Dipaksa pamannya menikah setelah lulus SMA, kehidupan Andara yang sudah yatim piatu tidak menjadi lebih baik.
Setelah difitnah sudah tidak perawan, dituduh berzinah saat hamil setelah 3 bulan menikah, Andara menjadi janda di usia sembilanbelas tahun.
Penderitaan tidak berhenti di situ, rumah peninggalan orangtua Andara diambil paksa oleh keluarga Irfan, mantan suaminya dengan alasan melunasi hutang-hutang orangtua dan paman Andara.
Dikucilkan karena dianggap aib dan pembawa sial membuat Andara memutuskan untuk mengadu nasib ke Jakarta dalam keadaan hamil.
Bagaimana kehidupan Andara selanjutnya ?
Apakah nasib Andara bisa berubah setelah bertemu dengan bayi Lily yang kehilangan ibunya saat ia dilahirkan ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bareta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Pembawaan Daisy pagi ini sangat berbeda dari biasanya. Bukan hanya lebih ceria tapi mulutnya hampir tidak bisa berhenti berceloteh.
Bahkan semalam Daisy memaksa tidur di kamar Lily dan Andaranya. Alasannya ingin memastikan kalau Andara tidak bangun kesiangan dsn mereka bisa lebih awal tiba di sekolah.
Setelah melakukan negosiasi yang cukuo alot sejak kemarin siang akhirnya Daisy mengijinkan Lily ikut ke sekolahnya.
Jam 6.15 Daisy memaksa berangkat padahal jarak tempuh ke sekolahnya hanya 20 menit dan bel tanda masuk baru dibunyikan tepat pukul 7.30.
Tidak ingin memperpanjang perdebatan yang akhirnya membuat hati Daisy kesal pagi-pagi, ditemani Lastri dan Lily, Andara menuruti permintaan bocah itu. Alhasil mereka harus menunggu selama kurang lebih 45 menit sampai bel berbunyi.
Di seberang jalan, sebuah mobil hitam berhenti dan memusatkan perhatian mereka pada Andara yang terlihat berbeda pagi ini.
Dari penampilannya pasti tidak ada yang menyangka kalau Andara hanyalah pengasuh di keluarga Daisy.
Kulitnya kelihatan lebih putih dan polesan make up tipis membuat Andara yang memakai jeans biru dan kemeja oversize warna putih terlihat seperti remaja kota.
“Sudah berapa lama dia mengantar ke sekolah ?”
“Baru kali ini Pak, itu pun karena nona Daisy yang minta Andara menemaninya mengikuti acara parenting day.”
“Mama tahu masalah ini ?”
“Saya yakin nyonya tahu karena informasi dari Sumi.”
Baskara menghela nafas. Tanpa melepas kacamata hitamnya, ia masih fokus memperhatikan interaksi Andara dengan Daisy di halaman sekolah.
“Kelihatannya Andara berhasil membuat nona Daisy ceria kembali.”
“Hhhhhmmm.”
“Sepertinya akan semakin sulit membuat nyonya memecat Andara. Kalaupun pak Bas tetap bersikeras membuatnya pergi, kemungkinan nyonya akan membawa nona Daisy dan nona Lily ke rumah besar.”
“Aku mau anak-anak itu berada jauh dari keluarga Adiguna. Kalau perlu mereka tidak lagi menggunakan nama Adiguna. Apa kamu punya ide ?”
“Kalau pak Bas ingin secepatnya, nyonya Mira adalah satu-satunya pilihan atau…..”
Rio sengaja menjeda, menimbang-njmbang apakah idenya pantas disampaikan pada Baskara.
“Atau apa ? Cepat katakan ! Kamu tahu kalau aku paling tidak suka digantung.”
“Andara.”
“Perempuan itu ?” Dahi Baskara berkerut. “Apa maksudmu ?”
“Andara pasti mau disuruh merawat dan membesarkan nona Daisy dan nona Lily tapi tidak di rumah pak Bas yang sekarang. Tinggal negosiasi saja berapa uang yang Andara minta untuk kebutuhan hidup dan gajinya.”
“Kamu yakin bisa membuatnya mau ? Kalau bisa, soal mama biar jadi urusanku.”
“Delapanpuluh lima persen kemungkinan Andara bersedia.”
Baskara menarik nafas, berpikir sambil menoleh ke arah jendela yang ada di sampingnya. Dahinya kembali berkerut saat melihat pantulan dari spion di sisi kiri.
Pria iru melepas kacamata hitamnya, menggerakka spion tengah ke arahnya. Kedua alisnya menaut, matanya memicing untuk memastikan bayangan yang dilihatnya lewat spion.
“Ada apa Pak Bas ?” tanya Rio kebingungan.
Baskara menunjuk ke arah spion yang sudah dikembalikan ke posisi tengah. Rio pun mengikuti arah telunjuk Baskara dan sempat mengernyit karena hanya ada pantulan seseorang sedang masuk ke dalam mobilnya.
“Lihat plat nomornya !” perintah Baskara.
Melihat mobil yang dimaksud Baskara keluar dari barisan, pandangan Rio beralih ke spion kanannya.
“Sepertinya aku akan mengikuti saranmu yang pertama.”
“Maksud Pak Bas ?” Rio kembali dibuat bingung.
“Aku akan mencoba tinggal di rumah itu dengan kondisi yang sama seperti waktu perempuan licik itu masih hidup.”
Rio sempat terkejut tapi hanya sebentar.
“Baik Pak. Saya akan minta Sumi untuk merapikan kamar pak Bas.”
“Tidak ! Jangan Sumi ! Aku tidak percaya padanya karena dia tetap orang kepercayaan mama. Suruh dia yang mengurus kamar tidurku dan hanya dia yang boleh memegang kunci cadangannya.”
Meski tidak tahu apa yang ada di kepala Baskara, Rio tidak mencoba mencari tahu hanya mengiyakan perintah bossnya.
*****
Sejujurnya Andara merasa tidak nyaman berada di tengah-tengah orang dewasa yang berstatus orangtua murid.
Selain karena usianya yang paling belia sebagai pendamping Daisy, Andara merasa dirinya tidak layak sekalipun penampilannya sudah berubah seperti orang kota dan tidak ada yang menyangka kalau dirinya adalah gadis desa yang cuma lulusan SMA bahkan pernah punya anak.
Yang lebih mengejutkan lagi saat Daisy memperkenalkan Andara pada wali kelasnya.
“Miss, kenalkan calon mama aku yang baru.”
Bukan hanya guru Daisy yang terkejut, mata Andara pun membola tapi gadis kecil itu malah nyengir kuda dan mengangguk-anggukkan kepala.
Tanpa menjelaskan apa-apa, Andara hanya menyebutkan nama saat bersalaman dengan wali kelas Daisy. Wajahnya merona karena malu apalagi guru muda itu sempat menelisiknya, meski mencuri-curi pandang Andara sempat melihat matanya seperti screening menatap Andara dari ujung kepala aampai ke ujung kaki.
“Ayo mama Ara, kita ke sana.”
Andara menganggukan kepala dengan senyuman canggung dan mengikuti Daisy yang menariknya ke area lapangan kecil di tengah-tengah jejeran kelas yang membentuk huruf U.
“Sisi kok panggilnya mama bukan kak Ara ?” Bisik Andara setelah memastikan tidak ada orang di dekatnya yang mungkin bisa mendengar suaranya.
“Itu.” Daisy menunjuk spanduk besar yang terpasang di antara tiang.
“Tulisannya apa ?” tanya Daisy dengan mata menyipit.
“Parenting day.”
“Parent kan artinya orangtua bukan kakak dan semua datang sama orangtuanya lagipula kak Ara kan sudah janji mau jadi mama Sisi hari inu.”
“Iya tapi….”
“Kata mbak Lastri, kak Ara itu ibu susunya Lily. Kalau kak Ara ibunya Lily berarti ibunya Sisi juga kan Lily adiknya Sisi.”
Kepala Andara mengangguk-angguk dan bibirnya pun tersenyum. Apa yang disampaikan Daisy barusan memang betul.
“Oke ! Hari ini Sisi boleh memanggil mama Ara.”
Daisy tersenyum lebar, menggandeng jemari Andara dan mengajaknya ke salah satu stand permainan.
Di sela-sela istirahat, Andara masih menyempatkan diri untuk menyusui Lily di UKS sementara Daisy ditemani Lastri.
Tiba-tiba pintu ruangan terbuka. Untung saja Andara sudah selesai dan tinggal satu kancing kemejanya yang belum terkait.
“Kenapa….”
Mata Andara membola melihat sosok pria yang berdiri di pintu. Baru saja ia berniat menegur orang yang sembarangan masuk tanpa mengetuk pintu dan sempat menyesal karena lupa menguncinya.
“Tidak cukup berperan sebagai ibu susu Lily, sekarang berlagak jadi ibunya Daisy ?”
“Maafkan saya Pak…. Saya tidak bermaksud kurang ajar.”
Bukannya keluar, Baskara malah masuk dan menutup pintu dan berdiri menghalanginya.
“Sekali lagi saya minta maaf pak Bas,” ujar Andara dengan kepala tertunduk.
Kedua rahang yang kaku dan tatapan dingin Baskara membuat Andara memilih diam dan menunggu apa yang akan dilakukan pria itu selanjutnya.
“Sebetulnya apa yang kamu inginkan ? Tidak cukup gaji yang diberikan padamu setiap bulan ? Jangan bilang kamu berniat jadi penguasa di rumah itu !”
Tubuh Andara langsung tegang saat melihat ujung sepatu Baskara semakin dekat dengannya. Setelah beberapa detik, Andara menghela nafas, memegang dadanya dan mendongak, menatap Baskara tidak kalah tajamnya.
“Anda memang tampan dan kekayaan anda mungkin membuat para wanita rela melakukan apa saja untuk menjadi istri, gundik atau sekedar ani-ani tapi maaf saya tidak tertarik sedikit pun pada anda Pak Baskara Adiguna.”
Baskara melotot dan semakin lebar saat melihat Andara malah tersenyum padanya.
“Jangan pernah berpikir semua perempuan desa dan miskin seperti saya pasti langsung silau waktu melihat anda. Saya salah satu perempuan yang tidak berminat.”
Baskara tersenyum sinis.
“Bagaimana orang yang tidak pernah bahagia seperti anda bisa membahagiakan orang lain ?”
“Kamu…..”
Rasanya Baskara ingin memaki perempuan kurang ajar di depannya tapi entah kenapa lidahnya seperti tidak bisa digerakkan untuk mengeluarkan kata-kata.