Di sebuah desa tersembunyi bernama Desa Batu, hiduplah keluarga Chen, keturunan langsung dari Raja Alkemis legendaris yang menguasai rahasia kehidupan dan kematian. Harta terbesar mereka bukanlah emas atau perak, melainkan resep Ramuan Keabadian—cairan mistis yang dapat memberikan kekuatan tak terbatas dan hidup selamanya bagi yang meminumnya.
Namun, kekuatan besar selalu menarik bayangan gelap. Saat Chen Si, pewaris tunggal keluarga itu, baru berusia lima bulan, desa mereka diserang habis-habisan oleh sekelompok manusia bertopeng yang haus kekuasaan. Seluruh klan Chen dibantai tanpa ampun demi merampas rahasia suci itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Hali, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13: PUNCAK RACUN DAN PERTEMUAN KELUARGA
Langit di atas Puncak Racun berwarna ungu gelap permanen. Tidak ada matahari, tidak ada bulan, hanya cahaya redup dari bebatuan bercahaya yang mengandung racun murni.
Di hadapan Chen Si dan Wu Ye, berdiri sebuah benteng raksasa yang dibangun di atas tebing curam. Dindingnya terbuat dari tulang-belulang raksasa yang disatukan dengan logam hitam. Di gerbang utama, tertulis kalimat mengerikan: "Di sini hidup berakhir, dan kematian menjadi kekekalan."
"Ini markas besarnya..." bisik Chen Si. Jantungnya berdegup kencang, campuran antara rasa takut, marah, dan harapan. Di dalam sana, orang tuanya mungkin sedang menahan sakit luar biasa.
"Jangan emosi, Si. Fokus," peringatan Wu Ye. Ia menatap tawanan di depan mereka. "Heh, kau bilang gerbang ini punya pelindung energi. Bagaimana cara mematikannya?"
Elder Racun yang wajahnya babak belur gemetar ketakutan. "B-bisa... Aku bisa matikan. Tapi tolong jangan bunuh aku..."
Ia mengeluarkan sebuah batu hitam dari sakunya, lalu memutarnya ke arah sebuah lekukan di dinding gerbang.
WZZZZZZZZZT!
Suara mekanis terdengar. Lapisan asap ungu yang tadinya melindungi gerbang perlahan menghilang. Pintu besi besar itu terbuka sedikit.
"Bagus. Sekarang kau bisa istirahat selamanya."
BAM!
Wu Ye memukul tengkuk Elder itu dengan tenaga terukur. Pria itu langsung pingsan tak sadarkan diri, diikat kuat dan disembunyikan di balik semak belukar agar tidak mengganggu.
"Ayo masuk. Malam ini... hitungan mundur dimulai."
Pembantaian di Sarang Ular
Mereka menyelinap masuk. Di dalam benteng, suasana sangat sepi namun penuh tekanan. Jalanan lebar dipenuhi patung-patung dewa kematian dan altar-altar pengorbanan.
Tiba-tiba...
Sssst! Siapa?!
Dua penjaga bermasker ular muncul dari balik pilar. Mereka baru sempat mengeluarkan suara setengahnya, sebelum...
Wush! Wush!
Dua jarum perak melesat tepat ke pelipis mereka. Mereka jatuh tanpa suara.
"Terlalu lemah," gumam Chen Si dingin.
Mereka berjalan semakin dalam. Setiap kali bertemu pasukan musuh, Chen Si tidak pernah menggunakan pedang. Ia cukup menghentakkan kaki atau meniup napas, dan musuh-musuh itu langsung roboh mati atau pingsan.
Kekuatannya sekarang berada di level yang tidak masuk akal. Darah Naga membuatnya kebal terhadap segala jenis racun dan serangan tingkat rendah.
"Hah? Ada penyerang!! Bunuh mereka!!"
Suara alarm berbunyi nyaring. Ratusan prajurit elit berdatangan dari segala arah, memblokade lorong utama.
"Kakek, kau cari jalan ke ruang tahanan! Aku yang akan bersihkan jalan!" teriak Chen Si.
"Baik! Hati-hati dengan Pemimpin Besar! Dia ada di puncak menara!"
Wu Ye melompat ke atap, menghilang ke arah sayap bangunan. Sementara Chen Si berdiri sendirian di tengah ribuan musuh.
"MATI KALIAN SEMUA!!"
Chen Si melepaskan aura penuhnya. Cahaya merah keemasan meledak seperti bom nuklir!
"Jangan harap kalian bisa lewati aku!"
Seorang pria tinggi besar dengan dua pedang di tangan menghadang jalan Chen Si. Dia adalah Penjaga Gerbang Dalam, salah satu jenderal terkuat Sekte Ular Hitam.
"Kau membunuh saudara-saudaraku... Bayar dengan nyawamu!"
Pria itu menyerang dengan kecepatan kilat. Pedangnya menciptakan bayangan seribu pedang yang mematikan.
Namun, Chen Si hanya berdiri diam. Saat pedang itu tinggal beberapa senti lagi dari lehernya...
TRANG!!!
Tangan kosong Chen Si bergerak lebih cepat dari cahaya! Ia menangkap bilah pedang baja itu hanya dengan dua jari!
"Bagaimana mungkin... kulitmu sekeras apa?!" jerit pria itu kaget.
"Kulit naga," jawab Chen Si dingin.
CRACK!
Chen Si meremas pedang itu hingga hancur menjadi serpihan besi! Lalu dengan tangan kosong, ia menonjok dada musuhnya.
BAM!
Tubuh pria itu terlempar seperti peluru meriam, menembus tiga dinding batu sekaligus dan tidak bergerak lagi.
Pertemuan yang Mengharukan
Sementara itu, di bagian bawah menara, Wu Ye berhasil menemukan ruang tahanan rahasia.
"Dasar kejam! Mengurung orang di tempat kotor seperti ini!" geram Wu Ye. Ia menghancurkan jeruji besi dengan satu sentuhan.
Di dalam sel yang paling dalam, terbaring dua sosok yang sangat kurus dan lemah. Pakaian mereka compang-camping, tubuh mereka penuh bekas jarum suntik dan luka percobaan.
Namun, saat melihat wajah mereka, Wu Ye langsung menangis haru.
"Tuan Muda... Nyonya... Aku datang... Aku membawa Chen Si..."
Wanita itu yang tadinya tertidur perlahan membuka matanya yang redup. "Wu... Wu Ye? Benarkah kau? Apakah... apakah mimpi ini?"
"Bukan mimpi, Nyonya. Kami benar-benar di sini!"
Pria itu, pemimpin klan Chen yang dulu gagah perkasa, kini suaranya serak dan lemah. "Dimana... dimana anak kami? Apakah dia selamat? Apakah dia baik-baik saja?"
"Dia tidak hanya selamat... Dia sekarang sangat kuat. Dia datang untuk menyelamatkan kalian!"
Tiba-tiba...
BRAK!
Pintu sel terbuka lebar. Chen Si berdiri di sana, napasnya memburu, tubuhnya masih berlumuran darah musuh.
Matanya menatap lurus ke arah pasangan di dalam sel.
"Ayah... Ibu..."
Suara Chen Si bergetar hebat. Air mata yang selama ini ia tahan akhirnya meluncur deras. Ia berlari masuk, berlutut di depan mereka dan memeluk erat kedua orang tuanya.
"Maafkan aku... Maafkan aku yang terlambat!"
Ibu Chen Si mengelus kepala anaknya dengan tangan gemetar, memeriksa wajah yang sudah dewasa itu. "Anakku... Anakku yang tampan... Kamu tumbuh besar dengan baik... Ibu bahagia..."
Ayah Chen Si menepuk bahu anaknya dengan mata berkaca-kaca. "Kami tahu... Kami tahu kamu akan menjadi kebanggaan kami. Lihatlah dirimu... Kamu sudah menjadi pejuang sejati."
Suasana haru menyelimuti ruangan itu. Rasa sakit dan penderitaan bertahun-tahun seketika terbayar lunas dengan pertemuan ini.
"Tapi kita tidak bisa lama-lama di sini," kata Ayah Chen Si tiba-tiba dengan nada serius. "Di puncak menara, ada 'Guru Agung'. Dia bukan manusia biasa. Dia adalah monster yang sudah hidup lebih dari dua ratus tahun. Kekuatannya diluar nalar."
"Aku tidak takut," kata Chen Si sambil mengusap air mata, wajahnya kembali tegas. "Aku sudah menerima warisan Darah Naga Penuh. Hari ini, aku akan mengakhiri segalanya."
Duel Puncak: Manusia vs Monster
Chen Si membantu orang tuanya berdiri. Wu Ye pun siap siaga.
"Kakek, tolong jaga Ayah dan Ibu. Biarkan aku yang menghadapi bos terakhir ini sendirian. Ini pertarunganku."
"Hati-hati, Nak. Dia menggunakan energi hitam yang bisa mengikis jiwa," pesan Ayahnya.
Chen Si mengangguk. Ia melangkah menaiki tangga spiral menuju puncak menara tertinggi.
Semakin ke atas, tekanan udara semakin berat dan dingin. Udara di sana beracun tingkat tinggi, tapi bagi Chen Si, itu hanya angin sepoi-sepoi.
Akhirnya, ia sampai di atap terbuka.
Di sana, di bawah langit ungu yang gelap, berdiri sosok yang sangat mengerikan.
Pria itu tidak lagi berbentuk manusia sepenuhnya. Kulitnya berwarna hijau gelap, matanya tiga buah (satu di dahi), dan tangannya panjang dengan cakar-cakar besi yang tajam. Di sekelilingnya, melayang ratusan tengkorak manusia yang dijadikan alat tenung racun.
Itu adalah Guru Agung Racun, pemimpin sesungguhnya dari organisasi jahat ini!
"Wkwkwkwk... Akhirnya kau datang, bocah naga," suara Guru itu serak dan mengerikan, terdengar seperti banyak orang berbicara bersamaan. "Darahmu terasa sangat enak... Sempurna untuk dijadikan bahan utama pil keabadianku!"
"Kau yang membantai klanku... Kau yang menyiksa orang tuaku... Hari ini, aku akan mencincangmu menjadi daging giling!" teriak Chen Si.
"Berisik! Kau pikir dengan sedikit kekuatan warisan kau bisa menang melawan aku yang sudah menyatu dengan racun dunia? Mimpi!"
WUSSSSSSS!!!
Pertarungan dimulai!
Guru Agung melontarkan serangan tanpa gerak. Ribuan jarum racun hitam melayang ke segala arah, disusul dengan ombak energi asam yang bisa melelehkan baja!
Chen Si tidak mundur. Ia mengaktifkan mode Naga penuh!
"BENTENG NAGA!!"
Cangkang energi berwarna merah emas melindunginya. Ding! Ding! Ding! Semua serangan terpental!
"APA?!" Guru Agung kaget. "Kebal racun juga?!"
"Giliranmu!"
Chen Si melesat maju. Kecepatannya sekarang melebihi suara! Ia muncul tepat di hadapan musuhnya dalam sekejap mata!
"TEKNIK ALKEMIS: TANGAN PEMURNI SUCI!"
Tangan Chen Si bersinar putih terang. Ia menampar wajah Guru Agung itu dengan kekuatan penuh!
BAAAAAMMMMM!!!
Guru itu terlempar jauh, menabrak menara hingga retak parah! Darah hitam menyembur dari mulutnya.
"Kau... kau berani menyakitiku?!" Guru itu marah besar. Tubuhnya membesar dua kali lipat! "AKU AKAN MEMAKANMU HIDUP-HIDUP!! MODE IBLIS RACUN!!"
Wajahnya berubah menjadi wajah ular raksasa, tangannya berubah menjadi cambuk-cambuk daging yang menjijikkan. Mereka bertarung habis-habisan di puncak menara.
Ledakan demi ledakan terjadi. Atap-atap hancur, batu-batu berterbangan. Seluruh benteng gunung bergetar hebat seolah akan runtuh.
Chen Si menggunakan segala teknik yang baru ia dapatkan. Api Naga, Pukulan Bumi, Kecepatan Angin... semuanya ia keluarkan.
Namun, Guru Agung itu sangat sulit mati! Tubuhnya bisa beregenerasi dengan cepat karena sudah menyatu dengan racun!
"Ha ha ha! Tidak berguna! Aku abadi!!" teriak monster itu sambil menahan tinju Chen Si dengan giginya.
Chen Si terpojok. Ia sadar, musuh ini tidak bisa dikalahkan dengan kekuatan fisik biasa. Ia butuh serangan yang bisa menghancurkan sel-sel jahat di dalam tubuhnya sampai ke akar-akarnya.
Ia teringat kata-kata leluhurnya. 'Api Naga bukan hanya api pembakar, tapi api pembersih dosa.'
"Baiklah... Kalau begitu, gunakan semua energiku!"
Chen Si terbang mundur ke angkasa. Ia mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi ke langit.