NovelToon NovelToon
FAKE LOVE MISSION

FAKE LOVE MISSION

Status: sedang berlangsung
Genre:Idola sekolah / Ketos / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Xylona

Di sekolah, semua orang mengenal Aurora Kayanza sebagai gadis yang selalu mengejar uang. Baginya, uang bisa menyelesaikan banyak hal, bahkan menjadi alasan untuk menerima tantangan paling nekat sekalipun. Demi imbalan yang menggiurkan dari teman-temannya, Aurora setuju melakukan satu hal yang dianggap mustahil—mendekati cowok paling dingin dan sulit disentuh di sekolah mereka.

Namun semuanya berubah ketika Aurora tiba-tiba menemui Gama di rooftop sekolah dan tanpa ragu mengajaknya berpacaran.

Ajakan yang awalnya hanya dianggap permainan dan tantangan perlahan berubah menjadi sesuatu yang lebih rumit. Di balik sikap dingin Gama, tersimpan luka dan rahasia yang tidak diketahui siapa pun. Sedangkan Aurora mulai terjebak di antara uang, rasa bersalah, dan perasaan yang tumbuh tanpa ia sadari.

Hubungan yang dimulai karena kepentingan itu perlahan mengubah hidup mereka berdua, membawa Aurora dan Gama pada kisah penuh rahasia, konflik sekolah, perasaan yang tak pernah mereka rencanakan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xylona, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAGIAN 13.

Aurora melangkah menuju warung dekat rumahnya setelah tadi Aurora di suruh ibunya untuk membeli gula merah dan bawang, setelah drama penolakan dan pengancaman akhirnya Aurora mau tidak mau harus ke warung. Meskipun jaraknya dekat dengan rumahnya, tetap saja rasa malasnya lebih mendominasi.

Dengan misuh misuh Aurora berangkat ke warung, sesampainya di warung Aurora memanggil pemilik warung, datanglah seorang wanita sudah berumur mungkin kisaran 50 an.

"Bi, beli."

"Beli apa Ra, tumben kamu ke warung." Tanya Bi lasti.

"Hehe... iya bi ibu lagi sibuk di rumah."

"Eh, bibi mau tanya dari kemarin bibi liat ada cowok suka diem aja merhatiin di samping rumah kamu. tapi, nggak turun dari motornya cuman merhatiin aja."

"Kamu tau siapa dia Ra?."

Aurora tersadar kembali." Eh, mungkin itu temen aku bi lagi marahan hehe."

"Oh, pantes dia nggak samperin kamu lagi marahan rupanya toh."

"Hehe iya."

"Temen apa teman." Goda bi lasti.

"Temen bi."

"Iya udah. Eh, mau beli apa tadi malah kelupaan bibi."

"Mau beli gulu merah satu sama bawang putih seperapat bi."

"Iya sebentar ya Ra."

Aurora mengangguk kecil duduk di bangku kayu yang tersedia di warung bi Lasti, Aurora termenung pikirannya berkecamuk memikirkan apa yang di katakan oleh bi Lasti barusan. Apa benar, Gama selalu datang kemari. Tapi, buat apa Gama datang kemari.

Di pikiranya meskipun mereka pacaran itu hanya status saja, nanti juga putus dan Bagaimanapun, hubungan mereka tidak pernah dibangun atas rasa suka. Tidak ada alasan bagi Gama itu untuk peduli pada omongan orang lain ataupun keadaan dirinya sekarang.

"Makasih bi."

"Iya sama sama."

Aurora berjalan ke arah rumahnya dengan menenteng barang beliannya dan menyerahkan ke ibunya.

"Nih bu."

"Ketus banget baru aja di suruh kayak gitu."

"Ih, ibu padahal biasa aja ah, yaudah sini aku balikin aja." Dengan merengut Aurora akan mengambil kembali barang yang tadi Aurora beli di tangan ibunya. Tapi, ibu Larasati langsung menghadang tangan Aurora yang ingin merampasnya.

"Iya iya makasih gitu aja ngambek."

"Sama sama."

......................

"Kamu hari ini di jemput sama nak Gama?. Tanya ayah Damar.

"Enggak."

"Ayah perhatiin beberapa hari ini kamu nggak bareng sama Gama lagi." Lanjut Ayah Damar.

"Ya kan masa tiap hari bareng yah, kan kak Gama juga punya urusan yang lebih penting daripada jemput aku."

"Kan biasanya juga tiap hari kalian bareng. Aneh aja ayah, kalian nggak bareng lagi."

"Apa jangan jangan lagi berantem tuh yah." Provokasi Arkan.

Aurora menendang tulang kering Arkan kencang mendesis sinis." Apa sih."

Arkan mengaduh kesakitan."SAKIT!!."

"Rasain."

Aurora rasa ingin memutilasi adiknya itu mulutnya yang tidak bisa di rem kalau ngomong.

"Udah, udah malah berantem masih pagi ini." Lerai ibu Larasati.

"Eh iya, biasanya nak ganteng suka ke sini tiap hari buat jemput kamu. Tapi, beberapa hari ini ibu belum liat lagi, apa bener kalian lagi berantem?." Sekarang ibunya yang bertanya.

Aurora menghela napas berat ada apa dengan kedua orang tuanya kenapa malah menanyakan Gama, Aurora buru-buru mengalihkan pandangan, berpura-pura sibuk merapikan lengan seragamnya.

Aurora sengaja menghindar sejak kejadian beberapa waktu lalu. Ia memilih berangkat lebih pagi, kadang meminta diantar temannya, bahkan beberapa kali pura-pura belum siap hanya agar tidak perlu bertemu dengannya. Ia berpikir Gama itu akan biasa saja. Hubungan mereka sejak awal memang bukan hubungan yang dipenuhi perasaan manis. Hanya perjanjian saling menguntungkan.

Aurora berangkat dengan gojek yang ia pesan, sebenarnya ayahnya sudah menawarkan untuk mengantar Aurora ke sekolah. Tapi Aurora menolak dengan alasan Aurora sudah memesan gojek, akhirnya ayahnya mengangguk tidak mempermasalahkan.

Aurora berjalan pelan menuju ke kelasnya saat di rasa ada seseorang yang menyeret tangan Aurora meskipun tidak terlalu kencang tetap saja kaget, Aurora ingin marah tapi urung melihat siapa yang menyeretnya ya Gama.

Gama membawa Aurora ke rooftop tempat mereka pertama kali bertemu.

"Kak lepas."

Gama melepaskan cekalan tangan Aurora menatap lurus ke kedua netra coklat Aurora, intens Aurora tidak sanggup menatap mata Gama terlalu lama.

"Lo kenapa?."

"Aku nggak kenapa kenapa." Elak Aurora dengan menghindari tatapan Gama yang memandang Aurora intens tapi menyudutkan, mengintimidasi.

"Bohong."

"Yaudah kalau nggak percaya gapapa."

Aurora berbalik untuk pergi tapi sebelum Aurora melangkah sejengkal pun tangan Aurora di tarik kuat dan di dorongnya tubuh Aurora ke tembok pembatas.

Ada kemarahan di mata Gama yang di tahan bahkan urat lehernya terlihat menonjol menandakan Gama sedang menahan amarah, Aurora berusaha terlihat tidak terintimidasi dia mendongak dengan berani meskipun jantungnya ketar ketir.

"Gue nggak akan lepasin lo sebelum lo jujur." Gama menekan setiap katanya.

"Aku udah jujur." Aurora masih enggan memberitahu Gama yang sebenarnya.

"Gue bukan anak kecil yang nggak nyadar dari perubahan sikap lo."

"Udah deh kak, kenapa kakak mempermasalahkan ini kita aja pacaran bukan karna atas dasar saling suka. Jadi, buat apa kakak marah." Terang Aurora.

Aurora merasakan tubuh Gama menegang cekalan tangan semakin mengetat membuat Aurora meringis sakit, tatapannya semakin dingin, mengintimidasi, tidak ada ekpresi selain kilatan kemarahan di matanya.

"sttth aww... sakit kak." Ringis Aurora.

Gama menyadari telah menyakiti Aurora melonggarkan cekalan tangannya. Tapi, tidak melepaskannya.

"Gue tau hubungan ini karna saling menguntungkan. Tapi, lo harus tau gue nggak terima lo tiba-tiba ngehindar dari gue tanpa alasan jelas."

"Aku nggak menghindar dari kakak."

"Terus apa namanya kalau lo nggak menghindar dari gue?."

Aurora diam tidak bisa menjawab pertanyaan Gama.

"Lo nggak bisa jawab kan."

"Kita akhiri aja kak."

Tatapan Gama semakin menusuk." Maksud lo apa hah!!!?." Nada suara Gama berubah agak meninggi.

Aurora terkejut mendengar bentakan Gama, Aurora mencoba terlihat tidak takut meskipun deru napasnya terlihat tidak stabil.

"Iya kita akhiri aja, aku akan balikin uang yang kakak kasih ke aku. Uangnya masih utuh belum aku sentuh." Ujar Aurora lantang tanpa rasa takut meskipun tatapan Gama seakan akan bisa membunuh Aurora dalam hitungan detik.

Aurora ingin mengambil handphonenya sebelum di rampas dan di banting keras oleh Gama sampai handphone Aurora rusak tidak berbentuk lagi, mungkin sudah tidak bisa di gunakan kembali.

Aurora terlonjak kaget melebarkan matanya melihat handphone satu satunya di banting Gama, Aurora melepaskan cekalan tangan sekuat tenaga dan terlepas. Ia berlari mengambil handphonenya yang sudah rusak parah.

Aurora menangis terisak melihat handphone pemberian ayahnya rusak, Aurora tahu perjuangan ayahnya bisa membelikan handphone untuk Aurora, ayahnya sampai rela pulang hingga dini hari selama 2 minggu untuk bisa mengumpulkan uang dan membelikan handphone untuk Aurora. Dan sekarang handphonenya rusak tidak bisa lagi untuk di perbaiki.

Gama seolah tersadar atas perbuatannya ia menghampiri Aurora yang terlihat berjongkok memegang handphonenya yang sudah Gama banting, Gama tahu Aurora sedang menangis dengan pelan Gama menyentuh bahu Aurora yang bergetar karna menangis. Tapi, baru saja Gama menyentuh bahu Aurora, Aurora langsung menepis tangan Gama dari bahunya. Gama tidak mempermasalahkannya karna Gama pantas mendapatkannya.

"Maaf." Sesal Gama.

Plak...

Aurora menampar pipi Gama kencang sampai terdengar nyaring dan terdapat tanda telapak tangan Aurora di pipi Gama yang memerah karna tamparan Aurora yang kuat.

Dengan napas memburu tanpa mengucapkan sepatah kata pun Aurora langsung berbalik dan pergi di hadapan Gama, Gama membiarkan Aurora pergi tidak mengejarnya akan menjadi semakin rumit karna Gama mengejarnya sekarang. Ia akan membiarkan Aurora tenang dulu.

Gama mengacak rambutnya frustasi ini sifat Gama yang tidak bisa Gama kendalikan ya tidak bisa mengontrol emosinya.

1
Davina Aurora
bagus ka ceritanya😍
aurora: terima kasih☺
total 1 replies
T28J
hadiir kk🙏
aurora: terimakasih😊☺😍
total 1 replies
Wawan
Semangat ✍️
aurora: terimakasih 🤗🤗
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!