Bosan dengan gaya hidup ugal-ugalan, mencoba menyelami jati diri yang mungkin terpendam dalam palung jiwa, merubah penampilan dan tabiat. Dari yang mulanya di tuduh sebagai salah satu ciri tanda kiamat, menjadi seorang ukhti. Baru terjun dalam hal baik langsung ditempa dengan cobaan hidup masa sekolah. Dirundung karena terlalu berbakat, dan penuh cinta, lantas timbul iri dengki teman sebangku yang menjelma bagai dewi nyatanya seorang munafik. Menghasut orang lain untuk membenci Aluna.
Bisakah Aluna mempertahankan kehidupan SMA nya tanpa kembali menjadi tomboy?
Mari ikuti kisahnya. :)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon diahps94, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
13. Perkara Nomer
Di desak oleh orang yang sedang dekat denganmu, tentu menjadikan diri tak enak hati jika tak dituruti. Permintaan yang sepele tapi malu untuk dikerjakan. Titik permasalahannya takut salah kira Aluna yang butuh padahal untuk orang lain. Semaksimal mungkin memutar kembali rencana kata yang akan dikeluarkan agar tak terjadi kekeliruan. Aluna berhasil mendapat nomer kakak tingkat bernama Niki itu dari teman SD bernama Ajeng. Aluna juga baru tahu Ajeng sekolah disitu setelah sepekan lalu tak sengaja temu di pasar saat Ajeng berbelanja.
"Kau saudara Niki?" Aluna tak percaya, masa iya kemudahan terpantau jelas untuknya.
"Lah kagak percaya, gue enek jawabin pertanyaan orang-orang, Niki lagi naik daun agaknya mah." Ajeng kesal semua orang mendekat hanya untuk bertanya tentang Niki.
"Beuh kesindir nih, hehehe maaf ya aku baru sadar kita hidup di SMA yang sama." Aluna merasa sedikit bersalah.
"Ah lupakan, lagipula aku tak tahu kau bisa sealim sekarang aku sampai pangling. Ngomong-ngomong kau jauh terlihat cantik Aluna." Puji Ajeng jujur.
"Berlebihan sekali mulut manis mu, ah berhubung kau sepupu Niki, ada tidak nomer ponselnya?" Aluna harap-harap cemas.
"Nah kan ujung-ujungnya Niki lagi, eh khusus untuk mu aku langsung kasih, nggak kaya ke yang lain, malas bener gue." Bahasa Ajeng campur aduk.
"Kenapa kikuk sekali bicara denganku, segala bahasa campur aduk Jeng?" Aluna menyadari itu.
"Gimana nggk kikuk, gue ngomong sama mantan ketua gengster pada zamannya, eh sekarang tampilannya mode ustazah kan jadi takut salah ucap gue Lun." Ajeng tipikal orang nyablak yang jujur.
Ngalor ngidul bicara dengan teman lama, siapa sangka bisa dapat nomer Niki pujaan hati Tina terbaru. Tina mudah jatuh cinta dan mudah berpindah hati. Mengantongi nomer ponsel Niki meringankan langkah Aluna berangkat sekolah, tak tahu saja apa yang akan menantinya di balik nomer telpon tersebut.
"Kau mendapatkannya? Secepat itu?" Tina lompat kegirangan.
"Kau terbaik Aluna, ayo sebutkan kau ingin apa?" Tina menarik Aluna paksa sampai terduduk di kursinya sendiri.
"Yakk, bisa tidak pelan-pelan, meski muda begini beberapa tulang ku terasa jompo." Pekik Aluna.
"Maaf-maaf aku terlalu senang, tak sabar pulang sekolah dan menghubunginya malam nanti." Tina bahkan sudah menyiapkan kata sapaan apa yang tepat kali pertama mengirim pesan untuk Niki.
Sepenggal kisah Aluna memperjuangkan keinginan Tina. Aluna ikut senang saat temannya itu bahagia hanya karena sebuah nomor, toh Aluna tak perlu mengeluarkan uang untuk kesenangan kawannya itu. Seminggu berlalu, Tina merasa amat senang karena Niki merespon baik ajakan pertemanan darinya. Setiap hari Aluna disibukkan dengan melihat tingkah Tina yang kasmaran. Lupa tabiat, kini malah rajin menempel Aluna kemanapun melangkah. Kantin bukan prioritas, karena Tina dengan tingkah ajaibnya membawa bekal. Tak tanggung, dia bawa dua sekaligus, satu untuknya dan satu untuk Niki. Berangkat pagi buta, menaruh di atas meja sang kakak kelas dengan catatan kecil penyemangat darinya.
Semua terlihat baik-baik saja, hingga pada istirahat pertama di hari Jum'at, Niki dan Ajeng mendatangi kelas Aluna. Aluna melihatnya dari tadi, tapi hanya diam saja toh tak ada kepentingan mereka dengan dirinya. Hingga Ajeng mendekat dan berkata. "Aluna bisa ikut sebentar?"
"Hah? Kemana?" Aluna melongo kaget.
Diseret dengan paksa oleh Ajeng, lantas berdiri di hadapan Niki yang duduk di sudut kursi depan kelas. "Hai, kau yang meminta nomorku pada Ajeng ya?"
"I...iya." Aluna mulai berpikir akan dilabrak.
"Kenapa begitu sungkan saat bertemu langsung, padahal bicaramu cukup piawai dalam pesan yang dikirim." Niki tersenyum manis.
"Ah, itu..e..sepertinya kak Niki salah menduga. Sebenernya memang benar aku yang minta, tapi bukan untukku, untuk teman ku tercinta." Aluna langsung berlari masuk kelas menyeret Tina yang sudah mengintip di jendela.
"Apa?" Tina mendelik saat di tarik paksa.
"Niki mencari mu." Bohong Aluna.
Tina di hadapan Niki malu-malu kucing, Aluna jadi serba salah, mau tak mau dia angkat bicara. "Dia yang selama ini bertukar pesan dengan kak Niki."
Niki memang bodoh tak bertanya nama, hanya ciri-ciri saja dan kelas apa, dibayangan Niki semua menyerupai Aluna, nyatanya teman sebangku Aluna, pantas dia salah tebak. Sudah kepalang tanggung meski kesal dengan dirinya tapi semua inti masalah terletak pada Aluna. Kenapa dia tak bilang pada sepupunya kalau nomor itu untuk orang lain, tahu begitu Niki tak memberi harapan pada Tina. Jika begini semua menjadi kacau.
"Hai Tina ini kali pertama aku menyapa mu setelah saling kenal via pesan." Niki dengan kedongkolan hakiki namun masih tebar pesona di depan wanita.
"Hai kak." Cicit Tina yang bersembunyi di belakang bahu Aluna.
Aluna jadi jembatan perantara merasa aneh saja, karena senyum Niki dan raut pandang terhadap Aluna jadi berbeda, terkesan ada kebencian disana. "Maaf mengganggu istirahat mu, terimakasih bekalnya lain kali aku buatkan bekal untukmu ganti ya."
"Benarkah?" Tina amat senang mendengarnya.
"Eh tapi tak usah repot-repot, kak Niki pasti sangat sulit mengurus rumah pagi hari." Cicit Tina masih sembunyi di balik Aluna.
"Tidak, aku terbiasa melakukan semuanya. Hidup yatim sedari kecil mengajarkan ku banyak hal. Aku ke kelas ya." Tangan Niki mendekati wajah Aluna, Aluna menghindar ternyata Niki mencubit gemas pipi Tina.
Semenjak kejadian itu Tina semakin kegirangan, tapi tak sama hal dirasakan Aluna. Seperti ada beban tambahan di pundaknya. Ah, mungkin gadis itu terlalu ambil pusing tentang perubahan sikap Niki padanya.
Sekolah berakhir cepat karena hari Jumat, jadilah Aluna berencana ke kedai ibunya lebih awal dan tak perlu ganti baju karena sudah mengenakan seragam olahraga sedari tadi. Niat hanyalah niat, baru mau keluar kelas sudah di hadang kakak tingkat. Gadis ini adalah, Alda teman Niki saat mencari bakat beberapa minggu lalu.
"Mana gebetan Niki?" Alda bertanya dengan nada ketus pada Aluna yang ditemuinya di depan pintu keluar kelas.
"Entah." Aluna bergeleng kepala ria.
"Yakin bukan kau?" Gertak Alda.
"Jangan suka asal tuduh kak." Balas Aluna.
"Eh kok nyolot!" Alda semakin mencak-mencak.
"Ya orang gak tau apa-apa geh dituduh, emang kenapa nyari gebetan kak Niki?" Akhirnya Aluna menghadapi Alda.
"Gak usah bacot, gak ada butuh sama kamu. Sana balik bikin empet aja." Celetuk Alda, di sambut gelak tawa dua temannya.
"Hmm, cari sampe keliling sekolah juga gak bakal ketemu kak, udah balik orangnya." Timpal Aluna padahal Tina masih di dalam kelas.
"Ngomong dong dari tadi." Alda mendorong bahu kiri Aluna dengan jari telunjuknya.
"Jangan kasar dong!" Sisi gelap Aluna kalap.
"Eh ..eh..eh...berani agaknya nih bocah, ngajak duel ayok!" Tantang Alda.
"Dih, ngapain duel sama orang yang ngelabrak adek kelas bawa temen, gak level." Aluna menabrakkan diri pada Alda lantas kabur terbirit.
Nafas tersengal, keringat di seluruh badan. Tukang angkot sampai heran dengan kelakuan Aluna yang ada saja tiap harinya. Entah yang baju basah lah, baju kotor, pulang dengan lesu, sekarang pulang penuh semangat. Saking semangat tak mau tertinggal angkot lari kebut dari arah sekolah.
"Kau maraton sebelum pulang?" Mentang-mentang pakai baju olahraga laju semangat menggebu.
"Bukan...hahh...di kejar setan." Balas Aluna.
"Nih minum." Tak tega juga supir angkot melihatnya.
"Maaf ya yang lain jangan ini, ini om kasih minum karena keponakan om ya, terus emaknya cerewet kalau nggak di urus bisa kasus." Canda kang angkot berbalas tawa anak-anak sekolah lainnya.
Sepertinya aku ini pembawa berkah, susah saja masih bisa jadi bahan tertawa orang lain. Monolog Aluna dalam hati.
Bersambung
mksih author cerita ny sngt menghibur 🙏🙏🥰😍😘🤗
udah kayak rajaaa😂😂