NovelToon NovelToon
KULDESAK

KULDESAK

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Konflik etika / Aliansi Pernikahan / Pernikahan Kilat / Keluarga & Kasih Sayang / Romansa
Popularitas:105k
Nilai: 5
Nama Author: NL choi

Demonstrasi sejuta buruh dan mahasiswa yang mengepung istana negara menjadi perubahan konstelasi kehidupan seorang mahasiswi akhir bernama Nawa Putri. Agenda pertemuannya dengan dosen pembimbing skripsinya berjalan tidak sesuai rencana. Ia justru terjebak dalam malapetaka. Bahkan ia tak menyadari pasca-kejadian tersebut, Na—sapaan Nawa—telah masuk lebih dalam di kehidupan Saba yang rumit dan penuh intrik. Idealisme tidak lagi seia sekata dengan kerinduan yang mengharu biru. Tak jelas lagi ke mana arah yang dituju.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NL choi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

12. Artikel Opini

...12. Artikel Opini...

Tepuk tangan para peserta sarasehan menggema ketika ia berdiri dipanggil oleh pembawa acara untuk memulai memberikan materi sarasehan pada mahasiswa di gedung Nusa Bakti.

Ia ikut bertepuk tangan. “Bagaimana keadaan kalian hari ini?” ucapnya sebagai kalimat pembuka.

“Baik.” Sayup-sayup jawaban dari puluhan bahkan mungkin ratusan mahasiswa yang hadir dalam pertemuan itu terdengar.

“Baik di mulut belum tentu baik secara mental. Saya bisa membaca keresahan itu. Saya bisa merasakan ketakutan itu. Maka dari itu, saya hadir di sini untuk menjawab keresahan-keresahan kalian. Menghadirkan keberanian. Bersama-sama mencari solusi untuk kebaikan masa depan kalian.

“Baru saja, satu jam yang lalu saya mengunjungi seseorang. Statusnya sama dengan kalian. Hanya berbeda kampus saja. Dia seorang mahasiswa yang berani menjadi agent of change, menegakkan tiga tradisi yang selalu dibangun dalam setiap pergerakan.

“Dia bukan sosok pahlawan kemerdekaan. Bukan pahlawan revolusi. Bukan juga pahlawan reformasi. Tapi dia adalah mahasiswa pemberani yang menyuarakan hati nurani rakyat untuk memperjuangkan nilai-nilai revolusi dan reformasi. Yang selalu kritis atas keganjilan kebijakan yang dikeluarkan penguasa.

“Lalu apa saja tiga tradisi tadi yang disebutkan. Pertama, tradisi diskusi. Diskusi ini selalu dimulai dari pra maupun pasca pergerakan. Terbuka. Dimanapun, siapapun, apapun semua bisa mengutarakan pikiran-pikirannya untuk mendapatkan solusi.

“Kedua, tradisi menulis. Inilah yang dibangun dari sebuah intelektualitas yang dimiliki oleh kalian. Sebarkan melalui media apa saja. Kalian saat ini punya media pribadi, cakupannya luas dan tidak sulit. Hanya bermodalkan paket data.

“Yang ketiga dan terakhir, adalah tradisi membaca. Komponen ini sangat penting. Dengan membaca kalian akan bertambah pengetahuan yang mungkin tidak kalian dapatkan di kampus. Aktualisasi isu terkini menjadi penting sebagai landasan untuk pergerakan.”

...***...

Nawa mendapatkan jadwal waktu bimbingan selepas sholat Jumat. Lebih tepatnya usai sholat Jumat dan makan siang.

Namun pukul 10.30, ia telah tiba di kampus. Duduk di salah satu kursi kantin yang tidak terlalu ramai.

“Sorry, sorry, Na. Kena macet di jalan. Ada kecelakaan,” tukas Safiya. Teman satu kelasnya. “Bagaimana dengan skripsi lo, sudah sampai mana nih ceritanya?” Safiya duduk di depannya.

“Ceritanya masih on going terus,” sahutnya. Pesanan minumannya datang. “Lo mau minum apa, Fi?”

“Orange juice tambah 1 lagi ya, Mas.” Safiya menukas bertepatan dengan pelayan kantin meletakkan pesanan di meja mereka.

Ia mengaduk-aduk minumannya.

“Minggu depan gue dipanggil wawancara,” ucap Safiya. Baru bulan lalu ia diwisuda.

Ia menyeruput minumannya melalui sedotan plastik. “Wah, selamat Fi.”

“Belum. Nanti kalau gue lulus kerja baru lo kasih selamat. Sekarang doain dulu,” sergah Safiya.

“Setidaknya satu step sudah lo lewati,” sanggahnya.

“Lo, dapat kabar dari Heru gak? Dia katanya kerja di NGO.”

“Heru A atau Heru B?” tukasnya. Sebab kedua teman mereka punya awalan nama yang sama.

“Heru A. Heru B mah, masih mau ngajuin sempro. Kita-kita yang masih tinggal di seputaran kampus diundang suruh datang. Jumat depan katanya.”

“Aku usahain. Kelas kita tinggal berapa orang ya, Fi yang masih di kampus?” tangkasnya.

“Berapa ya … tinggal lo, Heru B, si Dika sama si Fatur. Yang lain ada yang tinggal wisuda kayak si Ratih sama si Mika. Yang lainnya sudah pada kerja sih. Si David lanjut studi sama Vera,” urai Safiya.

“Gue masuk trip terakhir ya?” cicitnya.

Safiya menyergah, “Si Heru B dong. Masih sempro belum penelitian. Kalau lo karena cuti, si Heru karena kebanyakan cinta kampus.” Istilah mahasiswa yang tidak mau cepat lulus. Tidak rela meninggalkan kampus. Bisa berbagai alasan. Tapi biasanya karena hal remeh. “Eh, lo kemarin hiking sama siapa saja, Na?” tanya Safiya. “Makasih, Mas,” sambungnya kepada pelayan kantin, ketika minumannya datang.

“Sama teman,” sahutnya.

“Si Riko, ya?” tanya Safiya.

Ia menggeleng. “Bukan.”

“Si Fadhil?”

“Bukan.”

“Si Andre?”

“Bukan semua,” jawabnya.

“Terus sama siapa? Mereka, kan anak mapala,” sergah Safiya. “Lo kasih foto sendirian sih makanya gue nebak lo ke sana sama anak-anak itu.”

“Bukan. Dia … yang nolongan gue waktu gue kejebak demo tempo hari.”

“Hah, serius?” tukas Safiya.

“Gue ada jadwal bimbingan sama Prof Gun. Terus gue kejebak macet gara-gara demonstrasi. Gue kena imbas gas air mata. Gue ….”

“Haha ….” Bukannya ikut prihatin mendengar penjelasannya, Safiya justru menertawakannya.

Bibirnya sedikit mengerucut, “Kok, lo ketawa sih?” sungutnya kesal.

“Baru ini gue dengar lo terjebak demonstrasi. Bukannya lo alergi sama yang namanya demo,” kekeh Safiya.

Ia buru-buru menyanggah, “Bukan ikut demo tapi gue terjebak.”

“Ya, ujung-ujungnya lo ikut barisan demo, kan?” ledek temannya tersebut.

Payah menjelaskan posisinya saat itu. Sama dengan Asthari yang memberikan respons tak percaya. “Terserah lo deh mau ngatain gue ikut atau gak. Yang jelas gak.”

“Baiklah … gue percaya,” putus Safiya. “Terus setelah itu lo ketemu sama seseorang yang nolongin lo. Tunggu, kenapa secepat itu lo terima ajakan dia buat hiking?”

“Dia baik, Fi. Gue pernah ke rumahnya. Dikenalin sama orang-orang yang tinggal di sana.”

Dahi Safiya mengerut. Bahkan selama menyeruput minuman berwarna kekuningan itu.

“Gak perlu berpikir sampai segitunya,” cibirnya. Ia mengeluarkan buku Prof Gunadi dari dalam tas. “Dia juga meminjamkan ini.”

Mata Safiya tertuju pada buku karya dosennya tersebut.

“Koleksi bukunya banyak.”

Safiya membuka buku itu.

“Itu edisi pertama. Bahkan edisi terakhir saja sudah gak ada,” imbuhnya.

“Gue punya,” tangkas Safiya.

“Foto copy saja bangga,” sindirnya.

“Dia dosen?” tanya Safiya.

“Mungkin.”

“Kok mungkin?”

“Karena dia gak ngajar seperti dosen pada umumnya di kampus.”

“Bisa jadi, dia ngajar online Na.”

“Makanya gue bilang ada kemungkinan dia dosen.”

“Berarti dosen muda dong, ya?” putus Safiya. “Single, gak?” imbuhnya genit.

Bahunya terangkat sebagai jawaban.

Keduanya kemudian memesan makanan. Mengobrol membahas saat-saat perkuliahan.

Mulai topik dosen terfavorit hingga dosen terkiller. Mata kuliah paling diminati sampai paling dibenci. Padahal mata kuliah ini tergantung dosen yang mengampu juga. Sampai cerita tentang mantan-mantan Safiya.

Hingga waktu tak terasa cepat berlalu. Safiya menawarkan untuk menunggunya sampai ia selesai bimbingan. Namun ia tolak sebab waktu bimbingan tidak bisa diduga.

Bisa memakan waktu 10 menit, setengah jam, 45 menit, bahkan ada yang sampai dua jam. Tak bisa diprediksi. Begitulah ciri khas Prof Gunadi.

“Semangat, Na!” Mereka berpelukan.

“Lo, juga semangat. Pasti bisa melewati wawancara dengan sukses.”

“Aamiin makasih, Na.”

Safiya pergi meninggalkannya. Ia pun lekas bangkit dari duduk. Membayar tagihan di kasir.

“Nawa!” seru Safiya yang telah berdiri di parkiran motor. Tengah memakai helm.

Ia menoleh.

“Kapan-kapan lo kenalin gue sama dosen muda itu.”

Ia mengusir Safiya dengan mengibas-ibaskan tangan.

Safiya tertawa. Lantas pergi bersamaan dengan suara klakson yang dibunyikannya.

Tapak kakinya berulang-ulang mengetuk lantai. Sepuluh menit yang lalu, ia telah duduk di depan ruangan dosen pembimbingnya. Menunggu giliran untuk dipanggil masuk ke dalam ruangan Prof Gunadi.

“Nawa Putri.” Pintu berwarna hijau tua itu terbuka. Dan namanya menggema.

“Ya.” Ia gugup berdiri. Kemudian mengikuti Mas Bari selaku asisten Prof Gunadi untuk masuk.

Bari tersenyum. Mempersilahkan untuk menghadap Prof Gunadi yang tengah duduk menunduk fokus pada berkas di mejanya dengan tangan.

Ia mengulas senyum. Bari terdengar melapor pada Prof Gunadi memberitahukan keberadaannya. Lalu pamit untuk masuk kelas.

Gunadi hanya mengangguk-angguk. Membenarkan letak kacamatanya yang melorot.

“Siang, Prof.” Ia menyapa dosen pembimbingnya itu.

Tanpa berkata, Gunadi mempersilahkan untuk duduk dengan tangannya.

Ia meletakkan berkas laporan skripsi khusus bab pembahasan di atas meja. “Sudah selesai, Prof,” lapornya. Ini kali keempat revisi pembahasan dilakukan.

Prof Gunadi terlihat mengganti kacamatanya. Membuka halaman pertama.

Jika sudah seperti ini ia seperti berada dalam sebuah persidangan. Tegang. Gugup. Revisi apa lagi yang harus dilakukan.

“Ada yang perlu direvisi lagi, Prof?” tanyanya ketika Prof Gunadi membaca halaman cukup lama di lembar ke-5.

Dosen pembimbingnya itu hanya menipiskan bibir. Lalu berpindah halaman.

“Pertemuan yang lalu, revisi di halaman ke-2, ke-9, ke-11, ke-15, ke-25, ke-30 dan lembar ke-41,” terangnya. Ada sticky notes yang dipakainya untuk menandai. Ia pun hapal di luar kepala.

“Saya sudah mengikuti seperti saran Prof Gunadi. Menambahkan banyak literatur sebagai pokok landasan hasil.”

Lembar yang dibuka Prof Gunadi berada di halaman ke-11. “Nama saya ada di sini?” Gunadi melingkari namanya yang dipakai untuk pustaka acuan dengan pena merah.

“Iya, Prof. Sesuai teori yang Prof Gunadi jabarkan pada buku Kesehatan Lingkungan Kontemporer yang saya pakai untuk validasi.” Ia mengeluarkan 5 buku yang digunakannya sebagai daftar pustaka. Salah satunya karya dosen di hadapannya ini sekarang.

Gunadi melihatnya sejenak. Lalu mengalihkan pandangan kepada buku-buku yang bertumpuk di dekatnya.

Pena merah itu kembali melingkari narasi pada lembaran ke-11. Hampir setengah halaman.

“Saya ingin kalimat ini diganti. Terlalu naratif. Ganti yang lebih pas dengan deskripsi hasil analisismu. Ini masih kurang pas,” ucap Gunadi.

Ia manggut-manggut.

Prof Gunadi kembali memeriksa berkas halaman berikutnya. Cukup lama. Tampak khusyuk. Bahkan ia merasa tak diacuhkan.

Penglihatannya mulai melebar pada meja Prof Gunadi yang cukup besar. Banyak berkas laporan menumpuk di sisi kiri Prof Gunadi. Mungkin tingginya hampir setengah meter. Begitu juga di sebelah kanan. Tumpukan laporan itu kira-kira mencapai ketinggian yang hampir seimbang dengan sebelahnya. Sehingga terkesan Prof Gunadi terhimpit oleh dua tumpukan laporan.

Belum di sebelah kanannya. Tumpukan laporan yang lebih rendah sedikit. Mungkin laporan yang telah dikoreksi namun belum diambil oleh pemiliknya. Ini hanya sangkaan saja.

Di sebelah kirinya ada beberapa jurnal menumpuk. Lalu ada surat kabar yang cukup terkenal tergeletak terbuka seluruh halaman depannya.

Jaman four point O, Prof Gunadi masih setia berlangganan koran. Bisa jadi pihak kampus yang memberikan jatah untuk setiap dosennya.

Halaman depan surat kabar itu memuat berita tentang demonstrasi sejuta buruh dan mahasiswa. Dengan headline tebal dan foto yang jelas dan besar. Dugaannya itu mungkin surat kabar lama. Karena memuat berita usang.

Namun ada rubrik artikel opini di pojok bawah paling kiri menampilkan foto seseorang yang dikenalnya. Foto itu makin meyakinkan sebab tercantum namanya dengan sangat jelas.

Saba Lumintang.

1
Dinda Gusti
bang saba temannya mas panca kah?
Dinda Gusti
😍
Dinda Gusti
aq ank ke 8 dr 10 bersaudara/Chuckle/
Dinda Gusti
sedihnya...jd ingat ibuq😔
anamsyahla qory
Sentul ini
anamsyahla qory
Karya othor neil selalu berkesan nggak pernah bisa di tebak ada rasa greget2 manis
anamsyahla qory
Othor Enel aku hadir Mpok Poernama
Vie ardila
Luar biasa
Syumie Susanty
kaka kemana yaaaaa ,aku kangeeen banget sama cerita yg kaka buat, sebelum aku punya bayi ,dan sekarang bayi aku udah 1t ,belum ada kelanjutannya 😭😭😭 ,semua nungguin kaka dan kelanjutan cerita ka nawa dan bang saba
yayah: iya, SDH lama sekali
total 1 replies
Norainah Hani
semoga segera lanjut ceritanya
Fauzi Nizam
ya Allah Thor.. sekian purnama nggak lagi up Thor.. udah 2025 nih... nggak di lanjutkan lagi nih.. padahal kangen sama bang saba nawa
Yay.
Hampir setahun ga dilanjutkan 😩
Elita Lestari
aku sampai agak lupa sama jalan crt nya, saking lama othornya nggak nulis lanjutan nya
Fauzi Nizam
ya Allah kak.. beneran AQ kangen Ama nawa dan bang saba..
tolong lanjutkan lagi lah nih novel...
please,,.
Syumie Susanty
masih belum ada tanda2 kelanjutannya ya, di pantau terus dari bulan manaaa mh, kmna kah kau author, 🤔
Atala Putri
bagus semua buku mu tak baca ini aplikasi dah kehapus cari" lagi ketemu semangat author tamattin ya bukunya
Fauzi Nizam
nawa cemburu bang,,
ah bang saba kurang peka
Fauzi Nizam
kapan novel ini dilanjutkan lagi Thor?? ah padahal seru loh ini .
mungkin ada banyak kosakata baru yg saya mengerti..
karena saya tidak pernah kuliah,
Khusnul Khotimah
dimanakah kak author nya?
Fauzi Nizam
novel ini kereen banget,, tapi sayang belum dilanjutkan lagi sampai end..
dan masih banyak teka-teki yg belum ke jawab
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!