.
Bryan meletakkan dokumen di mejanya, entah kenapa jantungnya berdetak sedikit lebih cepat daripada biasanya. Padahal ini hanyalah wawancara kerja biasa namun Bryan merasa gugup menghadapi sesuatu yang bahkan belum dimulai.
"Apakah Anda ingin melihat proses wawancaranya?" tanya Arlian.
Bryan menggeleng.
"Tidak..."
"Tuan yakin?"
Bryan berdiri lalu berjalan menuju jendela.
"Saya sudah bilang..." Tatapannya mengarah ke hamparan kota.
"Dia harus menjalani semuanya dengan kemampuannya sendiri..."
Namun setelah beberapa detik hening, Bryan kembali berbicara.
"Kalau sudah selesai..."
Arlian menahan senyum.
"Ya, Tuan?"
Bryan berdehem pelan.
"Laporkan hasilnya."
Kini Arlian benar-benar harus menahan diri agar tidak tertawa karena semakin hari, tuannya terlihat semakin tidak menyadari satu hal bahwa rasa penasaran yang selama ini ia sebut-sebut perlahan mulai berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih dalam.
Viona duduk di ruang tunggu sambil menggenggam map berisi dokumen-dokumennya. Meski berusaha tenang, jantungnya tetap berdebar kencang. Di sekelilingnya duduk beberapa pelamar lainnya.
Sebagian besar terlihat lebih berpengalaman, berpakaian formal dan tampak sangat percaya diri. Viona menunduk melihat CV miliknya, dibandingkan mereka, ia merasa dirinya biasa saja, hanya seorang barista dari coffee shop sederhana.
"Nomor antrean dua belas. Silakan masuk..." Suara petugas membuat Viona tersadar.
Ia menarik napas panjang. Kemudian berdiri.
"Ayo, Viona. Kamu pasti bisa!" gumamnya pelan.
Sementara itu, di lantai paling atas Bryan sedang mencoba fokus pada pekerjaannya. Namun beberapa kali netranya beralih ke jam dinding. Hal yang biasanya tidak pernah ia lakukan.
"Tuan..."
Arlian masuk membawa beberapa berkas, Bryan langsung mengangkat kepala.
"Sudah selesai?"
Arlian menahan senyum.
"Wawancaranya baru dimulai lima menit yang lalu tuan..."
Bryan terdiam lalu kembali membaca dokumen seolah tidak terjadi apa-apa. Namun Arlian sudah terlalu lama bekerja dengannya untuk tidak menyadari perubahan kecil itu.
...****************...
Di ruang wawancara, tiga orang pewawancara duduk berhadapan dengan Viona. Awalnya gadis itu terlihat gugup namun perlahan ia mulai lebih tenang hingga salah satu pewawancara membuka berkasnya.
"Anda bekerja sebagai barista selama beberapa tahun ini?"
"Ya..."
"Apa yang membuat Anda melamar ke posisi administrasi?"
Viona berpikir sejenak.
"Saya ingin berkembang lebih maju..."
Jawabannya sederhana dan jujur. Tanpa dibuat-buat.
"Apa Anda tidak nyaman dengan pekerjaan sekarang?"
Viona tersenyum kecil.
"Saya merasa nyaman..."
"Lalu kenapa ingin pindah?"
"Karena saya tidak ingin berhenti belajar untuk melangkah maju..."
Ruangan menjadi hening beberapa saat, jawaban itu terdengar tulus dan para pewawancara bisa merasakannya. Pertanyaan demi pertanyaan terus berlanjut.
Tentang pelayanan pelanggan, penyelesaian masalah, manajemen waktu dan berbagai situasi kerja lainnya meski tidak memiliki pengalaman korporat.
Viona mampu menjawab dengan cukup baik berdasarkan pengalaman kerjanya sehari-hari. Hampir satu jam kemudian, wawancara akhirnya selesai Viona pun akhirnya membungkuk dengan sopan pada para pewawancara.
"Terima kasih atas waktunya..."
Kemudian ia keluar dari ruangan, begitu pintu tertutup, ia langsung mengembuskan nafas panjang.
"Ya Tuhan..."
Ia merasa lututnya hampir lemas namun setidaknya ia sudah mencoba. Apa pun hasilnya nanti dia terima. Tak jauh dari sana Arlian menerima laporan dari tim HR dan beberapa menit kemudian ia masuk ke ruang kerja Bryan.
"Tuan..."
Bryan meletakkan pulpen.
"Bagaimana?"
"Dia sudah selesai..."
Bryan berusaha tetap terlihat santai.
"Hasilnya?"
Arlian membuka tablet.
"Menurut tim HR, cukup baik."
Bryan menunggu.
"Dia tidak punya pengalaman kantor, ck sayang sekali..."
"Lalu?"
"Tapi kemampuan komunikasinya sangat bagus..."
Bryan terdiam. Arlian melanjutkan.
"Dan hampir semua pewawancara menyukai kejujurannya..."
Sudut bibir Bryan sedikit terangkat sangat tipis. Hampir tidak terlihat namun Arlian berhasil melihatnya.
"Kalau begitu lanjutkan prosesnya..."
"Baik, Tuan..."
Sementara itu Viona berjalan keluar dari gedung perusahaan. Perasaannya campur aduk, gugup, lega dan sedikit khawatir. Saat sedang menunggu kendaraan di depan gedung, ponselnya bergetar nama Roy muncul di layar.
"Halo, Kak Roy..."
"Gimana?"tanya Roy tanpa basa-basi.
Viona tertawa kecil.
"Aku masih hidup kok, tenang aja hehehe..."
Roy ikut tertawa.
"Berarti nggak separah itu ya wawancaranya..."
"Aku nggak tahu hasilnya nanti gimana, pasrah aja lah apapun hasilnya nanti..."
"Nggak usah dipikirin banget ya..."
Roy berjalan keluar dari ruang kantornya dan menuju coffee shop sambil menelepon.
"Yang penting lo udah berani nyoba..."
Viona tersenyum sejak awal, Roy selalu mendukungnya. Tidak pernah berusaha menahannya, tidak pernah membuatnya merasa bersalah karena ingin berkembang.
"Makasih ya, Kak..."
"Untuk apa?"
"Udah nyemangatin aku..."
Roy hanya tersenyum kecil.
"Tugas teman..."
Sore ini saat Viona kembali ke apartemen, ia sama sekali tidak menyadari bahwa seseorang sedang berdiri di balkon lantai atas.
Bryan baru pulang dari kantor tanpa sengaja melihat Viona memasuki gedung sambil membawa map wawancaranya. Untuk beberapa saat, Bryan hanya memperhatikannya dari kejauhan. Kemudian ponselnya bergetar yang tak lain pesan dari tim HR masuk.
"[Kandidat Viona lolos tahap wawancara dan direkomendasikan ke tahap akhir.]"
Bryan membaca pesan itu beberapa detik lalu menyimpan kembali ponselnya. Di bawah sana, pintu lift tertutup dan Viona menghilang dari pandangan.
Sementara itu, Bryan merasa langkah mereka berdua semakin dekat meski Viona belum mengetahui satu hal. Bahwa pemilik perusahaan tempat ia melamar kerja selama ini ternyata adalah pria yang tinggal beberapa lantai di atas unit apartemennya sendiri, pria yang pernah menolongnya malam ity.
...****************...
Pagi hari di coffee shop milik keluarga Pratama berjalan seperti biasa. Viona sedang menyusun beberapa cangkir di rak swketika ponselnya bergetar. Awalnya ia tidak terlalu memperhatikan.
Mengira itu hanya pesan promosi atau notifikasi biasa namun ketika melihat layar, ia langsung membeku. Nomor tidak dikenal, Viona ragu-ragu beberapa detik sebelum mengangkatnya.
"Halo?"
"Selamat pagi. Apakah saya sedang berbicara dengan Saudari Viona?" Suara pria paruh baya terdengar ramah dan profesional.
"Iya, benar..."
"Saya Rahmat Ardianto dari Departemen Sumber Daya Manusia Briliant Wijaya Group..."
Netra Viona langsung membulat, jantungnya berdegup lebih cepat tanpa sadar ia berdiri tegak.
"Baik, Pak..."
"Saya menghubungi Anda terkait proses rekrutmen yang telah Anda ikuti beberapa hari lalu..."
Viona menelan salivanya susah payah, tangannya mulai berkeringat.
"Ya, Pak..."
Pak Rahmat tersenyum kecil di balik telepon.
"Kami ingin mengucapkan selamat..."
Dunia seolah berhenti beberapa detik, Viona bahkan tidak menyadari Roy yang baru keluar dari ruang kantor sedang memperhatikannya.
"Se...selamat?"
"Anda dinyatakan lolos proses seleksi..."
Mata Viona membelalak benar-benar membelalak, tak percaya.
"Benarkah, Pak?"
"Tentu..." Suara Pak Rahmat terdengar hangat.
"Tim kami menilai Anda memiliki potensi yang baik untuk berkembang lebih maju..."
Viona hampir tidak percaya dengan apa yang didengarnya.
"Terima kasih banyak, Pak..."
"Kami juga ingin memberitahukan bahwa Anda dapat mulai bekerja lusa."
"Lusa?"
"Iya. Besok akan digunakan untuk proses administrasi akhir dan pengenalan lingkungan kerja. Selamat bergabung bersama kami..."
Viona mengangguk berkali-kali meski lawan bicaranya tidak dapat melihatnya.
"Baik, Pak. Terimakasih banyak, Pak..."
"Kami akan mengirimkan detail lengkap melalui email..."
"Terima kasih banyak, Pak..."
Setelah panggilan berakhir, Viona masih berdiri diam beberapa detik. Beberapa puluh detik sampai akhirnya ia pun berteriak kegirangan.
"Aaaaaa!"
Ia langsung menutup mulutnya sendiri. Beberapa pelanggan menoleh, Roy yang sedari tadi mengamati dari kejauhan langsung menghampiri.
"Ada apa?"
Viona menatapnya dengan mata berbinar.
"Aku diterima!"
Roy tersenyum meski sebenarnya ia sudah menduga hasilnya.
"Serius?"
Viona mengangguk cepat.
"Pak Rahmat dari HRD tadi telepon..."
Roy mengacak pelan rambutnya.
"Tuh kan..."
"Aku nggak nyangka..."
Wajah Viona benar-benar dipenuhi kebahagiaan. Bukan karena gajinya, bukan karena perusahaan besarnya, melainkan karena untuk pertama kalinya ia merasa kerja kerasnya dihargai.
...****************...
Siang hari ini kabar tersebut juga sampai ke meja kerja Bryan. Pak Rahmat sendiri yang mengirimkan laporan akhir dan Arlian membawa dokumen itu masuk ke ruang kerja.
"Tuan..."
Bryan mengangkat kepala.
"Sudah diputuskan?"
"Ya..."
Arlian menyerahkan berkas.
"Pak Rahmat merekomendasikan penerimaan penuh..."
Bryan membaca laporan tersebut, seluruh penilaian berasal dari tim HR. Tidak ada campur tangannya sama sekali dan hasilnya tetap sama.
Viona lolos entah kenapa hal itu membuat Bryan merasa lebih puas karena berarti kemampuan gadis itu memang diakui, bukan karena bantuan siapa pun.
"Lusa mulai bekerja..."
Arlian mengangguk.
"Benar, Tuan..."
Bryan menutup berkas itu.
"Bagus..."
Hanya satu kata namun Arlian melihat perubahan kecil di wajah tuannya. Perubahan yang jarang sekali muncul.
...****************...
Malam harinya Viona duduk di balkon apartemennya, secangkir cokelat hangat berada di tangannya, angin malam berhembus pelan, senyum kecil belum hilang dari wajahnya sejak pagi. Ponselnya kembali bergetar, pesan dari Alvania masuk.
"[Dengar-dengar ada yang dapat pekerjaan baru nih?]"
Viona tertawa kecil sebelum membalas pesan whatsapp dari kakaknya.
"[Makasih Mbak, doain semuanya lancar ya besok...]"
Viona menggeleng sambil tersenyum. Tak lama kemudian ponselnya kembali berbunyi.
"[Iya sayang pasti. Aku bangga sama kamu, Vi...🥰]"
Kalimat sederhana itu membuat mata Viona sedikit berkaca-kaca. Sudah lama sekali tidak ada yang mengatakan hal seperti itu padanya. Ia mengetik balasan pelan.
"[Makasih, Mbak...🥺]"
"[Aku akan bekerja lebih keras lagi...]"
Di saat yang sama beberapa lantai di atasnya, Bryan berdiri di dekat jendela apartemennya. Tangannya memegang secangkir kopi hitam, ta poptapannya tanpa sadar mengarah ke balkon yang diterangi lampu hangat.
Ia tidak bisa melihat wajah Viona dengan jelas namun ia tahu gadis itu ada di sana. Dan sejak pencarian panjang itu dimulai, mereka akan berada di tempat yang sama setiap hari.
Bukan sebagai orang asing yang saling mencari melainkan sebagai atasan dan karyawan. Meski Bryan sendiri belum menyadari bahwa keputusan yang tampak sederhana itu perlahan akan mengubah kehidupannya dengan cara yang tidak pernah ia perkirakan.
BERSAMBUNG.