Jiang Qiuye, putri tabib Jiang begitu sedih setelah tahu bahwa dirinya bukanlah putri kandung dari orang yang telah membesarkannya selama lima belas tahun.
Apalagi saat ia tahu bahwa ayah kandungnya tidak menginginkannya bahkan tega membuangnya begitu saja.
Untuk itu Qiuye berusaha agar bisa masuk ke dalam istana dan berharap mendapatkan informasi mengenai dirinya dan keluarga aslinya itu.
Akan tetapi perjuangannya tidak lah mudah, Qiuye harus menghadapi berbagai macam rintangan. Bahkan ayah kandungnya yang telah mengetahui bahwa dirinya masih hidup pun, menjadikannya sebagai buronan istana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novi niajohan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13. Menginterogasi
Kediaman Keluarga Guan.
Setelah selesai menghadiri pesta ulang tahun putri Xu yang singkat itu, Guan Yu bersama dengan pengawal Xin memasuki sebuah ruang rahasia di dalam kediamannya demi suatu urusan.
Ia menemui seseorang yang sudah berhasil dicari oleh pengawal Xin dan ditahan didalam ruang rahasia ini.
"Jadi kau adalah tabib yang melayani Permaisuri melahirkan lima belas tahun yang lalu?" tanya asisten Xin mewakili Tuannya yang duduk tenang medengarkan.
"B-benar Tuan, t-tapi apa salah hamba Tuan? Hamba hanya seorang tabib biasa," ucap Tabib wanita tua itu terbata-bata karena takut.
"Kau hanya tabib biasa? Lalu kenapa bisa melayani persalinan Permaisuri Liu?" selidik Xin.
"H-hamba memang diminta untuk melayani persalinan Permaisuri oleh seseorang di istana," jawab Tabib itu.
"Seseorang dari dalam istana? Siapa?" cecar Xin kembali.
"H-hamba tidak tahu T-tuan," jawabnya menunduk.
"Jangan berbohong!" kecam Xin mengunuskan pedangnya kearah tabib.
"A-ampun Tuan, hamba benar-benar tidak tahu," jawab tabib apa adanya.
"Xin," ucap Guan Yu membuka mulutnya. Menahan agar asistennya itu tidak melewati batas.
Xin lantas menarik pedangnya, namun tidak melepaskan pandangannya kepada si tabib.
"Bibi ... Aku berjanji akan melepaskanmu asalkan kau bicara jujur padaku," ucap Guan Yu.
"B-baik Tuan," jawab Tabib.
"Apa saja yang kau ketahui selama persalinan Permaisuri Liu?" tanya Guan Yu.
"Waktu itu hamba hanya tabib pembantu dan hamba bertugas membersihkan tuan putri saja," balas tabib.
"Lalu? Siapa lagi yang membantu persalinan Permaisuri?"
"Hamba dan tabib Nan," jawab tabib.
"Tabib Nan?"
"Iya, setahu hamba dia adalah tabib baru yang menggantikan Tabib Jiang," balas tabib.
"Apa lagi yang kau ketahui? Maksudku, apa ada hal aneh atau lainnya?" tanya Guan Yu.
"Yang hamba ingat sewaktu permaisuri melahirkan, bayinya sama sekali tidak menangis. Bahkan saat hamba membersihkannya," jawab Tabib.
"Lalu?"
"Lalu ada yang berbeda pada putri tidak seperti bayi pada umumnya," ucap tabib.
"Apa yang berbeda?" tanya Guan Yu.
"Rambutnya ... Rambutnya seperti emas," jawab tabib.
"Lalu ceritakan ada kejadian apalagi?"
"Hamba mengantarkan tuan putri kepada kaisar song, tapi kaisar pergi sambil membawa putri entah kemana bersama tabib Nan. Sedangkan hamba kembali ke ruangan permaisuri untuk membersihkan sisa-sisa persalinan, lalu kaisar Song tiba dan membawa bayi lain yang berbeda dari sebelumnya," jawab tabib.
"Lalu?"
"Hamba diantar kembali ke desa setelah selesai membantu persalinan permaisuri, lalu seseorang memakai pakaian tertutup memberi hamba sekantung uang. Dan berkata agar tidak menceritakan apapun perihal persalinan permaisuri," jawab tabib.
"Hmm, baiklah." Guan Yu menghentikan interogasi dan meminta Xin mengantar tabib pulang ke desanya.
"Bagaimana Tuan?" tanya Xin setelah selesai memberi perintah kepada anak buahnya untuk mengantar sang tabib ke desa.
"Setahuku Tabib Jiang pernah mendiagnosis permaisuri, permaisuri telah terkena racun saat diawal kehamilan. Namun Kaisar tidak percaya karena melihat permaisuri baik-baik saja, tapi tabib Jiang bersikeras jika kandungan permaisuri sudah bermasalah dan akan mengakibatkan permaisuri celaka."
"Setelah kejadian itu Kaisar yang merasa tidak puas memerintahkan agar mencari tabib lain, lalu muncullah tabib Nan. Tabib Nan berkata bahwa permaisuri baik-baik saja dan kandungannya tidak bermasalah. Kaisar lalu murka pada Tabib Jiang karena dianggap membuat berita palsu dan mengusirnya dari istana, bahkan gelar kebangsawanannya telah dihapus dan menjadi tabib biasa," tutur Guan Yu menjelaskan semua yang ia ingat semasa remaja dulu.
"Lalu kenapa saat lahir kaisar Song malah membuang putrinya sendiri? Padahal dia tahu jika kandungan permaisuri tidak bermasalah," tanya Xin merasa aneh.
"Entahlah, namun ayah pernah berkata kalau kaisar Song telah termakan hasutan peramal. Putri yang asli dianggap pembawa sial dan putrinya itu akan menjadi penyebab kematiannya," jawab Guan Yu.
"Benar-benar tidak masuk akal, kaisar Song percaya pada takhayul seperti itu."
"Jelas ini adalah permainan orang dalam, namun motifnya apa? Kita masih belum tahu."
"Lalu apa yang akan anda lakukan?"
"Pertama, cari tahu informasi dan data-data mengenai tabib Nan. Kirim semuanya padaku secepat mungkin," titah Guan Yu.
"Lalu selidiki racun apa yang terkait dengan masalah ini, kerahkan semua mata-mata kita dari barat, selatan, utara maupun dari timur. Bahkan negara tetangga jika perlu," titah Guan Yu.
"Baik Tuan," balas Xin bergerak cepat.
...----------------...
Ruang istirahat khusus tamu keluarga Huang.
"Nona muda Huang, Putra Mahkota ingin bertemu dengan anda," ucap Bibi Lan memberitahu.
"Kenapa harus pakai ijin? Biarkan putra mahkota masuk," ucap Nona muda Huang.
"Salam hormat pada Putra Mahkota," salam hormat Nona Huang begitu Putra Mahkota memasuki ruangannya.
"Berdirilah," pinta Putra Mahkota.
"Baik," patuh Nona muda Huang. Lalu meminta Putra Mahkota untuk duduk.
"Bibi, tolong suguhkan minum dan beberapa cemilan manis," titah Nona Huang pada Bibi Lan.
"Tidak perlu repot-repot, aku kesini hanya sebentar."
"Ada perlu apa Yang Mulia?" tanya Nona muda Huang.
"Sebenarnya aku hanya ingin melihat keadaanmu, dan memastikan kondisimu baik-baik saja," balas Putra Mahkota.
"Hamba baik Yang Mulia," balas Nona muda Huang.
"Syukurlah kalau begitu, aku lega mendengarnya. Karena bagaimana pun juga kau adalah adik sahabatku, dia tidak akan memaafkanku jika terjadi sesuatu padamu di istana ini," balas Putra Mahkota.
Jenderal muda Guan Yu, putra Mahkota dan kakak Nona Huang yaitu Huang Li Tse adalah sahabat dekat. Mereka dijuluki tiga pangeran tampan dari istana.
Huang Li Tse merupakan sarjanawan terkenal dinegara ini, dan saat ini ia sedang melanjutkan studinya di negara asing. Huang Li Tse sempat menitipkan adiknya pada Putra Mahkota selama ia pergi, bahkan sempat menjodohkan mereka berdua.
"Ku dengar kau sedang sakit, maka dari itu aku datang kesini," ucap Putra Mahkota.
"Hamba sudah baikan, karena ada tabib Qiuye yang senantiasa menjaga hamba," balas Nona Muda Huang.
"Jadi begitu, oh iya mana tabib kecil itu. Aku ingin berterima kasih karena keberaniannya hari ini," ucap Putra Mahkota mencari.
"Setelah peristiwa tadi, tabib Qiuye mengurung dirinya dikamar. Hamba rasa ia masih syok dengan kejadian yang baru saja ia alami," jawab Nona muda Huang.
"Kau benar, perilaku Xu Er memang sudah keterlaluan. Semua orang pasti trauma jika mengalami hal serupa," ucap Putra Mahkota mengerti lalu. "Aku mewakili Xu Er meminta maaf pada kalian," sambungnya kemudian.
"Tidak perlu meminta maaf, hamba mengerti kenapa tindakan Putri Xu seperti itu. Karena ia merasa terhina saat hamba menolak keinginannya," ucap Nona muda Huang.
"Ah sudah lupakan saja masalah yang terjadi hari ini, yang terpenting kau baik-baik saja dan jika ada kesempatan ajak tabib Qiuye bertemu denganku besok. Aku ingin berterima kasih padanya secara langsung," ucap Putra Mahkota lalu pamit.
Sementara itu, aku terdiam meringkuk disudut kamar. Kejadian yang baru saja aku alami menyadarkanku akan sesuatu.
Benar yang dikatakan oleh ayah, istana adalah tempat berbahaya. Orang kecil tanpa kekuasaan seperti kita tidak berarti dimata mereka yang berkuasa.
Aku membenamkan wajahku dan tekadku untuk mencari informasi mengenai diriku diistana seketika pudar. Entah bagaimana caranya aku dapat mencari tahu informasi mengenai identitas diriku ini dan aku juga tidak tahu harus dari mana aku mulai mencarinya.
...Bersambung....