NovelToon NovelToon
Mei Yang Terakhir

Mei Yang Terakhir

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa / Gadis Amnesia
Popularitas:719
Nilai: 5
Nama Author: Ddie

Pada suatu malam di bulan Mei, hidup Andra hancur dalam satu detik, kecelakaan itu tidak merenggut nyawa istrinya.Tapi merenggut sesuatu yang jauh lebih kejam—seluruh ingatan Meisyah tentang dirinya.

Bagi Mei waktu berhenti di tahun 2020.
Sebelum Andra ada sebelum mereka jatuh cinta, sebelum mereka menikah diam-diam di apartemen kecil yang bahkan keluarganya tidak pernah mengakui.

Sekarang, Andra hanyalah pria asing yang mengaku sebagai suaminya.Dan di dunia yang tidak lagi mengingat mereka,ada satu orang yang justru terasa familiar bagi Meisyah—

Fero.

Pria yang dulu dipilih keluarganya, pria yang seharusnya menjadi masa depan Meisyah… sebelum Andra datang dan mengubah segalanya.

Dipaksa hidup bersama orang yang tidak ia kenal, Mei mencoba memahami dirinya sendiri melalui foto, diary, dan seorang pria yang mencintainya dengan kesabaran yang menyakitkan.

Sementara Andra harus menerima satu kenyataan pahit: Cinta yang pernah mereka bangun mungkin tidak akan pernah kembali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ddie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ketulusan

Andra terbangun dari rasa asing di dada, kelegaan dan ketakutan saling beradu. Dia meraih ponsel di meja satu pesan dari Mei, dikirim pukul 03.47: "Mas, Mei belum bisa tidur, tapi hati Mei senang. Terima kasih ya, Mas, sudah mendengar."

Jari Andra bergetar membalas: "Mas yang minta maaf, Mei, telah merepotkan mu, tapi kamu membuat Mas berani mengambil s keputusan besar."

Dia meletakkan ponsel di dada, menatap langit-langit kuning kecoklatan. Suara motor mulai mengisi udara—Jakarta tak pernah benar-benar tidur. Tapi di dalam dada Andra, ada kesunyian penuh dengan suara tak terucap.

Dia teringat jemari lembut dingin itu meraih tangannya untuk pertama kali—hangat, sedikit berkeringat—di bangku taman. Ia adalah tempat baginya meraih ketenangan.

Alarm berbunyi. 05.30. Andra bangkit dengan tubuh berat, ada sesuatu yang harus ia perjuangkan.

--

Di apartemen kecil di sudut kota lain, Meisyah menatap cermin dengan mata sembab. Dia belum tidur sama sekali, bayangan wajah Andra pucat, Ayah dan Ibu nya serta laki laki itu Fero.

Ponselnya berdering hampir enam kali panggilan tak terjawab dengan tiga pesan suara.

"Mei, Papa dan Mama sudah tahu kamu di mana. Fero sangat khawatir. Pulang, sayang kita bicarakan baik-baik."

" Bicara baik-baik" dalam bahasa keluarganya, artinya duduk di sofa ruang tamu, dihujani logika absurd tak bisa dibantah, argumen pada satu kebenaran mutlak: lebih tua, lebih kaya dan punya hak lebih besar.

Ia akhirnya mengganti baju kaos polos krem, celana katun, dan sepatu kanvas. Pakaian yang menjadi dirinya sendiri, bukan Meisyah, anak konglomerat, tapi Mei yang suka duduk di teras Panti Asuhan bersama gadis kecil kepang dua, Anya.

Dan ia tidak tahu bahwa ada sebuah mobil hitam sudah berangkat dari Darmawangsa Regency.

----

Andra sulit berkonsentrasi di kantor. Spreadsheet di layar berubah menjadi guratan tak berarti, angka-angka berdansa menjadi nama yang mengisi hidupnya akhir akhir ini.

"Dre."

Rei datang membawa dua gelas kopi. "Lu kemarin malem ke mana? Gue chat gak dibales."

Andra mengambil gelas kopi, membiarkan panasnya membakar telapak tangan.

"Gue ketemu Mei," akhirnya Ia mengaku. "Di taman kota. Dia cerita... semuanya."

"Gue tahu lu bakal ketemu."

" Lu kenal dengan Mei sejak kapan, Rei?"

" Gue tidak begitu dekat, Dre, hanya sebatas relawan di Panti Asuhan Aisyah."

" Lalu ?"

"Gue tahu info Mei dari adik gue yang sama kuliah dengan saudara sepupunya. Mei gadis yang baik, dan Lu juga baik Dre. Ia memang membutuhkan orang baik seperti lu."

"Bagaimana dengan Fero?"

Rei menatapnya lekat "Fero direksi sebuah perusahaan besar, punya banyak koneksi dan tidak terbiasa kalah."

"Gue gak akan mundur," kata Andra, lebih kepada dirinya sendiri.

"Gue tahu, tapi Itu yang gue takutkan."

---

Sore itu, di panti asuhan,

Mei melihat anak-anak berlarian di halaman, beberapa dari mereka belajar membaca, dan yang lain menyiapkan makan malam.

Gadis itu duduk di bangku kayu pertama kali melihat Andra—pria yang datang bersama Rei, canggung, tak tahu harus berbuat apa di tengah keriuhan.

Dia tersenyum sendiri, mengingat bagaimana diawal laki laki itu jatuh cinta kepada anak-anak , bukan kepadanya tapi anak anak yang mengajaknya bermain bola.

Sudah lima kali ponselnya berdering, tapi selalu ia abaikan, ini pasti ada hubungannya dengan rumah.

Tidak lama sebuah mobil hitam berhenti di depan gerbang, seorang pria berjas abu-abu, berkacamata hitam, berdiri tegak bak tentara menculik musuh.

"Non Meisyah, Saya Pak Dodi, sopir keluarga. Bapak dan Ibu minta Nona pulang malam ini juga."

Darahnya membeku, Dodi nama yang melekat sedari kecil—pria yang mengantarnya sekolah, mengusir anjing liar, setia, patuh, dan kini menjadi eksekutor kehendak orang tuanya.

"Saya tahu bapak, maaf saya sedang sibuk bekerja,"

" Nona, Mei, izin pulang sudah saya urus dengan Ibu pengawas panti," jawabnya ekspresi datar. "Nona, boleh tanya dengan Ibu Dewi, dan jangan sampai panti asuhan ini bermasalah gara gara nona."

" Hei, Pak Dodi, "Mei meradang, mukanya berubah merah padam. " Bapak mengancam saya ? mengancam panti asuhan ?"

Pria itu tersentak kaget, wajahnya pucat, " M-maaf Non, saya ..."

" Kalau bapak memaksa juga saya akan berteriak."

Ibu Dewi pengurus panti datang tergopoh-gopoh, "Mei ...pulang lah sayang."

"'Ibu memaksa saya harus pulang?"

Ia tercekat menatap, beban itu seperti berpindah di bahunya, " Mei ..kamu sayang sama Ibu ? Kamu cinta dengan anak anak?"

"Mengapa ibu bertanya begitu ?"

"Kalau kamu sayang dengan kami, pulang lah, Nak ."

Gadis berwajah lembut menyentuh tangannya, " Ibu kenapa ? Ada apa dengan panti ?"

" TIdak apa apa...Nak, " Wajahnya seketika berubah murung. " Ibu baik baik saja."

Mei mengernyit pasti ada sesuatu yang mengancam, siapa lagi kalau tidak orang tuanya." Maaf kan Mama, Bu "

Ibu Dewi terperanjat, " Eh ..tidak Mei."

"Bu, seandai Mas Andra datang tolong sampaikan kalau Mei..."

"Sayang, tenang, nanti ibu sampaikan."

Mei akhirnya masuk ke dalam mobil dengan tubuh kaku dan wajah kusut.

Sementara Ibu Dewi melepas tangan di dada seperti seseorang kehilangan segalanya.

\=\=

Andra merasakan ada yang salah sebelum dia tahu apa yang terjadi. Dia baru keluar kantor, naik ojek online, membawa bekal roti untuk anak-anak. Tapi ponselnya sunyi, tak ada balasan pesan tiga jam lalu.

Ia masuk dengan langkah buru-buru. Ibu Dewi menunggu di teras, sendiri dengan payung tak dibuka meski hujan mulai turun.

"Andra," panggilnya berat. "Mei sudah dijemput."

"Dijemput? Siapa?"

"Mobil hitam. "Perempuan itu menggeleng, air matanya jatuh di pelupuk "Mereka sudah tahu di mana Mei bersembunyi. Datang menjemput dengan kekuasaan."

"Bu Dewi" Andra memegang tangannya erat, "mereka ke mana?"

"Ibu tidak tahu, tapi..." Dia berhenti sejenak ragu. "Andra, Mei itu anak baik tapi dunianya... berbeda dengan kita. Kamu siap? Siap untuk apa pun ?"

Andra tidak menjawab berlari ke pinggir jalan, menelepon

"Rei..Mei di jemput paksa pulang oleh keluarganya."

"Apa ? "

"Gue mau kerumah nya, Rei, apapun ceritanya.

" Jangan nekat, Dre, lu bakal susah."

" Biar."

----

Rumah itu lebih besar dari yang Andra dibayangkan. Pagar tinggi dengan kawat berduri, gerbang besi dikawal dua satpam berseragam seperti polisi, taman lebih luas dari lapangan sepak bola kampungnya.

"Anda siapa ? ada urusan?" Satpam pertama mencegatnya ketika ia mendekat. Mata nya menelisik dari ujung kepala sampai ujung kaki ; kemeja kusut, sepatu mengelupas, payung yang tak mampu menahan hujan

" Sa - ya Andra, Pak, ingin ber - temu dengan Mei," jawabnya tersendat

"Mei ? Mei siapa ?" ulang satpam kedua, seolah nama itu lelucon.

" Meisyah." Andra mencoba tegak. "Saya teman Non Meisyah.

"Teman? Non Meisyah?" Dia bertukar pandang dengan rekannya. "Anda mungkin salah alamat, Non Meisyah tidak punya teman ... seperti ini."

Andra tersenyum miris, tahu apa yang mereka pikirkan, seorang karyawan biasa berani datang ke rumah seorang konglomerat dengan payung bocor dan kemeja lecek.

Tapi bayangan wajah gadis itu, bagaimana ia meraih tangan nya dengan lembut, memberinya sugesti kuat "Saya tidak akan pergi,"

Satpam itu hanya menggeleng menunggu saat yang tepat untuk mengusir nya.

"Mas, Mas Andra."

Tiba tiba ia mendengar suara berteriak memanggil nya dari atas balkon lantai dua

" Mei ?"

Gadis itu mengenakan gaun formal, mahal, dan terkurung, wajahnya di poles make up tipis sederhana dengan rambut diikat rapi. Tapi matanya masih sama—masih milik Mei yang duduk di ayunan hampir putus.

"Mas, kenapa Mas ke sini? Bahaya—"

Sekonyong sebuah tangan muncul di bahu, menariknya sedikit ke belakang, tangan berkilauan dengan jam tangan mahal.

Fero.

Andra melihatnya untuk pertama kali. Pria tampan terlatih—postur tegak, wajah simetris, senyum yang tak sampai ke mata. Ia tak bisa membaca ekspresinya dari jarak ini, tapi dapat merasakan tatapan merendahkan

"Mei!" teriak Andra, tak peduli dengan satpam yang mendekat, menarik tangannya untuk tidak mendekat ke arah pintu gerbang, tak peduli dengan hujan masuk ke mata. "Mei, turun! Kita pergi!"

Gadis itu hanya diam, tangannya sudah dalam genggaman dunia yang tak dapat ia ditinggalkan begitu saja.

Namun tidak lama gerbang besar terbuka pria paruh baya, berjas, berwibawa, berjalan dengan langkah pasti dipayungi kearahnya "Siapa kamu ?"

" Saya Andra, Pak," jawabnya membungkuk dengan sopan.

" Lalu apa hubungan mu dengan Mei ?"

Andra terselip lidah, bibirnya kaku menjawab.

" Saya teman nya Mei sama sama volunteer di Ruman Yatim."

" Rumah Yatim? Saya tahu itu, tapi kamu seperti nya orang baru dalam kehidupan anak saya."

" Saya ...saya bersahabat dekat dengan Mei, Pak."

" Bersahabat? Ia mengernyit, " Kamu datang hujan hujan hanya untuk kalimat sahabat ?.

"Nak, saya tahu kamu datang dengan niat baik. Tapi ini urusan keluarga. Meisyah punya tanggung jawab sudah direncanakan sejak lama. Kamu... mengganggu."

Andra menatap pria yang mirip dengan Mei: kecerdasan, ketegasan, kemampuan mencintai dengan keras kepala, melihat orang lain sebagai bagian dari rencana, bukan individu.

"Pak," jawab Andra lebih tenang dari yang dirasakan, "saya hanya ingin mendengar dari Mei apa yang ia mau, bukan apa yang direncanakan. "

Laki laki itu terdiam tapi matanya berkedip mungkin ada rasa penasaran, atau terganggu.

---

Tidak lama terdengar langkah kaki tidak beraturan keluar dari dalam rumah. Mei muncul di ambang pintu— didampingi ibu memegang lengannya kuat, dan Fero berdiri di belakang tersenyum penuh kemenangan.

"Mei tidak mau " ucapnya bergetar tapi tegas, di depan semua orang—ayah, ibu, Fero, satpam, dan Andra yang basah kuyup di luar gerbang. "Mei tidak mau hidup seperti Papa Mama rencanakan. Mei mau... memilih jalan hidup sendiri."

Ibu nya tertawa miris "Pilihan? Dengan apa? gaji administrasi? apartemen kumuh?"

Mei tidak menjawab berusaha melepaskan tangan ibunya berjalan ke arah gerbang

dengan langkah tenang tapi pasti, melewati ayahnya, Fero— wajahnya mulai retak dan

Ibu yang memanggil tak terkendali.

Ia berhenti di depan gerbang. Satpam menoleh ke ayahnya, menunggu perintah namun ia hanya diam.

Mei mengulurkan tangannya.“Mas…”

Suaranya pelan tapi sampai.“Pegang tangan Mei."

Andra tidak ragu meraih tangannya menggenggamnya erat di celah gerbang, di antara dua dunia, mereka berdiri bersama.

“Meisyah!”

Fero melangkah maju, untuk pertama kalinya kehilangan kendali. “Kamu membuat kesalahan besar Mei, aku yang selalu ada buat kamu! Aku yang—”

“Fero.” Ia menatapnya tanpa rasa bersalah.

“Kamu baik, tapi kamu tidak pernah melihat aku.”

Hening.

“Kamu hanya melihat calon istri, yang bisa kamu atur, kamu tundukan demi kepentingan kamu sendiri."Ia menggenggam tangan Andra lebih erat.

“Sementara pria didepan ini, dengan ketulusan, dan kesederhanaannya melihat Mei sebagai seorang perempuan bernama Meisyah dengan segala kekurangan dan kepolosan dan itu cukup.

Mereka berjalan pergi menjauh dari gerbang,

dari rumah. dari dunia yang ingin mengurungnya kembali.

Di belakang, suara teriakan pecah—ibunya, Fero, tapi ayahnya hanya diam menatap tak terbaca.

1
Ddie
Mengapa kamu tidak mengingatku, Mei ? Aku adalah suamimu..bukan orang lain mencintai karena harta benda
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!