NovelToon NovelToon
The Death Mirror

The Death Mirror

Status: tamat
Genre:Misteri / Horror Thriller-Horror / Model / Obsesi / Tamat
Popularitas:426
Nilai: 5
Nama Author: Richest

Michelle sudah lama mencintai Edward, namun ternyata lelaki itu justru jatuh cinta dan menjalin hubungan dengan Kimberly, teman baik Michelle sendiri.

Rasa benci Michelle terhadap Kim semakin membara. Sehingga salah seorang sahabatnya yang lain mengajaknya ke desa sepupunya.

Michelle membawa pulang barang antik berupa cermin tua yang sangat menyeramkan setelah pulang dari hutan. Cermin itu bisa mendatangkan petaka.

Hingga kabar tentang kematian Kim setelah beberapa hari menikah dengan Edward pun tersebar di kalangan masyarakat.

Ada misteri apa di balik kematian Kimberly?

Ayo temukan jawabannya dengan membaca novel ini sampai selesai, selamat membaca 🥳

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Richest, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13

Michelle pulang ke rumahnya dengan diantar oleh Edward. Lelaki itu mengantarnya hingga ke depan rumah gadis itu. Tanpa sepengetahuan mereka berdua, ada seseorang yang sedang mengawasi mereka.

Dua orang pria bertubuh kekar yang merupakan anak buah Sisca. Gadis itu sengaja ingin memata-matai Michelle untuk mencari tahu lebih lanjut mengenai kejahatan Michelle.

Saat Michelle masuk ke dalam rumahnya, dua pria itu langsung bergegas pergi dari sana. Mereka berjanjian dengan Sisca untuk ketemuan di sebuah kafe.

Sisca mengaduk-aduk makanannya. Akhir-akhir ini dia sedang tidak selera makan. Perutnya juga terasa masih mual mengingat mayat Kimberly di rumah Michelle.

Orang suruhannya sudah tiba. Ia mempersilakan mereka berdua untuk duduk di sana. Salah satu dari mereka berdua mengeluarkan handphone nya untuk menunjukkan bukti berupa foto dan vidio kepada Sisca.

"Apa ada informasi terbaru tentang aktivitas Michelle?"

"Sepertinya dia sedang menjalin asmara dengan seorang lelaki bernama Edward, bos. Tadi kami melihat lelaki itu mengantar Michelle pulang ke rumahnya."

"Iya, dia benar. Ini buktinya bos." dia menyerahkan handphone nya kepada Sisca.

Gadis itu memperhatikan foto-foto dan vidio di sana dengan cermat dan teliti. Tidak terlihat mesra. Namun mereka terlihat saling melemparkan senyuman.

"Sepertinya mereka tidak punya hubungan apa-apa. Tidak mungkin Edward mau bersama Michelle. Apalagi dia kan sudah tau jika istrinya meninggal karena Michelle. Mungkin saja ini hanya kebetulan dia mengantar Michelle pulang. Michelle kan bekerja di perusahaan nya Edward."

"Uhm, baiklah. Apa yang harus kami lakukan selanjutnya bos?"

"Terus awasi Michelle dan hati-hati. Ingat, jangan sampai ketahuan dan jangan sampai ketinggalan satu informasi pun."

"Baik bos."

"Ini upah kalian." gadis itu menyerahkan segepok uang untuk kedua orang suruhannya itu.

Sementara Michelle telah selesai mandi. Dia mengeringkan rambutnya dengan menggunakan hair dryer. Kemudian lanjut ke meja rias untuk berdandan.

"Halo, Michelle." sapa Orla kepadanya.

Gadis itu tersentak. Dia tampak kesal dengan Orla yang datang secara tiba-tiba dan mengagetkannya. Apalagi penampilan makhluk itu sangatlah menyeramkan. Mana mungkin orang tidak takut melihatnya.

"Kau jangan suka datang tiba-tiba seperti itu. Kau membuatku kaget saja." geramnya.

"Terserah diriku ingin datang kapan saja. Salah sendiri siapa suruh kaget."

"Masalahnya kalau kamu itu perempuan cantik manis kayak bidadari aku enggak akan kaget, setan! Tapi penampakan kamu ini jelek dan menyeramkan sekali!" hardiknya.

Orla tampak murka dengan ungkapan sarkas dari Michelle. Dia merasa sedang dilanda amarah. Tubuhnya menjadi semakin besar dan menyeramkan.

Michelle yang menyaksikannya semakin terlihat ketakutan dan tinggal diam. Orla semakin bergerak mendekatinya. Dengan kukunya yang besar dan runcing itu dia menepis wajah Michelle.

Namun gadis itu segera menghindar. Walaupun begitu, ia tetap terkena lancipnya kuku Orla sedikit. Pipinya menjadi tergores sehingga berdarah.

Dia memegangi pipinya dan menahan rasa sakit yang sangat pedih sekali itu. "Maaf, Orla. Maafkan aku. Aku tadi terlalu emosi makanya aku jadi begitu kasar denganmu. Kumohon jangan marah lagi."

"Siapa suruh berbicara seenaknya saja kepadaku! Sekarang rasakan hukuman dariku!"

Dia mengangkat tubuh Michelle hingga melayang ke udara. Gadis itu merasa sangat ketakutan. Kemudian dia menjatuhkan Michelle hingga terpental ke lantai.

"Aww!!!" Michelle memegangi pinggangnya yang menjadi tumpuan saat terjatuh tadi.

"Haha, itu belum seberapa bedebah!!"

"Jika kau tidak ingin menyerahkan wajahmu yang cantik manis itu, maka kau harus carikan gantinya! Harus yang cantik, manis, dan seperti bidadari! Kalau tidak, maka kau akan merasakan kejamnya perbuatan ku nanti."

Setelah mengatakan itu, Orla segera menghilang secara tiba-tiba. Michelle segera bangkit dan menuju nakasnya. Dia mengambil kotak obat untuk mengobati luka di wajahnya.

"Akh, dia benar-benar sudah berani mengancamku. Sekarang pipiku jadi terluka begini." gerutunya.

"Lalu aku harus menculik siapa lagi untuk ditumbalkan kepadanya?!! Akh!!" gadis itu mengacak-acak rambutnya hingga terlihat sedikit berantakan.

"Aku tau. Aku culik dan bunuh saja Sisca sebelum dia juga melaporkan kepada polisi tentang kasus kematian Kimberly dan penculikan mayatnya."

"Tapi bagaimana caranya ya?" dia tampak sedang berpikir keras.

Michelle berpikiran ingin meminta bantuan kepada Edward. Hanya saja ia takut nanti Edward marah dan benci kepadanya dikarenakan mengetahui ia sudah membunuh Kim.

"Enggak, bukan cara yang tepat jika aku harus meminta bantuan kepada Edward."

Tanpa Michelle sadari, ada sebuah kamera mini tersembunyi di dalam ruangan kamarnya tersebut. Anak buah Sisca sudah mengatur tata letaknya yang tersembunyi namun bisa merekam seisi ruangan itu dengan jelas.

Dari jarak jauh, Sisca bisa melihat apa saja yang terjadi di dalam ruangan itu tadi. Bahkan dia sangat syok menyaksikan kehadiran sosok makhluk yang sangat menyeramkan bernama Orla tersebut.

Dia benar-benar tidak habis pikir sejak kapan sahabatnya menjadi semenakutkan itu. Padahal dulu yang dia tahu Michelle itu orang baik-baik. Namun ternyata menyimpan rahasia yang sangat kelam di baliknya.

"Aku benar-benar tidak menyangka Michelle telah berteman dengan makhluk aneh seperti ini. Bahkan aku saja tidak tahu apa namanya makhluk ini. Dia benar-benar sudah gila."

"Aku harus memberitahu ini ke Edward. Dia juga harus tau tentang ini."

Chris datang ke kamar gadis itu. Dia membawakan gadis itu sebuah nampan berisi cemilan dan minuman untuk disantap bersama.

"Ada informasi terbaru dari anak buah kamu, Sis?"

"Belum ada, tapi aku baru saja melihat rekaman cctv di kamarnya Michelle. Cobalah kau lihat sendiri sejauh mana menyimpangnya seorang Michelle saat ini."

"Dia sungguh sudah tidak bermoral." tambahnya.

Chris membuka rekaman itu. Dia memperhatikannya dengan saksama sambil menikmati cemilan yang ia bawa tadi.

"Aku sungguh tidak percaya dia sudah berubah sejauh ini. Sepertinya ini benar-benar harus cepat diatasi."

"Bagaimana kalau kita datang ke rumah Edward malam ini?"

"Iya, kamu benar. Aku memang harus menemuinya. Kamu nanti tunggu saja di luar ya untuk berjaga-jaga."

Mereka menempuh perjalanan kurang lebih selama setengah jam untuk sampai ke rumah Edward. Sisca dituntun masuk ke dalam oleh asisten di rumah mewah itu.

Beberapa menit menunggu, akhirnya orang yang ditunggu segera keluar dan menghampirinya. Lelaki tampan itu duduk di sofa di dekat Sisca. Dia juga penasaran ada apa sebenarnya gadis itu datang malam-malam seperti ini.

"Ada apa Sisca?"

"Aku ingin menunjukkan sesuatu ke kamu. Ini tentang Michelle." Sisca memperlihatkan sebuah rekaman vidio pertikaian antara Orla dan Michelle.

Edward bergidik ngeri menonton rekaman vidio tersebut. Dia merasa sedikit merinding. Maka dari itu dia tidak melanjutkan menonton sampai selesai.

Dia juga turut bingung dengan hubungan antara Michelle dengan makhluk menyeramkan di vidio tersebut. Ini sungguh tak masuk di akalnya.

Sisca menjelaskan semuanya kepada Edward. Lelaki itu setia mendengarkan setiap penjelasan dari gadis itu.

Sisca mengajak Edward untuk bekerjasama dengannya agar bisa menjebak Michelle hingga ia masuk ke dalam penjara.

Setelah pembicaraan mereka selesai, Sisca segera berpamitan pulang kepada Edward. Dia masuk ke dalam mobil yang mana Chris sudah stand by di dalamnya sedari tadi.

"Bagaimana?"

"Dia mau diajak bekerjasama dengan kita. Doakan saja semoga berhasil ya, Chris."

Setelah mengantar Sisca hingga ke rumahnya, Chris segera pulang ke rumahnya juga. Sebenarnya ini bukanlah rumah Sisca.

Gadis itu tinggal di sebuah rumah milik Chris yang tidak ditinggali oleh lelaki itu. Mereka juga takut timbulnya fitnah maka dari itu mereka tinggal secara terpisah.

1
Crazy Girl
Apa yang terjadi dengan Michelle selanjutnya? Semuanya ayo semangat lagi bacanya ☺️✌️
Isabel Hernandez
Sudut pandang baru
Crazy Girl: lanjut baca terus yaa 👍🙏
total 1 replies
Abdul Rahman
Nah, ini baru kualitas cerita yang oke!
Crazy Girl: Terimakasih, baca terus ya:)
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!