NovelToon NovelToon
Alone Together

Alone Together

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Horror Thriller-Horror / Teen School/College / Romansa
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Mara Rainey

Tujuh murid Seoryeong Academy terpaksa menjalani detention di hari libur setelah membuat onar di sekolah. Park Jiha, si cewek populer yang semua orang iri. Kim Taera, cewek beprestasi yang sempat jadi primadona namun berakhir difitnah dan dikucilkan. Jeon Junseok, murid bandel kesayangan Guru BK. Kim Haekyung, atlet kebanggaan yang selalu terlihat ceria. Min Yoohan, tukang tidur yang nyaris tidak pernah peduli. Serta Kim Namgil & Park Sojin, Ketua Kelas dan murid teladan yang diam-diam suka bolos demi mojok (pacaran).

Mereka mengira hanya perlu duduk diam beberapa jam, menunggu hukuman selesai. Tapi semua berubah saat seseorang mengunci mereka di gedung sekolah yang sepi.

Pintu dan jendela tak bisa dibuka. Cahaya mati. Telepon tak berfungsi. Dan kemudian… sesuatu mulai mengawasi mereka dari bayang-bayang. Tujuh bocah berisik terpaksa bekerja sama mencari jalan keluar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mara Rainey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 11 : Game of Survival (pt. II)

24 Mei 2015 (Malam Teror)

Haekyung mengernyit, dia yang paling pertama menyadari ada kaleng sup menggelinding keluar dari pintu di sisi kanan.

"Apa itu?"

Enam kepala berpaling dari pintu.

Haekyung membungkuk untuk memungut kaleng kosong itu. Labelnya memudar dan setengah hilang, cetakannya sekarang dikaburkan oleh pesan tebal yang ditulis menggunakan spidol hitam. Haekyung memutar kaleng itu di tangannya sambil membacakan pesan yang tertulis di badan kaleng:

Selamat datang...

Kalian tidak tahu siapa kami, tapi kami tahu siapa kalian.

Ini aturan yang harus kalian ikuti:

1. Kami bebas mengoyak kalian seperti ibu kalian pernah mengoyak harapan kami

2. Kami bebas mengejar kalian dan kalian bebas bersembunyi

3. Penggunaan senjata diperbolehkan\, jika kalian tertangkap\, tanggung sendiri resikonya

4. Permainan berakhir saat fajar\, coba-coba kabur\, tanggung sendiri resikonya

"What the..." Haekyung membanting kaleng itu ke lantai hingga bentuknya agak penyok. "Ini lelucon bikinan siapa?! Hooiii! Keluar kau keparat! Siapa yang menulis ini?!" Haekyung tersulut emosi. Dia mendatangi setiap pintu lalu mengintip ke dalam. "Heeeiii! Bajingan! Sudah cukup! Biarkan kami pulang! Pengecut! Bisanya sembunyi!"

Namgil berjongkok, menyerahkan kaleng itu ke Yoohan yang membacakan pesan itu untuk dirinya sendiri. Jiha di sebelahnya gemetaran.

Di luar pintu, suara sepatu boot orang itu melangkah pergi, menjauh, menjauh, lalu menghilang.

Hening.

Sojin adalah orang terakhir yang memegang kaleng itu, memutarnya bolak-balik saat dia membaca pesan beberapa kali. Junseok bisa mendengar napas Sojin yang cepat dari jarak sedekat ini. "Maksudnya...? Siapa orang iseng yang membuat ini?"

"Aku tidak yakin itu kerjaan orang iseng," cetus Yoohan. "Memang ada yang mengincar kita."

"Kenapa?"

"Masih belum jelas juga?" Yoohan berdecak kesal, kemudian merebut kaleng dari tangan Sojin, dipamerkan di depan seluruh mata. Supaya bocah-bocah lemot ini sadar. "Kalian tidak curiga sejak awal? Pesan ini untuk kita! Ini bukan gertak sambal. Aku yakin ada kaitannya dengan Oh Jeongyeon. Hanya Tuhan yang tahu dosa macam apa yang pernah dilakukan ibuku dan ibu kalian. Yang jelas, orang-orang sakit jiwa ini mengincar kita."

"Konyol banget!" Junseok terkekeh.

"Ada yang lucu?" Yoohan menyipitkan mata.

Cowok itu menggeleng di sela-sela tawa meremehkannya. "Ibuku bukan penindas!"

"Darimana kau tahu? Bisa kau jelaskan siapa pria aneh yang mengejar kita?" Yoohan yang terlihat santai kini meledak-ledak emosi. "Kau bisa menjelaskan semua ini? Kenapa harus kita? Kenapa dia mengejar kita? Bisa kau jelaskan!?"

"Seonbae, begini ya, daripada mempercayai mentah-mentah trik murahan di kaleng sup yang kemungkinan besar ditulis oleh sekelompok bedebah iseng, mending cari guru olahraga sialan itu lalu keluar dari sini," usul Junseok sebodo amat. "Ada daftar tunggu game yang belum kuselesaikan di rumah."

Cuma Jiha yang menyadari pergeseran emosi di wajah Junseok. Berusaha terlihat sok kuat dan tidak peduli, seperti biasa.

"Semakin cepat kita menemukan jalan, semakin cepat kita keluar. Aku tidak ingin berlama-lama tinggal di sini sementara ada pria penyidap kelainan jiwa keluyuran."

"Benar!" Haekyung tumben langsung setuju. "Bisa jadi pesan ini ditulis anak-anak di kelas itu untuk menakut-nakuti sesamanya, kaleng itu tidak sengaja terjatuh dari meja dan menggelinding keluar."

"Menggelinding keluar sendiri? Hebat juga kaleng punya kehendak sendiri." Yoohan berdecak-decak. "Di mata kalian semua ini hanya lelucon, kan?"

"Aku sudah memeriksa semua ruangan," Haekyung merentangkan tangan sambil menatap ke segala penjuru. "Tidak ada siapa-siapa selain kita di gedung ini."

"Kau yakin? Bagaimana dengan Dongwon ssaem?" Sojin masih cemas. "Dia bisa jadi masih berada di suatu tempat di gedung ini. Aku setuju dengan Junseok, sebaiknya cari dia lalu keluar secepatnya. Orang tua kita pasti khawatir."

"Excuse me." Jiha berkacak pinggang. "Kalian idiot atau bodoh permanen? Kalau alarm anti-teroris aktif, tandanya semua akses ke pintu-pintu utama tidak bisa digunakan! Gimana caranya kita keluar?"

"Gimana cara menonaktifkannya?" Kening Yoohan berkerut heran.

"Ruang kepala sekolah," sambar Namgil. "Teman sekelasku pernah dipanggil untuk membantu kepala sekolah memperbaiki laptop. Katanya sih di ruangan itu ada kotak panel kaca dengan banyak tombol-tombol misterius, aku tidak tahu."

"Why?" Jiha bengong. "Kepala sekolah punya tombol-tombol aneh di ruangannya?"

"Tersembunyi dalam meja?" Namgil nyengir. "Bukan aku lho yang lihat, ini kata temanku. Dia baru mengaku setelah kusogok pakai voucher makan di Panda Express."

Tanpa kebanyakan drama seperti tadi, mereka mencapai kesepakatan final.

Tujuan berikutnya ruang kepala sekolah!

Terdengar bunyi gemerisik di langit-langit. Disusul bunyi ketukan jari di atas mikrofon, berdenging mengiris gendang telinga dan bergema mengisi sudut-sudut sepi.

Itu berasal dari pengeras suara! Ada seseorang di ruang sekretariat broadcasting!

"Tes tes... satu.. dua.. satu... hihihihi."

Itu suara perempuan. Suara paling tengil dan cempreng dan ganjil yang pernah ada.

Sojin mangap. "Guys..."

"Perhatian perhatian, sebentar lagi permainan dimulai, jika kalian tidak bersembunyi, kami akan menangkap kalian. Dan jika kalian tertangkap, ding dong! Matilah kalian! Hahahaha! Kuhitung dari 100 ya."

"Bodoh! Seratus itu kebanyakan! Kita tidak punya waktu sebanyak itu!"

Yang barusan bicara suara laki-laki. Sulit menebak umurnya.

Yoohan, Haekyung, Sojin dan kawan-kawan kompak pasang telinga, jantung mereka berdebar keras.

Yang jelas itu suara parau seorang pria.

Bukan, ini berbeda dari pria yang mengejar mereka.

Siapa orang-orang ini? Mereka mau apa?

Namgil and the gang mulai menganggap serius ancaman di kaleng sup. Tampang-tampang bocah-bocah ini tegang seperti narapidana yang menunggu dieksekusi.

"Jalan!" perintah Namgil. "Ayo cepat! Ke ruang kepala sekolah! Mereka cuma orang gila! Abaikan saja!"

"Mereka orang gila yang punya senjata dan berniat membunuh kita," lanjut Yoohan.

Dipelototi oleh Namgil. "Shut the fuck! Jalan saja, oke?"

Terburu-buru mereka menyusuri koridor, dari jalan cepat menjadi setengah berlari. Lari, lari, lari, sesekali menoleh untuk memastikan tidak ada siapa-siapa yang mengikuti mereka.

"Larilah tikus-tikus kecilku sayang!" Perempuan cempreng itu bersiul-siul kemudian tertawa cekikikan, ketawanya annoying banget.

"Cepat! Cepat! Cepat!" seru Namgil.

Mereka lari-lari kalap. Kali ini Junseok berlari didepan sambil menggandeng tangan Jiha, yang ngomong-ngomong tidak pernah dia lepaskan. Dia berusaha membuat suara sesedikit mungkin, yang terlalu mustahildilakukan karena sepatunya menimbulkan gema. Yoohan sempat tersandung dannyaris tersungkur ke depan jika kerah jaketnya tidak keburu disambar Haekyung.Akhirnya mereka sampai di cabang yang tadi mereka lewati, mereka ambil langkahke kiri, berlari ke sana.

"...20...19...18...17...16..." Perempuan sinting itu terus menghitung. "...15." Suaranya mengiringi langkah-langkah panjang Namgil dan kawan-kawan.

"Dimana sih ruangannya?" Sojin pikun. Rasa takut menghapus sebagian memorinya untuk sementara.

"Ikuti si Junseok!"

Napas Taera memburu, mata menatap nyalang ke depan sana. Gadis itu terhuyung dan Haekyung harus memeganginya agar Taera tidak jatuh ke lantai. Pada akhirnya mereka sampai juga di depan pintu ruangan kepala sekolah sambil terbatuk-batuk. Kewalahan.

Junseok meraih handel pintu lalu memutarnya. Ternyata tidak dikunci.

Mata Yoohan melebar curiga. "Hei, kok aneh ya. Awas... hati-hati!"

Junseok tidak dengar, dia lebih fokus berbagi senyuman manis ke Putri Cantik yang berdiri di sebelahnya.

Tangan Junseok gemetar saat menggenggam gagang pintu ruangan kepala sekolah. Rasanya lembab dan lengket di tangan. Setelah mengambil napas dalam-dalam sembari menghitung mundur, Junseok mulai mendorong pintu. Begitu mengintip ke dalam ruangan, benar-benar gelap bukan main. Tanpa cahaya penerangan.

Mengandalkan kemampuanmata yang seadanya, Junseok berkedip keras, berusaha setengah mati melihat dalamkegelapan, menelusuri setiap sudut ruangan yang tampak samar-samar. Tak adasiapa-siapa di sini. Tak ada tanda-tanda kehadiran orang.

Tangan Junseok meraba-raba saklar lampu di sisi kanan. Ruangan itu sekarang terang-benderang, namun Junseok merasakan sesuatu yang dingin dan tajam berada di kulit lehernya.

Tidak butuh otak untuk menebak benda dingin dan tajam itu adalah pisau, yang digenggam tangan lain. Tangan kasar laki-laki dipenuhi bulu-bulu halus, terjulur dari tembok di sisi kanan, tembok dimana Junseok menemukan saklar lampu.

Jiha terbelalak ngeri melihat si pemilik tangan menampakkan wajah. Haekyung ternganga. Junseok membeku di posisinya, sementara kawan-kawannya ambil langkah mundur dengan tampang waspada. Tatapan menilai dilayangkan oleh mereka.

Pria itu begitu kurus. Berumur sekitar empat puluh atau lima puluh. Rambutnya gelap dan dicukur model undercut ala militer dengan potongan rambut tipis, nyaris memperlihatkan kulit kepala, di sisi kanan dan kiri. Telinganya menjulur keluar seperti telinga alien kurcaci. Hidungnya besar, bengkok seperti paruh burung dan tampak sangat aneh di wajah tirusnya. Pria itu memakai kaos oblong putih dan celana cargo militer.

Pinggiran pisau menekan kulit Junseok.

"Maaf ya," katanya sambil menyeringai, memperlihatkan dua gigi depan yang ompong. "Tidak ada jalan keluar dari sini."

"Siapa kau?" gumam Junseok dengan nada sengit dan sorot mata sangat memusuhi.

Jiha mendesis "Kumohon jangan bunuh kami..." Inginnya dia seret Junseok menjauhi pintu, tapi apalah daya, pisau itu bisa menggeret leher Junseok kapan saja.

Satu kali gerakan...

Jika pria itu berniat membunuh Junseok....

Leher Junseok "habis" dalam satu kali gerakan!

Junseok menatap sosok pria di hadapanya. Tubuhnya yang kurus seolah-olah berpendar karena memantulkan cahaya lampu. Junseok mengamati senyumnya yang mengerikan. Matanya yang gelap menatap dengan pandangan kosong.

"Please..." Jiha memohon-mohon, mata dan pipinya basah kuyup. Bagaimana tidak, dalam satu hari dihadapkan dengan dua pria gila bersenjata. Yang satu shotgun, yang satu lagi pisau.

Taera membuka mulut, namun tak ada suara yang keluar, ekspresi wajahnya sangat ketakutan, bersembunyi di belakang punggung Haekyung, mencengkram kedua pundaknya. Kuku-kuku Taera seolah menembus permukaan kain, membuat Haekyung agak meringis. Sojin gemetaran, dia memeluk Namgil erat-erat.

"Kau tidak bisa melakukan ini," ucap Junseok, jantungnya bereaksi keras. "Kami cuma ingin pulang ke rumah, dude. Ayolah... memangnya kami salah apa?"

Pria itu mengencangkan cengkeramannya pada gagang pisau, ujung pisau menekan daging tepat di bawah dagu Junseok. Junseok ingin menelan ludah tetapi tidak bisa, takut pisau itu akan merobek kulitnya.

"Masuk!" perintahnya. "Silahkan, anggap rumah sendiri."

Taera menggeleng-geleng kencang. "Tidak! Tidak mau!"

Pria itu tertawa terbahak-bahak. "Kenapa tidak? Kukira tadi kalian mau masuk?"

"Pleaseee." Suara Jiha tercekat, nyaris tak terdengar. "Please... jangan sakiti kami, biarkan kami pergi... kau mau apa?"

"MASUK, SIALAN!" hardik pria itu.

Jiha dan Taera kompak berjengit kaget dibentak sekeras itu. Percuma memasang tampang sedih dan memohon.

Pria itu menarik Junseok masuk secara paksa. Junseok hanya diam menurut. Bukan saat yang tepat untuk memberontak. Tidak untuk saat ini. Junseok masih mengawasi situasi, mencari-cari celah dimana dia bisa menghancurkan hidung pria ini.

Begitu semuanya benar-benar di dalam, tidak ada lagi yang berani bersuara. Pria itu melepaskan Junseok dan mendorong punggungnya. Mata Junseok bergerak lincah menyoroti sekeliling, mencari apa yang bisa dijadikan senjata, rasa ingin tahu berbaur dengan teror.

Di luar, hujan semakin deras, menghantam atap dan meninggalkan jejak-jejak basah. Embusan angin kencang bertiup menembus gorden, memadamkan nyala api di atas lilin. Hanya jendela ruangan ini yang dibiarkan terbuka lebar.

Selama beberapa detik yang lama mereka berdiri, diselimuti ketegangan melihat pria itu mondar-mandir sambil mengawasi mereka.

Namgil bisa merasakannya dalam kesunyian: Ini baru permulaan. Awal dari permainan bodoh yang harus mereka mainkan. Main atau kalah dan keluar sebagai mayat.

"Setahuku kepala sekolah memajang senapan laras panjang di tembok," bisik Namgil namun kurang pelan. "Kita harus menemukannya."

"Temukan senapannya." Mata Haekyung juga ikut mencari.

"Mencari ini?" Suara lembut mendadak muncul dari belakang mereka, wanita itu menggenggam senapan, pelan-pelan keluar dari kamar mandi.

Wow... apa-apaan ini? Ibu kepala sekolah...?

Yoohan berkedip berkali-kali, mengucek-kucek mata, takut berhalusinasi. Mana mungkin itu...

Tapi itu... benar-benar...

Oh Seoyeon!

Salah satu dari wanita yang tidak bisa tidak kalian kagumi. Segala sesuatu tentang dirinya ditampilkan secara sempurna lewat senyum, kilatan cerdas di matanya, serta gaya berbusana, mulai dari blus merah marun di bawah blazer hitam hingga celana panjang warna senada, dia memakai pump shoes yang dirancang oleh desainer dunia. Rambutnya panjangnya warna cokelat gelap, dikuncir ke belakang untuk menampilkan struktur tulang pipi sempurna dari wajahnya.

Melihat kepala sekolah di siang hari membuat murid-murid menunduk hormat.

Tapi melihat kepala sekolah berkeliaran di malam hari dalam buasana formal bukan sesuatu yang wajar, iya kan?

Itulah alasannya tujuh murid yang terjebak di sekolah pada malam hari tidak akan menunduk hormat kepada bu kepala sekolah yang muncul tiba-tiba.

Kehadirannya sungguh tak terduga, membuat mereka kehilangan kata-kata.

Yang pertama kali berani buka suara tentunya Namgil, "Kyojangnim, apa yang anda lakukan di sekolah malam-malam begini? Anda dihukum juga kemudian terjebak lalu dikejar-kejar orang gila seperti kami?"

Ha ha, lucu sekali, Namgil. Usaha yang bagus.

Sayangnya dia langsung mendapat pelototan dari enam pasang mata.

"Tidak, aku tidak terjebak, terima kasih sudah bertanya." Bu Soyeon tersenyum kalem.

Senyum manis yang terlalu santai, dalam kondisi tidak santai. Alarm peringatan di kepala mereka mendeteksi sesuatu.

Seoyeon memompa senapannya dan mengangkat larasnya, mengarahkannya ke dada Namgil dan semua orang, kecuali si pria kurus. "Silahkan duduk, anak-anak."

Sojin nyaris tertawa, miris mendengar nada formal seorang kepala sekolah menyuruhnya duduk.

"Duduk di lantai," tambah Seoyeon. Moncong senapan mengikuti pergerakan mereka. Dengan ngeri, mereka duduk berlutut di lantai.

"Senang akhirnya melihatkalian berkumpul di hari yang sama. Inilah hukuman kalian yang sebenarnya, anak-anak." Nada bicara Seoyeonmengingatkan Taera akan minuman keras yang penampilannya menarik. Mengandungsesuatu yang terlarang.

"Siapa pria yang mengejar-ngejar kami?" tuntut Yoohan tetap berwajah datar. "Anda berada di belakang semua ini? Anda yang merencanakan ini? Anda juga yang menulis pesan di kaleng?"

"Kira-kira siapa?" Seoyeon mengarahkan senapan itu ke jidat Yoohan. "Kalian boleh keluar dari ruangan ini, tapi dengan satu syarat, sebagai konsekuensi karena kami menemukan kalian, salah satu dari kalian tidak boleh keluar dari ruangan ini."

"Setelah apa yang anda lakukan, jangan kaget kalau saya menuntut anda dan sekolah busuk ini. Ini tidak lucu!" Mulut pedas Junseok beraksi.

"JeonJunseok." Seoyeon tersenyum manis sekali. "Untuk saat ini aku lebihsenang berpura-pura kau tidak pernah mengatakan itu."

Seoyeon menatap dua gadis yang terjepit di antara para penyamun. Jiha adalah gadis yang tampak polos. Cantik. Rambut lurus hitam kecoklatan, hidung kecil. Di tengah kerumunan, dia akan mudah diabaikan.

Kecuali mata.

Daya tarik Jiha terletak pada matanya.

Itu yang menarik orang lebih dalam. Mata itu tajam dan seterang batu obsidian. Sepasang mata itu memancarkan kekuatan dan obsesi, bahkan ketika diselubungi perasaan takut. Seoyeon menemukan gambaran Hyunjung di masa lalu pada sepasang mata itu. Gadis yang penuh hasrat menggebu-gebu. Taera juga mirip Hejin. Ibu dan anak itu bagai pinang dibelah dua. Bedanya, mata Taera agak redup, gadis cerdas kurang percaya diri. Yang diam-diam rela melakukan apa saja demi mewujudkan ambisi.

Wajah.

Tatapan.

Semuanya sama.

The rotten apple injures its neighbors. Kejahatan mengalir dalam darah mereka. Terus-menerus membuat "apel-apel" lain ikut membusuk jika dibiarkan.

Sojin ingat, dulu, wanita gila ini pernah menyombong soal kejuaraan tembak yang pernah dia ikuti. Serta hobi berburu yang sering dia lakukan di waktu senggang. Siapa sangka sekarang targetnya murid-murid sendiri?

Rasanya terlalu naif kalau berpikir Seoyeon sengaja memanggil mereka untuk menemaninya latihan sekaligus mengasah bakat dalam hal tembak-menembak. Tidak. Wanita ini sinting. Dia berniat menghabisi mereka semua malam ini. Motifnya dendam. Dan kalau ucapan Yoohan benar, pasti gara-gara dendam tahun 1985.

Seoyeon tidak mengalihkan pandangan atau senapannya dari Yoohan yang gemetaran. "Jangan khawatir. Ini tidak akan sesakit yang kalian bayangkan. Aku biasanya sih lebih suka mengarahkannya langsung ke kepala, head shot, penderitaannya tidak bakalan lama. Tidak perlu sekarat untuk berjumpa dengan Tuhan."

Namgil merapat ke Sojin kemudian berbisik, "Beb, bisakah kau bujuk dia?"

Sojin hanya memegangi tinggi lampu, berubah jadi batu.

"Sayang," bisik Namgil. "Kumohon. Lakukan sesuatu."

"Kok aku?" Sojin melotot protes.

"Kau murid kesayangannya."

Sojin memandangi Namgil, lalu berkata kepada Seoyeon, "Bu... kalau memang kami dan orang tua kami ada salah, kami benar-benar minta maaf, maafkan orang tua kami yang pernah menyakiti adik kandung anda."

Seoyeon tersenyum. "Sudah terlambat." Ekspresi wanita itu berubah keras. "Kalian dengar? Sudah terlambat!"

Sojin tertegun, memandangi mata liar wanita itu, namun tetap kesulitan membacanya.

"Menghadap ke tembok, kalian semua, sekarang!" geram Seoyeon, mengayunkan laras ke arah mereka.

"A-apa?" Junseok merasakan kekhawatiran yang sama dengan wajah-wajah lain. Dia mengangkat tangannya ke atas, masih belum percaya. Sehari-hari dia sudah membenci wanita ini. Setelah melihatnya memegang senapan, perasaan benci Junseok mengembang lebih besar. "Bu... tolong jangan lakukan..."

"Menghadap tembok!"

Gemetaran sebadan, ogah-ogahan mereka melangkah mendekati tembok. Haekyung membimbing Taera, menempatkan dirinya tepat di depan tembok. Mereka berdiri seperti tujuh narapidana di hadapan regu tembak.

"Bu.." Sojin masih usaha. "Tolong maafkan orang tua kami, adik anda tidak akan senang melihat anda melakukan ini..."

"Diam!" bentaknya.

Sojin tersentak kaget, lalu buru-buru berpaling menatap tembok.

"Kak, sini biar aku saja." Si ompong menawarkan diri.

Kak? Dia bilang apa tadi?

Tanda tanya menguasai wajah mereka.

Pria itu adik Seoyeon juga?

Seoyeon menatap belakang kepala mereka satu per satu dengan sorot dingin di matanya. "Kalian semua adalah kumpulan anak-anak tukang cari perhatian berhati kotor yang paling menyedihkan yang pernah aku lihat. Datang ke sini setiap pagi bertindak seolah-olah kalian memiliki tempat ini."

Namgil mengeluarkan nada suara yang paling menenangkan dan profesional. "Kyojangnim, mungkin kami berutang permintaan maaf—"

Kilatan menyilaukan dan ledakan memekakkan telinga yang bercampur dengan jeritan keras Taera membuat Namgil refleks menunduk, tembok di atas kepalanya hancur ditembak. Namgil meringkuk, kedua tangan terangkat melindungi kepala.

Lutut Jiha lemas, dia melorot ke lantai. Tangan Junseok sigap meraihnya agar tidak jatuh. Namun, Jiha terlanjur terkulai lemas di dekat kaki Junseok, matanya setengah menutup. Kesadarannya sebentar lagi terbang.

Pria itu memompa senjata di tangannya. "Suruh gadis itu berdiri!"

Junseok menarik kedua tangan Jiha lalu memeluknya erat-erat. Jiha seperti boneka kain tak bernyawa, lututnya lemas seperti agar-agar, berkali-kali dia nyaris merosot lagi.

Pria itu mengayun-ayunkan larasnya ke depan ke belakang dengan entengnya, seperti mengayun-ayunkan gagang payung, definisi sempurna dari sakit jiwa.

"Biarkan kami pergi—" Taera tidak sempat mengemis lebih lama, moncong senapan menempel di punggungnya.

"Hei, keparat! Jangan sentuh dia!" teriak Haekyung murka.

"Kau putri Hejin, kan?" Suara merdu Seoyeon bermain-main di telinga Taera. "Sampaikan salam hangatku pada ibumu si pelacur jalang tukang rebut pasangan. Asal... kau berhasil keluar dari sini dan sempat menemuinya. Kudengar-dengar dia hamil di luar nikah dan diusir dari rumah. Pasti jadi aib keluarga ya? Memalukan sekali. Ratu Lebah Tercantik kesayangan semua orang berakhir jadi sampah. Bagaimana kabarnya sekarang?"

Taera menggeratakkan gigi, rahang terkatup, gemas ingin mengunyah wanita bermulut lancang itu.

Seoyeon mengulurkan tangan dan menyelipkan seuntai rambut di belakang telinga Taera. "Atau mungkin aku harus menelponnya, biarkan dia dengar ratapan terakhirmu."

"Bu," Sojin menelan ludah, suaranya nyaris tak terdengar, "Kami semua manusia di sini. Kalau-kalau anda lupa. Bukan begini caranya."

"Manusia?" Seoyeon tampak terluka. "Sayangku, ini yang dilakukan manusia."

"Tapi kalian tidak perlu khawatir," ucap si pria ompong. "Aku hanya menembak satu dari kalian, setelah itu silahkan kalian lari, lari ke ujung dunia. Lari sana yang jauh!"

"Silahkan bersembunyi seperti tikus kecil. Kalian pantas membusuk seperti tikus kecil. Dasar anak-anak manja!" cibir Seoyeon. "Orang tua kalian yang payah itu tidak akan merasa kehilangan. Mereka lebih menyayangi uang yang mereka timbun di brankas."

Yoohan melirik kamera CCTV di atas, tidak ada lampu berkedip-kedip. Dammit! Pasti dimatikan!

Junseok berkonsentrasi pada mata Seoyeon, mencoba untuk mendeteksi sedikit saja kelemahan, tipu muslihat. Namun di dalam mata Seoyeon terbentang kegelapan yang sangat dikenalnya, seperti kedalaman neraka yang dilihatnya melalui jendela bulat di pintu, melalui lubang mata pria bertopeng logam.

Barangkali Seoyeon dan si pria bertopeng itu juga kakak-adik. Junseok tidak akan kaget.

"Apa yang akan kau lakukan?" Haekyung bertanya, suaranya tinggi dan bergetar.

"Kau punya otak tidak?" ucap pria itu. "Menurutmu apa yang akan kami lakukan?"

"Tapi kami tidak pantas—"

Pria itu menekan laras senapan ke leher belakang Haekyung, membungkam mulutnya.

"Kalian para pendosa, kalian semua pantas menerimanya!"

Mata Namgil bertemu mata Haekyung. Mata Haekyung panik, kosong, seperti binatang yang terperangkap. Haekyung yang jago melunakkan hati tiba-tiba kehilangan kemampuan berbicara.

Ayolah, pikir Namgil. Kenapa kau mendadak bisu? Katakan sesuatu! Jangan seperti ini, kawan! Dimana semangatmu?

"Kami hanya menginginkan satu, jadi kami hanya akan mengambil satu." Dia mondar-mandir di belakang mereka, dari Junseok kembali ke Yoohan. "Silahkan kalian yang putuskan, siapa yang paling kalian benci dan ingin kalian singkirkan sekarang juga."

Namgil menggeleng samar ke teman-temannya. Jangan dituruti!

"Kalian berdua tidak masuk akal," gumam Junseok.

"Apa katamu?!" bentak pria itu.

Seoyeon berdecak.  "Tidak usah didengarkan. Menurut bocah ini semuanya hanyalah lelucon."

"Bagaimana denganmu, nona cantik?" Pria itu bergerak ke samping, menempelkan senapan ke belakang leher Jiha, membuatnya tersentak. Tangisannya semakin intensif.

"Please... ini bukan salah kami..." cicit Jiha di sela-sela isak tangis.

Yoohan angkat bicara. "Dengar, bebaskan kami, sebagi gantinya kami punya uang, berapa yang kau butuhkan?"

"Ohhhh ya?" Pria itu berdiri di belakang Yoohan, laras senapan tepat di bawah telinga Yoohan. "Ngomong-ngomong, aku tidak butuh uangmu! Pilih satu orang! Atau aku yang pilih!" Dia mencengkeram segenggam rambut Yoohan lalu membanting kepalanya ke dinding.

Yoohan mempertahankan ekspresinya yang datar, namun rahangnya mulai bergetar.

"Aku sudah memilih!" teriak Junseok tiba-tiba dari ujung sana.

Semua mata tertuju padanya.

Junseok membalas tatapan semua orang. Terutama menatap Seoyeon dan adik laki-lakinya penuh keberanian. "Anda benar. Saya tidak peduli. Hidup adalah lelucon. Jika hidup ini masuk akal, kita tidak mungkin berada di sini dan terjebak hukuman konyol ini." Junseok melebarkan senyum sambil melempar sorot penuh arti dan penuh kode khusus untuk Haekyung.

Setidaknya Haekyung menyimak, benaknya bekerja.

Namgil, Sojin, Taera, Jiha, mereka menatap Junseok, tangan masih menempel ke dinding. Mata mereka penuh dengan pertanyaan.

Mencoba untuk tetap mendalami karakter, Junseok bergerak keluar dari dinding beberapa inci. "Lihatlah ke sekeliling kalian. Di mana Tuhan? Jika Tuhan peduli pada kita, dia akan melakukan sesuatu untuk memperbaiki keadaan, tapi coba tebak? Tidak ada Tuhan, tidak ada bantuan, tidak ada penyelamatan, tidak ada gunanya!" Junseok menatap Seoyeon lekat-lekat, "Dan ini membuat saya sadar, saya tidak perlu takut atau merasa bersalah. Tidak ada rasa bersalah karena tidak ada yang benar atau salah, tidak ada dosa... hanya ada senapan itu."

Sang adik menodongkan senapan ke wajah Junseok. "Baiklah, otakmu yang mewarnai dinding ruangan ini."

Seoyeon menampar bagian belakang kepala pria itu. "Daehwan! Lakukan di luar! Jangan di ruanganku!"

Junseok menjauh dari tembok. Senapan mengikutinya. "Sudah kuputuskan. Aku memilih diriku sendiri."

Napas Jiha tercekat.

Haekyung memandang Junseok. Salut. Bagaimana mungkin berandalan pengecut seperti Junseok berubah secepat ini?

Pria bergigi ompong itu malah kaget. "Kau? Kau tidak bisa memilih diri sendiri!"

Junseok tetap harus mengalihkan perhatiannya. "Kenapa tidak? Aku tidak peduli pada hidupku lagi."

Jiha memalingkan muka, menahan kuat-kuat tangisannya.

Haekyung pelan-pelan bergeser sedikit dari tembok, memposisikan diri di belakang punggung Daehwan.

"Aku tidak kehilangan apa-apa, orang tuaku tidak peduli, aku telah merugikan banyak orang."

Daehwan tampak agak bingung. "Peraturannya kau harus memilih orang lain."

Junseok menatap Seoyeon. "Bu kepala sekolah, bagaimana ini? Kenapa kalian plin-plan sekali? Membuat permainan tapi melarang peserta memilih diri sendiri?"

"Banyak omong!" Daehwan menempelkan senapannya ke jidat Junseok.

Haekyung mengirim kode mata.

Sekarang!

Kedua tangan Junseok merebut senapan dari bawah, mengarahkannya ke samping.

Daaarrr! Timbul lubang besar di atap.

Jiha menjerit.

Haekyung menerkam Daehwan dari belakang, menunggangi punggungnya, "Junseok! Rebut senjatanya!"

Ketiga lelaki itu sama-sama berebut, menancapkan cengkeraman maut pada senapan, sementara moncong senapannya terarah kemana-mana. Lima orang merunduk ke lantai. Takut terkena peluru nyasar. Tangan Junseok terkunci pada bagian atas senapan, menjaga Daehwan agar tidak memompanya lagi. Daehwan terus berputar, menubrukkan tubuh Haekyung di dinding. Junseok tersandung kaki Daehwan dan jatuh, masih memegangi senapan meskipun ujung sepatu Daehwan bersarang di tulang rusuknya. Pemuda itu mengaduh keras, meringis ngilu, namun cengkraman tangannya tidak pernah goyah.

"Cepat lari!" Junseok berteriak ke Jiha. "Kalian semua! Keluar dari sini!"

"DAEHWAAAAN!" Seoyeon menjerit.

Taera melompat menyeberangi ruangan, menangkap tangan kanan Seoyeon yang memegang gagang pisau daging. Wanita itu kuat juga, memberontak sambil menonjok wajah Taera. Agak kliyengan pusing, mata Taera lebam sekarang.Untungnya refleks Taera cukup cepat kali ini. Dia berhasil merunduk ketika tinju kedua dilayangkan.

"DAEHWAAAAN! JANGAN BIARKAN MEREKA LOLOS!"

Jiha menghampiri pintu. Pintu besar itu berderit terbuka, dia berlari di lorong, berlari semakin jauh. "Lari Jiha!" kata-kata Junseok bergema dalam kepalanya, diramaikan oleh raungan Daehwan. Jiha mempercepat langkah kakinya tanpa menoleh lagi.

"Hyuuuung! Susul Jiha!" perintah Junseok.

Bagai ditampar siluman, Namgil tersentak sadar dari mode dungu, kemudian melesat keluar dari pintu. Disusul Sojin, kemudian Yoohan.

Daehwan menendang usus Junseok cukup keras untuk memisahkan senapan dari tangannya. Cengkeraman Junseok pada senapan terlepas. Daehwan menyikut ke belakang menggunakan senapannya, mengenai dagu Haekyung dan membuat Haekyung terlempar ke lantai, meringkuk kesakitan.

Taera berpegang erat pada Nenek Lampir berputar mirip gasing yang tak kenal lelah yang terus-menerus menjerit dan mengayunkan pisau daging.

Haekyung meringkuk kesakitan di lantai—

Daehwan mengarahkan senapan ke kepala pemuda itu.

Taera menjulurkan kaki kanan untuk menjegal pergerakan Seoyeon. Si nenek lampir jatuh menimpa tubuh Daehwan, dua-duanya ambruk ke lantai.

Dooorrr! Serpihan kayu terbang dari pintu.

Taera melihat sekeliling, menyeringai lihat pisau daging menganggur.

Seoyeon merangkak ke sana, mencoba merebut pisau daging dari lantai. Taera mengayunkan kakinya dan menendang perut Seoyeon dengan kekuatan yang cukup untuk melemparkan wanita itu ke dinding yang berlawanan.

Jiha berhenti di kegelapan, lalu berbalik dan menyadari bahwa dia sendirian. Tidak ada siapa-siapa di belakang.

Lebih buruk lagi, Jiha tidak yakin di mana dia berada. Ini di lorong sebelah mana?

"Junseooook!"

Jiha celingukan bingung. Bagaimana dia bisa sampai di sini?

"Junseooook!"

Jiha gemetaran. Dia merasa sebentar lagi akan pingsan.

Dia berhenti bergerak, mendengarkan suara sekecil apa pun.

Tidak ada suara. Tidak ada siapa-siapa.

Dia tersesat.

.

.

Bersambung...

1
QueenRaa🌺
Keren banget ceritanya thorr✨️ Semangat up!!
Kalo berkenan boleh singgah ke "Pesan Masa Lalu" dan berikan ulasan di sana🤩
Mari saling mendukung🤗
Mara Rainey: siappp aku akan mampir. makasih juga lho udah berkenan mampir dan meninggalkan komentar serta vote. /Heart/
total 1 replies
QueenRaa🌺
satu kata untuk novel ini, SERU!
Rasanya kaya bener bener ada di sana dan ikut ngerasain apa yg tokoh tokohnya alami
Mara Rainey: Makasih bangett untuk reviewnya, aku akan berusaha lebih baik lagi dan lebih semangat lagi. senengg banget dikunjungin author favoritkuuu
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!