Diusir keluarga karena hamil di luar nikah dan ditinggalkan pria yang menghamilinya, Kemala bertahan hanya demi satu alasan, yaitu bayinya.
Namun dua hari setelah melahirkan, putranya menghilang tanpa jejak.
Takdir mempertemukannya dengan Bastian Rothmere, pewaris keluarga konglomerat yang sedang putus asa mencari ibu susu bagi seorang bayi yang kehilangan ibu kandungnya.
Sebagai imbalan, Bastian berjanji membantu mencari putra Kemala yang hilang.
Namun tinggal di kediaman Rothmere justru menyeret Kemala ke dalam perang dingin keluarga kaya raya. Terutama ketika istri sah Bastian terang-terangan menolak keberadaan sang bayi pewaris.
Di tengah rahasia, ambisi, dan perebutan kekuasaan yang semakin berbahaya, Kemala mulai menyadari bahwa hilangnya putranya mungkin bukan sekadar kebetulan.
Hingga suatu malam, Bastian menghantam meja rapat dan berkata dengan suara dingin,
“Siapa pun yang berani menyentuh pewaris Rothmere atau anak Kemala, akan kubuat menyesal telah dilahirkan!”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon N A R I, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13. Prioritas Seorang Pewaris
"Jadwal kamu mulai hari ini berubah."
Kemala yang sedang melipat selimut kecil Nathan langsung menoleh. Di ambang pintu, Bastian berdiri dengan sebuah map hitam di tangannya. Setelan jas gelap yang dikenakannya membuat pria itu terlihat sama kaku dan dingin seperti biasanya.
Kemala segera berdiri. "Ada yang salah, Pak?"
"Tidak ..." Bastian masuk beberapa langkah ke dalam ruang bayi. "Nathan menunjukkan perkembangan yang baik."
Kemala mengembuskan napas lega. "Syukurlah."
"Karena itu mulai hari ini kamu akan ikut seluruh jadwal perkembangan Nathan." Bastian menjelaskan maksud dari perubahan jadwal yang dimaksudkan tadi.
Kemala mengerjap bingung. "Maaf, saya kurang mengerti."
"Kamu tidak hanya bertugas sebagai ibu susu lagi." Bastian meletakkan map di atas meja. "Kamu akan mengikuti konsultasi dokter, jadwal terapi, dan perkembangan kesehatannya."
Bastian menjelaskan tujuan dari perubahan jadwal itu.
Kemala menatap pria itu beberapa saat. "Saya?"
Bastian hanya mengangguk pelan, tetapi begitu tegas.
"Tapi saya tidak punya pengetahuan tentang itu," ucap Kemala yang ragu apakah dirinya mampu.
"Kalau tidak tahu, pelajari." Bastian menjawab singkat langsung membuat Kemala langsung menunduk.
"Baik, Pak."
Bastian sebenarnya sudah hendak pergi. Namun tatapan pria itu sempat jatuh pada buku kecil yang selalu dibawa Kemala.
"Apa itu?" tanya Bastian penasaran.
Kemala terlihat gugup. "Oh... ini hanya catatan saya."
"Catatan apa?" Bastian semakin penasaran.
"Saya mencatat kebiasaan Nathan," jawab Kemala sambil membalik tiap lembar catatannya.
Bastian mengulurkan tangan. "Boleh saya lihat?"
Kemala menyerahkan buku itu. Ketika Bastian membuka catatan wanita muda itu, ekspresi pria dengan setelan jas gelap itu sedikit berubah. Setiap halaman penuh tulisan tangan. Tertulis rapi di dalamnya jam menyusu, jam tidur, suhu tubuh, dan waktu Nathan terbangun. Bahkan kebiasaan kecil seperti posisi favorit bayi itu saat digendong. Semua jelas terlihat tercatat rapi.
Bastian menutup buku itu perlahan. "Kamu membuat semua ini?"
Kemala mengangguk. "Saya takut lupa."
"Takut lupa?" tanya Bastian yang menyadari bahwa tulisan rapi itu bukan sekedar karena takut lupa.
"Saya belum pernah mengurus bayi sebelumnya." Kemala tertunduk saat mengatakan kalimat itu.
Kalimat itu membuat dada Kemala terasa sesak. Kemala memang sudah melahirkan seorang bayi, tetapi memang belum pernah merasakan bagaimana merawatnya. Karena putra wanita desa itu sendiri tak sempat Kemala rawat.
Bastian mengembalikan buku itu tanpa komentar. Jelas Bastian merasakan sesuatu saat Kemala langsung kembali tertunduk saat menerima kembali buku catatannya. Bastian menatap Kemala jauh lebih lama dari biasanya.
Beberapa jam kemudian, Kemala duduk di ruang konsultasi dokter Keluarga Rothmere. Di depan wanita berwajah polos itu terpampang grafik perkembangan Nathan. Dokter menunjuk beberapa angka.
"Berat badannya naik cukup baik."
Kemala mengangguk serius. Mata wanita ayu itu benar-benar fokus ke arah grafik di depannya.
"Ini grafik pertumbuhannya."
Kemala kembali mencatat. Memperhatikan setiap detail yang dokter itu perlihatkan.
"Kalau suhu tubuhnya naik lagi bagaimana, Dok?" tanya Kemala yang menyadari kejadian demam Nathan bisa kembali lagi.
"Segera laporkan."
"Kalau dia muntah?" tanya Kemala lebih dalam tentang cara menangani hal-hal yang krusial untuk Nathan.
"Catat frekuensinya."
"Kalau–" seakan masih begitu banyak pertanyaan dalam benak Kemala. Namun itu semua tak sempat keluar ketika mendengar respons dokter yang lebih cepat.
Dokter tersenyum. "Ibu Kemala tenang saja. Tidak semua harus dipelajari sekaligus."
"Maaf." Kemala tersipu malu.
Dokter melirik Bastian yang duduk di ujung meja. "Dia jauh lebih serius daripada sebagian pengasuh profesional yang pernah saya temui."
Bastian tak menjawab. Namun terlihat jelas mata pria itu kembali tertuju pada buku catatan di tangan Kemala. Wanita itu menulis tanpa melewatkan satu kata pun. Seolah hidup Kemala bergantung pada informasi tersebut.
Menjelang sore, Nathan mulai rewel. Tangis kecil memenuhi ruang bayi. Salah satu babysitter mencoba menggendong Nathan. Nathan justru semakin menangis. Babysitter kedua mencoba membantu. Tetap saja, Nathan masih sama rewelnya.
Kemala yang baru masuk ruangan langsung menghampiri. "Ada apa?"
"Sejak tadi tidak mau diam, Bu."
Kemala mengulurkan tangan. "Boleh saya coba?"
Begitu Nathan berpindah ke pelukan wanita desa yang sudah tampak lebih sehat dari pertama kali masuk ke kediaman Rothmere itu, tangis Nathan perlahan mereda. Ruangan langsung sunyi. Dua babysitter saling pandang.
"Kok bisa?"
Kemala sendiri tampak bingung. Wanita ayu itu hanya mengusap punggung kecil Nathan dengan lembut.
"Anak baik ...."
Nathan menguap kecil lalu kembali tenang.
Salah satu babysitter tersenyum kagum. "Bu Kemala memang hebat."
Wajah Kemala langsung memerah. "Saya tidak hebat."
"Tapi Nathan selalu tenang dengan Ibu."
Kemala menunduk. Tangannya mengelus rambut halus Nathan. Kalimat dari babysitter itu justru membuat hati Kemala perih. Nathan selalu tenang jika bersama Kemala.
Namun anak kandung wanita itu sendiri entah berada di mana, tak bersamanya. Apakah ada yang menggendong bayi mungil Kemala saat menangis? Apakah ada yang menyelimuti bayi yang dibuang dunia itu saat kedinginan?
Kemala buru-buru menghentikan pikiran yang terus berputar-putar itu. Kemala harus kuat dan yakin kepada Bastian yang sudah berjanji untuk mencari anaknya yang hilang. Walaupun Kemala mengetahui Bastian merupakan orang yang begitu sibuk, tetapi Kemala masih yakin bahwa pria serius itu tak akan mengingkari janjinya.
Sore hari, Bastian menerima laporan dokter.
"Perkembangan Nathan sangat baik," ucap dokter setelah memberikan laporan kepada Bastian.
Bastian mengangguk. "Teruskan pemantauan."
"Saya rasa pengaruh terbesar bukan obat-obatan." Dokter tersenyum tipis.
"Maksud Anda?" Bastian mengangkat alis.
"Bu Kemala," jawab dokter singkat.
Bastian terdiam karena sama sekali tak berekspektasi terhadap jawaban dokter itu.
Dokter melanjutkan. "Bayi prematur membutuhkan rasa aman. Dan Nathan terlihat menemukan itu."
Setelah dokter pergi, Bastian memandangi laporan di tangannya cukup lama. Bastian mulai teringat bagaimana Kemala mencatat segala hal tentang Nathan. Padahal wanita itu datang ke rumah ini bukan untuk menjadi ibu Nathan. Namun perhatian yang diberikan oleh wanita desa itu terkadang melebihi pengasuh yang digaji mahal.
Malam mulai turun. Ruang bayi jauh lebih tenang. Nathan akhirnya tertidur setelah menyusu. Kemala duduk di dekat boks bayi sambil merapikan catatan hari itu.
Pintu ruangan terbuka. Bastian melangkah masuk dengan langkah tenang. Melihat kedatangannya, Kemala segera bangkit dari duduknya.
"Maaf, Pak."
"Duduk saja."
Kemala kembali duduk perlahan. Bastian berdiri di dekat boks bayi. Nathan tertidur pulas. Untuk beberapa saat tak ada yang berbicara. Suasana terasa aneh. Biasanya selalu ada dokter, perawat, atau pelayan. Kini hanya mereka berdua.
Kemala memecah keheningan lebih dulu. "Nathan mirip Bapak."
Bastian menoleh. "Menurutmu begitu?"
"Iya."
Kemala tersenyum kecil. "Matanya."
Bastian memandang putranya. Belum pernah ada yang mengatakan itu. Semua orang selalu menyebut Nathan sebagai pewaris Rothmere. Penerus keluarga, aset masa depan yang harus benar-benar dijaga. Namun tidak pernah ada yang memperlakukannya hanya sebagai seorang bayi. Seperti yang dilakukan Kemala.
"Dia anak yang kuat," kata Kemala pelan.
Bastian mengangguk. "Dia memang harus kuat."
"Saya rasa dia tidak harus kuat." Kemala menatap Nathan.
"Maksudmu?" Bastian mengernyit.
"Dia hanya perlu tumbuh dengan sehat."
Jawaban sederhana itu membuat Bastian terdiam. Dalam waktu lama, Bastian merasa seseorang melihat Nathan bukan sebagai pewaris. Melainkan sebagai anak kecil yang berhak dicintai.
Bastian kemudian melangkah keluar ruangan. Tepat sebelum keluar ruangan, Bastian membalikkan badannya kembali ke arah Kemala.
“Kami sudah sedikit menemukan petunjuk untuk menemukan bayimu,” ucap Bastian.
Terasa menerima angin segar setelah sekian lama, Kemala terkejut. “Benarkah Pak?”
“Aku sudah memerintahkan untuk mempercepat penyelidikan, kamu bisa lebih tenang dan lebih fokus di sini.” Bastian melanjutkan.
Kemala yang sudah mendekat ke arah Bastian tertegun. “Terima kasih Pak Bastian, sungguh. Walau saya tahu Pak Bastian sangat sibuk, tapi tetap mencoba mencari anak saya,” ujar Kemala yang sedikit meneteskan airmatanya.
“Aku sudah berjanji padamu,” jawab Bastian singkat sambil menepuk pundak Kemala. Lalu kemudian keluar dari ruangan Nathan.
Di bagian lain kediaman. Madam Eleanora berdiri di depan layar monitor. Nathan terlihat tertidur. Kemala masih berada di dekat boks bayi.
Seorang pria paruh baya berdiri di belakang Madam Eleanora. Kepala keamanan keluarga.
"Bagaimana perkembangan penyelidikan Bastian?"
"Tim Tuan Bastian mulai menemukan jejak mantan perawat itu, Madam."
Eleanora tak langsung menjawab. Tatapan wanita tua itu tetap tertuju ke layar. "Kapan?"
"Mungkin dalam beberapa hari lagi bisa ditemukan."
Eleanora tak merespons kembali. Cukup lama Eleanora terdiam menatap layar di depannya. Beberapa saat, suara Eleanora terdengar pelan.
"Perlambat."
Pria itu terkejut. "Madam?"
"Saya tidak bilang hentikan."
"Tapi–"
"Saya bilang perlambat."
Ruangan mendadak terasa dingin. Pria berjas hitam gelap itu menunduk.
"Baik, Madam," jawab kepala keamanan kediaman Rothmere itu lalu berjalan keluar ruangan Eleanora.
Eleanora kembali melihat monitor. Tatapan wanita dengan gaun aristokrat itu berhenti pada Kemala.
"Nathan membutuhkan wanita itu. Dalam kondisi seperti sekarang, eksistensi Kemala dalam hidup Nathan lebih penting daripada apa pun. Aku tidak ingin perhatian Kemala terbagi."
Menjelang tengah malam. Nathan sudah tertidur. Kemala masih membereskan beberapa catatan. Bastian yang baru keluar dari ruang kerjanya itu, menyempatkan untuk ke ruang Nathan sebelum kembali ke kamarnya.
"Kamu belum tidur?"
"Oh." Kemala mendongak.
Wanita yang tengah duduk itu melihat jam dinding. Sudah hampir tengah malam.
"Saya belum selesai mempelajari apa yang dokter katakan."
"Kamu bisa melakukannya besok."
Kemala tersenyum tipis. "Tapi saya ingin menyelesaikannya hari ini."
Bastian memperhatikan wajah lelah wanita itu. Lingkar hitam di bawah matanya masih terlihat. Tubuh wanita itu juga belum benar-benar pulih.
"Kamu terlalu memaksakan diri."
Kemala menggeleng. "Saya baik-baik saja."
Bastian tahu itu bohong. Namun pria itu tak membahasnya. Sebagai gantinya, Bastian mengatakan sesuatu yang bahkan dirinya sendiri tak rencanakan.
"Terima kasih."
Kemala membeku.
"Untuk Nathan."
Hanya dua kata itu yang keluar dari mulut Bastian. Kata sederhana itu cukup membuat tenggorokan Kemala terasa sesak. Selama ini Kemala hanya dianggap masalah, bahkan di keluarganya sendiri. Beban dan aib yang begitu hina yang tak pernah menghargai wanita berambut hitam lurus itu oleh keluarganya.
Kini seseorang mengucapkan terima kasih dengan tulus. Seperti tanaman kering yang hampir mati disiram air segar, begitulah Kemala saat ini.
Bastian berbalik pergi. Meninggalkan Kemala yang masih duduk diam dengan mata sedikit berkaca-kaca.
Tak lama kemudian, Kemala keluar dari ruang bayi. Koridor kediaman sudah sepi. Kemala hendak kembali ke kamar ketika seorang pelayan tua menghampirinya.
"Nona Kemala."
Kemala menoleh.
"Ya?"
Pelayan itu terlihat gelisah. Matanya bergerak ke kanan dan kiri. Memastikan tak ada siapa pun.
"Saya tidak tahu apakah saya seharusnya mengatakan ini atau tidak ..."
"Ada apa?" Kemala mulai bingung.
"Saya hanya tidak tega melihat nona." Pelayan tua itu mendekat.
"Apa maksudnya?" Jantung Kemala berdebar.
"Tuan Bastian benar-benar sedang mencari anak Anda." Pelayan itu memelankan suaranya.
“Iya, saya juga sudah mendengar dari Pak Bastian,” ujar Kemala penasaran dengan maksud pelayan tua tersebut.
Pelayan itu mengangguk. Namun wajahnya justru semakin pucat. "Tapi ...."
Kemala menelan ludah. "Tapi apa?"
Pelayan tua itu tampak ragu. Seolah sedang mempertaruhkan sesuatu. "Ada seseorang di rumah ini yang sepertinya tidak ingin anak nona ditemukan."
Dunia Kemala seolah berhenti. "Apa?"
"Dan saya rasa–"
Terdengar dari kejauhan suara yang sangat dikenali oleh semua pelayan di kediaman Rothmere. Suara ujung tongkat menghantam lantai marmer. Pelayan tua itu langsung pucat pasi. Pelayan tua itu mundur satu langkah.
Kemala menoleh.
Di ujung koridor yang panjang, Madam Eleanora sedang berjalan mendekat dengan ekspresi tenang dengan langkah yang membuat semua pelayan gemetar melihatnya. Pelayan tua itu segera membungkuk. Lalu pergi terburu-buru tanpa berani berkata apa-apa lagi.
Kemala membeku di tempat. Jantung wanita ayu dengan wajah lelahnya itu berdetak keras. Sementara sosok Madam Eleanora terus berjalan mendekat. Kemala sedikit menundukkan kepalanya. Ketika Madam Eleanora melewatinya, segera muncul sebuah pertanyaan yang membuat bulu kuduknya meremang.
Siapa sebenarnya orang yang tidak ingin putranya ditemukan?
Like+ bunga🌹 , semangat thor ✍️
kalo berkenan mampir juga y😉