Di alam para Dewa, aturan sudah tertulis sejak zaman dahulu kala: Laki-laki adalah Dewa, Wanita adalah Malaikat. Namun, Lisa adalah pengecualian. Dalam darahnya mengalir kekuatan agung sang Raja Dewa, dan tanda suci terukir di tubuhnya membuktikan dia layak menyandang gelar "Dewa", bukan sekadar "Malaikat".
Sayangnya, dunia tak siap menerima itu. Lisa tumbuh dengan anggun, lemah lembut, namun kesepian. Ayahnya, sang Penguasa Langit, bersikap dingin dan menghilang sejak ia berusia 5 tahun. Lisa mengira dirinya dibenci dan ditolak.
Namun, kenyataannya berbeda. Sang Ayah bukan tak punya hati, ia justru menyembunyikan Lisa demi melindunginya dari kecemburuan dan bahaya maut dari Dewa-Dewa lain. Ketika Lisa dewasa dan menuntut haknya, ia harus menempuh jalan berdarah, menguasai sihir terkuat, dan memimpin perubahan sejarah. Di tengah pertarungan memperebutkan takdir, ia juga akan menemukan cinta, memecahkan kesalahpahaman besar, dan akhirnya mengerti arti pengorbanan sang Ayah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon M.Liss, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Wu-Yuan menghela napas panjang pelan, lalu mengusap ujung bajunya yang sedikit terkena debu. Ia menatap ketiga muridnya satu per satu dengan pandangan tajam namun bangga.
"Bagus," kata Wu-Yuan singkat, lalu tersenyum tipis. "Kalian berhasil bertahan, bekerja sama, dan berpikir di bawah tekanan maut. Itu nilai tambah besar."
Ia melangkah maju melewati bangkai iblis itu, menuju ke arah mereka.
"Tapi ingat satu hal," tambahnya sambil menunjuk ke arah bangkai raksasa itu dengan ujung jarinya. "Iblis Darah muda sekuat ini tidak akan pernah berani keluar dari wilayahnya dan masuk ke pemukiman manusia kalau tidak ada yang mengatur atau memaksanya. Ada jejak sihir pemanggil dan pengendali yang samar di tubuhnya."
Wajah Wu-Yuan kembali serius. Ia menatap ke arah jalan setapak yang menembus masuk ke dalam hutan lebat di ujung desa itu.
"Masalah ini belum selesai. Kalian baru saja melihat ujung dari benang kusut yang jauh lebih besar. Istirahatlah sebentar. Kita akan lanjut menyelidiki siapa yang berani mengganggu keseimbangan di wilayah ini, dan apa tujuan sebenarnya mereka mengirimkan monster ke sini..."
Lisa mengusap keringat di dahinya, napasnya sudah mulai teratur kembali. Ia menatap bangkai Iblis Darah itu, lalu ke arah hutan yang gelap dan misterius. Di dalam hatinya, ia tahu... perjalanan mengumpulkan 28 emosi manusia ini ternyata jauh lebih berbahaya dan penuh rahasia daripada yang ia bayangkan sebelumnya. Dan petualangan mereka yang sesungguhnya baru saja dimulai.
Oke, setelah mereka beristirahat sejenak, mari kita lanjutkan ceritanya!
Angin sepoi-sepoi menerpa wajah Lisa, membawa aroma tanah basah sisa hujan yang baru saja reda dan samar-samar aroma bunga liar dari hutan. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan detak jantungnya yang masih berpacu setelah pertempuran sengit tadi. Desa itu kini sunyi, hanya menyisakan puing-puing dan bau asap yang samar. Bangkai Iblis Darah yang besar tergeletak di tengah lapangan, menjadi pengingat bisu akan bahaya yang baru saja mereka lewati.
Fredrin sedang membersihkan pedangnya dengan kain lap, gerakannya masih sedikit kaku namun penuh ketelitian. Floyen, yang sedari tadi menopang Lisa, kini duduk di sampingnya sambil memijat pelipisnya. Sementara itu, Wu-Yuan berdiri tak jauh dari mereka, pandangannya tertuju pada jalan setapak yang mengarah ke dalam hutan lebat. Ekspresinya tetap tenang, namun ada sorot mata yang berbeda, seolah ia sedang merenungkan sesuatu yang lebih dalam.
"Bagaimana perasaanmu, kak?" tanya Floyen lembut, menoleh pada kakaknya. "Kau terlihat sedikit pucat."
Lisa tersenyum kecil. "Aku baik-baik saja, floyen. Hanya sedikit lelah. Serangan tadi benar-benar menguras tenagaku." Ia menghela napas. "Tapi aku senang kita berhasil mengalahkannya. Dan aku juga belajar banyak." Ia melirik Wu-Yuan. "Terutama dari cara senior mengatasinya."
Wu-Yuan menoleh, senyum tipis kembali terukir di bibirnya. "Kau sudah melakukan yang terbaik, Lisa. Kekuatanmu luar biasa, dan kau berhasil menggunakannya dengan tepat. Itu yang terpenting." Ia kemudian menatap Fredrin dan Floyen. "Kalian juga. Kerja sama kalian solid. Kalian berhasil menjaga fokus dan menjalankan peran masing-masing."
Fredrin mengangguk. "Kami hanya mengikuti rencanamu, Guru. Dan Lisa yang memberikan pukulan telak."
"Tapi pukulan itu tidak akan berarti jika kita tidak bisa menahannya dan mengarahkannya dengan benar," balas Wu-Yuan. Ia berjalan mendekat ke arah jalan setapak. "Sekarang, kita perlu mencari tahu siapa dalang di balik semua ini. Jejak sihir pemanggil itu tidak akan hilang begitu saja."
Ia berhenti di tepi hutan, matanya menyipit saat mengamati pepohonan yang rapat dan gelap. Udara di sana terasa lebih dingin, dan ada keheningan yang ganjil, seolah alam pun ikut menahan napas.
"Menurutmu, apa yang bisa terjadi di dalam sana, senior?" tanya Lisa hati-hati, berdiri di samping Wu-Yuan. Ia merasakan sedikit firasat buruk, seperti ada sesuatu yang menunggu mereka di balik tirai dedaunan itu.
Wu-Yuan menarik napas. "Aku tidak tahu pasti. Tapi Iblis Darah itu adalah makhluk tingkat menengah. Mengirimnya ke sini tanpa alasan berarti ada tujuan yang lebih besar. Bisa jadi ini hanya pengalih perhatian, atau mungkin awal dari sesuatu yang lebih buruk." Ia menoleh . "kita harus, bersiaplah. Kita akan masuk ke dalam hutan."
Floyen mengangguk mantap. "Kami siap, Senior"
Fredrin sudah berdiri tegak, pedangnya tergenggam erat. "Apapun yang terjadi, kami akan melindungimu, senior."
Wu-Yuan tersenyum tipis. "Aku tahu. Tapi ingat, kita di sini bukan hanya untuk bertarung. Kita di sini untuk mencari tahu. Tetap waspada terhadap lingkungan sekitar, dan jangan gegabah."
Ia kemudian melangkah pertama kali masuk ke dalam hutan, diikuti oleh Lisa, Floyen, dan Fredrin. Cahaya matahari yang tadinya cukup terang di desa kini hanya menyisakan remang-remang di bawah kanopi pohon yang rapat. Suara-suara serangga dan gemerisik daun menjadi satu-satunya bunyi yang terdengar.
Lisa merasakan sedikit getaran di udara, seperti ada energi asing yang mengintai. Ia mencoba fokus, mencari emosi apa yang mungkin muncul di tengah situasi yang menegangkan ini. Mungkin ketakutan dari makhluk hutan yang terganggu, atau kehati-hatian dari dirinya sendiri dan teman-temannya.
"Rasanya seperti ada yang mengawasi kita," bisik Lisa, matanya menyapu sekeliling.
"Mhm," sahut Wu-Yuan tanpa menghentikan langkahnya. "Itu sebabnya kita semua harus tetap bersama. Dan jangan terpisah."
Mereka berjalan lebih dalam lagi, melewati akar-akar pohon yang meliuk-liuk dan semak belukar yang lebat. Tiba-tiba, Fredrin mengangkat tangannya, memberi isyarat untuk berhenti.
"Guru, lihat ini," katanya sambil menunjuk ke tanah. Di sana, ada jejak kaki yang aneh, lebih besar dari jejak hewan biasa, namun tidak sebesar Iblis Darah tadi. Jejak itu tertanam dalam di tanah yang lembap, seolah makhluk itu membawa beban yang cukup berat.
Floyen berjongkok untuk memeriksanya lebih dekat. "Ini bukan jejak Iblis Darah. Tapi sepertinya makhluk yang sama yang memanggilnya, atau setidaknya bekerja sama dengannya." Ia mengusap tanah di sekitar jejak itu. "Ada sisa-sisa energi sihir di sini. Sangat samar, tapi ada."
Wu-Yuan mengamati jejak itu dengan saksama. "Mereka bergerak ke arah sana," katanya sambil menunjuk lebih jauh ke dalam hutan. "Sepertinya kita akan menemukan petunjuk lebih banyak jika kita mengikuti jejak ini."
Lisa merasakan sedikit rasa penasaran bercampur dengan kegugupan. Ia ingin tahu siapa yang berada di balik semua ini, dan mengapa mereka mengirim monster ke desa kecil ini. Apakah ada hubungannya dengan emosi manusia yang harus ia kumpulkan?
"Aku rasa kita harus berhati-hati," ujar Lisa. "Mungkin ada jebakan."
"Tentu saja," sahut Wu-Yuan. "Tapi kita tidak bisa mundur sekarang. Kita sudah terlalu jauh masuk. Fredrin, kau di depan. Floyen, kau di belakang Lisa. Aku akan memimpin di tengah. Tetaplah saling menjaga pandangan."
Mereka melanjutkan perjalanan, mengikuti jejak kaki yang semakin jelas terlihat. Hutan semakin gelap dan sunyi, hanya suara langkah kaki mereka yang terdengar. Tiba-tiba, terdengar suara gemerisik yang keras dari semak-semak di sebelah kanan mereka.
"Awas!" teriak Fredrin, langsung mengangkat pedangnya.
Namun, yang muncul dari balik semak bukanlah monster, melainkan seekor rusa besar yang terkejut dan lari tunggang langgang. Lisa sedikit terkesiap, namun kemudian tertawa kecil melihat reaksi berlebihan Fredrin.
Bersambung....