Aira dan Baskara sama-sama tidak menginginkan perjodohan kedua orang tua mereka, tapi mereka memiliki kesamaan, yaitu enggan mengecewakan kedua orang tua yang sangat mereka hormati.
***
Janji masa lalu Hendra dan Gunawan untuk menjodohkan anak-anak mereka menjadi awal baru yang tak terduga bagi Aira dan Baskara.
Awalnya, Aira dan Baskara berpikir bahwa pernikahan adalah hal sederhana dan mudah. Namun, ternyata semua tidak sesederhana yang dibayangkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NonaAns, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12 : Menguak Tabir Kebenaran
Aira dan Baskara saling tatap. Gurat-gurat kelelahan tampak jelas di wajah keduanya. Baskara membuang napas kasar. Ia tampak ingin meluapkan emosinya, tapi semua terhenti di tenggorokan. Baskara tercekat. Kedua tangannya mengepal kuat. Tiba-tiba matanya berkaca-kaca. Ia menatap Aira lekat-lekat.
"Aku ingin mendengar penjelasanmu," ucap Aira tegas.
"Aku tidak melakukannya," jawab Baskara dengan suara bergetar.
Hening.
"Hanya itu?" tanya Aira.
"Aku bisa menceritakan setiap detailnya padamu, tapi aku tidak mau kamu hanya percaya dengan cerita yang kususun. Aku mau kamu percaya karena kamu meyakini satu hal. Yakin ... kalau aku tidak pernah mengkhianatimu."
Baskara menjeda sejenak ucapannya. Ia kembali menatap Aira, kali ini sorot matanya begitu teduh dan sulit diartikan. Ia pun berkata, "Jika kau yakin akan hal itu, aku rasa sudah cukup."
Baskara membuang pandangan ke arah lain. Ia berjalan lemas menuju ke kamar mandi. Kran air menyala deras. Dapat dipastikan jika Baskara mengguyur seluruh tubuhnya di sana.
Sementara itu, sejak tadi Aira mati-matian menahan tangisnya. Kini air matanya tumpah. Ia tahu beban berat yang sedang dipikul suaminya. Aira masuk ke kamar, lalu duduk di atas ranjangnya. Ia tahu, masalah ini menyangkut Baskara, tapi bagaimana pun juga kini Aira sudah menjadi istri sah Baskara. Artinya, masalah yang menimpa suaminya juga sudah menjadi masalahnya.
***
Baskara sudah pergi ke kantornya pagi-pagi benar. Hari ini, Aira sengaja meminta izin pada Genta untuk bertukar jaga dengan rekan dokter lainnya. Pagi ini, Aira berpikir ingin menemui Kolonel Haryo untuk membantu Baskara menyelesaikan masalahnya.
Tanpa sepengetahuan Baskara, Aira memohon izin pada ajudan Kolonel Haryo untuk bertemu dengan komandan suaminya. Setelah menunggu sedikit lama, Aira akhirmya dipersilahkan masuk.
Kolonel Haryo sedikit terkejut saat melihat Aira ada di kantornya.
"Saya terkejut Dokter Aira sampai ke sini," ucap Kolonel Haryo.
"Izin, Komandan, saya datang kemari berkaitan dengan masalah yang menimpa suami saya. Tentang vidio viral yang melibatkan suami saya, Lettu Baskara dan putri Anda, Jelita."
Kolonel Haryo membuang napas kasar. Ia mempersilakan Aira duduk di sofa kantornya dan mulai memperhatikan pendapat Aira dengan saksama.
"Saya datang bukan untuk membela suami saya. Saya datang hanya untuk menanyakan kebenarannya. Karena selain Anda adalah komandan suami saya, Anda juga ayah dari Jelita. Orang yang terlihat dirugikan dalam vidio viral itu."
"Jujur saja, Jelita masih sulit dimintai keterangan. Emosinya tidak stabil," ucap Kolonel Haryo.
Aira mengangguk. Memahami situasi dan kondisi yang dialami oleh Jelita setelah vidionya viral.
"Saya paham kondisinya, Komandan. Namun, ada hal yang masih mengganjal untuk saya pribadi yang membuat saya memberanikan diri menemui Anda."
Kolonel Haryo mengerutkan dahi. "Apa itu?"
"Izin, selama ini yang menjadi bukti pergunjingan dan ribut-ribut hanyalah sebuah vidio berdurasi beberapa menit. Vidio yang belum bisa terkonfirmasi kebenarannya. Vidio yang sudah memunculkan banyak tanggapan dan spekulasi.
"Menurut pendapat saya, kehamilan bukan sesuatu yang bisa dibuktikan hanya dengan sebuah pengakuan. Ada cara ilmiah yang dapat membuktikan jika seseorang benar-benar sedang mengandung, yaitu dengan pemeriksaan medis," ucap Aira tegas.
Kolonel Haryo membulatkan mata. Ia tampak terkejut usai mendengar ucapan Aira. Seolah ada hal yang baru saja teringat seketika yang selama ini ia lewatkan.
"Jadi, maksud Anda ...."
"Jika Jelita benar-benar hamil, dia pasti akan melakukan pemeriksaan medis untuk membuktikan jika ucapannya benar. Dalam hal ini, bukan vidio atau pengakuan Jelita yang saya tanyakan, tapi ... apakah Jelita sudah melakukan pemeriksaan medis terkait kehamilannya? Apakah ada tes uji kehamilan sebelumnya dengan tespack?"
Kolonel Haryo terdiam. Ia tidak berpikir ke arah sana sebelumnya. Ia pun segera menegakkan posisi tubuhnya dan menatap Aira dengan saksama.
"Jika Anda ingin sebuah kebenaran, maka itu yang utama harus Anda lakukan, Komandan."
"Saya belum bisa menjawab soal ini. Saya harus mencari dulu hasil pemeriksaan itu, Dok."
Aira bangkit dari duduknya. "Maaf, saya sudah mengganggu waktu Anda. Saya percaya Anda akan melakukan yang terbaik untuk menguak kebenarannya. Saya percaya Anda termasuk komandan yang bijaksana. Sebagai isteri Baskara, saya berharap masalah ini cepat selesai. Saya rasa Anda juga demikian. Saya permisi."
Usai Aira meninggalkan kantornya, Kolonel Haryo pulang lebih awal. Ada hal yang ingin segera ia buktikan.
Rumah dinasnya terlihat sepi. Wina pergi rapat dengan ibu-ibu ketua Persit lain. Jelita tidak ada di kamarnya. Kolonel Haryo melihat kesempatan. Ia masuk ke kamar Jelita. Ia mulai menggeledah isi almari pakaian Jelita, laci meja belajar, hingga tas milik putrinya itu.
Saat Jelita selesai mandi, ia terkejut melihat Kolonel Haryo ada di dalam kamarnya dan lebih terkejut saat melihat kamarnya berantakan.
"Papi apa-apaan? Kenapa kamarku berantakan?" tanya Jelita dengan nada meninggi.
Kolonel Haryo menghentikan aktifitasnya. Ia menatap Jelita yang sedang berdiri di muka pintu.
"Mencari bukti," jawab Kolonel Haryo tegas.
"Bukti apa?"
"Jika kamu benar-benar hamil, coba tunjukkan pada papi buktinya."
Jelita mengerutkan dahi. Heran dengan ucapan sang ayah.
"Bukti apa lagi? Buktinya jelas!" ucap Jelita tanpa melihat kedua mata Kolonel Haryo. Ia berjalan menghindari bertatap muka dengan sang ayah.
"Buktinya jelas? Apa yang kamu maksud vidio yang viral itu? Bukan itu, Nak. Hasil pemeriksaan kehamilan. Kamu sudah memeriksakan secara medis kehamilanmu itu?" tanya Kolonel Haryo wajahnya penuh pengharapan. Ia masih berharap putrinya terbuka.
Jelita diam. Ia mengeringkan rambut seraya menatap ke cermin.
"Ya, jelas Lita udah periksa, tapi hasilnya,kan, nggak penting juga buat diumbar. Cukup Lita yang tahu," ucap Jelita tegas.
"Nak, pemeriksaan itu penting. Sini, coba berikan pada papi. Papi mau lihat."
"Enggak!"
Penolakan keras dilakukan oleh Jelita. Gadis itu memasang badan dan kembali marah-marah tidak jelas. Hal itu membuat kepala Kolonel Haryo kembali pusing. Ia mengusap wajah dengan kedua tangannya frustrasi saat Jelita mulai mendorongnya keluar dari kamar dan mengunci pintu kamarnya lagi.
Disaat itu, Wina yang baru saja pulang, terkejut melihat sang suami tampak frustrasi duduk sendirian dan terdiam di kursi ruang keluarga.
"Ada apa, Mas?" tanya Wina pelan.
"Apa kau tahu, Jelita sudah memeriksakan kehamilannya atau belum?"
Wina terkejut. Ia mengerutkan dahi bingung.
"Aku tidak tahu soal itu. Kenapa tiba-tiba membahas soal pemeriksaan kehamilan?"
Kolonel Haryo membuang napas kasar. "Justru inilah poin penting yang aku lewatkan. Jika saja istri Baskara tidak menemuiku tadi, mungkin sampai sekarang aku masih meminta anak itu untuk mengaku. Kehamilan itu dapat dibuktikan dengan pemeriksaan. Seharusnya kita lakukan sejak awal, Wina," ucap Kolonel Haryo.
"Bagaimana dengan Jelita, apa dia sudah punya bukti pemeriksaan itu?"
Kolonel Haryo mengangkat bahunya. "Entahlah. Jika membahas masalah ini, emosinya tidak terbendung."
Wina diam sejenak. Ia menatap suaminya, lali menggenggam tangannya. "Aku tahu ini mungkin buruk, tapi bagaimana kalau ternyata putri kita benar-benar hamil, Mas? Biasanya ibu hamil memang suka marah-marah karena perubahan hormon. Emosinya tidak menentu."
Kolonel Haryo terdiam sejenak. Banyak hal yang ia pikirkan, ingin rasanya ia mendekati sang putri untuk berbicara empat mata dan dari hati ke hati, tapi melihat emosi sang putri, sepertinya itu sulit.
***
"Kayaknya lo istirahat aja dulu. Lo nggak fokus, Ra," ucap Sinta saat melihat Aira baru keluar dari ruang kerja Genta.
Untuk pertama kalinya Genta memarahi Aira habis-habisan lantaran Aira kurang teliti melihat hasil rontgen pasien anak yang mengalami jatuh. Aira meminta pasiennya pulang karena tidak ada patahan tulang pada hasil rontgen pasien.
"Kenapa tidak kamu konsultasikan dulu pada Dokter Ortopedi? Pasien akan setia menunggu hasilnya! Kenapa tidak berkonsultasi terlebih dahulu dengan Dokter Chandra? Mereka sudah terlanjur pulang! Hubungi lagi! Sampaikan kalau anaknya butuh operasi segera!" ucap Genta dengan nada tinggi.
Aira mengembuskan napas panjang. Ia meminta waktu sejenak pada rekannya untuk mencari angin. Mengumpulkan kembali fokusnya yang tercecer. Aira mengernyit manakala ia melihat Kolonel Haryo datang ke rumah sakit. Ia tidak mengenakan seragam, melainkan pakaian casual biasa.
Aira cepat-cepat berlari menghampiri.
"Selamat malam, Kolonel. Ada janji dengan dokter atau akan menjenguk orang yang sakit?" tanya Aira ramah.
Kolonel Haryo tersenyum. "Saya sengaja datang untuk menemui Anda, Dokter," ucap Kolonel Haryo sopan.
Aira mengernyitkan dahi. "Menemui saya?"
"Bisa kita bicara sebentar? Empat mata," pinta Kolonel Haryo.
Aira terdiam sejenak sebelum akhirnya mengangguk setuju. Aira mengarahkan Kolonel Haryo untuk duduk di cafetaria rumah sakit agar pembicaraan terasa lebih intens. Setelah memesan dua gelas kopi, Kolonel Haryo pun membuka pembicaraan.
"Jelita bersikeras sudah memeriksakan kehamilannya, tapi dia tidak mau memberikan hasilnya pada saya. Anehnya, saya tidak menemukan hasil pemeriksaan itu dimana-mana," kata Kolonel Haryo. "Saya jadi sedikit curiga ... ada yang disembunyikan oleh Jelita," lanjutnya.
Aira terdiam.
Kolonel Haryo membuang napas kasar. "Jika memang hamil, kenapa sulit sekali dimintai hasil pemeriksaannya. Dokter Aira ... bolehkah saya meminta bantuan Anda?" tanya Kolonel Haryo.
Nada bicaranya penuh harap.
"Apa itu, Komandan?"
Kolonel Haryo terdiam sejenak. Ia tampak menimbang-nimbang, sedikit ragu, tapi ia harus mengatakannya.
"Bagaimana jika Anda menemui putri saya," ucap Kolonel Haryo.
Aira mengernyit. "Saya?"
Kolonel Haryo mengangguk. "Ya. Saya tidak meminta Anda untuk memeriksanya. Saya hanya ingin Anda mengajaknya bicara."
Aira sejenak berpikir. Ia ingin membantu memulihkan nama Baskara. Inilah saatnya, batin Aira.
Aira mengangguk mantap. "Baiklah, Komandan. Saya setuju," jawab Aira tegas.
Kolonel Haryo pun berpamitan dengan Aira. Aira mengantarkan kepergian Kolonel Haryo sampai ke lobi rumah sakit.
Dari kejauhan, Baskara melihat pertemuan singkat itu. Napasnya memburu. Rahang kokohnya mulai mengeras. Saat melihat Kolonel Haryo pergi, cepat-cepat Baskara berlari menghampiri Aira.
Aira terkejut saat Baskara menarik tangannya dan memutar tubuh Aira agar menghadap ke arahnya.
"Kenapa bertemu Komandan? Untuk apa Komandan menemuimu di sini tanpa sepengetahuanku?"
______________________