NovelToon NovelToon
Istri Kecil Kesayangan Presdir

Istri Kecil Kesayangan Presdir

Status: tamat
Genre:CEO / Beda Usia / Konflik etika / Tamat
Popularitas:225.6k
Nilai: 5
Nama Author: kikoaiko

Aaron Bernard merupakan presiden direktur dari perusahaan raksasa, dia pria yang berkuasa, dingin, dan penuh misteri.

Malam-malam, saat sedang dalam perjalanan pulang dari perusahaannya, di tengah jalan dia menemukan seorang gadis yang tergeletak di tengah jalan.

Aaron yang pensaran meminta asistennya untuk mengecek kondisi perempuan tersebut, dia takut hanya sebuah jebakan untuk membunuhnya.

Namun, ternyata salah, gadis itu benar-benar pingsan tak sadarkan diri dengan kondisi yang memprihatinkan.

Aaron meminta asistennya untuk memasukkan kedalam mobilnya, dan membawanya ke rumah.
Dia merawat gadis itu hingga sembuh sampai akhirnya menikahinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 13

Udara pagi di mansion itu terasa lebih dingin dari biasanya. Cahaya matahari menelusup lewat jendela-jendela tinggi, menyinari lantai marmer yang berkilau. Ayla berdiri cukup lama di depan cermin kamarnya, menatap pantulan wajahnya sendiri yang masih tampak pucat, tapi tidak lagi selemah beberapa hari lalu.

Semalaman ia tidak benar-benar tidur. Pikirannya terus berputar, menimbang, takut, ragu, dan memaksa dirinya untuk berani. Ia tidak mungkin selamanya bergantung pada Aaron. Tidak mungkin terus bersembunyi di mansion pria itu seperti seorang tamu tanpa undangan yang tak tahu kapan harus pergi.

Kakinya memang masih sedikit nyeri saat digerakkan. Bekas luka itu belum sepenuhnya pulih, tetapi setidaknya ia sudah bisa berjalan tanpa harus meringis setiap langkah. Itu sudah cukup baginya.

“Sudah waktunya,” gumamnya lirih.

Setelah sarapan yang terasa hambar di lidahnya karena gugup, Ayla beberapa kali melirik ke arah Aaron yang duduk di ujung meja makan panjang itu. Pria itu seperti biasa—tenang, dingin, dan sulit ditebak. Tangannya memegang cangkir kopi, sementara tatapannya tertuju pada layar tablet di depannya.

Jantung Ayla berdetak lebih cepat. Ia meremas kedua tangannya di bawah meja, mencoba mengumpulkan keberanian yang sejak tadi terasa menguap.

“Tuan…” panggilnya pelan.

Aaron mengangkat wajahnya perlahan. Tatapannya datar, sulit dibaca. “Ada apa?”

Suara itu selalu terdengar tegas, tanpa emosi. Membuat siapa pun yang mendengarnya langsung merasa kecil.

Ayla menelan ludah. “Sebelumnya… saya mau mengucapkan terima kasih. Karena tuan sudah menolong saya.”

Aaron tidak menyela. Ia hanya menautkan jemarinya, meletakkan siku di atas meja, memangku dagunya sambil memperhatikan Ayla dengan sorot mata tajam.

“Tapi maaf,” lanjut Ayla, suaranya sedikit bergetar, “saya belum bisa membalas kebaikan tuan. Nanti… setelah saya punya uang, saya akan kembali ke sini. Saya akan mengganti semua biaya yang sudah tuan keluarkan untuk saya selama saya tinggal di sini.”

Ruangan itu mendadak terasa sunyi. Hanya terdengar detik jam dinding dan desah napas yang tertahan.

Aaron masih diam.

Tatapannya tidak berubah, tapi ada sesuatu di sana—sesuatu yang sulit diartikan Ayla. Apakah itu penilaian? Rasa tidak percaya? Atau sekadar penasaran?

“Saya sudah sembuh,” Ayla melanjutkan, mencoba terdengar tegar. “Hari ini saya mau berpamitan untuk pergi.”

Beberapa detik berlalu sebelum Aaron akhirnya mengangguk pelan.

“Kamu mau pergi ke mana?” tanyanya kemudian, suaranya tetap rendah dan tenang. “Biar nanti Miko yang mengantarmu.”

Nama Miko membuat Ayla terdiam. Ia bahkan tidak memikirkan tujuan. Ia hanya ingin pergi. Ingin berdiri dengan kakinya sendiri, walau tanpa arah.

“Saya… tidak tahu,” jawabnya jujur. “Saya akan mencarinya nanti.”

Alis Aaron sedikit terangkat. “Memangnya kamu punya uang?”

Pertanyaan itu seperti tamparan halus yang menyadarkannya pada kenyataan pahit.

Ayla menggeleng pelan.

Aaron menghembuskan napas kasar, terdengar jelas di tengah kesunyian. Ia bangkit dari kursinya, mengambil dompet dari saku jasnya. Tanpa banyak bicara, ia membuka dompet itu dan mengeluarkan seluruh uang tunai yang ada di dalamnya.

Lembaran-lembaran uang itu diletakkannya di atas meja, lalu didorong ke arah Ayla.

“Pergilah,” ucapnya singkat. “Ini uang untukmu.”

Ayla terpaku. Matanya melebar, menatap tumpukan uang itu seolah benda asing.

“Saya tidak bisa menerimanya, tuan,” bisiknya.

“Anggap saja pinjaman,” potong Aaron cepat. “Kalau kamu memang berniat mengembalikannya, maka kembalikan suatu hari nanti.”

Nada suaranya tetap dingin, tapi ada ketegasan yang tak memberi ruang untuk ditolak.

Ayla perlahan mengambil uang itu dengan tangan gemetar. Dadanya terasa sesak. Ia tidak menyangka pria yang selalu terlihat tak berperasaan itu masih memiliki sisi seperti ini.

“Terima kasih,” ucapnya tulus, kali ini tanpa ragu.

Aaron tidak menjawab. Ia hanya kembali duduk, mengambil cangkir kopinya, seolah keputusan itu bukan sesuatu yang berarti.

Namun saat Ayla berbalik dan mulai melangkah menuju pintu keluar, langkahnya sedikit tertatih karena kakinya yang belum sepenuhnya pulih, Aaron diam-diam mengangkat pandangannya.

Tatapannya mengikuti punggung gadis itu.

Ada rasa asing yang menyelinap di dadanya. Perasaan yang jarang ia rasakan—keinginan untuk menahan, untuk melarang, untuk berkata jangan pergi.

Tapi ia tidak melakukannya.

Ia hanya mengepalkan rahangnya pelan, membiarkan Ayla berjalan semakin jauh dari ruang makan itu.

Pintu mansion terbuka, membiarkan cahaya pagi menyambut Ayla. Angin menerpa wajahnya, membawa aroma kebebasan sekaligus ketidakpastian.

Di luar gerbang besar itu, dunia menunggunya—keras, kejam, dan tanpa jaminan.

“Mik, antar wanita itu pergi.”

Suara Aaron terdengar tegas begitu Miko muncul di ambang ruang makan. Asistennya itu sempat terdiam sepersekian detik, menangkap suasana yang terasa berbeda pagi ini. Biasanya mansion itu sunyi karena wibawa tuannya, tapi sekarang sunyinya terasa… lain.

“Kemana, tuan?” tanya Miko hati-hati.

Aaron tidak langsung menjawab. Tatapannya masih tertuju pada pintu besar yang tadi dilewati Ayla. Rahangnya mengeras, seolah sedang menahan sesuatu yang tidak ingin ia akui.

“Tidak tahu. Kau ikuti saja apa katanya,” jawabnya singkat.

Miko mengangguk. Ia sudah lama bekerja untuk Aaron, cukup paham kapan harus bertanya dan kapan harus diam. Tanpa banyak bicara lagi, ia segera berbalik dan berjalan cepat keluar mansion.

Di halaman depan, Ayla sudah berdiri tak jauh dari gerbang. Ia menggenggam uang pemberian Aaron dengan erat, seperti takut lembaran-lembaran itu akan terbang tertiup angin bersama keberaniannya yang mulai goyah.

Langkahnya sempat terhenti saat mendengar suara pintu mobil dibuka.

“Nona Ayla.”

Ayla menoleh. Miko berdiri di samping mobil hitam mengilap milik Aaron.

“Tuan menyuruh saya mengantar anda,” ucapnya sopan.

Ayla menggeleng pelan. “Tidak perlu, saya bisa naik angkot atau… kendaraan umum.”

Miko tersenyum tipis. “Anggap saja ini perintah terakhir dari tuan. Beliau tidak akan suka kalau saya membiarkan anda pergi sendiri dalam keadaan seperti ini.”

Ayla terdiam. Ia tahu tidak ada gunanya menolak. Dengan langkah sedikit pincang, ia berjalan mendekat.

“Ayo, aku antar,” ucap Miko lembut, membimbing Ayla masuk ke dalam mobil.

Pintu tertutup pelan. Mesin mobil menyala, suara halusnya memecah keheningan pagi. Perlahan mobil itu bergerak, meninggalkan halaman luas mansion Bernard.

Gerbang besar terbuka, lalu kembali tertutup setelah mobil melewatinya.

Ayla menoleh ke belakang.

Mansion itu tampak megah dan dingin. Tempat yang beberapa hari lalu menyelamatkan hidupnya. Tempat yang memberinya perlindungan saat ia tidak punya siapa-siapa. Dadanya terasa sesak, tapi ia memaksakan diri untuk tersenyum kecil.

“Ke mana saya harus mengantar anda?” tanya Miko setelah mobil melaju cukup jauh.

Ayla terdiam cukup lama. Pertanyaan itu kembali menghantamnya.

“Saya… belum tahu,” jawabnya pelan.

Miko meliriknya lewat kaca spion. “Apa anda punya teman? Atau saudara?”

Ayla menggeleng. “Tidak ada.”

Jawaban itu membuat suasana di dalam mobil terasa semakin berat. Hanya suara mesin dan deru kendaraan lain yang menemani.

Beberapa menit berlalu sebelum Ayla akhirnya bersuara lagi. “Tolong antar saya ke pusat kota saja. Saya akan mencari pekerjaan.”

Miko tidak langsung menanggapi. Ia tahu dunia di luar sana tidak ramah untuk wanita sendirian tanpa uang dan tempat tinggal. Tapi ia juga tahu, tuannya tidak pernah menarik kembali keputusan yang sudah dibuat.

“Baik,” jawabnya akhirnya.

Sementara itu, di dalam mansion megah itu, seorang pria bernama Aaron berdiri di balik jendela kaca besar mansionnya.

Tangannya dimasukkan ke dalam saku celana, bahunya tegak seperti biasa. Dari balik kaca, ia bisa melihat mobilnya yang perlahan menjauh, menghilang di balik gerbang mansionnya yang menjulang tinggi.

Pandangan matanya tajam, namun kali ini tidak setenang biasanya.

Untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa kepergian seorang gadis sederhana bisa meninggalkan ruang kosong yang tak kasat mata di hatinya.

Ia tidak terbiasa dengan perasaan itu.

Selama ini hidupnya dipenuhi angka, kontrak, kekuasaan, dan keputusan tanpa ragu. Orang datang dan pergi tanpa pernah meninggalkan bekas. Ia tidak pernah peduli.

Tapi Ayla berbeda.

Gadis itu datang dalam keadaan paling rapuh, namun tetap mempertahankan harga dirinya. Ia menolak dikasihani. Ia memilih pergi meski tidak punya apa-apa.

Aaron menghela napas panjang.

“Bodoh,” gumamnya pelan, entah ditujukan pada Ayla yang nekat, atau pada dirinya sendiri yang membiarkannya pergi.

Tangannya tanpa sadar mengepal.

Ia bisa saja menahannya. Bisa saja menawarkan pekerjaan, atau sekadar mengatakan untuk tinggal lebih lama sampai benar-benar pulih. Tapi egonya terlalu tinggi untuk mengucapkan kalimat sederhana itu.

1
Ipunk Hantu
mantap jiwa Thor di tgu kelanjutan Thor
Ipunk Hantu
lanjut dong KK Thor
🇹🇼 Mimi Sanah 🇮🇩
tangkap masukkan kemarkas , hayalan ku begitu😄
🇹🇼 Mimi Sanah 🇮🇩
jgn kecewakan kita ya Thor 🥺🙏
🇹🇼 Mimi Sanah 🇮🇩
ya Allah alya😭
🇹🇼 Mimi Sanah 🇮🇩
adduh bahaya , semoga Aaron cepat menyadari orang tersebut, Thor jantungku kebat kebit thoooorrr😭
🇹🇼 Mimi Sanah 🇮🇩
semoga dirumah sakit aman
🇹🇼 Mimi Sanah 🇮🇩
😭😭😭😭😭
Desi Arriani
menarik untuk di baca
Linda Muslimah
wkwk 🤣🤣🤣
Zainuri Zaira
nanti mau tulis lgi kasih nama tokohx calya. avanza. xenia jga bagus dn agya😄
Zainuri Zaira
ap mau susah2 cari ginjal ambil lgi lh ginjal ayla yg ad ditubuh leticia. ayla nama mobil dahatshu 😃😄
Zainuri Zaira
danar gila tega sma ank kandung sendiri
Nazia wafa abqura
bagus thor
Erna sujana Erna sujana
sangat bgus..di tnggu kelanjutan nya thor
Erna sujana Erna sujana
Aron memang keren..😄
Erna sujana Erna sujana
Alya TDK aman..Aron segera lh ambil tindakan..👍👍
Erna sujana Erna sujana
lanjut..seru CRT nya
Asyatun 1
lanjut
Yuni
/Ok/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!