Medina Khaled, gadis cantik bermata Hazel dari Ghaza yang telah di adopsi oleh seorang dokter relawan bernama Yasmin Ameena, dan suaminya bernama Ardan Mahesa, memiliki putra tunggal Rendra Mahesa.
Dokter Yasmin menolong Medina di bawah reruntuhan bangunan. Gadis itu masih bisa di selamatkan.
Dokter Yasmin merasa iba pada Medina yang sebatang kara, ia membawa Medina pulang ke Indonesia dan menjadikan nya anak angkat.
Setelah dewasa, Medina menolak tawaran dokter Yasmin untuk melanjutkan studinya di Amerika menyusul Rendra yang sudah disana. Medina ingin bekerja, belajar mandiri. Dokter Yasmin tidak ingin kehilangan Medina. Akhirnya ia menyuruh Rendra untuk pulang, dan menikahi Medina. Mau tak mau, ke-duanya harus menuruti keinginan dokter Yasmin, walau Rendra sudah memiliki kekasih. Rendra menyayangi Medina, tapi ia punya selera di luar sana. Membuat Rendra bermain di belakang Medina.
Bagaimana kah kelanjutan Rumah Tangga nya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosseroo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Malam nya Rendra dan ayahnya baru saja pulang dari kantor. Ia merasa haus, dan berjalan ke arah dapur untuk mengambil segelas air.
Yasmin yang baru saja keluar dari kamar menyambut suaminya.
"Bund, ayah buatin susu hangat ya. " ucap ayah Rendra yang kini sedang duduk di sofa, menyandarkan tubuh lelahnya.
Yasmin mengangguk setelah membawa kan tas kerja ke dalam kamar, lalu berjalan ke arah dapur.
"Kamu haus nak? Gak bilang bunda, nanti bunda buatin. "
"Gak usah bund, Cukup segelas air putih saja. Medina sudah tidur kah? "
"Sudah. Tadi dia menunggu mu dengan wajah cemberut. Lucu sekali, bibirnya manyun seperti anak itik. "
"Iish bunda malah ngatain. "
Yasmin tertawa. "Habisnya lucu. Dia akhir-akhir ini sikapnya bukan seperti Medina. "
"Justru itu sikap aslinya bund. Dia anaknya periang, polos dan cerewet. Aku juga baru tahu semenjak dia hamil.
Sepertinya, dulu dia selalu menjaga sikap. Dan semenjak hamil, justru sifat aslinya keluar. Rendra sempet terkejut sih, ternyata ini sisi lain dari Medina yang aku belum kenal. "
"Kalau gitu, kamu harus kenalan dong."
Rendra tertawa. "Tentu saja bund, dia ini lucu dan menggemaskan. "
"Apa kamu mencintai nya? "
"Kok bunda nanya itu? "
"Soalnya kan selama ini kamu menganggapnya adik. Apalagi kamu lama di Amerika. "
"Rendra kan memang sayang sama Medina. Dan semenjak menikah, rasa sayang Rendra semakin bertambah dan menjadi cinta bund. "
"Ini jujur apa gombal? "
"Astaga bunda, gak percaya sama anak sendiri? "
"Jangan sakiti Medina ya Ren. Dia anak yatim piatu. Bunda sedih kalau ingat dulu, saat dia di bawah reruntuhan puing-puing bangunan. Dia masih bernafas, tapi.. keluarga tak bisa di selamatkan. "
Rendra hanya menangguk dan menatap sendu bunda nya.
"Awalnya bunda mau menjodohkan Medina dengan Azzam, anak pakde kamu. Cuma dia masih sekolah di Kairo. Beberapa bulan lagi baru wisuda dan pulang kesini. "
"Kok gitu sih bund, Rendra di anggap apa? "
"Ya bukan gitu. Bunda gak mau kehilangan Medina. Bunda juga gak siap jika dia harus pergi bekerja. Bunda maunya dia sekolah, tapi dia menolak karena gak mau merepotkan bunda lagi. Padahal bunda sukarela loh Ren. "
"Akhirnya, dari pada Medina pergi, bunda panggil kamu. "
"Berarti nanti kalau Azzam selesai, bunda mau jodohin Medina sama dia gitu? "
"Ya enggak lah, orang udah jadi istri kamu. Lagi hamil pula. " Yasmin tertawa.
"Habisnya bunda bawa-bawa Azzam sih."
"Ya maaf, kan itu rencana. Nyatanya Allah justru menakdirkan Medina sama kamu. Makanya kamu harus bersyukur. Pasti nanti anak kamu sangat tampan dan cantik. "
Rendra paham maksud ibunya. Ia tidak akan salah memilih bibit untuk keturunannya. Lalu, bagaimana Vanessa? Ah, dia hanya untuk pelampiasan imajinasi liar Rendra saja. Tapi tidak untuk menjadi istri. Tetap Medina yang pantas di jadikan istri.
*******
Selang beberapa bulan berlalu. Kini perut Medina sudah memasuki usia tujuh bulan. Perkiraan Rendra yang awalnya hanya empat bulan di Indo, nyatanya maju beberapa bulan.
Hingga Rendra benar-benar setia menemani masa-masa kehamilan Medina dari morning sickness sampai kini tubuh Medina menjadi lebih berisi.
Di Rumah Sakit
Rendra menemani Medina untuk cek kehamilannya.
"Bagus, tali pusar tidak melingkari leher, janin juga sehat dan udah mulai gemuk ya. Jadi mulai sekarang kurangi yang manis -manis. "
"Nah, ini jenis kelamin nya. Wahh ternyata baby girl. Pasti cantik sekali seperti ibunya. "
Rendra menggenggam tangan Medina. Air matanya luruh saat melihat hasil USG di layar monitor.
Esoknya, Rendra menuntun Medina saat menaiki tangga pesawat jet. Hari ini adalah jadwal pemberangkatan mereka ke Amerika.
Sebelumnya mereka telah berpamitan pada kedua orang tua Rendra juga pada bu Fatimah.
Sampailah mereka di bandara. Rendra dan Medina di jemput oleh supir pribadi nya.
Mereka pulang ke rumah yang telah di beli Rendra. Disana sudah ada beberapa pelayan dan suster yang akan selalu sigap menjaga dan membantu Medina.
Medina sangat takjub saat melihat taman bunga yang di tata begitu indah.
"Bagaimana, kamu suka sayang? " bisik Rendra.
"Suka mas. Ini berasa kaya di dunia dongeng. "
"Tapi, ini nyata buat kamu sayang. Kamu kan suka bunga. Jadi ku buatkan taman bunga yang indah buat kamu. "
"Ayo kita masuk ke dalam. " Rendra mengulurkan tangannya untuk di genggam Medina.
Mereka memasuki rumah dan di sambut oleh beberapa pelayan disana.
"Mas, ini kok kaya princess aja sih? "
"Kamu bukan princess sayang. Tapi, kamu Ratu di rumah ini. "
"Oh iya. hehe.. "
Setelah berkeliling rumah, Rendra mengajak Medina masuk kamar utama. Dan kamar lainnya yang rencananya untuk calon anak mereka nanti.
"Kita ke kamar yuk? "
Medina terpukau, melihat kamar utama yang luas dengan cat cream keemasan. Desain klasik modern, sangat bagus dan nyaman.
"Kamu suka? " Medina mengangguk.
"Suka sekali. Aku akan merasa sangat nyaman di kamar ini. "
"Tentu saja nyaman. Aku sengaja menyuruh orang untuk mendesain khusus pasangan suami istri. "
Medina menoleh, saat Rendra memeluknya dari belakang.
"Kamar yang nyaman juga buat bikin dede bayi part dua. "
Medina mencubit lengan suaminya. "Mas, ini aja belum keluar. Udah mikirin part dua. Astaghfirullah! "
Rendra terkekeh, ia mengusap lembut perut istrinya yang sudah membesar itu. Rendra terkejut saat tangannya merasakan sebuah genyolan dari perut istrinya.
"Sayang, dia lagi nendang. Lucu sekali."
"Mas, setelah USG dan anak kita perempuan. Kamu gak papa? "
"Memang kenapa, perempuan ataupun laki-laki sama saja sayang. Kan masih ada kesempatan lagi. " goda Rendra.
"Astaga mas! "
"Sayang, kata dokter karena usia kamu yang masih terlalu muda. Dokter nyaranin buat di cesar. " Medina hanya mengangguk pasrah.
Setelah makan malam. Rendra mengajak Medina untuk beristirahat di dalam kamar.
Saat Medina telah tertidur pulas, tak bosan bosannya ia memandangi wajah ayu istrinya.
Notifikasi pesan membuat Rendra menoleh saat ia sedang asik mencumbu pipi dan bibir istrinya.
Rendra mengambil ponselnya, berencana membuka pesan itu tiba-tiba Vanessa meminta video call. Ia langsung pergi ke kamar mandi.