Saat pertarungannya melawan Hukum Langit mencapai puncak, Lin Xinyao seorang taois berbakat yang menentang takdir gugur dalam pertempuran. Namun sebelum jiwanya lenyap, sebuah cahaya putih menariknya ke dimensi lain, mempertemukannya dengan seorang gadis bernama Yao Yao yang memiliki wajah identik dengannya. Yao Yao, yang lemah dan penuh luka batin, menyerahkan tubuhnya kepada Xinyao dan memintanya untuk hidup menggantikan dirinya.
Kini, Lin Xinyao terbangun di kehidupan baru yang bukan miliknya, membawa sumpah untuk suatu hari kembali menantang Hukum Langit sekaligus mengungkap rahasia kelam di balik tubuh yang kini ia huni.
---
CATATAN PENULIS
Karya ini adalah murni hasil khayalan dan imajinasi penulis. Segala nama, karakter, tempat, dan peristiwa tidak memiliki hubungan dengan dunia nyata. Jika ada kesamaan, itu semata-mata kebetulan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blumoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Feng Feng(◕ᴗ◕ )
Fengyun duduk diam, mata nya menatap bayangan nya yang terpantul di cermin yang terletak di sudut kiri.
Wajahnya tetap tenang, punggungnya tegak, napasnya teratur setidaknya dari luar.
Namun di dalam dadanya, sesuatu perlahan retak.
'Kenapa…
Tatapannya tanpa sadar kembali tertuju pada Xinyao. Gadis itu berdiri santai, tersenyum ringan, seolah dunia tak pernah melukainya. Seolah ia benar-benar bebas.
" Kenapa setiap orang bisa berdiri sedekat itu dengannya… kecuali aku? "
Ada rasa asing yang merayap, panas namun dingin bersamaan.
Bukan amarah yang meledak, melainkan kecemburuan yang menggigit perlahan diam-diam, namun mematikan.
" Tetangga. Sahabat. Orang baru, lalu aku ini apa? "
Jari-jarinya mengepal tanpa sadar.
" Seharusnya aku yang ada di sana. "
Pikirannya menekan dadanya sendiri.
" Seharusnya aku yang memastikan kau aman. Bukan membiarkan dunia menyentuhmu lebih dulu. "
Ia tidak menyukai perasaan ini.
Tidak menyukai kehilangan kendali.
Lebih dari itu
ia membenci kenyataan bahwa ia tidak punya hak apa pun untuk marah.
" Kalau aku maju satu langkah lagi… aku akan berubah menjadi apa? "
Matanya meredup.
" Dan kalau aku mundur… aku akan kehilanganmu sepenuhnya. "
Fengyun menghela napas panjang, perlahan, seolah sedang menekan sesuatu yang liar di dalam dirinya.
" Tenang, " katanya pada diri sendiri.
" Belum saatnya. "
BRAK!
Suara meja di pukul keras memecah keheningan. Fengyun tersentak, lamunannya buyar seketika, seolah benang pikiran yang sempat terulur jauh diputus paksa.
“Sunyi banget,” celetuk Xinyao sambil menghela napas panjang.
“Rasanya kayak berada di pemakaman… bahkan pemakaman aja lebih ramai.”
Qinglan menoleh dengan dahi berkerut.
“Hah? Sejak kapan pemakaman itu ramai? Iya ramai tapi... kan ramai orang mati”
“Sejak barusan,” jawab Xinyao cepat, bibirnya mengerucut kesal.
Tanpa sadar, sudut bibir Fengyun terangkat. Tawa kecil lolos dari tenggorokannya ringan, nyaris tak terdengar.
“Hei,” Xinyao melangkah mendekat, menunjuknya dengan jari.
“Ngapain ketawa? Lucu apanya?”
Fengyun tersenyum lembut. Ia menurunkan jari mungil itu perlahan, sentuhannya ringan namun penuh makna.
“Qinglan,” ucapnya singkat satu kata, sarat kode.
“Oh… hahah!” Qinglan langsung menangkap maksud itu.
“Eh, Yao Yao, aku keluar sebentar ya. Mau beli cemilan.”
“Oh, nitip milk tea satu! Jangan lupa bobanya, jangan pelit!” sahut Xinyao ceria.
“Oke!” Qinglan menutup pintu dan menghilang di balik lorong.
Apartemen kembali sunyi.
“Yah… tinggal berdua deh,” gumam Xinyao santai, sama sekali tak menyadari getaran halus yang berdesir di udara.
Namun bagi Fengyun, kalimat itu bukan sekadar kelakar.
Namun sebuah Kesempatan.
Tiba-tiba, ia menarik tangan Xinyao sedikit lebih keras dari seharusnya. Tubuh Xinyao oleng dan jatuh tepat di pangkuannya.
“Akh—!” Xinyao refleks memejamkan mata. “Eh… loh?”
Ia membuka mata perlahan.
“Kok… empuk?”
Pandangan mereka bertemu.
Waktu seakan berhenti. Dunia di sekitar meredup, menyisakan dua pasang mata yang saling mengunci.
' Dewa Langit… ' batin Xinyao tercekat.
' Makhluk ciptaan-Mu yang satu ini… terlalu berbahaya. '
Fengyun tidak membiarkan detik itu berlalu. Dengan gerakan cepat, nyaris naluriah, ia mencuri satu kecupan singkat tepat di bibir Xinyao.
“Akh.....!”
PLAK!
Seketika sebuah jimat menempel di dahi Fengyun. Tubuhnya membeku, tak bisa digerakkan.
“Dasar mesum!” Xinyao melompat berdiri, pipinya memanas. Ia menyentuh bibirnya sendiri, matanya membulat.
“Kau… kau nyuri ciuman pertamaku!”
Fengyun menunduk, ekspresinya berubah muram.
“Maaf. Aku… tidak sengaja.”
Namun di balik penyesalan itu, hatinya bergetar.
Aku terlalu terburu-buru…
“Aaaa.....kembalikan!” Xinyao merengek, nadanya seperti anak kecil yang kehilangan mainan.
“Balikin ciuman pertamaku!”
“Bagaimana caranya?” tanya Fengyun lirih. Tubuhnya masih kaku oleh jimat.
Xinyao mendekat perlahan. Jarak mereka menipis.
Lalu
CUP.
Ia mencium singkat pipi Fengyun, lalu segera memalingkan wajah.
“Kita impas,” katanya dengan nada sok angkuh.
“Tapi jangan harap aku lepasin jimatnya. Rasain tuh, biar kapok. Tunggu sampai adikmu balik.”
“Oke,” jawab Fengyun patuh.
Namun di dalam hatinya ia bersorak.
Xinyao memalingkan wajah, pura-pura tenang. Tapi senyum kecil di bibirnya tak bisa disembunyikan.
' Aaa… '
Kalau dipikir-pikir…
'cium orang ganteng nggak buruk juga.'
Ia mendengus pelan.
' Sayang… ini bukan tubuh asliku. '
Meski mulutnya menolak, hatinya justru berdebar riang.
“Tidak sia-sia,”
gumamnya pelan, nyaris tak terdengar.
“Reinkarnasi ke dunia ini.”
Pintu apartemen kembali terbuka.
Ceklek.
“Aku balik....!”
Langkah Qinglan terhenti mendadak.
Di ruang tamu, Fengyun duduk kaku di sofa, tubuhnya tegak lurus seperti patung lilin. Sebuah jimat kuning menempel rapi di dahinya. Matanya masih bisa berkedip, tapi seluruh tubuhnya tak bergerak sedikit pun.
Sementara itu, Xinyao berdiri di depannya dengan tangan terlipat, wajahnya memerah, bibirnya mengerucut kesal namun jelas menyembunyikan sesuatu.
Qinglan menatap bergantian.
Patung.
Jimat.
Xinyao.
Sunyi.
Beberapa detik berlalu.
“…Aku,” ucap Qinglan pelan, “kayaknya balik di waktu yang salah.”
Xinyao tersentak. “Hah? Kamu cepat banget baliknya!”
“Milk tea-nya,” Qinglan mengangkat kantong plastik di tangannya. “ Nih .”
Lalu ia mencondongkan tubuh sedikit, menatap dahi Fengyun lebih dekat.
“Gege,” katanya datar, “kenapa kamu ditempeli jimat kayak mayat pengutang yang belum lunas?”
Fengyun ingin berbicara.
Ingin menjelaskan.
Ingin membela diri.
Namun yang keluar hanyalah… kedipan mata lambat.
Qinglan mengangguk-angguk.
“Oh. Kode Morse.”
“Bukan gitu!” Xinyao cepat-cepat menyela. “Dia yang....eh pokoknya dia salah!”
“Ah.” Qinglan menoleh dengan senyum tipis.
“Berarti benar.”
“Benar apanya?!” sahut Xinyao cepat
“Gege,” Qinglan mendesah dramatis, “aku baru pergi sepuluh menit.”
Xinyao memalingkan wajah. “Itu bukan salahku…”
“Dan kamu,” lanjut Qinglan sambil menunjuk Xinyao, “sudah berhasil mengubahnya jadi pajangan feng shui.”
Xinyao mendengus. “Biar dia refleksi diri.”
Qinglan meletakkan milk tea di meja, lalu menyandarkan tubuh ke sofa, menyilangkan tangan. Tatapannya penuh selidik.
“Jadi,” katanya pelan tapi menusuk, “aku ketinggalan apa?”
Xinyao terdiam.
Fengyun berkedip dua kali cepat.
' Bukan aku.'
' Tolong.'
Xinyao meliriknya sekilas, lalu berkata datar, “Dia nyuri ciuman.”
PLUK.
Milk tea hampir jatuh dari tangan Qinglan.
“…Hah?”
Fengyun membelalakkan mata.
' Bukan nyuri! '
“Terus?” Qinglan bertanya pelan, suaranya berbahaya.
“Terus aku balikin.”
Sunyi.
Qinglan menatap Xinyao.
Menatap Fengyun.
Menatap jimat.
Lalu
“HAHAHAHA!”
Qinglan tertawa terbahak sampai harus memegang perut.
“Ya ampun, Gege!” serunya. “Baru juga keluar kandang, langsung dapet jimat edisi spesial!”
Xinyao cemberut. “Kok kamu ketawa sih!”
“Karena lucu!” Qinglan menyeka air mata. “Kamu tau nggak wajahnya sekarang kayak zombie yang baru sadar dia lupa bayar cicilan!”
Fengyun: (kedip)
“Tenang,” Qinglan menepuk pundak Xinyao. “Aku di pihakmu.”
“Hah? Beneran?”
“Tentu.” Qinglan tersenyum licik. “Gege ini terlalu percaya diri. Sekali-kali kena jimat biar inget dunia masih punya hukum.”
Fengyun: (kedip… lambat)
“Buka jimatnya kapan?” tanya Qinglan santai.
Xinyao berpikir sejenak. “Nanti. Biar dia kapok.”
Qinglan mengangguk mantap. “Setuju.”
Lalu ia mencondongkan badan ke arah Fengyun, berbisik pelan
“Gege… ini namanya karma instan.”
Fengyun menutup mata.
Hancur.
Benar-benar hancur.
Namun entah kenapa di balik kekakuan tubuh dan harga diri yang remuk sudut hatinya justru terasa… hangat.
Bersambung 🥂
restu mendarat dengan mulus...
tapi yao2 gk gmpang ditaklukin 😜
,, saatny beraksi lagi xinyaoo... sembuhin nenek biar dpt restu camer~
bakal ketahuan gk nih masa depan pasangannya siapa 🙃🙃
selamany aja deh kek gitu...